
" Kakak di sini "
Sean meraih tangan Aniel
" Tak... Iel dak sa iat "
( Kak... Aniel ngak bisa lihat )
Terlihat manik hitam Aniel tertutup dengan selaput putih yang cukup asing di mata Sean
" Tapi kamu masih bisa peluk kakak nanti"
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Iel au papa "
( Aniel mau papa )
Aniel mengedipkan matanya
" Kita pulang sekarang terus nanti bisa peluk papa "
Sean memeluk Aniel dengan lembut
" Pi ta ao papa ait "
( Tapi kata Mao papa sakit )
Aniel membalas pelukan Sean
" Iya , makanya nanti Aniel ngak boleh berisik ya , nanti Aniel boleh peluk papa tapi Aniel ngak boleh buat papa keganggu"
Sean mencium kening Aniel
" Ya iel eti "
( Iya Aniel ngerti )
Aniel mengangguk
" Sabar ya , nanti kakak janji akan buat kamu bisa melihat lagi "
Sean membatin
Sean mendudukkan Aniel di atas kursi roda dan Mao mendorong Aniel sedang Sean berjalan beriringan dengan Aniel di ikuti rombongan para bodyguard
Lao dan Aloe masih perlu di rawat karena luka bakar yang mereka terima , Mao memutuskan untuk membawa kedua saudaranya menuju alam mereka sendiri
Sean membungkuk dalam-dalam saat melihat ibu Aloe dan Lao menangisi putra putri mereka dan itu membuat mereka semua gelagapan karena Sean membungkuk meminta maaf
" Mao apa kamar Aniel siap "
Sean masuk ke dalam mobil dan Aniel di dudukan oleh Mao di samping Sean
" Saya sudah siapkan semua , juga tempat tidur di samping tuan Sbastian "
Mao menjawab
" Baiklah "
Sean memeluk Aniel dan membiarkan Aniel mengoceh di dalam pelukannya
Sesampainya di rumah
" Biar saya gendong tuan "
Mao mengambil alih Aniel yang sudah tertidur pulas
" Baiklah "
Sean membiarkan Aniel di bawa oleh Mao menuju kamar Aniel sendiri
" Anda mau kemana tuan "
Diablo bertanya
" Ke ruang giym "
Sean menjawab
" Anda mau apa "
Diablo mengikuti langkah kecil Sean yang cepat
" Mau meninggikan badan "
Sean masuk di dalam ruangan yang ada di bawah tangga
" Paman , tolong bilang ke bi Aini untuk membuatkan Sean susu yang biasanya "
Sean berbicara dan pengawal itu pergi
Beberapa hari terakhir Sean menguatkan otot dan berusaha meninggikan badannya dengan bimbingan Yuka yang ada di luar negri secara online
Badan Sean saat ini terlihat sedikit lebih besar dan tinggi Sean sudah seperti anak kelas tiga SD
" Jika paman Diablo memiliki pekerjaan tinggalkan saja Sean "
Sean melepaskan kaosnya
" Kalau begitu saya pergi "
Diablo meninggalkan Sean sendirian di ruang gym
Sean menggunakan semua alat dengan panduan Yuka yang dia hubungi melalui layar gepengnya
*Tok..tok..tok
Saat Sean hampir selesai , pintu di ketuk beberapa kali
" Masuk "
Sean mempersilahkan dan terlihat bi Aini masuk membawa segelas susu dan seporsi nasi beserta lauk dan pauknya
" Ini susunya "
Bi Aini duduk di atas sofa dan meletakkan nampan yang dia bawa
" Makasih bi "
Sean masih melanjutkan angkat bebannya
" Jangan paksakan diri , kamu tidak perlu seperti ini "
Bi Aini membuat Sean tersenyum
" Sean melakukan ini untuk Aniel dan papa.. lagi pula Sean ngak ada tujuan lain kok "
Sean melanjutkan olahraga angkat bebannya
" Tapi kamu itu masih kecil Sean , jangan di paksakan , bibi khawatir "
Bi Aini membuat Sean berhenti
" Sean ini sudah besar bi , papa sekarang sedang beristirahat, jadi sekarang Sean harus merawat Aniel hingga papa bangun "
Sean meletakkan barbelnya dan menghampiri bi Aini
