
" Atit az , elan lan hiks.. "
( Sakit az , pelan pelan hiks..)
Sean sesenggukan saat lututnya di obati oleh sitter azza
" Iya tuan muda saya pelan pelan "
Sitter azza menenangkan Sean
" Atit apapa hiks... "
( Sakit papa hiks...)
Sean melihat sbastian yang sedang fokus melihat lutut Sean
" Sudah tuan "
Sitter azza sudah menyelesaikan pengobatan dadakan untuk Sean
" Sudah ya , jangan nangis "
Sbastian menggendong Sean dan meninabobokan Sean
" Ayah , tolong telfon asisten John , minta asisten John membawa dokter Sisil kemari segera "
Pinta sbastian
Pak Sam menelfon asisten john dan meminta asisten John untuk membawa dokter Sisil ke rumah secepatnya
" Kan cuma lecet kecil doang kak , ngapain harus panggil dokter "
Tanya Sisil penasaran
" Kalo lecet dikit aja panggil dokter , lama lama banyak orang penyakitan mati gara gara dokternya sibuk semua "
Gerutu lion dalam hati
" Sean kan sakit , makanya kakak panggil dokter "
Kata Sean
" Iya , tapi kan ngak parah kak "
Jawab lili
" Udah ah , ngejawab semua pertanyaanmu , menghabiskan waktu berhargaku "
Kata sbastian berbalik arah dan berjalan menuju lantai atas
" Aneh "
Lion dan lili kompak mengatakan bahwa sbastian itu aneh
" Bukan aneh tuan muda , nona muda . tuan muda Sean sering terluka , tetapi tuan muda Sean tidak pernah menangis , meskipun lukanya banyak . namun jika tuan muda Sean sedang demam atau sakit yang lainnya , maka tuan muda Sean akan menangis meskipun hanya tergores sesikit "
Bi Aini menjelaskan kenapa Sean menangis
" Oh..... "
Lili memberi oh yang panjang kepada bi Aini
" Paham dek "
Tanya Leon kepada lili
" Enggak "
Lili menggelengkan kepalanya
" Astaga , adek gua tuhan "
Lion menepuk dahinya sendiri dan meninggalkan para manusia di ruang tamu dan mengikuti sbastian menuju ke lantai atas
Dalam waktu dua puluh menit , dokter Sisil sampai ke rumah sbastian dengan pakaian santai dan tas dokter
" tuan muda ada di kamar dokter , mari saya antar "
Bi Aini membawa dokter Sisil ke kamar sbastian
" Ada apa dengan tuan muda "
Tanya asisten John kepada sitter azza
" Sakit "
Jawab sitter azza pendek
" Pendek banget jawabnya "
Asisten John mengkritik
" Hm.... "
Sitter azza hanya menjawab dengan deheman pendek
" Ngak ikhlas ni jawabnya "
Asisten John kembali berkata
" Hm.."
Kali ini deheman sitter azza lebih pendek dari sebelumnya
" Kamu kenapa sih "
Tanya asisten John dengan pelan
" Hm."
Deheman yang nyaris tidak terdengar
" Kamu marah ya...."
Goda asisten John
"..."
