Aku Pangeran

Aku Pangeran
#111 ( wanita terjelek sedunia )


__ADS_3

" Adinda "


Sbastian memanggil


" Iya "


Adinda menoleh


" Kamu tau "


Sbastian mengusap kepala Adinda


" Apa "


Adinda memiringkan kepalanya


" Kamu itu jelek "


Sbastian berkata dengan senyuman manis


" Haduh... Mas Tian kenapa bilang aku jelek"


Adinda mendekati Sbastian


" Kamu kan emang jelek "


Sbastian menoel pipi Adinda


" Denger ya mas , aku ini tau selera mas Tian tinggi , jadi ngak mungkin aku jelek "


Adinda menaik turunkan alisnya


" Apa buktinya kalau kamu ngak jelek "


Sbastian berkacak pinggang


" Banyak tuh cewek yang ngejar mas , tapi mas pilih aku "


Adinda berkata dengan bangga


" Buktinya kurang "


Sbastian mengibaskan tangannya


*Cup


Adinda mencium pipi Sbastian


" Jadi Adinda masih jelek "


Adinda menaik turunkan alisnya


" Hahaha Adinda tuh cantik , wanita tercantik sedunia "


Sbastian tersenyum senang


" Tuh kan hahaha "


Adinda tertawa kecil


" Bunda , ini apa "


Aniel menarik gamis Adinda


" Oh... Sini bunda tunjukkan "


Adinda mulai sibuk dengan Aniel


" Skak mat "


Sbastian menggariskan kukunya di lehernya sambil tersenyum mengerikan yang di tujukan untuk Bram


" Sialan "


Bram mengumpat


" Ayo tuan Bram , tunjukkan bahwa Anda laki-laki yang bisa menepati janji "


Sbastian berbicara dengan nada mengejek


" Jangan mengejekku tuan Sbastian "


Bram mengacungkan telunjuknya


" Jika anda tidak bisa mengatakan itu , maka semua putra anda dan putri saya akan mengerti bahwa papa Bram yang mereka banggakan bukanlah papa yang hebat , seperti yang mereka pikirkan "


Sbastian mengancam


" Baik baik "


Bram terlihat sangat putus asa


" Ayu "


Bram memanggil


" Hm... "


Ayu menoleh


" Kamu tau "


Bram menatap ayu


" Hm... "


Ayu dengan wajah polos menaikkan alisnya


" Kakaaaak "


Terlihat Aniel dan mutiara berlari langsung ke dalam gendongan Sean


" Halo cantik "


Sean menggendong Aniel dan mutiara


" Ayo pulang "


Sean menghampiri orang tuanya


" Ayo main "


Reyhan terlihat bersemangat


" Ya , pulang dulu ya , ganti baju, makan siang baru boleh main "


Ayu membuka pintu mobilnya


" Ayo masuk lalu kita pulang dulu "


Ayu menggiring anak-anaknya masuk ke dalam mobil


" Ke rumah papa Tian aja , nanti kita mandi bareng "


Aniel menarik tangan mutiara


" Waaaah ayo ke rumah papa Tian , Mutia mau mandi sama Aniel "


Aniel berjingkrak riang


" Ya sudah , ayo masuk mobil "


Ayu mengiyakan


" Ayo masuk "


Reyhan mengajak Sean masuk ke dalam mobil Bram


" Kita di sini saja "


Adimas menarik Fadlan masuk ke dalam mobil Sbastian


" Tia naik ini aja "


Aniel menarik mutiara masuk ke dalam mobil Sbastian


" Ayo sayang "


Sbastian membawa Adinda masuk ke dalam mobil


Setelah itu , Bram mengikuti laju mobil Sbastian hingga sampai di rumah Adinda


" Sampai yeeeey "


Mutiara dan Aniel keluar dari dalam mobil


" Ayo mandi di kolam "


Aniel mengajak


" Ayo "


Mutiara setuju


" Kak Sean kak Sean "


Kedua bocah kecil memanggil Sean


" Hm... "


Sean yang masih berbincang dengan Reyhan menyahuti


" Ayo mandi di kolam "


Aniel mengajak


" Kalian mau mandi di kolam "


Sbastian bertanya


" Iya pa , ayo mandi di kolam "


Aniel mengangguk


" Baiklah "


Sbastian mengiyakan


" Yeeey "


