
" Adinda "
Sbastian memanggil
" Iya "
Adinda menoleh
" Kamu tau "
Sbastian mengusap kepala Adinda
" Apa "
Adinda memiringkan kepalanya
" Kamu itu jelek "
Sbastian berkata dengan senyuman manis
" Haduh... Mas Tian kenapa bilang aku jelek"
Adinda mendekati Sbastian
" Kamu kan emang jelek "
Sbastian menoel pipi Adinda
" Denger ya mas , aku ini tau selera mas Tian tinggi , jadi ngak mungkin aku jelek "
Adinda menaik turunkan alisnya
" Apa buktinya kalau kamu ngak jelek "
Sbastian berkacak pinggang
" Banyak tuh cewek yang ngejar mas , tapi mas pilih aku "
Adinda berkata dengan bangga
" Buktinya kurang "
Sbastian mengibaskan tangannya
*Cup
Adinda mencium pipi Sbastian
" Jadi Adinda masih jelek "
Adinda menaik turunkan alisnya
" Hahaha Adinda tuh cantik , wanita tercantik sedunia "
Sbastian tersenyum senang
" Tuh kan hahaha "
Adinda tertawa kecil
" Bunda , ini apa "
Aniel menarik gamis Adinda
" Oh... Sini bunda tunjukkan "
Adinda mulai sibuk dengan Aniel
" Skak mat "
Sbastian menggariskan kukunya di lehernya sambil tersenyum mengerikan yang di tujukan untuk Bram
" Sialan "
Bram mengumpat
" Ayo tuan Bram , tunjukkan bahwa Anda laki-laki yang bisa menepati janji "
Sbastian berbicara dengan nada mengejek
" Jangan mengejekku tuan Sbastian "
Bram mengacungkan telunjuknya
" Jika anda tidak bisa mengatakan itu , maka semua putra anda dan putri saya akan mengerti bahwa papa Bram yang mereka banggakan bukanlah papa yang hebat , seperti yang mereka pikirkan "
Sbastian mengancam
" Baik baik "
Bram terlihat sangat putus asa
" Ayu "
Bram memanggil
" Hm... "
Ayu menoleh
" Kamu tau "
Bram menatap ayu
" Hm... "
Ayu dengan wajah polos menaikkan alisnya
" Kakaaaak "
Terlihat Aniel dan mutiara berlari langsung ke dalam gendongan Sean
" Halo cantik "
Sean menggendong Aniel dan mutiara
" Ayo pulang "
Sean menghampiri orang tuanya
" Ayo main "
Reyhan terlihat bersemangat
" Ya , pulang dulu ya , ganti baju, makan siang baru boleh main "
Ayu membuka pintu mobilnya
" Ayo masuk lalu kita pulang dulu "
Ayu menggiring anak-anaknya masuk ke dalam mobil
" Ke rumah papa Tian aja , nanti kita mandi bareng "
Aniel menarik tangan mutiara
" Waaaah ayo ke rumah papa Tian , Mutia mau mandi sama Aniel "
Aniel berjingkrak riang
" Ya sudah , ayo masuk mobil "
Ayu mengiyakan
" Ayo masuk "
Reyhan mengajak Sean masuk ke dalam mobil Bram
" Kita di sini saja "
Adimas menarik Fadlan masuk ke dalam mobil Sbastian
" Tia naik ini aja "
Aniel menarik mutiara masuk ke dalam mobil Sbastian
" Ayo sayang "
Sbastian membawa Adinda masuk ke dalam mobil
Setelah itu , Bram mengikuti laju mobil Sbastian hingga sampai di rumah Adinda
" Sampai yeeeey "
Mutiara dan Aniel keluar dari dalam mobil
" Ayo mandi di kolam "
Aniel mengajak
" Ayo "
Mutiara setuju
" Kak Sean kak Sean "
Kedua bocah kecil memanggil Sean
" Hm... "
Sean yang masih berbincang dengan Reyhan menyahuti
" Ayo mandi di kolam "
Aniel mengajak
" Kalian mau mandi di kolam "
Sbastian bertanya
" Iya pa , ayo mandi di kolam "
Aniel mengangguk
" Baiklah "
Sbastian mengiyakan
" Yeeey "
Aniel dan mutiara langsung saja menarik tangan Sean menuju kolam renang di belakang rumah
Di kolam renang
" Lepas dulu bajunya "
Sean melepaskan seragam sekolah milik kedua adiknya dan hanya menyisakan legging dan kaos pendek tipis milik mereka
" Lenang sama-sama kak "
Aniel meminta
" Iya "
Sean langsung saja melepaskan pakaiannya dan menyisakan celana pendek yang dia pakai
" Lihat kakak ya "
Sean mengikat rambutnya dengan benar dan menjauh dari bibir kolam
" Hiyaaaaaa "
Sean berlari menuju kolam dan melompat tinggi begitu sampai di bibir kolam
*Byur
Sean masuk ke dalam kolam renang dewasa tanpa pemanasan
" Yeeeeey kakak hebat hahahaha "
Aniel dan mutiara berjingkrak senang melihat Sean yang langsung masuk ke dalam air
Hening....