" Iya bibi tau , tapi nak "
Bibi menatap Sean khawatir
" Sean ini harus membuat papa dan Aniel sembuh , kalau Sean ngak kuat lahir batin nanti Sean jadi papa dua dong , asal bibi tau ya , papa itu sering nangis pas inget bunda , dan ngak semua orang tau "
Sean meminum susunya
" Di depan orang lain papa memang terlihat tegar , ceria dan penuh semangat , tapi di belakang papa itu rapuh dan tidak bisa menahan semuanya , bagi papa bunda adalah kehidupan yang hilang dan sekarang Sean juga Aniel muncul menjadi pengganti bunda di hati papa "
Sean melanjutkan meminum susunya
" Kami laki-laki memang harus kuat , tapi ada kalanya kami laki-laki ini harus meluapkan semua kekesalan , penyesalan dan kesedihan kami pada suatu hal , dan ini cara Sean melampiaskannya "
Sean meletakkan gelas susunya yang sudah ludes tak tersisa
" Kemarilah "
Bi Aini melambaikan tangannya
" Iya "
Sean mendekat
" Biar bibi potong ya rambutnya "
Bi Aini membelai kepala Sean
" Biarin deh bi , Sean suka kayak gini "
Sean tersenyum
" Rambutnya bagus sih , kalah rambut bibi "
Bi Aini mencubit hidung Sean
" Hehehe "
Sean terkekeh
" Basuh itu keringatnya "
Bi Aini memberikan handuk kepada Sean
" Makasih bi "
Sean menyeka keringatnya dan memakai kaosnya kembali
" Permisi "
Mao masuk dengan membawa Aniel
" Hei.. cari kakak ya "
Sean mengambil alih Aniel dari gendongan Mao
" Tak dain iel hiks... Tak hat hiks.. huaaaaaa"
( Kakak tinggalin Aniel hiks.. kak jahat hiks.. huaaaaaa )
Aniel memukul mukul pundak Sean dengan tangisan yang cukup keras
" Iya iya , maaf ya kakak ngak akan ulangi lagi "
Sean duduk dan menenangkan Aniel
" Apa kamu mau makan "
Sean menghentikan tangisan Aniel
" Kan pa "
( Makan apa )
Aniel mengusap air matanya
" Kita makan nasi goreng spesial yang di buatin bi Aini , apa adek mau "
Sean menyisihkan rambut bayi Aniel yang agak berantakan
" Ya "
Aniel mengangguk
" Apa boleh Mao "
Sean menatap Mao
" Boleh tuan "
Mao mengangguk
" Bibi akan buatkan susu lagi "
Bi Aini berdiri
" Sean air putih aja bi "
Sean meminta
" Iya "
Bi Aini mengangguk
" Bismillahirrahmanirrahim "
Sean menyendokkan nasi goreng dan di beri lauk ayam suwir kesukaan Aniel
" Aaaaaaaa buka mulutnya "
Sean meletakkan sendok di depan mulut Aniel dan memasukkannya saat Aniel membuka mulutnya
" Ini ayamnya ketinggalan "
Sean menyuapi Aniel dengan telaten hingga piring Sean ludes tak tersisa
" Tak dah kan "
( Kakak udah makan )
Aniel bertanya
" Sudah , kakak tadi makan dengan Aniel "
Sean berbohong
" Oh... "
Aniel mengangguk
" Iel mau papa "
( Aniel mau papa )
Aniel menyandarkan kepalanya di atas dada Sean
" Kalau begitu adek minum susu dulu baru nanti sama papa "
Sean memberikan susu coklat kesukaan Aniel
" Enak ngak "
Sean membiarkan Aniel meminum susunya hingga tandas dengan sedotan
" Em... "
Aniel mengangguk
" Sekarang kita ke papa "
Sean menggendong Aniel dan berjalan keluar dari kamar gym di ikuti oleh bi Aini dan Mao
" Tak tak "
( Kak kak )
Aniel menarik lengan pakaian Sean
" Kenapa "
Sean masuk ke dalam lift bersama Mao
" Ta mana "
( Kita di mana )
Aniel mengedipkan matanya
" Kita di dalam lift "
Sean menjawab
" Oh... "
Aniel mulai menanyakan banyak hal yang tidak bosan bosannya di jawab oleh Sean hingga sampai di kamar Sbastian
" Adek ngak boleh ramai ya , papa lagi istirahat "
