Aku Pangeran

Aku Pangeran
#94 ( cahaya )


__ADS_3

" Bagaimana "


Ayu menepuk pundak Mao


" Operasi berjalan lancar nyonya "


Mao menjawab


" Apakah anda nona muda Tia "


Mao bertanya


" Iya "


Tia mengangguk dengan malu


" Nona muda sering bercerita tentang anda , katanya anda saudari terbaik yang nona miliki "


Mao melepaskan penahan rambut hijau yang dia kenakan


" Benarkah "


Mutiara tersenyum


" Iya nona "


Mao mengangguk


" Oh ya , anda semua silahkan ke ruang rawat empat di lantai atas , saya akan segera menuju kesana dengan nona Aniel "


Mao melepaskan pakaian hijau miliknya


" Sean mau sama Aniel aja "


Sean menggeleng


" Kalau begitu nyonya dan yang lain bisa naik terlebih dahulu , tuan Diablo akan membimbing jalan "


Mao menunjuk Diablo


" Mari tuan "


Diablo mempersilahkan


" Ayo kita naik "


Pak Sam berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh Bram


" Kami berdua mau melihat di sini , mama duluan aja "


Fadlan tetap di tempat


" Iya , Reyhan mau lihat adiknya dia "


Reyhan menunjuk Sean


" Huuuh baiklah , jangan membuat masalah"


Ayu mengancam kedua putranya


" Sean "


Ayu memanggil


" Mama duluan ya "


Ayu mencium kening Sean


" Iya ma "


Sean tersenyum


" Babay kakak Sean "


Mutiara melambaikan tangannya


*Cup


Reyhan dan Fadlan mencium pipi ayu


" Kalian baik-baik ya "


Ayu menatap tajam kedua putranya


" Iya ma "


Reyhan menjawab dengan malas


" Babay boneka kecil "


Fadlan melambaikan tangannya


" Bay kakak "


Mutiara membalas lambaian tangan kedua kakaknya


" Dia tidak memperhatikan kita "


Reyhan menyenggol lengan Fadlan


" Aku tidak suka dengan dia , dia merebut adikku "


Fadlan membatin dan menatap Sean dengan tidak suka


" Kak "


Reyhan mengguncang Fadlan


" Hey "


Fadlan memanggil Sean


......


Sean memperhatikan pintu operasi tanpa menoleh sedikitpun


" Kau harus mendengarkan aku "


Fadlan menarik lengan Sean


" K..ka..kau menangis "


Fadlan terkejut dengan air mata yang membasahi pipi Sean


" Kenapa kau menangis "


Reyhan bertanya


*Bruk


Sean terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya


" Kenapa kau menangis "


Reyhan duduk di depan Sean dan memegang pundak Sean


" Dia akan kembali normal kak , papa pasti akan senang kak..hiks.. Aniel akan kembali seperti dulu lagi .. hiks.. "


Sean tiba-tiba memeluk Reyhan dengan erat


" A..aaaaapa "


Reyhan terkejut bukan main saat Sean tiba-tiba memeluknya


" A..aaapa kau baik-baik saja "


Reyhan menepuk punggung Sean


" Kak Fadlan tolong aku "


Reyhan menatap Fadlan


" Biarkan saja "


Fadlan mengusap rambut Sean yang di ikat dan masih saja panjang


" Tapi kak "


Reyhan menatap Fadlan dengan tatapan berbinar


" Bagaimanapun dia masih kecil "


Fadlan mengusap kepala Reyhan


" Masih kecil "


Reyhan memiringkan kepalanya


" Dasar bodoh "


*Plak


Fadlan memukul kepala Reyhan


" Kok aku sih "


Reyhan menunjuk dirinya sendiri


" Dia itu adikmu "


Fadlan menonyor kepala Reyhan


" Oh iya "


Reyhan duduk dengan benar dan membiarkan Sean meluapkan kegembiraannya semaunya


" Haisssss semoga Sean lebih punya otak dari pada orang ini "


Fadlan mendudukkan dirinya di atas kursi tunggu


" Makasih kak "


Sean melepaskan pelukannya


" Kamu laki-laki tapi kok cengeng "


Reyhan berdiri


" Ya maaf haha "


Sean berdiri dan mendudukkan dirinya di samping Fadlan


" Bagaimana "


Fadlan menyandarkan punggungnya


" Apanya "


Reyhan memiringkan kepalanya


" Aku tidak tanya padamu jadi diamlah "


Fadlan memelototi Reyhan


" Huh kak Fadlan emang jahad , aku ngak suka "


Reyhan dengan kasar mendudukkan dirinya di samping Sean


" Lebih baik... Makasih kak "


Sean memberikan sebuah senyuman untuk Fadlan


" Kau tidak bodoh kan "


Fadlan menatap Sean dengan sinis


" Kau bodoh "


Reyhan menunjuk Sean


" Diam.. sudah kubilang aku tidak bicara denganmu "


Fadlan menyisihkan tangan Reyhan


" Tapi kau menatapku "