Air kolam hanya beriak saat Sean masuk , dan saat ini air kolam sudah menjadi tenang dengan di selingi sedikit gelombang
" Kakak "
Aniel berlutut di pinggir kolam
" Kakak uda lama , ayo kelual "
Aniel memasukkan tangannya ke dalam air
" Aku akan liat yang di sana "
Mutiara berlari menuju arah kolam yang berlawanan
Setelah beberapa saat , mutiara kembali
" Mana "
Aniel berdiri
" Ngak ada "
Mutiara menggeleng
" Ayo kesana lagi "
Aniel menunjuk arah berlawanan dengan arah mereka berdiri
" Kak seaaaaan "
Aniel dan mutiara berteriak dan mengelilingi kolam
Tidak lama kemudian
" Kenapa "
Sbastian dan Bram datang
" Papa papa , kak Sean dali tadi belom keluar lho "
Aniel mendekati Sbastian
" Maksudnya "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Kakak tadi byull... Gitu pa , telus kakak gak naik "
Mutiara memperagakan bagaimana cara Sean masuk ke dalam air
" Apa "
Sbastian terkejut
" Tidak ada Sean di sini "
Bram mendekati kolam dengan cepat
" SEAN... SEAN... "
Sbastian langsung saja mengelilingi kolam
Sbastian memperhatikan isi kolam yang berwarna biru tanpa ada sedikit noda hitam yang menyertai
" Kamu yakin kak Sean masuk ke kolam "
Bram bertanya kepada kedua gadis kecil di sana
" Iya pa , itu baju kakak "
Aniel menunjuk seragam Sean yang masih ada di sana
" CCTV "
Sbastian berlari masuk di ikuti Bram
" Kalian jangan masuk kolam "
Bram mengikuti Sbastian masuk ke dalam rumah
" Kenapa ya "
Aniel memiringkan kepalanya
" Gatau "
Mutiara mengedikkan bahunya
" Hai kecil "
Terlihat Reyhan dan Adimas datang
" Kak kak , tadi kak Sean byull lho "
Mutiara berlari mendekati Adimas
" Byul apa "
Reyhan tidak mengerti
" Iya , byul ke sana "
Mutiara menunjuk kolam
" Terus kakak Sean kemana "
Reyhan bertanya
" Gatau... Tadi abis kesana telus ngak ada "
Aniel menggeleng pelan
" Maksudnya kakak Sean masuk ke sana dan kakak gak keluar "
__ADS_1
Adimas berlutut di hadapan kedua adik kecilnya
" Iya "
Mutiara mengangguk
" Apa ini yang di maksud Sean tadi "
Adimas mengerenyitkan keningnya
Tadi di sekolah saat mengambil tas sebelum pulang
" Kak "
Sean memanggil Adimas
" Hm.. "
Adimas menoleh
" Sesuatu akan terjadi , jika itu terjadi maka kakak harus menjauhkan semua orang dari tempat itu "
Sean membuat Adimas mengerenyitkan keningnya
" Apa maksudnya "
Adimas bertanya
" Kakak akan tau nanti "
Sean tersenyum kecil
End
" Ini berbahaya , ayo kalian masuk "
Adimas mengambil pakaian kedua adiknya
" Kenapa emangnya kak "
Aniel mengikuti tarikan tangan Adimas
" Iya kenapa , kan aku mau lenang "
Mutiara mengikuti tarikan tangan Adimas
" Kenapa Adimas "
Reyhan mengikuti Adimas yang masuk ke dalam rumah
" Adimas tungguin "
Reyhan mengambil tas dan pakaian Sean lalu berlari masuk ke dalam rumah
" Bagaimana pa "
Adimas langsung menghampiri Sbastian dan Bram yang baru keluar dari ruang CCTV