Aniel dan mutiara langsung saja menarik tangan Sean menuju kolam renang di belakang rumah


Di kolam renang


" Lepas dulu bajunya "


Sean melepaskan seragam sekolah milik kedua adiknya dan hanya menyisakan legging dan kaos pendek tipis milik mereka


" Lenang sama-sama kak "


Aniel meminta


" Iya "


Sean langsung saja melepaskan pakaiannya dan menyisakan celana pendek yang dia pakai


" Lihat kakak ya "


Sean mengikat rambutnya dengan benar dan menjauh dari bibir kolam


" Hiyaaaaaa "


Sean berlari menuju kolam dan melompat tinggi begitu sampai di bibir kolam


*Byur


Sean masuk ke dalam kolam renang dewasa tanpa pemanasan


" Yeeeeey kakak hebat hahahaha "


Aniel dan mutiara berjingkrak senang melihat Sean yang langsung masuk ke dalam air


Hening....


Air kolam hanya beriak saat Sean masuk , dan saat ini air kolam sudah menjadi tenang dengan di selingi sedikit gelombang


" Kakak "


Aniel berlutut di pinggir kolam


" Kakak uda lama , ayo kelual "


Aniel memasukkan tangannya ke dalam air


" Aku akan liat yang di sana "


Mutiara berlari menuju arah kolam yang berlawanan


Setelah beberapa saat , mutiara kembali


" Mana "


Aniel berdiri


" Ngak ada "


Mutiara menggeleng


" Ayo kesana lagi "


Aniel menunjuk arah berlawanan dengan arah mereka berdiri


" Kak seaaaaan "


Aniel dan mutiara berteriak dan mengelilingi kolam


Tidak lama kemudian


" Kenapa "


Sbastian dan Bram datang


" Papa papa , kak Sean dali tadi belom keluar lho "


Aniel mendekati Sbastian


" Maksudnya "


Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Kakak tadi byull... Gitu pa , telus kakak gak naik "


Mutiara memperagakan bagaimana cara Sean masuk ke dalam air


" Apa "


Sbastian terkejut


" Tidak ada Sean di sini "


Bram mendekati kolam dengan cepat


" SEAN... SEAN... "


Sbastian langsung saja mengelilingi kolam


Sbastian memperhatikan isi kolam yang berwarna biru tanpa ada sedikit noda hitam yang menyertai


" Kamu yakin kak Sean masuk ke kolam "


Bram bertanya kepada kedua gadis kecil di sana


" Iya pa , itu baju kakak "


Aniel menunjuk seragam Sean yang masih ada di sana


" CCTV "


Sbastian berlari masuk di ikuti Bram


" Kalian jangan masuk kolam "


Bram mengikuti Sbastian masuk ke dalam rumah


" Kenapa ya "


Aniel memiringkan kepalanya


" Gatau "


Mutiara mengedikkan bahunya


" Hai kecil "


Terlihat Reyhan dan Adimas datang


" Kak kak , tadi kak Sean byull lho "


Mutiara berlari mendekati Adimas


" Byul apa "


Reyhan tidak mengerti


" Iya , byul ke sana "


Mutiara menunjuk kolam


" Terus kakak Sean kemana "


Reyhan bertanya


" Gatau... Tadi abis kesana telus ngak ada "


Aniel menggeleng pelan


" Maksudnya kakak Sean masuk ke sana dan kakak gak keluar "

__ADS_1


Adimas berlutut di hadapan kedua adik kecilnya


" Iya "


Mutiara mengangguk


" Apa ini yang di maksud Sean tadi "


Adimas mengerenyitkan keningnya


Tadi di sekolah saat mengambil tas sebelum pulang


" Kak "


Sean memanggil Adimas


" Hm.. "


Adimas menoleh


" Sesuatu akan terjadi , jika itu terjadi maka kakak harus menjauhkan semua orang dari tempat itu "


Sean membuat Adimas mengerenyitkan keningnya


" Apa maksudnya "


Adimas bertanya


" Kakak akan tau nanti "


Sean tersenyum kecil


End


" Ini berbahaya , ayo kalian masuk "


Adimas mengambil pakaian kedua adiknya


" Kenapa emangnya kak "


Aniel mengikuti tarikan tangan Adimas


" Iya kenapa , kan aku mau lenang "


