Aku Pangeran

Aku Pangeran
#80 ( masalah kelar )


__ADS_3

Setelah makan , bintang mengajak Sean dan alvida untuk membeli makanan di kantin


" Perut kamu itu kayak perut kambing ya "


Sean melihat bintang yang memakan semangkuk bakso


" Kok bisa "


Alvida memiringkan kepalanya


" Kambing itu ngak gampang kenyang , dia makan apapun yang ada di depannya "


Sean membuat alvida membentuk huruf O di mulutnya


" Aku baru tau lho "


Alvida tertawa


" Bintang kayak kambing hahaha "


Alvida menertawakan bintang


" Kamu jangan racuni sahabatku dong "


Bintang memonyongkan bibirnya


" Haha , ya ya ya , kapan kira-kira orang tua kita dateng "


Sean menyeruput jus jeruknya


" Mungkin pulang sekolah nanti , aku yakin ayah akan datang membawa ibu dan ibu akan mengomel panjang lebar "


Bintang memutar matanya malas


" Aku kira yang menjemputku nanti papa , dia akan meresign semua kegiatannya dan datang kemari dengan wajah cemas tiada Tara "


Sean melambaikan kedua tangannya


" Hahaha , orang tua kita berlawanan arah ya "


Bintang tertawa


" Yes you know "


Sean menaik turunkan alisnya


" Yes i know "


Bintang mengibaskan ujung hijabnya


" Kalian ngomong apa sih "


Alvida memiringkan kepalanya


" Ngak papa kok hahaha "


Sean dan bintang tertawa


" Kalian aneh "


Alvida menatap Sean dan bintang


" Makasih "


Sean dan bintang terkekeh


*Teeet


bel tanda istirahat usai baru berbunyi


" Ayo masuk kelas "


Bintang dan alvida berdiri


" Habis ini pelajaran tema "


Bintang mulai membahas banyak hal hingga sampai di kelas


" Aku masuk ya "


Alvida melambaikan tangannya saat dirinya masuk ke kelasnya sendiri


Bintang masuk ke dalam kelas di ikuti Sean


" Kok masih kosong "


Sean bertanya karena kelas terlihat sangat sepi


" anak anak itu kalau ngak di teriakin ngak akan ada yang masuk , udahlah "


Bintang duduk di ikuti Sean


" Kapan penawar kamu jadi "


Bintang membuka buku


" Katanya kurang satu bulan lagi , ngak tau lah "


Sean melepaskan jam tangannya dan memasang headset bluetooth miliknya


" Hm... Berarti bentar lagi kamu udah bisa jalan , ngak perlu pakek ini "


Bintang menepuk kursi roda Sean


" Ngak tau , kayak nyaaaa akan lama itu jadinya "


Sean mengedikkan bahunya


" Semoga cepat jadi deh "


Bintang menepuk pundak Sean


" Lagi rapat "


Bintang berbisik


" Lagi ngomong sama Diablo "


Sean ikut berbisik


" Oke , nanti kalau ada guru aku kasih tau "


Bintang mulai membaca bukunya


" Bagaimana tuan , apa ada yang perlu di revisi lagi "


Diablo menunjukkan hologram besar yang berisi pemetaan bangunan sekolah di pedalaman Kalimantan dan Sumatra


" Aku harap proyek kita berhasil , dan ya , cari anak-anak dengan IQ tinggi , tes mereka dengan cara yang aku gunakan untuk mengujimu , itu akan lebih efektif , jika sudah menemukan mereka , didik mereka dengan benar "


Sean memperhatikan setiap sudut desain bangunan


" Saya mengerti tuan "


Diablo mengiyakan


" Bagaimana perusahaan pusat "


Sean menghilangkan gambar hologramnya


" Ada sedikit masalah , namun saya sudah mengatasinya , mereka orang orang yang mengkorupsi dana untuk pembangunan mall di pusat kota "


Diablo menunjukkan beberapa orang yang mengkorupsi dana perusahaan


" Lalu sekarang mereka di mana "


Sean menggeser semua gambar


" Saya keluarkan namun masih saya pantau , jika tuan berkenan melakukan sesuatu saya akan menangkap mereka "