" Mereka benar , Sean langsung hilang "
Sbastian menjawab pertanyaan Adimas
" Mao... Mao pasti tau "
Adimas mengingatkan
" Aloe , Lao dan key , cari mereka "
Sbastian berlari menuju dapur
" Aku akan bantu cari "
Adimas berlari menuju lantai atas
" Kenapa "
Ayu dan Adinda datang bersama Fadlan yang membawa beberapa kantong plastik
" Sean ngak ada katanya "
Reyhan menjawab
" Sean kan di kolam "
Ayu meletakkan apa yang dia bawa
" Sean tadi di kolam tapi sekarang ngak ada"
Reyhan menjawab
" Jangan bercanda sayang "
Adinda mengusap kepala Reyhan
" Reyhan juga ngak percaya sih "
Reyhan duduk di atas sofa
*Drap...drap..drap
Terlihat Sbastian berlari dengan cepat melewati Adinda
" Mas mas "
Adinda mengejar Sbastian yang berlari keluar rumah
" Mas tunggu , mas mau kemana mas "
Adinda mengejar Sbastian yang berlari menuju gerbang utama
" Adinda "
Suara Sbastian terdengar dari arah belakang
" Lho... Tadi mas Tian kan lari ke sana "
Adinda menunjuk gerbang utama
" Mas di dalam , kamu lihat Mao , Lao , Aloe dan key "
Sbastian bertanya
" Ada apa mas , kenapa mas cari mereka "
Adinda bertanya
" Sean ngak ada , mas harus temukan mereka "
Sbastian menarik tangan adinda dan kembali ke dalam rumah
" Ayo masuk "
Sbastian membawa adinda masuk ke dalam rumah
" Tapi mas , tadi mas beneran lari keluar lho"
Adinda menatap Sbastian
" Sayang , kamu jangan keluar dari rumah ya , mas akan cari Sean dulu "
Sbastian mendudukkan Adinda di sofa ruang tamu
" Tapi Sean kemana mas "
Adinda bertanya
" Sean pergi sebentar , kamu benar-benar jangan keluar rumah , mas akan keluar , jangan ikuti mas kalau mas gak panggil kamu "
Sbastian menjelaskan
" Tapi kenapa mas "
Adinda menghentikan Sbastian
" Aniel jaga bunda , jangan sampai bunda pergi keluar rumah "
Sbastian mendudukkan Aniel di samping adinda
" Kenapa mas , bilang ke Adinda "
Adinda menghentikan Sbastian yang hendak berdiri
" Sayang , pokoknya jangan keluar dari pintu rumah , mas takut kalau terjadi sesuatu padamu nanti "
Sbastian menjelaskan
" Terjadi apa mas "
Adinda mengguncang tubuh Sbastian
" Aniel jaga bunda , mengerti "
Sbastian menangkup pipi Aniel
" Iya "
Aniel mengangguk
Adimas mendekat dan memberikan dua kaos milik Aniel
" Sini Aniel , kamu pakai ini "
Sbastian memakaikan kaos merah untuk Aniel
" Mutiara , nanti jaga mama dan minta mama jangan sampai pergi keluar dari pintu rumah , meski itu ke halaman belakang "
Sbastian memakaikan kaos untuk Mutiara
" Iya papa , mutiala mengelti "
Mutiara mengangguk
" Adimas cari Reyhan dan Fadlan "
Sbastian mendudukkan Mutiara di atas sofa di samping Aniel
" Dengar anak-anak papa , jangan sampai mama dan bunda keluar dari rumah , mengerti "
Sbastian membelai kepala kedua putrinya
" Sbastian , ayo kita harus bergegas "
Bram datang bersama ayu