Mutiara mengikuti tarikan tangan Adimas


" Kenapa Adimas "


Reyhan mengikuti Adimas yang masuk ke dalam rumah


" Adimas tungguin "


Reyhan mengambil tas dan pakaian Sean lalu berlari masuk ke dalam rumah


" Bagaimana pa "


Adimas langsung menghampiri Sbastian dan Bram yang baru keluar dari ruang CCTV


" Mereka benar , Sean langsung hilang "


Sbastian menjawab pertanyaan Adimas


" Mao... Mao pasti tau "


Adimas mengingatkan


" Aloe , Lao dan key , cari mereka "


Sbastian berlari menuju dapur


" Aku akan bantu cari "


Adimas berlari menuju lantai atas


" Kenapa "


Ayu dan Adinda datang bersama Fadlan yang membawa beberapa kantong plastik


" Sean ngak ada katanya "


Reyhan menjawab


" Sean kan di kolam "


Ayu meletakkan apa yang dia bawa


" Sean tadi di kolam tapi sekarang ngak ada"


Reyhan menjawab


" Jangan bercanda sayang "


Adinda mengusap kepala Reyhan


" Reyhan juga ngak percaya sih "


Reyhan duduk di atas sofa


*Drap...drap..drap


Terlihat Sbastian berlari dengan cepat melewati Adinda


" Mas mas "


Adinda mengejar Sbastian yang berlari keluar rumah


" Mas tunggu , mas mau kemana mas "


Adinda mengejar Sbastian yang berlari menuju gerbang utama


" Adinda "


Suara Sbastian terdengar dari arah belakang


" Lho... Tadi mas Tian kan lari ke sana "


Adinda menunjuk gerbang utama


" Mas di dalam , kamu lihat Mao , Lao , Aloe dan key "


Sbastian bertanya


" Ada apa mas , kenapa mas cari mereka "


Adinda bertanya


" Sean ngak ada , mas harus temukan mereka "


Sbastian menarik tangan adinda dan kembali ke dalam rumah


" Ayo masuk "


Sbastian membawa adinda masuk ke dalam rumah


" Tapi mas , tadi mas beneran lari keluar lho"


Adinda menatap Sbastian


" Sayang , kamu jangan keluar dari rumah ya , mas akan cari Sean dulu "


Sbastian mendudukkan Adinda di sofa ruang tamu


" Tapi Sean kemana mas "


Adinda bertanya


" Sean pergi sebentar , kamu benar-benar jangan keluar rumah , mas akan keluar , jangan ikuti mas kalau mas gak panggil kamu "


Sbastian menjelaskan


" Tapi kenapa mas "


Adinda menghentikan Sbastian


" Aniel jaga bunda , jangan sampai bunda pergi keluar rumah "


Sbastian mendudukkan Aniel di samping adinda


" Kenapa mas , bilang ke Adinda "


Adinda menghentikan Sbastian yang hendak berdiri


" Sayang , pokoknya jangan keluar dari pintu rumah , mas takut kalau terjadi sesuatu padamu nanti "


Sbastian menjelaskan


" Terjadi apa mas "


Adinda mengguncang tubuh Sbastian


" Aniel jaga bunda , mengerti "


Sbastian menangkup pipi Aniel


" Iya "


Aniel mengangguk


Adimas mendekat dan memberikan dua kaos milik Aniel


" Sini Aniel , kamu pakai ini "


Sbastian memakaikan kaos merah untuk Aniel


" Mutiara , nanti jaga mama dan minta mama jangan sampai pergi keluar dari pintu rumah , meski itu ke halaman belakang "


Sbastian memakaikan kaos untuk Mutiara


" Iya papa , mutiala mengelti "


Mutiara mengangguk


" Adimas cari Reyhan dan Fadlan "


Sbastian mendudukkan Mutiara di atas sofa di samping Aniel


" Dengar anak-anak papa , jangan sampai mama dan bunda keluar dari rumah , mengerti "


Sbastian membelai kepala kedua putrinya


" Sbastian , ayo kita harus bergegas "


Bram datang bersama ayu


" Reyhan tetap di sini , jaga mama dan bunda jangan sampai keluar rumah "


Sbastian berdiri


" Tunggu mas , jelasin dulu ke Adinda "


Adinda menahan tangan Sbastian


" Tuan Sbastian "