Diablo menawarkan


" tidak usah , biarkan mereka bebas , aku sedang malas "


Sean menghilangkan gambar hologramnya


" Baik tuan "


Diablo mematikan hologram


" Apa masih ada yang lain "


Sean merebahkan kepalanya


" Tidak tuan , hanya itu "


Diablo


" Matikan sambungannya "


Sean memerintahkan dan Diablo mematikan sambungan


" Selesai nih "


Bintang mencolek punggung Sean


" Udah , ngak ada laporan lain "


Sean mengangguk


" Eh... Ibu guru tuh "


Terlihat ibu guru memasuki kelas di ikuti oleh siswa yang lain dan pelajaran di mulai sampai pukul sebelas lebih tiga puluh menit


" Sean dan bintang di panggil kepala sekolah "


Bu guru menghampiri Sean dan bintang


" Masalah lagi "


Bu guru menyindir


" Kalian langsung ke kantor saja "


Bu guru tersenyum dan berlalu pergi


" Emang dua muka "


Bintang berbisik


" Biarin aja "


Sean menurunkan kursi rodanya dan berlalu pergi di ikuti oleh bintang


* Tok..tok..tok


Bintang mengetuk-ngetuk pintu


" Masuk "


Suara sahutan terdengar


" Sean "


Sbastian tiba-tiba berlutut di depan Sean


" Kamu lakukan apa ke anak ini "


Rudi membawa putrinya ke dalam gendongannya


" Apa mereka ini salah "


Rudi menunjuk kepada segerombolan anak yang berdiri di depan bangku pak kepsek


" Iya ayah , iya kan Sean "


Bintang menatap Sean


" Iya , mereka ambil bekal makanan teman kami , ya Sean ambil lagi dong , tapi liat pa , dasi Sean di tarik sampai putus , mereka mainin kursi roda Sean , dan mereka acak-acakin rambut Sean , bahkan kancing baju baru Sean lepas di bagian atas "


Sean menunjuk semua bukti


" Ngak , mereka yang ganggu kita "


Pemimpin gerombolan anak-anak itu menyangkal kalimat Sean


" Sean ngak bohong , kalau gitu Sean mau keluar aja dari sini , biar Sean ama bintang sekolah di tempat lain aja kalau gitu , Sean ngak mau pukul pukulan "


Sean menunduk


" Hei , semua sekolah itu sama saja sayang , kamu harus melawan "


Sbastian menangkup pipi Sean dan terlihat berkilau di ujung mata Sean


" Sean ngak bohong pa , Sean jujur "


Air mata Sean mulai mengalir


" Iya iya , papa percaya sama Sean "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya


" Ngak , mereka bohong , mereka pukulin kami "


Anak anak itu menunjuk Sean dan bintang


" Iya , lihat ini tanganku lebam "


Salah satu anak menunjukkan tangannya yang lebam


" Ya kalian kok kalah sama anak kelas dua SD yang masih sekecil biji kacang ini "


Rudi membuat mereka bungkam


" Tunggu , papaku akan datang , dia itu pemegang saham di sini "


Pemimpin gerombolan anak-anak itu menunjuk Sean dan bintang


" Ini salah bintang , kenapa bintang menjadi teman Sean , itu memberi pengaruh yang buruk , apalagi ayah bintang itu mantan napi , sudah jelas bintang yang bersalah "


Pak kepsek menyalahkan bintang dan Rudi


" Itu benar "


Suara seorang pria menyahuti dari pintu dan masuklah banyak orang ke dalam ruangan


" NGAK BINTANG NGAK SALAH "


Sean berteriak


" Sssttttt kakak "


Sbastian menutup mulut Sean


" Bintang ngak salah "


Sean memegang tangan Sbastian


" Kenapa kalian jadi seperti ini "


Para orang tua memeriksa anak anak mereka masing-masing

__ADS_1


" Oh... Aku kenal dia , dia mengkorupsi dana di perusahaan pusat , awas kamu "


Sean membatin mengenali salah satu dari orang tua siswa di sana


" Keluarkan bintang "


" Ya , keluarkan dia "