" Reyhan tetap di sini , jaga mama dan bunda jangan sampai keluar rumah "
Sbastian berdiri
" Tunggu mas , jelasin dulu ke Adinda "
Adinda menahan tangan Sbastian
" Tuan Sbastian "
Terlihat seseorang datang dengan penampilan aneh
" Siapa kamu "
Sbastian terlihat waspada
" Kakak ketiga Mao mengirim saya kemari , saya adik berbeda ibu dari kakak Mao "
Terlihat laki-laki yang tinggi dengan postur yang cantik memiliki penampilan ala jaman dinasti cina kuno
" Dan saya di perintahkan untuk menjaga anda semua dari orang-orang yang ingin membunuh Anda "
Pemuda itu berkata dengan penuh percaya diri
*Plak
Mendarat sebuah pukulan di kepala si pemuda
" Kau ini harusnya menjaga kalimatmu , kau tidak lihat ada nona kecil hah "
Terlihat seorang pria dengan penampilan ala perang zaman dunia kedua mengomeli sang pria cantik
" Maaf tuan , saya terlambat memperkenalkan diri "
Seorang pria dengan penampilan elegan bak seorang pekerja kantoran dengan setelan yang rapih membungkuk hormat
" Kami adalah pelayan pribadi yang mulia raja Tian yang dikirim untuk melayani pangeran Sean dan keluarganya , nama saya Meliodas "
Meliodas memperkenalkan diri
" Ini adalah Yuri adik kecil saya "
Meliodas menunjuk sang laki-laki cantik
" Dan ini Zargam adik saya yang paling kecil"
Meliodas menunjuk sang pria yang memakai pakaian ala perang zaman dunia kedua
" Aku kenal "
Aniel berdiri dan berlari mendekati Meliodas
" Berbahaya "
Sbastian menghentikan Aniel
" Dia lho baik pa "
Aniel merosot dari gendongan Sbastian dan berlari mendekati Meliodas
" Salam putri "
Meliodas berlutut di hadapan Aniel
" Kamu yang seling ada di mimpi aku , kamu lubah kan "
Aniel menunjuk hidung Meliodas
" Ampun putri , saya adalah seekor macan kumbang "
Meliodas menjawab
" Telingamu mana lho "
Aniel mengelilingi Meliodas
" Ekhem... Saya tidak bisa menunjukkannya secara sembarangan "
Meliodas menjawab
" Kakak bilang kamu itu bisa apa aja "
Aniel berdiri di depan Meliodas
" Ekhem... Anda terlalu memuji "
Terlihat wajah Meliodas memerah
" Tuan bilang jika bertemu anda , saya harus memberikan ini "
Meliodas mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya
" Gelangnya kakak "
Mutiara berlari dan mengambil gelang dari tangan Meliodas
" Dan saya di kirim oleh tuan pertapa tua , tuan bilang anda lebih mengenalnya sebagai kakek tua "
Meliodas berbicara dengan Sbastian
" Benarkah "
Sbastian meragukan
" Iya , saya adalah kakak dari Mao "
Meliodas mengangguk
" Lalu di mana Sean "
Sbastian mendekat
" Tuan muda Sean ada bersama nyonya Alula"
Meliodas menjawab
Di tempat Sean sesaat setelah masuk ke dalam air
" Hah laut "
Sean terkejut melihat dirinya yang seharusnya keluar dari kolam renang kini ada di tengah-tengah laut
Sean kembali masuk ke dalam air untuk memastikan
*Blup...blup...