__ADS_1
Sean mendudukkan Aniel di atas tempat tidur di sebelah Sbastian
" Na papa "
( Mana papa )
Aniel mengangkat tangannya
" Papa di sini "
Sean menuntun tangan Aniel untuk menyentuh tangan Sbastian yang terlihat sangat besar
" Pa... Pa pet buh ya "
( Pa.. pa cepet sembuh ya )
Aniel mengusap tangan Sbastian dan mengoceh tidak jelas yang membuat senyum tulus Sean kembali terbit
" Papa cepet sadar ya , kasihan Aniel "
Sean duduk di samping Sbastian yang terlihat memiliki banyak alat kedokteran yang dulunya menempel di tubuh Sean kini menempel di badan kekar Sbastian yang terlihat agak kurus
" Tuan "
Mao memanggil
" Hm.. "
Sean menoleh
" Saya ingin memperkenalkan seseorang.. lebih tepatnya dua orang "
Mao memejamkan matanya dan terbukalah sebuah portal dimensi
" Kakek tua... Selamat datang "
Sean turun dari tempat tidur dan berdiri
" Hai pangeran , bagaimana kabar anda "
Si kakek tua datang dan memeluk Sean kecil
" Baik kek , hanya saja... "
Sean menoleh ke belakang
" Bersabarlah tuan muda , saya masih belum bisa membantu... Namun jika hukuman saya sudah selesai , saya akan meminta hal itu untuk anda "
Kakek tua tersenyum sambil menatap Aniel
" Tidak perlu kek , Sean merepotkan kakek nanti "
Sean berbicara dengan sungkan
" Pangeran kecil ini tanggung jawab saya untuk menjaga anda hingga anda kembali kepada yang mulia raja Tian "
Kakek tua membelai kepala Sean
" Apa ini ayah dari pangeran "
Kakek tua menatap Sbastian dengan intens
" Ini ayah angkat Sean , bukan ayah kandung "
Sean menjawab
" Wajahnya sangat mirip dengan raja Tian "
Kakek tua mengerenyitkan keningnya
" Apa wajah ayah Sean seperti ini "
Sean menatap kakek tua
" Sepertinya tidak , anda di lahirlah di dunia ini , saya merasakannya , dunia yang sama dengan gadis kecil ini , namun sesuatu menanti anda di masa kelahiran putra dari raja Tian nanti , karena anda adalah anak keturunan raja Tian "
Kakek tua menjelaskannya dengan agak berbelit
" Apa Sean anak cucu dari raja Tian... Kalau begitu siapa orang tua Sean "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Papa sudah mencari tau informasi mengenai orang tua Sean , namun masih belum di temukan hingga sekarang "
Sean terlihat berpikir
" Anda jangan memikirkan itu , ini semua takdir... Dan ya saya hampir lupa "
Kakek tua masuk ke dalam portal dan membawa dua anak kecil yang lucu
" Tuan huhuhu si naga jelek jahat kepada kami "
Dua orang anak kecil yang imut , cuby dan comel berlari memeluk kaki Sean di ikuti oleh seorang pria muda yang terlihat gagah
" Kalian ini siapa "
Sean menatap mereka berdua dengan heran
" Ya.. ya , kalian siapa memeluk tuanku sembarangan "
Jiji keluar dari balik rambut Sean
" Jiji... Tidak sopan "
Hana memukul kepala jiji
" Jiji ngak suka tau "
Jiji melipat tangannya di atas dada
" Apa tuan ingat kami "
Kedua anak kecil itu menatap Sean dengan berbinar
" Siapa ya "
Sean duduk dan menatap menyangga kepalanya dengan kedua tangannya
" Aku kadal dan dia anak ayam "
Anak laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri dan anak perempuan di sampingnya
" Anak ayam.... Kadal .... "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Iya tuan "
Mereka berdua menghentakkan kakinya
" Tenanglah papaku sedang sakit "
Sean membungkam mulut mereka berdua
" Hehehe "
Mereka berdua terkekeh
" Ingatkan aku "
Sean menaikkan alisnya