Para orang tua mendesak agar bintang di keluarkan dari sekolah


*Ting


Terlihat salah satu pria dewasa di sana mengedipkan matanya kepada pak kepsek


" Hohoho mau main curang ya , Sean juga bisa "


Sean membatin saat melihat kedipan mata di sana


" kalau begitu bintang di keluarkan "


Pak kepsek mengambil keputusan


" NGAK NGAK , BINTANG NGAK SALAH , KALAU PAMAN BISA PAKEK KEKUASAAN , PAPA SEAN JUGA BISA , BINTANG NGAK SALAH , KYAAAAAAA "


Sean berteriak dan memberontak hingga membuat orang orang di sana menutup telinganya


" Iya iya , papa ngerti sayang "


Sbastian mendekap Sean dan menggosok punggung Sean dengan lembut


" Hiks... Mereka salah pa "


Sean memeluk Sbastian erat


" Iya iya , apa Sean mau keluar dari sini , bintang juga ya "


Sbastian duduk di atas sofa dan mengelus punggung Sean


" Kalau bisa bintang mau di sini saja , kasihan teman bintang yang selalu kena bully "


Bintang memeluk Rudi


" Kalau gitu kita ganti kepala sekolah aja , papa akan kumpulkan semua bukti yang ada "


Kalimat Sbastian membuat semua orang terkejut


" Memangnya anda siapa "


Orang tua para murid di sana mengeroyok Sbastian dan Rudi langsung berdiri di samping kiri Sbastian dengan sikap siap sambil menggendong bintang


" Sekolahan ini sudah saya beli , guru-guru yang semena-mena juga akan saya pindah tugaskan dan akan saya ganti dengan guru yang baru "


Sbastian membuat mereka terkejut


* Grep


Rudi memegang tangan salah satu orang di sana yang hendak menyentuh Sbastian


" Anda sebaiknya menjaga jarak "


Rudi mengingatkan


" Tuan "


Aloe masuk dan menggeser semua orang lalu berdiri di samping kanan Sbastian


" Tuan Sbastian "


Asisten John masuk dengan membawa beberapa berkas


" Ini berkas berkas yang sudah saya siapkan "


Asisten John menaruh beberapa berkas di hadapan Sbastian


" Baiklah , kumpulkan semua guru esok sepulang sekolah "


Sbastian membuka satu persatu berkas dan menandatanganinya


" Apakah anda masih mau menjadi donatur terbesar di sini , jika iya silahkan jika tidak saya tidak keberatan "


Sbastian membuat semua orang di sana bungkam


" Bawa berkas-berkas ini ke kantor , aku akan memeriksanya lagi "


Sbastian memberikan berkas berkas itu kepada asisten John


" Baik tuan "


Asisten John mengambil berkas berkas itu dan berlalu pergi


" Jadi pak kepsek , saya tidak suka orang yang semena-mena akan tugasnya dan orang yang tidak bertanggung jawab , juga orang yang bisa di suruh dengan uang , jadi anda tau resikonya "


Sbastian menatap pak kepsek


" Saya mohon tuan , jangan menurunkan jabatan saya , saya tidak tau harus kemana"


Pak kepsek tiba-tiba berlutut di hadapan Sbastian


" Saya ini tidak suka jika orang yang lebih tua berlutut di depan saya , namun anda akan saya pindah tugaskan menjadi guru biasa di tempat lain , bersiaplah "


Sbastian berdiri dan keluar dari ruangan kepsek di ikuti Rudi yang masih menggendong bintang juga Aloe yang membawa kursi roda Sean


" Apa Sean setuju dengan keputusan papa "


Sbastian mengusap kepala Sean yang bersandar di pundaknya


" Iya pa , makasih ya "


Sean memeluk Sbastian dengan erat


" Sama sama , sekarang kamu pulanglah , adek udah nunggu di ruang tamu sejak jam sebelas tadi "


Sbastian menyerahkan Sean kepada Mao


" Besok ketemu lagi ya bintang babay bintang "


Sean melambaikan tangannya


" Babay Sean "


Bintang membalas lambaian tangan Sean


" Mari tuan muda "


Mao membuka pintu dan Sbastian mendudukkan Sean di dalam mobil setelah itu memakaikan sabuk pengaman


" Papa jangan pulang telat ya "