Sean melihat banyak biota laut yang mendekatinya mulai dari yang kecil hingga yang besar
" Ulah Alula "
Sean kembali naik ke permukaan
" Selamat datang pangeran "
Suara seseorang dari arah belakang membuat Sean terkejut
" Alula "
Sean terkejut melihat Alula berada di atas sebuah kapal yang lumayan besar
Sebenarnya Sean terkejut karena kapalnya yang besar namun datar hampir seperti papan kayu besar yang membawa sebuah rumah
" Mari pangeran "
__ADS_1
Alula mengulurkan tangannya
" Ini perbuatanmu kan Alula "
Sean naik ke atas kapal
" Ahahaha maaf pangeran saya terpaksa "
Alula membantu Sean naik ke atas kapal
" Silahkan yang mulia "
Terlihat Meliodas memberikan selimut tebal untuk Sean
" Kau di sini "
Sean terkejut
" Saya benar-benar merindukan anda tuan "
Terlihat senyum cerah dari bibir Meliodas
" Kamu jarang tersenyum Meliodas "
Sean membenarkan selimutnya
" Mari tuan , saya akan membantu anda mengganti pakaian "
Meliodas menunjukkan sebuah portal
*Sret
Sean mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk berhenti sejenak
" Alula , kamu seharusnya tau kalau aku di sini secara tiba-tiba itu bisa membuat orang-orang di rumah khawatir "
Sean melirik Alula
" Saya mengerti tuan , jadi apa yang harus saya lakukan "
Alula mendekati Sean
" Sepertinya kehebatanmu melayaniku sudah menurun ya Alula "
Sean masuk ke dalam portal di ikuti Meliodas
" T..tuan anda sungguh kejam , saya kan sudah melayani anda lebih dari dua ribu tahun "
Alula menggumam
" Dua ribu tahun apanya "
Mao menyahuti
Tidak lama Sean keluar dengn mengenakan toxedo hitam dengan celana panjang dan jubah hitam panjang berlapis permata yang di hiasi dengan bulu-bulu yang halus
" Saya akan mengirim macan bersaudara untuk menjaga rumah anda "
Alula menyambut Sean
" Lalu "
Sean melirik Alula
" Karena Mao dan lainnya saya panggil kesini juga "
Alula menunjuk Mao dan lainnya
" Untuk apa kau panggil mereka kemari juga"
Sean menerima minuman yang di berikan Mao
" Eh... Tuan.. mereka perlu mengetahuinya juga"
Alula menjawab
" Baiklah... Tapi Alula "
Sean menatap Alula tajam
" Jangan memanggilku sembarangan lagi "
Sean berkata dengan nada yang dingin
" Maaf tuan "
Alula menunduk
" Ngomong-ngomong jubah ini terlalu besar sekarang "
Sean memperhatikan pakaian yang dia pakai
" Ini kan jubah anda saat anda masih lima belas tahun "
Meliodas memberitahu
" Apa aku dulu memang gendut "
Sean memperhatikan lengan pakaiannya yang kedodoran
" Body anda itu besar , bukan gendut "
Meliodas menjawab
" Hm.... Kamu bahkan sudah belajar kata-kata seperti itu "
Sean mendudukkan dirinya di atas kursi yang di siapkan oleh Mao
" Hehe "
Meliodas hanya cengengesan
" Pergilah Meliodas , berikan ini kepada Aniel , dia sudah banyak tau tentangmu "
Sean melepaskan gelang yang di berikan oleh Aniel
" Bagaimana putri tau "
Meliodas menerima gelang dari tangan Sean
" Aku banyak bercerita tentangmu , pergilah bersama kedua saudaramu , dan katanya dia banyak memimpikanmu akhir-akhir ini"
Sean tersenyum
" Baik tuan "
Meliodas membungkuk hormat
*Cring
Meliodas menghilang dalam Kilauan cahaya
" Dimana kembarannya "
Sean bertanya
" Tadi mereka sedang ada di rumah , sekarang sudah saya kirim ke rumah anda "
Alula menjawab
" Sekarang kita kemana "
Sean menyeruput secangkir kopi yang baru saja di siapkan Mao
" Kita akan menuju desa Alycon "
Alulae menjawab
" Desa yang luluh lanta itu "
Sean menaikkan alisnya
" Sekarang desa itu sudah berdiri kembali "
Alula menjawab
" Kita akan melintasi waktu menuju beberapa saat setelah anda lahir "
Alula memberitahu
" Aku tidak mau "
Sean menolak
" Tapi tuan... "
Belum selesai Alula berbicara , Sean sudah memotong kalimatnya
" Aku ingin pergi menuju rumah Mao , aku mau kesana "
Sean berdiri
" Tapi tuan , di waktu itu anda benar-benar harus... "
Kalimat Alula kembali terjeda
