Aku Pangeran

Aku Pangeran
#91 ( perayaan tanpa papa )


__ADS_3

" Sean "


Pak Sam memanggil


" Kakek "


Sean menoleh


" Kakek udah ketemu sama paman "


Sean menerima puding dari pak Sam


" Sudah , kakek ngak nyangka nak "


Pak Sam memeluk Sean


" Kakek jangan mikir macem-macem ya , badan kakek panas ini "


Sean menyentuh kening pak Sam


" Kakek duduk aja di sini sama Sean , biar yang lain yang ngerjain "


Sean mengusap air mata pak Sam yang masih tertinggal


" Kakek masih mau bantuin yang lain "


Pak Sam mencium kening Sean dan berlalu pergi


" Kakek emang keras kepala "


Sean mendengus kesal


" Emmmm pudingnya enak "


Ana mencicipi puding terlebih dahulu


" Paman Diablo "


Sean melambaikan tangannya


Para fifeteen trust berdiri dan membungkuk saat Diablo datang


" Apa apaan kalian , ini bukan waktu bertugas , sekarang kita berkumpul jadi nikmati waktu bersama "


Diablo membuat para fifeteen trust tersenyum


" Kalau begitu ayo kita bantu ngaji "


Seilla menarik teman teman wanitanya untuk duduk bersama ibu-ibu pengajian dan ikut mengaji bersama mereka


" Wah tuan Diablo ada di sini , saya tidak menyangka "


Lagardio berdiri


" Saya juga terkejut anda datang , mari kita berbincang di sana "


Diablo membawa para orang diwasa berlalu dan meninggalkan anak-anak di sekitar Sean


" Ana ini bintang dan ini Linda adekku "


Sean menunjuk bintang dan Aniel


" Bintang "


Sean menjabat tangan Ana


" Ana "


Ana tersenyum


" Kalian kayak orang dewasa aja "


Sean membelai kepala Aniel


" Hehehe "


Mereka terkekeh


Ana datang dengan pakaian panjang yang tidak pernah Sean lihat , pasalnya saat mereka bertemu secara langsung ataupun virtual , ana memakai pakaian feminim yang elegan terkadang hanya sepanjang lutut


" kalian tau apa kesamaan kalian "


Sean menunjuk Ana dan bintang


" Enggak "


Mereka berdua menggeleng


" Kalian sama sama aneh "


Sean mengambil pudingnya dan mulai menyuapi Aniel


" Kamu aneh "


Ana menunjuk bintang


" Saya tangan kanan tuan Sean "


Bintang berbisik


" Benarkah , kalau begitu anda pasti tau Aliana ranza "


Ana bertanya


" Rekan perusahaan kami , darimana anda tau "


Bintang mengerenyitkan keningnya


" Ekhem... Selamat pagi nona muda , ada keperluan apa anda datang kemari "


Ana melipat tangannya di atas dada dan berbicara layaknya orang dewasa


" Astaga anda nona Aliana ranza yang terkenal itu "


Bintang terkejut


" Dan anda nona Lonely "


Ana menebak


" Ekhem... Tepat sekali.... hahaha "


Sean , Ana dan bintang tertawa saat mengetahui apa yang mereka lakukan di belakang orang tua mereka masing-masing


" Udah udah ah "


Sean melerai dua wanita dewasa berbadan kecil di depannya


" Assalamualaikum "


Terdengar suara seorang gadis kecil


" Wa'alaikum salam "


Semuanya serentak menjawab


" Waaaahhhh kak lodi "


Aniel berdiri


" Iya itu kak melodi "


Sean membenarkan hijab Aniel


" Mana kak lodi "


Aniel menoleh ke kanan dan ke kiri


" Tunggu sebentar "


Sean menenangkan Aniel


" Kak lodi kak lodi ayo kesini "


Aniel dengan antusias memanggil melodi


" Salam tuan "


Rohit dengan lirih memberi salam


" Paman di belakang , kakak kesana saja"


Sean memberitahu


" Melodi baik baik ya disini nanti kalau cari kakak di belakang ya "


Rohit mengusap kepala adiknya dan berlalu pergi


" Halo adek Linda "


Melodi duduk di samping Aniel


" Kamu duduk , kak lodi duduk di sini "