Sean menahan Sbastian


" Papa usahakan ya "


Sbastian mencium kening Sean dan menutup pintu


" Mao , langsung ke rumah , jangan kemana mana "


Sbastian mengingatkan dan Mao mengangguk


Mobil melaju melewati jalanan yang agak macet membuat Sean mengantuk


" Tuan muda tidur saja , nanti saya bangunkan begitu sampai di rumah "


Mao menoleh ke belakang


" Nanti bangunin ya "


Sean mengambil bantal tidurnya yang agak jauh darinya dan tertidur di dalam mobil


Mao menaikkan meja tidur khusus Sean dan merebahkan kepala Sean di atas meja tidur yang di lengkapi oleh bantal agar tidurnya menjadi nyenyak


Mao keluar dan mengambil Sean yang masih tertidur


" Tolong parkirkan , kuncinya masih di dalam "


Mao keluar membawa Sean dan Lao membantu Mao mengeluarkan tas dan juga kursi roda Sean


" Nona muda , mari ke kamar tuan muda "


Lao menggendong Aniel dan mengikuti Mao yang sudah sampai di lantai atas


" Tatak hat , anji am lalas "


( Kakak jahat , janjinya jam dua belas )


Aniel melipat tangannya di atas dada


" Tadi kakak ada masalah sedikit , nona jangan marah ya "


Lao membawa Aniel masuk ke dalam kamar Sean


" Alalah pa "


( Masalah apa )


Aniel menatap Lao dan Mao bergantian


" Tadi tuan muda di pukul sama anak anak nakal , jadi nona muda jangan marah ya "


Mao menerangkan


" Nelan "


( Beneran )


Aniel menatap Mao


" Iya nona muda "


Mao mengangguk


" Sian tatak na iel "


( Kasihan kakaknya Aniel )


Aniel merangkak mendekati Sean dan memeluk lengan Sean setelah itu dia ikut tertidur


Pukul lima sore , Sbastian baru menginjakkan kakinya di dalam rumah


" Dimana anakku "


Sbastian memberikan jas dan tas nya kepada para maid


" Nona dan tuan muda masih tidur di kamar tuan muda "


Mao memberitahu


" Pasti mereka lelah , apa mereka sudah makan siang "


Sbastian berjalan ke atas di ikuti Mao dan beberapa maid lainnya


" Belum tuan , nona muda tidur begitu tuan muda sampai di rumah dan tuan muda sudah tidur sejak dalam perjalanan "


Mao menjelaskan


* Ting


Lift terbuka


" Kalau begitu siapkan makanan untuk mereka , aku akan membawa mereka makan "


Sbastian masuk ke dalam lift bersama Aloe sedang Mao di luar dan lift tertutup


" cepat siapkan makanan tuan muda dan nona muda "


Mao berjalan ke dapur


*Ting


Lift terbuka di lantai tiga


" Salam tuan "


Para penjaga membungkuk hormat


" Apa ada sesuatu "


Sbastian berhenti di depan para pimpinan keamanan


" Semuanya berjalan lancar tuan "


Para pemimpin menjawab


" Baiklah "


Sbastian masuk ke dalam kamar Sean


" wah wah masih tidur "


Sbastian mendekati anak anaknya


" Adek , kakak bangun yok , dah mau magrib ini "


Sbastian mengguncang Sean dan Aniel


" Eum... "


Aniel menyisihkan tangan Sbastian dan berbalik membelakangi Sean


" Kakak "


Sbastian mengguncang Sean


" Hai "


Sbastian tersenyum saat Sean membuka matanya


*Grep ....sreeet


Sean berbalik dan menarik Aniel ke dalam pelukannya dan kembali tidur


" Astagaaaaa "


Sbastian memijit kepalanya


" Bangun sayang "


Sbastian menepuk pipi Sean hingga Sean terbangun , setelah itu mendudukkan Aniel di dalam pangkuannya


" Bangun anak anak "


Sbastian memencet hidung Sean hingga Sean terduduk di bantu Sbastian


" Ini udah malam , ayo bangun "


Sbastian membawa Sean ke dalam pangkuannya


*Tuk


Kepala Aniel terjatuh di atas lengan Sbastian


" Kakak , bangun dong "