Terlihat seseorang datang dengan penampilan aneh


" Siapa kamu "


Sbastian terlihat waspada


" Kakak ketiga Mao mengirim saya kemari , saya adik berbeda ibu dari kakak Mao "


Terlihat laki-laki yang tinggi dengan postur yang cantik memiliki penampilan ala jaman dinasti cina kuno


" Dan saya di perintahkan untuk menjaga anda semua dari orang-orang yang ingin membunuh Anda "


Pemuda itu berkata dengan penuh percaya diri


*Plak


Mendarat sebuah pukulan di kepala si pemuda


" Kau ini harusnya menjaga kalimatmu , kau tidak lihat ada nona kecil hah "


Terlihat seorang pria dengan penampilan ala perang zaman dunia kedua mengomeli sang pria cantik


" Maaf tuan , saya terlambat memperkenalkan diri "


Seorang pria dengan penampilan elegan bak seorang pekerja kantoran dengan setelan yang rapih membungkuk hormat


" Kami adalah pelayan pribadi yang mulia raja Tian yang dikirim untuk melayani pangeran Sean dan keluarganya , nama saya Meliodas "


Meliodas memperkenalkan diri


" Ini adalah Yuri adik kecil saya "


Meliodas menunjuk sang laki-laki cantik


" Dan ini Zargam adik saya yang paling kecil"


Meliodas menunjuk sang pria yang memakai pakaian ala perang zaman dunia kedua


" Aku kenal "


Aniel berdiri dan berlari mendekati Meliodas


" Berbahaya "


Sbastian menghentikan Aniel


" Dia lho baik pa "


Aniel merosot dari gendongan Sbastian dan berlari mendekati Meliodas


" Salam putri "


Meliodas berlutut di hadapan Aniel


" Kamu yang seling ada di mimpi aku , kamu lubah kan "


Aniel menunjuk hidung Meliodas


" Ampun putri , saya adalah seekor macan kumbang "


Meliodas menjawab


" Telingamu mana lho "


Aniel mengelilingi Meliodas


" Ekhem... Saya tidak bisa menunjukkannya secara sembarangan "


Meliodas menjawab


" Kakak bilang kamu itu bisa apa aja "


Aniel berdiri di depan Meliodas


" Ekhem... Anda terlalu memuji "


Terlihat wajah Meliodas memerah


" Tuan bilang jika bertemu anda , saya harus memberikan ini "


Meliodas mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya


" Gelangnya kakak "


Mutiara berlari dan mengambil gelang dari tangan Meliodas


" Dan saya di kirim oleh tuan pertapa tua , tuan bilang anda lebih mengenalnya sebagai kakek tua "


Meliodas berbicara dengan Sbastian


" Benarkah "


Sbastian meragukan


" Iya , saya adalah kakak dari Mao "


Meliodas mengangguk


" Lalu di mana Sean "


Sbastian mendekat


" Tuan muda Sean ada bersama nyonya Alula"


Meliodas menjawab


Di tempat Sean sesaat setelah masuk ke dalam air


" Hah laut "


Sean terkejut melihat dirinya yang seharusnya keluar dari kolam renang kini ada di tengah-tengah laut


Sean kembali masuk ke dalam air untuk memastikan


*Blup...blup...


Sean melihat banyak biota laut yang mendekatinya mulai dari yang kecil hingga yang besar


" Ulah Alula "


Sean kembali naik ke permukaan


" Selamat datang pangeran "


Suara seseorang dari arah belakang membuat Sean terkejut


" Alula "


Sean terkejut melihat Alula berada di atas sebuah kapal yang lumayan besar


Sebenarnya Sean terkejut karena kapalnya yang besar namun datar hampir seperti papan kayu besar yang membawa sebuah rumah


" Mari pangeran "

__ADS_1


Alula mengulurkan tangannya


" Ini perbuatanmu kan Alula "


Sean naik ke atas kapal


" Ahahaha maaf pangeran saya terpaksa "


Alula membantu Sean naik ke atas kapal


" Silahkan yang mulia "


Terlihat Meliodas memberikan selimut tebal untuk Sean


" Kau di sini "


Sean terkejut


" Saya benar-benar merindukan anda tuan "


Terlihat senyum cerah dari bibir Meliodas


" Kamu jarang tersenyum Meliodas "


Sean membenarkan selimutnya


" Mari tuan , saya akan membantu anda mengganti pakaian "