" Kami si dua telur di tempat salju "
Kedua anak-anak itu memberitahu petunjuk
" Oh... Aku ingat "
Sean mengangguk
" Siapa nama kalian "
Sean mengusap kepala kedua anak kecil itu
" Tidak tau "
Mereka berdua menggeleng
" Eh... "
" Pangeran... Mereka ini baru lahir , jadi anda bisa memberi mereka nama "
Pak tua memberitahu
" Bukannya mereka menetas beberapa tahun yang lalu "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Iya , namun ini mereka ini masih bayi , anda bisa menamai mereka sendiri "
Pak tua mengusap kepala Sean
" Dunia yang berbeda... Ingat Sean.. dunia yang berbeda harus di garis bawahi "
Sean membatin
" Baiklah... Apakah mereka akan ikut denganku"
Sean bertanya
" Iya , saya meminta agar pak tua datang kemari dan membawa mereka "
Mao mengangguk
" Apa kalian mau ikut denganku "
Sean menawari
" Iya kami mau "
Mereka berdua mengangguk
" Baiklah , namamu Alma dan kamu Geo "
Sean menamai mereka
" Makasih tuan "
Mereka berdua memeluk Sean
" Ini tuanku , bukan tuan mu "
Jiji memeluk pipi Sean
" Astaga kalian , tenanglah "
Sean menenangkan mereka bertiga
" Buat skenario seakan mereka kamu bawa dari luar ataupun bagaimana kamu membuat sandiwara agar mereka tidak masuk dengan aneh "
Sean berdiri
" Baik tuan "
Mao mengangguk
" Kalian ikutlah denganku "
Mao membawa mereka berdua berdiri dan keluar melalui jendela kamar
" Dan kakek akan memberikan beberapa pelatihan untuk pangeran "
Kakek tua membuat Sean menoleh
" Pelatihan apa kek "
Sean memiringkan kepalanya
" Kakek akan melatih kamu menjadi orang yang bisa bertarung di segala situasi yang genting sekalipun "
Kakek tua membawa Sean menuju sofa
" Biar Sean suruh adek tidur dulu "
Sean menghampiri Aniel dan membuat Aniel merebahkan tubuhnya , Sean meninabobokan Aniel hingga Aniel tertidur dengan lelap di atas lengan kiri Sbastian
" Pertama duduklah bersila "
Kakek tua mengajari Sean berbagai hal hingga berhari-hari lamanya , kakek tua datang dan pergi memberikan pelatihan khusus untuk Sean setiap Sean memiliki waktu luang
Beberapa bulan kemudian
" Tak ain "
( Kakak ngapain )
Aniel yang sedari tadi tidur di pangkuan Sean kini terbangun karena mendengar suara Sean yang sedang memarahi seseorang
" Kakak sedang rapat sayang , tidurlah "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Pi tak ala ala "
( Tapi kakak marah marah )
Aniel menggosok matanya
" Iya... Mereka salah jadi kakak marah "
Sean memberikan penjelasan
" Oh.... Iel eti , iel au dul ai "
( Oh... Aniel ngerti , Aniel mau tidur lagi )
Aniel merebahkan kepalanya dan kembali terpejam di atas pengakuan Sean yang sedang memarahi beberapa orang di saluran telponnya
Esok hari
" Tak au ola "
( Kakak mau sekolah )
Aniel memeluk Sean
" Iya sayang , kakak mau sekolah , Aniel tunggu di rumah aja ya sama Alma dan Geo"
Sean menyuapi Aniel sarapan pagi
" Dak au , iel au ma tatak "
( Ngak mau , Aniel mau sama kakak )
Aniel menggeleng dan memeluk Sean
" Hm... Kalau kamu nurut nanti kakak temenin tidur sama papa deh , terus kakak beliin kamu cake kesukaan kamu "
Sean mencoba merayu
" Eum...... Ote iel tuu ya "
( Eum..... Oke Aniel tunggu ya )
Aniel dengan tatapannya yang melihat ke arah berlawanan saat berbicara dengan Sean
" Iya adek "
Sean mencium pipi gembul Aniel
Sean berangkat di antar oleh Diablo hingga sekolahan dan Aniel di rumah menunggu bersama Mao dan kedua anak buah kecilnya