Sean mendudukkan Aniel


" Nah melodi , ini namanya kak Ana dan kak bintang "


Sean memperkenalkan melodi dan bintang


" Halo "


Bintang, Ana dan melodi saling menyapa


" Dan ini wafi juga bayu , bayu ini adiknya bintang "


Sean menunjuk wafi dan Bayu


" Hai melodi "


Mereka berdua melambaikan tangannya


" Ayo main yok "


Melodi mengajak


" Ayok "


Bayu dan wafi berdiri


" Ayo adek Linda "


Melodi mengajak Aniel


" Kakak kakak ngak ikut "


Melodi menatap Sean dan kedua rekannya


" Kalian saja , kami akan di sini menemani kakak yang habis di potong ini "


Bintang menjawab


" Okey "


Melodi membawa Aniel dengan perlahan bersama kedua teman barunya untuk bermain di tempat yang biasa di gunakan Aniel untuk bermain


" Bagaimana dengan donor mata Aniel "


Bintang memulai percakapan


" Paman Diablo sudah menemukan pendonor , dan sekarang yang aku tunggu hanya papa sadar saja "


Sean memakan puding di depannya


" Bagaimana anak perusahaan "


Sean bertanya kepada bintang


" Baik-baik saja , fifeteen trust selalu memberi kabar "


Bintang menjawab


" Lalu bagaimana... Apa kamu menerima saranku untuk membuat produk baru "


Ana mengacungkan sendoknya


" Akan aku pikirkan "


Sean mengangguk


Percakapan terjadi hingga pengajian selesai dan anak-anak kecil tertidur di kotak mainan Aniel


" Mereka tidur ya paman "


Sean bertanya kepada Kelvin


" Iya , paman akan pindahkan ke ruang tamu"


Kelvin mengangkat wafi


" Sean minta tolong ya paman "


Sean menatap Kelvin tidak enak


" Apaan sih , ngak usah kayak gitu tau "


Kelvin membawa wafi ke dalam kamar tamu di lantai bawah , setelah itu Bayu kemudian melodi di kamar yang berbeda


" Kalau Aniel biarkan saja di atas Sean sini paman , nanti kasihan kalau nangis cari Sean "


Sean menepuk sofa di atasnya


" Oke "


Kelvin menidurkan Aniel di atas Sean


" Makasih paman "


Sean tersenyum


" Iya iya... Kamu sunat apa "


Kelvin bergabung dengan percakapan anak-anak absurd


" Sunat calak , kata papa dulu Sean akan di sunat calak , papa ngak mau sunat leser "


Sean memakan puding lainnya


" Lama tuh sembuhnya "


Kelvin menggoda Sean


" Emang "


Godaan Kelvin tidak mempan


" Habis sembuh mau ngapain "


Kelvin memakan salah satu puding di sana


" Mau sunat lagi "


Bintang menjawab


" Jangaaaan.. nanti habis "


Sean menatap bintang aneh


" Hahahaha "


Semuanya tertawa melihat ekspresi Sean


" Waaah ini yang sunat ya "


Ibu-ibu yang baru saja selesai makan menghampiri Sean


" Iya Tante "


Sean mengangguk


" Kamu tinggi untuk ukuran anak kelas SMP"


Ibu-ibu pengajian tertawa dan sedikit bercanda dengan Sean


" Apa tante menikmati hidangannya "


Sean bertanya


" Iya , Tante suka "

__ADS_1


Mereka semua mengangguk


Para ibu-ibu pengajian di berikan dua nasi kotak dengan di isi beberapa sovenir yang khas wanita


" Terimakasih sudah datang "


Saat ibu ibu pengajian berdiri Sean tersenyum manis


" Semoga cepat sembuh ya "


Ibu-ibu pengajian melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan oleh Sean


" Jam berapa ini "


Sean melihat jam tangannya


Pukul 03.00


" Udah sore ya haha "


Sean terkekeh


" Mau jamaah "


Pak Sam menghampiri di ikuti Kelvin


" Boleh "


Beberapa dari mereka yang islam melaksanakan jamaah ashar di ruang tamu yang luas dan Sean ikut berjamaah namun sambil duduk


Setelah itu Sean di kembalikan duduk di samping Aniel


" Kakak "