Meliodas menunjukkan sebuah portal


*Sret


Sean mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk berhenti sejenak


" Alula , kamu seharusnya tau kalau aku di sini secara tiba-tiba itu bisa membuat orang-orang di rumah khawatir "


Sean melirik Alula


" Saya mengerti tuan , jadi apa yang harus saya lakukan "


Alula mendekati Sean


" Sepertinya kehebatanmu melayaniku sudah menurun ya Alula "


Sean masuk ke dalam portal di ikuti Meliodas


" T..tuan anda sungguh kejam , saya kan sudah melayani anda lebih dari dua ribu tahun "


Alula menggumam


" Dua ribu tahun apanya "


Mao menyahuti


Tidak lama Sean keluar dengn mengenakan toxedo hitam dengan celana panjang dan jubah hitam panjang berlapis permata yang di hiasi dengan bulu-bulu yang halus


" Saya akan mengirim macan bersaudara untuk menjaga rumah anda "


Alula menyambut Sean


" Lalu "


Sean melirik Alula


" Karena Mao dan lainnya saya panggil kesini juga "


Alula menunjuk Mao dan lainnya


" Untuk apa kau panggil mereka kemari juga"


Sean menerima minuman yang di berikan Mao


" Eh... Tuan.. mereka perlu mengetahuinya juga"


Alula menjawab


" Baiklah... Tapi Alula "


Sean menatap Alula tajam


" Jangan memanggilku sembarangan lagi "


Sean berkata dengan nada yang dingin


" Maaf tuan "


Alula menunduk


" Ngomong-ngomong jubah ini terlalu besar sekarang "


Sean memperhatikan pakaian yang dia pakai


" Ini kan jubah anda saat anda masih lima belas tahun "


Meliodas memberitahu


" Apa aku dulu memang gendut "


Sean memperhatikan lengan pakaiannya yang kedodoran


" Body anda itu besar , bukan gendut "


Meliodas menjawab


" Hm.... Kamu bahkan sudah belajar kata-kata seperti itu "


Sean mendudukkan dirinya di atas kursi yang di siapkan oleh Mao


" Hehe "


Meliodas hanya cengengesan


" Pergilah Meliodas , berikan ini kepada Aniel , dia sudah banyak tau tentangmu "


Sean melepaskan gelang yang di berikan oleh Aniel


" Bagaimana putri tau "


Meliodas menerima gelang dari tangan Sean


" Aku banyak bercerita tentangmu , pergilah bersama kedua saudaramu , dan katanya dia banyak memimpikanmu akhir-akhir ini"


Sean tersenyum


" Baik tuan "


Meliodas membungkuk hormat


*Cring


Meliodas menghilang dalam Kilauan cahaya


" Dimana kembarannya "


Sean bertanya


" Tadi mereka sedang ada di rumah , sekarang sudah saya kirim ke rumah anda "


Alula menjawab


" Sekarang kita kemana "


Sean menyeruput secangkir kopi yang baru saja di siapkan Mao


" Kita akan menuju desa Alycon "


Alulae menjawab


" Desa yang luluh lanta itu "


Sean menaikkan alisnya


" Sekarang desa itu sudah berdiri kembali "


Alula menjawab


" Kita akan melintasi waktu menuju beberapa saat setelah anda lahir "


Alula memberitahu


" Aku tidak mau "


Sean menolak


" Tapi tuan... "


Belum selesai Alula berbicara , Sean sudah memotong kalimatnya


" Aku ingin pergi menuju rumah Mao , aku mau kesana "


Sean berdiri


" Tapi tuan , di waktu itu anda benar-benar harus... "


Kalimat Alula kembali terjeda


" Kau membawa aku pergi ke sana , atau kau mau pergi dari sini "


Sean berjalan menuju ujung kapal


" Tapi tuan "


Alula menghampiri Sean


" Baik Alula , setidaknya aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang , kembalikan aku pulang "


Sean berbalik dan menatap Alula


" Tapi tuan ini tentang kutukan anda juga "


Alula terlihat berupaya menjelaskan


" Aku akan pulang "


Sean melepas jubahnya


" Baik baik saya akan menuju desa Tigre "


Alula menghentikan Sean


*Cring


Alula membuka sebuah portal tepat di hadapan kapal dan perlahan kapal masuk ke dalam portal