" Apa tidak ada yang terlupa tuan "
Diablo memastikan
" Tidak ada "
Sean menggeleng
Setelah sampai di sekolahan
" Paman pulang saja , nanti jemput Sean pukul dua belas "
Sean turun dari mobil
__ADS_1
" Baiklah , paman jemput pukul dua belas nanti "
Diablo melajukan mobilnya meninggalkan Sean di sekolahan
" Sean "
Bintang memanggil
" Hai "
Sean berjalan mendekati bintang
" Astagaaaaa kamu tinggi banget"
Bintang menatap Sean dengan wajah terkejut
" Haha "
Sean tertawa
Sean saat ini makin bertambah tinggi , badannya sudah setinggi anak kelas lima SD dan membuatnya lebih tinggi dari teman sekelasnya yang lain
" Ayo masuk kelas deh "
Bintang menarik tangan Sean menuju kelas
" Lho.. ini kelas berapa "
Bu guru bertanya
" Saya Sean bu , saya baru bisa sekolah hari ini "
Sean mencium tangan Bu guru
Pelajaran di mulai dengan khidmat hingga jam istirahat dan jam pulang sekolah
Pukul 12.00
" Sean nunggu siapa "
Bintang duduk di atas kursi taman bersama Sean
" Nunggu Diablo , dia yang menjadi tukang antar jemput ku sekarang"
Sean menjawab
" Oh.. "
Bintang mengangguk
" Itu ibuku "
Bintang turun dari atas kursi taman
" Aku pulang dulu ya babay "
Bintang melambaikan tangannya
" Diablo lama sekali "
Sean mengeluarkan hp nya
Pukul 12.25
" Akan ku bunuh dia nanti "
Sean dengan kesal berdiri dan keluar dari area sekolahan
" Oh... Itu ada paman ojek "
Sean menghampiri pangkalan ojek yang ada di dekat sekolah
" Mau pulang dek "
Mereka menawari
" Iya paman "
Sean naik ke atas sepeda motor dan pak ojek melajukan motornya
" Rumahnya di mana dek "
Pak ojek bertanya
" Saya arahkan paman "
Sean mengarahkan agar pak ojek mengikuti jalan rumahnya
" Berhenti di toko kue di depan itu ya paman"
Sean menunjuk toko cake kesukaannya
Setelah sampai di depan toko cake , Sean turun dan meminta pak ojek menunggu sebentar
Saat Sean kembali , dia membawa tiga kotak cake dan melanjutkan perjalanan menuju rumah impian
" Berhenti di sini paman "
Sean berhenti di gerbang masuk rumahnya
" Makasih ya paman , ini uangnya "
Sean memberikan selembar uang lima puluh ribu
" Kembaliannya buat paman aja , dan ini buat paman karena paman udah tungguin Sean di toko cake "
Sean memberikan satu kotak cake
" Ngak usah dek ngak papa "
Pak ojek menolak
" Ngak papa paman saya maksa "
Sean memaksa
" Waduh makasih ya dek , paman ngak nyangka hari ini dapat uang segini "
Pak ojek terlihat tersenyum senang
" Iya paman "
Sean mengangguk dan memperhatikan pak ojek hingga pergi tak terlihat dari pandangan
Pukul 12.37
" Tuan muda pulang sama siapa "
Pak satpam bertanya
" Paman Diablo ngak jemput Sean , jadi pulang sendiri deh "
Sean masuk dan pak satpam menutup pintu
" Ini buat paman "
Sean meletakkan satu kotak cake di atas meja pos
" Makasih tuan muda sayang , kamu baik deh hehehe "
Pak satpam cengar-cengir
" Sean masuk dulu ya paman "
Sean berjalan masuk
" Biar saya telponin mobil tuan "
Pak satpam berteriak
" Ngak usah paman "
Sean menolak
Para pengawal membungkuk saat Sean melewati mereka hingga Sean sampai di pintu masuk
" Assalamualaikum... Sean pulang "
Sean masuk dan dia di sambut dengan teriakan Aniel
" Tataaaaaak ama "
( Kakaaaaaak lama )
Terlihat Aniel yang duduk di kursi single di tengah-tengah ruangan
" Maaf maaf , kenapa duduk di sini "
Sean menghampiri Aniel yang terlihat sedang merajuk