Aniel membuka mata


" Kakak di sini "


Sean mengusap tangan Aniel


" Aduh Mao "


Sean memanggil Mao


" Apa terasa nyeri lagi tuan "


Mao menghampiri


" Iya "


Sean mengangguk


" Mau minum obat tuan "


Mao menawari


" Tidak usah "


Sean menolak


Malam itu mereka semua menginap di kediaman adinda hingga esok pukul 09.00 pagi satu persatu pulang ke rumahnya masih masing


Setelah satu Minggu , Sean sudah bisa berjalan dengan normal dan beraktivitas seperti biasa


" Kakak "


Aniel memanggil


" Iya kakak di sini "


Sean membelai rambut Aniel


" Aniel pengen papa "


Aniel memegang tangan Sean


" Mau ketemu papa hm.. oke sekarang kita ke papa "


Saat ini Sean ada di ruang kerjanya yang di letakkan di samping kamarnya


" Aniel laper ngak "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Enggak , Aniel ngantuk "


Aniel merebahkan kepalanya di atas pundak Sean


" Kita tidur sama papa "


Sean keluar dan masuk ke dalam kamar rawat Sbastian


" Halo papa "


Sean mendudukkan Aniel di samping Sbastian


" Papa papa "


Aniel merebahkan kepalanya


" Di sini adek "


Sean membenarkan posisi Aniel agar tidur di antara tubuh dan lengan Sbastian


" Selamat tidur kakak "


Aniel memeluk lengan Sbastian


" Selamat tidur Aniel "


Sean membenarkan posisi Aniel dan menyelimutinya


" Hai papa , saatnya mandi "


Sean masuk ke dalam kamar mandi dan kembali membawa baskom dengan air hangat dan handuk


Sean dengan telaten menyeka tubuhnya papanya hingga bersih dan wangi tanpa melewatkan sedikitpun kotoran


" Sean mau kembali mengerjakan tugas ya pa , papa cepatlah sembuh "


Sean mencium kening Sbastian


Sean kembali ke ruang kerjanya dan meminta key untuk mengawasi Aniel


" Tuan... Tuan Diablo di bawah "


Rudi memberitahu


" Baik paman "


Sean tidak jadi masuk ke dalam ruang kerjanya dan turun melalui tangga menuju lantai bawah


" Ada apa paman "


Sean menghampiri Diablo


" Ini berita baik "


Diablo tersenyum


" Apa berita baiknya paman "


Sean duduk di depan Diablo


" Lihat ini "


Diablo memberikan satu berkas


" Berkas di berikan oleh dokter mata yang menangi nona muda , beliau bilang jika nona muda memiliki kondisi yang fit akan bisa melakukan operasi secepatnya "


Diablo memberitahu dengan antusias


" Kalau begitu Minggu depan ini bisa "


Sean terlihat senang


" Iya "


Diablo mengangguk


" Alhamdulillah.. Sean akan mempersiapkan semuanya "


" Dan satu lagi "


Diablo memberikan satu berkas lagi


Sean membuka berkas itu


" Jadi mereka benar orang tuaku "


Sean terlihat sedikit cemberut


" A.. apa aku salah memberikannya saat ini"


Diablo membatin


" Huft... Kalau aku bertemu dengan mereka , aku takut mereka akan memaksaku masuk ke dalam kehidupan mereka , lalu bagaimana dengan papa dan Aniel "


Sean menyangga kepalanya


" Anda bisa meminta agar Anda tetap tinggal di sini , tuan Bram pasti mengerti "


Diablo menenangkan Sean


" Aku tau bagaimana perebutan hak asuh , itu kejam paman , apalagi papa tidak memiliki surat adopsi "


Sean merebahkan tubuhnya di atas sofa


" Tapi tuan Bram tidak seperti itu , dia adalah pribadi yang baik "


Diablo membuat Sean makin menyesal


" Aku akan pergi menemui kakek "


Sean berdiri dan meninggalkan Diablo sendirian di ruang tamu


" Aduuh aku tidak tau jalan pikiran tuan muda "


Diablo terlihat kebingungan


Sean menghampiri pak Sam dan menceritakan seluruh isi hatinya hingga malam menjelang


" Nak.. temui mereka , kasihan ibumu "