Azza hanya melirik dan melenggang pergi ke arah dapur
" Kamu kenapa sih "
Tanya asisten John
" Dasar cewek , kalo gak di kejar makin jadi nih "
Asisten John berlari mengejar sitter azza menuju dapur
Dan terjadilah sesuatu yang membuat jiwa jomblo para maid yang lain meronta ronta
Di dalam kamar sbastian , dokter Sisil memeriksa Sean yang ada di atas tempat tidur
__ADS_1
" Sean kenapa dokter "
Tanya sbastian
" Hanya demam biasa , tidak perlu khawatir , daya tahan tubuh tuan muda Sean cukup kuat "
Dokter Sisil menangkan sbastian yang terlihat khawatir
" Kamu terlihat sangat khawatir di sini , kenapa di bawah kamu terlihat biasa saja nak "
Tanya papa sbastian
" Aku kan harus jaga image di depan singa kembar pa "
Jawab sbastian asal
" Hehehehe "
Sbastian menunjukkan senyuman tidak merasa bersalah yang polos
" Jadi apa Sean ngak perlu di rawat "
Tanya sbastian kepada dokter Sisil
" Tidak tuan "
Jawab Sisil
" Tapi bukankah lebih baik di rawat , agar cepat sembuh "
Kata sbastian
" Tidak perlu tuan , cukup kompres saja , saat tuan muda bangun , tuan muda harus makan dan meminum obat ini "
Dokter Sisil memberi resep obat agar segera di tebus untuk Sean
Di sana pak Sam dan papa sbastian hanya menjadi pendengar dan penonton yang baik
" Tumben kamu pakek ginian ke sini "
Tanya sbastian melihat pakaian dokter Sisil
" Saya tadi ingin perawatan diri di rumah , eh asisten anda yang paling galak itu datang dan meminta saya tanpa berganti pakaian untuk segera kemari , dan saya melupakan jas putih saya untuk saya bawa , dan jadilah begini , dan jadilah saya seperti dokter gadungan , hump.. "
Jelas dokter Sisil panjang sambil menahan kesal kepada asisten John
" Banyak banget dan nya "
Sbastian mengkritik
" Hehehehe"
Dan di balas hanya dengan cengengesan dari dokter Sisil
" Bagaimana anda bisa menjadi dokter pribadi Sean , setahu saya anda adalah dokter yang tidak suka di jadikan dokter pribadi "
Tanya papa sbastian mengintimidasi
" Eh... Hehehe , anda masih mengingat saya tuan besar , hehehehe "
Dokter Sisil mendadak menjadi canggung
Flashback on
" Dokter saya tau anda adalah dokter anak terbaik di lulusan anda , saya juga tau bagaimana kecekatan anda dan ketelaten anda , jadi saya ingin anda menjadi dokter pribadi calon cucu saya , apa anda mau "
Tak pak Andi , yang tidak lain adalah papa sbastian
Dokter Sisil bertanya
Bagaimana tidak bertanya , saat berjalan di lorong rumah sakit , dirinya tiba tiba di panggil seseorang yang tidak di kenal dan memintanya untuk menjadi dokter pribadi calon cucu nya
" Saya Andi "
Pak Andi memperkenalkan dirinya
" Maaf tuan saya agak ngeleg , maksud anda tadi apa ya tuan "
Jawab dokter Sisil tanpa rasa takut
" Saya ingin anda menjadi dokter pribadi calon cucu saya yang akan lahir "
pak Andi mengulangi kalimatnya
" Eh.... "
Dokter Sisil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa canggung
" Saya akan membayar anda dua kali lipat dari gaji anda biasanya "
Pak Andi menambah kalimatnya
" Eh.... Lebih baik kita membicarakan ini di ruangan saya saja , mari tuan "
Dokter Sisil menunjukkan jalan menuju ruangannya
Sesampainya di ruangan dokter Sisil duduk di kursi kebanggaannya dan pak Andi di minta duduk di hadapannya
" Anda bisa mengatakannya "
Dokter Sisil mempersilahkan
" Begini dok , calon cucu saya akan lahir beberapa bulan lagi , saya ingin anda menjadi dokter pribadi cucu saya "
Jelas pak Andi kembali
" Begini tuan , bukannya saya em.... Bagaimana ya menjelaskannya .