" Nona muda dari tadi nunggu tuan , kami juga "
Geo memeluk kaki Sean di ikuti oleh Alma
" kalian sudah makan belum "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Dah... "
Geo dan Alma menjawab
" Kalau begitu kita makan cake aja "
Sean melepaskan tasnya dan memberikannya kepada Mao yang berdiri di samping Aniel sedari tadi
" Et... Iel au "
( Cake... Aniel mau )
Aniel terlihat senang
" Ayo makan cake "
Sean berjalan ke arah dapur di ikuti oleh kedua anak kecil yang selalu menempel dengan Aniel
" Tuan tadi pulang di jemput siapa "
Bi Aini datang dan bertanya
" Naik pak ojek "
Sean menjawab dengan enteng
" ASTAGA SERIUS TUAN!! "
Semua orang ternganga , para penjaga , para maid bahkan bi Aini dan Mao
" Iya "
Sean mendudukkan Aniel dan mengangkat kedua anak kecil di bawah yang menunggu giliran
" Saya akan membunuh Diablo nanti , anda jangan khawatir tuan "
Mao terlihat sedikit guratan kemarahan
" TUAN SEAAAAAN HADUH... ASTAGA "
Terlihat Diablo berlari menghampiri Sean dengan nafas yang kelelahan
" Anda dari mana tuan Diablo "
Terlihat Mao menyambut kedatangan Diablo dengan bahagia
*Glup
" Tadi... Tadi saya mendapatkan sebuah informasi "
Diablo dengan menelan ludah kasar mengeluarkan hp nya
" Apa itu penting hingga anda mengabaikan tuan Sean "
Mao mengangkat kerah pakaian Diablo
" A...anu anu "
Diablo terlihat ketakutan
" Biar saja Mao "
Sean meletakkan satu potong cake di setiap piring anak-anak
" Informasi apa hingga paman tidak menjemput Sean "
Sean duduk di samping Aniel
" Aaaaaa ini cakenya dong buka mulutnya "
Sean mulai menyuapi Aniel
" Aaaem.... Nyak "
( Aem.... Enak )
Aniel dengan lahap memakan setiap suapan demi suapan Yang di berikan Sean
" Tuan Sean , apakah anda adalah tuan besar dari perusahaan Sea blue "
Diablo membuat Sean berhenti menyendokkan cake Aniel
" Jika iya "
Sean menaikkan alisnya
" APA TUAAAN !! "
Semua orang terkejut dan ternganga
" Kalian ini , begitu saja terkejut "
Aniel membuat semua orang terkejut...eh...lagi
" Jangan beritahu yang lain , ini rahasia "
Sean tersenyum dan membuat semua orang melotot
Dan itu langsung menyebar menjadi gosip trending di istana adinda di antara para penjaga , maid , tukang kebun dan lainnya
Sore harinya di kamar rawat Sbastian
" Apa tidak berbahaya mengungkap identitas anda semudah ini "
Mao duduk di atas sofa
" Mereka tidak akan percaya Mao , dan kelihatannya paman akan datang hari ini "
Sean sibuk menemani Aniel yang sedari tadi bermain dengan headset kepunyaan Sean dengan menekan-nekan layar hp Sean sembarangan agar lagu terus berganti
" ini berbahaya tuan "
Mao mengingatkan
" Aku sudah siap seperti ini sejak Aniel dan papa di rumah sakit , aku bukan Sean yang dulu Mao "
Sean membuat Mao traveling
Isi pikiran Mao
Di dalam markas beberapa bulan yang lalu
" Makamkan mereka dengan layak "
( Membunuh tanpa menyakiti dan memakamkan para korban penghianat , musuh atau orang jahad dengan layak seperti aturan dalam Islam )
Di taman kastil dua hari yang lalu
" Penyusup ini perlu di beri pelajaran , potong saja tangannya "
Sean memerintahkan karena mereka mencuri beberapa data penting Sean
Di halaman belakang kastil kemarin
" Mata di balas mata , gigi di balas gigi "
Sean memerintahkan mengkebiri kelima orang penyusup karena hendak melecehkan dua pelayan kediaman
__ADS_1
End~~