__ADS_1


Sbastian mengguncang Sean hingga Sean mengerjapkan matanya berkali-kali


" Baiklah , jangan di tutup ya matanya "


Sbastian menurunkan Sean dari pangkuannya


" Adek , bangun sayang "


Sbastian menepuk pipi Aniel dan mengguncang Aniel dengan lembut


" Adek... Sayang "


Sbastian memencet hidung Aniel hingga Aniel terbangun


" Kakak laperkan , tadi belum makan , ayo makan "


Sbastian meletakkan Aniel dan mendudukkan Sean di atas kursi roda


" Ayo turun "


Sbastian mendorong kursi roda Sean yang masih setengah sadar


" Mari saya bantu tuan "


Aloe yang dari tadi berjaga di depan mengambil alih kursi roda Sean dan mengikuti Sbastian hingga meja makan


" kakak mau makan apa "


Sbastian mendudukkan Aniel di atas tempat duduknya dan Sean di dudukkan oleh Mao di atas kursi khususnya


" Mau terserah "


Sean meletakkan kepalanya di atas meja


" Au tatak "


( Mau kakak )


Aniel menunjuk Sean


" Iya "


Sbastian mengambilkan Aniel dan Sean makanan yang sama persis namun porsi Sean lebih banyak


Setelah selesai makan siang dan malam yang jadi satu , Sbastian mengajak Aniel dan Sean berjamaah , setelah itu berkumpul di ruang tamu di temani oleh banyak camilan kesukaan Sean dan Aniel


" Tuan , ada peket untuk tuan Sean "


Salah satu penjaga membawa satu kotak besar paket yang bertuliskan nama Sean


" Taro aja paman , makasih ya "


Sean tersenyum dan di balas anggukan oleh paman penjaga


" Kamu pesen apa "


Sbastian berdiri di ikuti Aniel


" Sean kemarin lihat baju baju bagus , jadi Sean beli buat adek , lagian juga baju adek ngak terlalu banyak , adek kan ganti baju sehari sampai lima kali "


Sean duduk di atas kursi roda di bantu Sbastian


" Uat iel uwaaa tatak aik "


( Buat Aniel uwaaa kakak baik )


Aniel berjingkrak riang


" Baik baik , kita buka ya "


Sbastian mengambil gunting yang di siapkan oleh Mao


" Iel au uka "


( Aniel mau buka )


Aniel menarik celana Sbastian


" Dari sini dong "


Sbastian membantu Aniel men unboxing kotak paket persegi besar yang setinggi dada Sbastian


" UwU "


Aniel sempat berfoto ria bersama Sbastian di atas kotak paket


" Awas jatoh sayang "


Sbastian memegangi Aniel yang membuka kotak paket dari atas kardus


" Ngak ada barang pecah belah kan "


Sbastian sedikit melirik Sean


" Cuman barang-barang lembut pa "


Sean tersenyum melihat adik kecilnya yang sangat antusias membuka kotak paket Sean


"Dah kaka "


( Udah buka )


Aniel merobek sedikit ujung kotak


" Sini sini , papa yang buka "


Sbastian menggunting kotak paket hingga terbuka bagian atasnya


" Woah "


Sbastian terkejut melihat isi kotak paket


" Pa pa , iel au iat "


( Apa apa , Aniel mau liat )


" Aniel siap "


Sbastian mengangkat kotak paket


" Ya "


Aniel melompat


* Sur


Sbastian menjatuhkan semua isi paket di atas kepala Aniel


" Wahahahaha "


Aniel terkejut saat isi paket lebih banyak potongan kecil sterofoam yang lebih mirip dengan salju yang tidak akan pernah cair


" Oneta neta "


( Boneka boneka )


Aniel mengambil beberapa boneka kecil yang terjatuh di sampingnya


" Waaah "


Aniel mengambil banyak boneka yang ada di sekitarnya , mulai boneka kecil hingga boneka yang ukurannya sebesar Aniel


" Aju aju "


( Baju baju )


Aniel sangat antusias melihat banyak pakaian yang terikat pita , berserakan karena terjatuh dari dalam box


" Wah.. lihat sayang "