Saya ini memasuki sekolah dokter spesialis anak bukan untuk gaji ataupun hal lain , tetapi saya memasuki sekolah dokter ini karena saya menyukai anak anak dan saya tidak tega melihat anak anak yang orangtuanya tidak mampu merawat anak mereka yang sakit di rumah sakit karena biaya , jika saya menjadi dokter pribadi , maka bagaimana saya akan menjenguk mereka yang membutuhkan saya , tolong anda mengerti tuan "
Kata dokter Sisil
" Saya akan melipatgandakan gaji anda sesuai keinginan anda , fasilitas dan juga jaminan hidup -- "
Kalimat pak Andi yang belum selesai di potong oleh dokter Sisil
" Maaf pak , saya benar benar tidak berminat untuk sesuatu yang anda tawarkan "
Kata dokter Sisil menegaskan
Dan terjadilah Adu argumen yang sangat panjang antara dokter Sisil dan pak Andi
Dan kemenangan berada di pihak dokter Sisil dengan berpegang teguh pada kalimatnya *maaf tuan saya tidak tertarik*
"Baiklah dokter saya tidak akan memaksa lagi , ini kartu nama saya , telfon saya jika anda berubah pikiran "
Pak Andi memberikan kartu nama miliknya kepada dokter Sisil
Setelah pak Andi keluar ruangan , dokter Sisil langsung melempar kartu nama itu ke tempat sampah yang ada di sudut ruangan
" Kenapa membuangnya "
__ADS_1
Suara seseorang dari pintu membuat dirinya terkejut
" Astaga , mas Brian , kagetin aja "
Gerutu dokter lili
" Kenapa di buang "
Tanya pria itu dan duduk di kursi di dekatnya
" Ngak minat "
Jawab dokter Sisil pendek
" Kenapa ngak minat "
Tanya laki laki itu kembali
" Itu tadi kan majikan kamu , aku ngak mau kayak kamu , tengah malem di telpon buat ke rumahnya , cuma ngecek suhu badan "
Kata dokter lili
" Bukan dia majikan ku , yang majikan ku itu Sbastian , bukan majikan sih tapi temen , aku cuma nge iya in aja pas di minta jadi dokter pribadi keluarganya "
Kata pria itu dengan tenang
" Dokter Brian kan rumahnya Deket dari rumah mereka , lha aku , harus ke sebrang lautan "
Gerutu Sisil
" Ya udah deh ayo pulang , aku tebengin "
Dokter Brian keluar terlebih dahulu dari ruangan
" Ooooo.... Cocuit pakek di tebengin segala "
Dokter Sisil menggoda
" Lho ... Iya dong "
Dokter Brian membenahi jas putihnya dengan bangga
kekonyolan itu membuat mereka berdua tertawa bersama mulai dari perjalanan pulang hingga sampai ke rumah dokter Sisil
Flashback off
" Eh.... Saya di ancem sama asisten John , ancemannya ngak main main tuan , jadi saya ngak bisa nolak "
Kata dokter Sisil cengengesan
" Astaga , asisten mu terlalu kejam sbastian"
Kata papa sbastian
" Hasil didikan ku tuh pa "
Kata sbastian bangga
" Astaga "
Papa sbastian hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan asistennya
" Sean ngak apa apa , biar aku aja yang ngurus, papa sama ayah istirahat aja "
Kata sbastian menoleh kepada mereka berdua
" Baiklah , kami istirahat ya , kalau ada apa apa panggil kami "
Kata papa sbastian mengajak pak Sam untuk turun ke bawah
" Baiklah dokter Sisil , anda boleh pulang "
Kata sbastian kepada dokter Sisil
" Siapa yang nganter saya tuan , kan tadi saya ke sini sama pak asisten "
Dokter Sisil kebingungan
" Ya sudah , sebentar "
Sbastian menelfon seseorang
" Turunlah , yang menjemputmu sebentar lagi datang "
Kata sbastian
" Terimakasih tuan "
Dokter Sisil berterimakasih dan keluar dari kamar menuju lift untuk pulang
" Halo John , segera ke atas dan ambil resep obat ini , lalu pergi tebus obat ini di apotek , dan bawa sitter azza ke sini sekalian "
Sbastian menelfon dan memberi perintah
" Baik tuan "
Sahutan dari telfon asisten John
" Hey , ayo ke atas , tuan memanggil kita "
Asisten John menggandeng tangan azza
" Sitter azza , ayo kita ke atas "
Tegas asisten John saat sitter azza tidak beranjak
Sitter azza berdiri dan berjalan mendahului asisten John
" Astaga , sabar sabar , dia cewek lu John , sabar "
Asisten John hanya mengelus dadanya
Sedangkan di luar rumah ada sebuah kendaraan yang tidak asing sudah menunggu dokter Sisil di depan pintu rumah
" Kok kayak kenal ya "
Dokter Sisil menghampiri mobil itu
Kaca spion mobil terbuka dan
" Hai abeb "
Dokter Brian melambai
" Lho abeb di sini , kok bisa "
Tanya dokter Sisil penasaran
" Iya , tadi sbastian nelpon suruh jemput kamu di sini , yaudah gas ngeng aja , yok naik "
Dokter Brian mengantar dokter Sisil pulang sampai ke rumahnya
__ADS_1