Ketika Sean membuka mata , terlihat sebuah desa yang cukup indah


" Eh... Tuan , kita sudah berlabuh dan kita bisa turun "


Alula menyadarkan Sean


" Masih sama saja ya , tidak ada yang berubah"


Sean terkekeh kecil melihat beberapa rumah yang muncul


Sean melangkahkan kakinya menuju papan yang satunya , mereka menyebutnya dengan daratan kayu desa Tigre


Sebuah desa yang terletak di tengah-tengah lautan , desa yang berdiri di atas kayu besar yang mengambang di tengah laut


Rumah-rumah di sana benar-benar berdiri di atas air tanpa pondasi , rumah kayu yang indah dan tidak bisa di gambarkan di tegakkan menggunakan sihir di sana


" Sudah pindah sejauh mana sejak pertama kali "


Sean menapakkan kakinya di atas kayu yang agak basah karena air laut


" Sudah sangat jauh dari tempat awal , kita selalu berlayar setiap saat "


Alula turun di ikuti yang lain


" Hm.... Aroma lautnya masih seperti dulu"


Sean menghirup dalam-dalam udara di sana


" Nyonya Lusi "


Sean memanggil seorang wanita cantik di sana yang berjongkok di tepi laut


" Iya sebentar "


Wanita cantik di sana tidak menoleh dan melanjutkan pekerjaannya


" Ayo ke sana "


Sean berjala mendekati nyonya Lusi


" Nyonya Lusi "


Sean kembali memanggil


" Sebentar ku bilang , kau tidak lihat aku sedang membersihkan ikan "


Terdengar nada ketus dari mulut nyonya Lusi


" Ikan apa itu "


Sean bertanya


" Ini ikan ****** , sudah lihat ikan hiu masih saja bertanya "


Nada suara nyonya Lusi terdengar kesal


" Saya dengar ikan hiu sangat enak jika di kelola dengan benar "


Sean berbasa-basi


" Kau memang benar "


Nyonya Lusi berdiri setelah selesai membersihkan ikan


" Ikan hiu akan sangat enak jika Anda bisa memasaknya dengan bumbu lengkap tanpa kurang , dan bumbu itu hanya kaum kami yang bisa menjaga dan menumbuhkan "


Nyonya Lusi berjalan menuju satu bangunan di sana dan Sean tetap mengikuti


" Apa benar "


Sean terdengar mengejek


" Iya benar bagaimana sih... "


Kalimat nyonya Lusi terhenti ketika melihat senyum manis Sean


" Eh... Tuan tanah "


Nyonya Lusi terdengar lebih lirih


" Ini bukan tanah nyonya , ini papan kayu "


Sean tersenyum


" Ah iya maaf tuan desa... Aiissshhhh sialan dasar mulut tidak berguna "


Lusi sedikit membungkuk dan berbicara dengan nada yang terdengar menyesal dan sedikit gumaman


" Hm.... Daging hiu ini terlihat enak "


Sean menyentuh daging ikan hiu yang sudah bersih


" Astaga tuan , saya akan masakkan untuk anda , mari ke rumah tetua "


Nyonya Lusi segera memalingkan wajahnya


" Mari nyonya "


Sean berjalan terlebih dahulu


" Mari tuan "


Nyonya Lusi menunggu Sean dan Alula berjalan terlebih dahulu


" Kenapa kau tidak memberitahu "


Nyonya Lusi memukul lengan Mao


" Ibu sih , ibu ini kan kebiasaannya emang begitu "


Mao mencibir


" Lain kali kalau ada yang panggil itu di lihat Bu"


Lao ikut menyalahkan


" Iya iya "


Nyonya Lusi mengiyakan dengan sedikit kesal


" Anda sudah datang "


Terlihat tetua di sana membungkuk hormat


" Bagaimana kabar anda "


Sean duduk di kursi di temani tuan tetua desa


" Saya baik , bagaimana tuan... Apa putri dan putra saya melayani anda dengan baik"


Tuan tetua menanyakan


" Iya , dia sangat hebat... Mereka sangat hebat "


Sean memuji


" Silahkan tuan "


Mao meletakkan dua cangkir teh di hadapan Sean dan tuan tetua


" Hm... Mao "


Sean memanggil

__ADS_1


" Saya "


Mao mendekat


__ADS_2