Sbastian meletakkan kotak dan mengambil beberapa benda yang sengaja di tempel dengan solatip di dinding kardus


" Papa "


Aniel mendekati Sbastian


" Cantiknya "


Sbastian mengeluarkan sebuah bando kucing yang berwarna pink dan memakainya


" Iel iel "


( Aniel Aniel )


Aniel mencoba meraih bando yang ada di atas kepala Sbastian


" Di sini masih banyak "


Sbastian memasukkan Aniel ke dalam box dan di sana Aniel melihat banyak sekali ornamen rambut , gelang kain dan banyak lagi perhiasan anak anak yang bukan terbuat dari emas


" Pa ni "


( Apa ini )


Aniel mengambil dua gelang yang bertuliskan namanya


" Ini gelang untuk Aniel "


Sbastian memakaikan gelang kayu yang terlihat sangat indah


" Setiap perhiasan ada pasangan baju dan bonekanya "


Sean membuat Sbastian menoleh


" Benarkah "


Sbastian terkejut


" Yang papa pakai itu ini bajunya "


Sean menunjuk sebuah pakaian yang masih terlilit pita merah


" Iat iat "


( Liat liat )


Aniel menggulingkan kardusnya dan merangkak keluar


" Papa buka ya "


Sbastian membuka lilitan pita yang di tunjuk Sean


" Wah... Cantiknya "


Sbastian menempelkan gaun putih dengan lengan dan bagian bawah yang indah di sertai pita pink yang di rancang seindah mungkin di badan kecil Aniel


" Aku tidak kecewa , ini semua hasil desain ku dan jahitan dari pendesainku Alisya dan Rena , nanti akan aku kirim hasilnya , aku sangat suka "


Sean tersenyum dan membatin


" Antit antit hahaha "


( Cantik cantik hahaha )


Aniel menempelkan gaunnya dan berputar putar di tempat


" Coba pakai bandonya "


Sbastian memakaikan bando pink yang dia pakai ke atas kepala Aniel


" Kalau gitu pakai bajunya sekalian "


Sbastian memakaikan gaun putih Aniel tanpa melepas baju tidur Aniel


" Ini bonekanya "


Sean menunjuk satu boneka Teddy bear besar yang memegang hati bertuliskan papa bunda


" Cantiknya anak gadis papa "


Sbastian langsung memotret Aniel dengan hp nya


" Sini sini foto sama kak Sean "


Sbastian menurunkan Sean dari kursi rodanya


" Kakak duduk di sini , adek duduk di depan kakak "


Setelah itu Sbastian menata semua boneka dan baju juga perhiasan Aniel di samping Aniel dan Sean


" Kakak pakek ini dong biar sama kayak adek "


Sbastian memakaikan bando kucing berwarna biru di kepala Sean


" Senyum sayang "


Sbastian mengambil posisi


"Ceees "


Sean dan Aniel memberikan Chess yang terbaik


" Ayo ganti kostum "


Sbastian dengan sangat antusias mendandani kedua anaknya dengan berbagai macam aksesoris anak perempuan yang tertempel di dalam kardus


" Sean cowok lho pa "


Sean mengingatkan


" Sekali kali gapapa lha "


Sbastian menjawab dengan enteng


" Astaga papaku "


Sean geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sbastian


Setelah mencoba banyak pakaian princess untuk Aniel , Aniel terlihat sudah lelah melihat antusiasme Sbastian hingga pukul sembilan malam


" Adek udah bobok tuh "


Sean menunjuk Aniel yang sudah tertidur di atas tumpukan boneka barunya


" Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar "


Sbastian membawa Aniel ke dalam gendongannya dan melepas semua aksesoris yang masih menempel di tubuhnya


" Biar saya bantu "


Mao membantu Sean


Aloe dan Lao membawa semua barang barang Aniel ke dalam kamar Aniel sendiri


" Sean mau tidur di kamar Sean aja ya "


Sean menghentikan Sbastian


" Baiklah... Muach.. selamat malam sayang"


Sbastian mencium kening Sean dan masuk ke dalam kamarnya bersama Aniel

__ADS_1


" Ayo Mao "


Sean masuk ke dalam kamarnya sendiri


__ADS_2