Pak Sam membelai kepala Sean yang ada di atas pangkuannya


" Sean takut kek , nanti Sean ngak bisa ketemu papa lagi "


Sean menggeleng


" Oh ya kek , adek bisa di operasi Minggu depan , Sean mau minta agar kakek menemani kami kesana jika kakek bisa "


Sean meminta


" Kakek akan menemani kalian "


Pak Sam mengangguk


Esok hari


" Kakak mau pergi "


Aniel menggengam tangan Sean


" Sebentar kok , adek di sini sama kakek sama kak key , sama kak lodi "


Sean membelai lembut kepala Aniel


" Ngak mau , aku mau ikut kakak "


Aniel menggeleng


" Sebentar saja ya sayang , nanti kakak janji akan pulang cepat "


Sean memeluk Aniel


" Jangan pergi "


Aniel memeluk erat leher Sean


" Hm.. Aniel mau apa sih , nanti kakak turuti"


Sean berdiri dan membawa Aniel berjalan jalan sedikit di halaman kastil


" Aniel ngak mau apa apa , cuma mau sama kakak "


Aniel menggeleng


" Kalau Aniel nurut nanti kalau kakak pulang kakak ajak renang di belakang , di kolamnya papa "


Sean mencoba bernegosiasi


" Ngak mau "


Aniel menggeleng


" Apa kamu mau menunggu dengan papa , kalau iya nanti kakak turuti semua yang adek minta "


Sean mengajak Aniel duduk di air mancur


" Kakak janji "


Aniel memberikan jari kelingkingnya


" Kakak janji "


Sean menautkan jari kelingkingnya di atas jari kelingking kecil Aniel


" Baik , Aniel mau sama papa aja "


Aniel tersenyum


" Anak pandai "


Sean berdiri dan membawa Aniel ke kamar rawat Sbastian dengan tenang


" Kakak pergi dulu ya sayang "


Sean menidurkan Aniel di dalam pelukan Sbastian


" Jangan lama-lama ya kak "


Aniel menahan tangan Sean


" Kakak ngak lama "


Sean mencium kening Aniel


Sean membuka tirai kamar Sbastian


" Papa , Sean berangkat dulu ya , Aniel ada di sini sama papa "


Sean mencium kening Sbastian lama


" Doakan Sean jangan sampai meninggalkan papa ya , Sean akan bertemu dengan ayah ibu Sean , Sean takut pa "


Sean menyentuh pipi Sbastian sangat lama hingga air matanya menetes membasahi wajah Sbastian


" Sean pergi pa "


Sean mengusap air matanya yang membasahi wajah Sbastian dan pergi meninggalkan ruangan


Sean beranjak pergi dan menyerahkan terapi listrik Sbastian hari ini kepada Mao


Saat sudah sampai di lantai dasar


" ayo paman "


Sean berjalan keluar di ikuti Diablo


" Tolong kalian semua di sini saja , jangan sampai kalian lengah sedikitpun "


Sean berbicara dengan semua kepala devisi keamanan


" Kami mengerti "


Semua kepala keamanan membungkuk hormat


Sean membagi kepala devisi keamanan menjadi tiga bagian , devisi satu dengan kepala pertama Luis dan beberapa rekan lainnya yang masih di sembunyikan dan devisi ini di pimpin oleh Kelvin

__ADS_1


Devisi dua di isi oleh lima kepala dan di pimpin langsung oleh Mao yang di kenal ketegasan dan kekejamannya saat di arena latihan dan lapangan praktek


Devisi tiga baru saja di dirikan dan di pimpin oleh Rohit sebagai kepala devisi dengan jumlah pasukan yang paling banyak dan masih dalam masa pelatihan


Semua laporan dari setiap kepala devisi akan di berikan kepada Ariana lalu Diablo dan terakhir akan di serahkan kepada Sean


" Dimana rumah paman Brian "


Sean bertanya


" Sebentar lagi sampai tuan "


Diablo menjawab


" Hm.. "


Sean terlihat lesu dan tidak bersemangat untuk bertemu dengan orang tua kandungnya


" Kita sudah sampai tuan "


Diablo memberitahu


Kediaman tuan Brian setara dengan kastil impian , mulai halaman hingga bangunan , semuanya tidak kalah besar dan tidak kalah mewah