" Kau membawa aku pergi ke sana , atau kau mau pergi dari sini "
Sean berjalan menuju ujung kapal
" Tapi tuan "
Alula menghampiri Sean
" Baik Alula , setidaknya aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang , kembalikan aku pulang "
Sean berbalik dan menatap Alula
" Tapi tuan ini tentang kutukan anda juga "
Alula terlihat berupaya menjelaskan
" Aku akan pulang "
Sean melepas jubahnya
" Baik baik saya akan menuju desa Tigre "
Alula menghentikan Sean
*Cring
Alula membuka sebuah portal tepat di hadapan kapal dan perlahan kapal masuk ke dalam portal
Ketika Sean membuka mata , terlihat sebuah desa yang cukup indah
" Eh... Tuan , kita sudah berlabuh dan kita bisa turun "
Alula menyadarkan Sean
" Masih sama saja ya , tidak ada yang berubah"
Sean terkekeh kecil melihat beberapa rumah yang muncul
Sean melangkahkan kakinya menuju papan yang satunya , mereka menyebutnya dengan daratan kayu desa Tigre
Sebuah desa yang terletak di tengah-tengah lautan , desa yang berdiri di atas kayu besar yang mengambang di tengah laut
Rumah-rumah di sana benar-benar berdiri di atas air tanpa pondasi , rumah kayu yang indah dan tidak bisa di gambarkan di tegakkan menggunakan sihir di sana
" Sudah pindah sejauh mana sejak pertama kali "
Sean menapakkan kakinya di atas kayu yang agak basah karena air laut
" Sudah sangat jauh dari tempat awal , kita selalu berlayar setiap saat "
Alula turun di ikuti yang lain
" Hm.... Aroma lautnya masih seperti dulu"
Sean menghirup dalam-dalam udara di sana
" Nyonya Lusi "
Sean memanggil seorang wanita cantik di sana yang berjongkok di tepi laut
" Iya sebentar "
Wanita cantik di sana tidak menoleh dan melanjutkan pekerjaannya
" Ayo ke sana "
Sean berjala mendekati nyonya Lusi
" Nyonya Lusi "
Sean kembali memanggil
" Sebentar ku bilang , kau tidak lihat aku sedang membersihkan ikan "
Terdengar nada ketus dari mulut nyonya Lusi
" Ikan apa itu "
Sean bertanya
" Ini ikan ****** , sudah lihat ikan hiu masih saja bertanya "
Nada suara nyonya Lusi terdengar kesal
" Saya dengar ikan hiu sangat enak jika di kelola dengan benar "
Sean berbasa-basi
" Kau memang benar "
Nyonya Lusi berdiri setelah selesai membersihkan ikan
" Ikan hiu akan sangat enak jika Anda bisa memasaknya dengan bumbu lengkap tanpa kurang , dan bumbu itu hanya kaum kami yang bisa menjaga dan menumbuhkan "
Nyonya Lusi berjalan menuju satu bangunan di sana dan Sean tetap mengikuti
" Apa benar "
Sean terdengar mengejek
" Iya benar bagaimana sih... "
Kalimat nyonya Lusi terhenti ketika melihat senyum manis Sean
" Eh... Tuan tanah "
Nyonya Lusi terdengar lebih lirih
" Ini bukan tanah nyonya , ini papan kayu "
Sean tersenyum
" Ah iya maaf tuan desa... Aiissshhhh sialan dasar mulut tidak berguna "
Lusi sedikit membungkuk dan berbicara dengan nada yang terdengar menyesal dan sedikit gumaman
" Hm.... Daging hiu ini terlihat enak "
Sean menyentuh daging ikan hiu yang sudah bersih
" Astaga tuan , saya akan masakkan untuk anda , mari ke rumah tetua "
Nyonya Lusi segera memalingkan wajahnya
" Mari nyonya "
Sean berjalan terlebih dahulu
" Mari tuan "
Nyonya Lusi menunggu Sean dan Alula berjalan terlebih dahulu
" Kenapa kau tidak memberitahu "
Nyonya Lusi memukul lengan Mao
" Ibu sih , ibu ini kan kebiasaannya emang begitu "
Mao mencibir
" Lain kali kalau ada yang panggil itu di lihat Bu"
Lao ikut menyalahkan
" Iya iya "
Nyonya Lusi mengiyakan dengan sedikit kesal
" Anda sudah datang "
Terlihat tetua di sana membungkuk hormat
" Bagaimana kabar anda "
Sean duduk di kursi di temani tuan tetua desa
" Saya baik , bagaimana tuan... Apa putri dan putra saya melayani anda dengan baik"
Tuan tetua menanyakan
" Iya , dia sangat hebat... Mereka sangat hebat "
Sean memuji
" Silahkan tuan "
Mao meletakkan dua cangkir teh di hadapan Sean dan tuan tetua
" Hm... Mao "
Sean memanggil
__ADS_1
" Saya "
Mao mendekat