" Permisi "


Diablo berhenti di depan pintu gerbang dan berbicara dengan pak satpam


" Apa anda membawa tuan Sean "


Pak satpam bertanya


" Iya "


Diablo mengangguk


" Kalau begitu silahkan masuk "


Pak satpam membuka gerbang dan membungkuk hormat saat mobil yang di tumpangi Sean melewati pintu gerbang


Sean masuk di iringi beberapa pengawal dengan pakaian serba hitam yang selalu ada di dekat Sean


Perjalanan menuju pintu masuk di sambut oleh banyak sekali tanaman tanaman langka yang terlihat cantik namun berbahaya


" Mari tuan "


Diablo membuka pintu dan itu membuat Sean terkejut


" Maaf aku melamun "


Sean tersenyum dan turun dari mobilnya


*Grep


" Putraku "


Nyonya Brian langsung saja memeluk Sean dengan penuh kerinduan


" iya "


Sean membalas pelukan ibunya dengan hangat


" Pertemuan kami memang tidak dramatis , tapi mencari kebenaran bahwa aku putra kandung dari keluarga ini cukup butuh pengorbanan "


Sean membatin dan membelai lembut rambut panjang ibunya


" Apa kamu senang nak "


Nyonya Bram menangkup pipi Sean


" Apapun untuk mama "


Sean memegang tangan nyonya Bram dan mencium telapak tangan nyonya Bram


Keluarga Bram memiliki marga Prasetyo , nyonya Bram memiliki nama lengkap Nanda Putri ayu dan lebih sering di panggil nyonya ayu atau nyonya Prasetyo


" Ayo sayang , mama tunjukkan saudara saudara kamu "


Nyonya Bram atau mama Sean membawa Sean menuju pintu masuk dan di sana terlihat banyak orang yang menyambut kedatangan Sean


" Hai anak papa "


Bram langsung memeluk Sean


" Iya papa "


Sean membalas pelukan hangat Bram


" Apa kamu tidak senang nak "


Bram melihat raut wajah Sean yang sedikit menyiratkan kekecewaan


" Bukan begitu pa "


Sean menunduk


" Kamu tidak senang nak bertemu mama papa setelah sekian lama "


Ayu memegang pundak Sean


" Sean hanya takut ma , Sean takut mama dan papa meminta Sean di sini dan tidak boleh pulang menemui papa Sbastian "


Sean menjawab dengan jujur


" Ayo duduk sayang , mama mau membicarakan sesuatu "


Mama Sean merangkul pundak Sean dan membawanya masuk menuju sofa di ruang tamu


Sean saat ini setinggi pundak ayu dan setinggi dada bram , untuk ukuran Sbastian , Sean tidak lebih tinggi dari dada Sbastian


" Ayo duduk putraku "


Ayu mendudukkan Sean di atas sofa berwarna biru Dongker yang ada di tengah-tengah ruangan


" Itu aku "


Sean menunjuk sebuah foto bayi yang di pajang di antara foto-foto di sana


" Iya itu kamu "


Ayu membelai lembut kepala Sean


" Nak "


Bram memanggil


" Jangan bersedih , papa akan jelaskan situasinya "


Bram duduk di samping Sean dan merangkul pundak Sean


" Papa tidak memaksa kamu tinggal di sini atau tinggal di rumah papa Sbastian "


Bram membuat Sean terkejut dan mendongak


" Benarkah pa "


Sean terlihat sudah berkaca-kaca


" Kamu putra ketiga kami , putra kami yang sangat kami rindukan , setelah bertemu bagaimana bisa kami mengekang kebebasan putra kami , apalagi itu untuk merawat orang yang telah mengasuh putra kami dalam waktu yang lama "


Ayu mengusap air mata Sean


" Sean hanya takut tidak bisa kembali "


Sean menunduk


" Jangan berpikiran yang tidak-tidak nak "


Bram dan ayu memeluk Sean dengan penuh kerinduan


Bram menceritakan banyak hal kepada Sean dan ayu selalu memeluk dan membelai lembut kepala Sean sampai menidurkan Sean di pangkuannya


Ayu membawa Sean sarapan untuk kedua kalinya , membawa Sean berkeliling seluruh mansion bahkan membawa Sean ke dalam kamar Sean sendiri yang sudah di siapkan ayu secara khusus untuk putranya


" Maaf ma , ini hampir tengah hari , kasihan jika adik kecil Sean menunggu di rumah "


Sean menyentuh pundak mamanya yang sedang menunjukkan album foto keluarga


" Iya ya , kakak kakakmu dan adikmu belum ada yang pulang juga "


Ayu berdiri dan berjalan menuju pintu


" Ada apa ini "


Bram turun dari lantai atas dengan penampilan yang segar sehabis mandi


" Anak anak belum ada yang pulang pa , padahal anakku ini mau pulang "


Ayu menjawab pertanyaan Bram


" Kenapa memangnya , apa kamu sudah mau pulang "


Bram duduk di samping Sean dan merangkul pundak Sean


" Tadi Sean janji sama Aniel pa , ngak akan lama "


Sean sedari tadi menatap jam , menatap Bram lalu menatap ayu


" Kalau begitu kamu pulang saja , ngak apa apa besok kembalilah dan bawalah Aniel kesini , kasihan jika Aniel sendirian dan menangis mencarimu "


Bram mencium kening Sean


" Makasih pa "


Sean tersenyum dan memeluk Bram


" Jika longgar nanti sore papa akan membawa saudaramu mengunjungimu nanti "


Bram berdiri di ikuti Sean


" Tunggu kakak sebentar ya nak "


Ayu menahan Sean


" Maaf ma , Sean bener bener minta maaf "


Sean memegang tangan ayu


" Mama akan merindukanmu , padahal mama ingin kamu makan malam di sini juga "


Ayu memeluk Sean


" Maaf ya ma "


Sean membalas pelukan ayu


Lima menit kemudian


" Eh... Mama "


Sean mengelus punggung ayu


" Kenapa "


Ayu masih memeluk Sean


" Mamaaaaa ini udah lima menit lho "


Sean menyadarkan ayu


" Mama kan masih mau peluk peluk kamu "


Ayu membuat Bram terkekeh


" Mama Sean janji akan kembali ke sini jika luang "


Sean menangkup wajah ayu dan mencium kening ayu


" Sean selalu ingin kasih sayang mama seperti ini , tapi maaf ya ma , hari ini Sean benar benar tidak bisa menghabiskan waktu dengan mama dan papa "


Sean tersenyum


" Huhuhu anak mama yang ganteng "


Ayu memeluk Sean


" Ah ya , mama ambilkan makanan di dalam , kamu ingat kan mama masak banyak "


Ayu bergegas masuk ke dalam rumah


" Mamamu sangat menyayangimu lho "


Bram menepuk pundak Sean


" Iya pa "


Sean terlihat tidak bersemangat


" Kamu benar tidak senang bertemu kami "


Bram memperhatikan raut wajah Sean


" Sean merasakan firasat buruk pa "


Sean memegang dadanya


*Tuuut tuuuut


Suara dering telepon Sean mengalihkan perhatian Sean


___________


Halo :


Sean


Tuan , nona muda menangis dan tidak bisa di tenangkan , nona muda memanggil anda dari tadi :


Mao memberitahu


Berikan telfonnya pada Aniel :


Sean meminta


Kakaaaak kakak dimana Aniel sendiri :


Terdengar suara Aniel menggema dengan sedikit isakan kecil


Kakak udah mau pulang , bisakah Aniel menunggu :


Sean terdengar berbicara dengan lembut


Kakak di mana , kakak cepet pulang , Aniel takut :


Aniel terdengar berteriak


Bisakah kamu menurut dengan key dan Mao , nanti kakak akan belikan kamu cake:


Sean merayu


Ngak mau..hiks..ngak mau..hiks..Aniel mau kakak :


Aniel mulai terisak keras


Iya iya kakak pulang jadi tenanglah sayang:


Sean menangkan


Halo halo :


Sean memanggil lagi


Iya tuan :


Mao menjawab


Aku pulang , minta Aniel menungguku di ruang tamu :


Sean terdengar sedikit panik


Iya tuan :


Mao mengiyakan


______


" Kenapa nak "


Ayu keluar dari rumah dengan membawa banyak paper bag

__ADS_1


__ADS_2