Reyhan tidak mau kalah


" Aku tidak menatapmu bodoh "


Fadlan memicingkan matanya


" Kau yang bodoh "


Reyhan memonyongkan bibirnya


" Berbicara denganmu tidak akan ada habisnya "


Fadlan memilih untuk menutup mulutnya


" Hahahaha... Astaga kakak "


Sean tertawa melihat kedua saudaranya yang bertengkar di sampingnya


*Cklek


Pintu ruang operasi terbuka


" Mao "


Sean berdiri


Terlihat sebuah bankar keluar dari dalam ruangan


" Hai cantik "


Sean memegang tangan Aniel


" Kapan dia akan sadar "


Sean berjalan mengikuti laju bankar


" Mungkin satu atau dua jam setelah ini "


Mao menjawab


" Ini adikmu "


Reyhan bertanya


" Jangan di jawab "


Fadlan memperingatkan


" Kok jangan di jawab sih , Reyhan kan cuma tanya sama Sean "


Reyhan menatap Fadlan dengan tajam


" Astaga "


Sean mendengar dan melihat pertengkaran kecil di antara kedua saudaranya yang lebih pendek darinya selama perjalanan menuju lantai atas


" Huuuuhh kakak "


Sean memegang pundak kedua saudaranya


" Ini sudah di depan pintu kamar , jika kakak mau di marahi mama... Maka silahkan masuk terlebih dahulu "


Sean menunjuk pintu masuk


" Ups.... Maaf "


Reyhan menutup mulutnya


" Kurasa aku mulai menyukaimu "


Fadlan menepuk pundak Sean


" Itu akan menjijikkan "


Reyhan menyahuti


" Aku tidak bicara padamu "


Fadlan memelototi Reyhan


" Sudahlah "


Sean mengisyaratkan untuk melanjutkan perjalanan hingga titik perhentian


*Cklek


Salah satu perawat membuka pintu dan yang lain mendorong masuk bankar lalu memasang infus untuk Aniel


" Jika nona nanti sadar , tolong hubungi saya , saya akan menyelesaikan beberapa pasien lagi "


Mao menaikkan selimut Aniel


" Makasih Mao "


Sean tersenyum


" Apapun untuk tuan muda tampanku "


Mao mengusap rambut Sean


" Saya permisi tuan dan nyonya sekalian "


Mao membungkuk


" Dan ya , paman Sam jangan lupa istirahat.. jika tidak maka saya akan membawa anda istirahat di rumah secara paksa "


Mao berkacak pinggang


" Iya iya Mao "


Pak Sam menatap Mao sinis


" Awas ya paman "


Mao berjalan keluar namun matanya masih bersitegang dengan pak Sam


" Mao sangat posesif ya "


Diablo membuat Sean terkekeh


" Paman tau kan "


Sean mengambil kursi dan duduk di samping Aniel


" Iya sih "


Diablo mengangguk


" Bagaimana keadaannya "


Ayu berdiri dan membawa mutiara ke dalam gendongannya


" Kata Mao nanti dia akan bangun setelah dua atau satu jam "


Sean mengusap kepala Aniel


" Apa Alin akan baik baik aja kak "


Mutiara menepuk nepuk pundak Sean


" Kamu mau ketemu dengan alinda kan , duduklah di sini "


Sean mengambil mutiara dari gendongan ayu


" Iya "


Mutiara turun dari gendongan ayu dan di dudukkan di atas pangkuannya


" Berarti nanti kalau Alin bangun , nanti alin bisa liat wajah Tia "


Mutiara menatap Aniel dengan bahagia

__ADS_1


" Kamu sudah makan belum "


Bram bertanya


" Nanti aja pa , Sean makan bareng Aniel "


Sean tersenyum


" Mama suapin ya "


Ayu mengusap rambut Sean


" Nanti aja ma , mama sudah makan belum"


Sean balik bertanya


" Mama papa dan lainnya udah makan tadi , kamu yang belum makan "


Pak Sam menyahuti


" Nanti aja kek "


Sean tersenyum


" Iya kalau Aniel bentar lagi sadar , kalau masih lama nanti kamu bisa sakit "


Pak Sam menatap Sean tajam


" Hehehe "


Sean menunjukkan Gigi putihnya yang rapih


" Permisi "


Terdengar sebuah suara wanita


" Bibi Aini "


Mutiara mengenali


" Aduuh nona muda kenal ya sama saya , jadi terharu deh "


Bi Aini mengusap matanya


" Bener kata Alin , bibi emang lebay haha "


Mutiara tertawa


" Nona muda jahad huhu "


Bi Aini memeluk Sean dengan erat


" Bibi Aini bawa apa "


Mutiara melihat barang bawaan bi Aini


" Aduh nona muda , saya ini bawa banyak banget , nona muda mau puding ngak "


Bi Aini menuju meja dan mengeluarkan semua makanan yang dia bawa


" Bibi hebat , Tia mau "


Mutiara merosot dari pangkuan Sean


*Tok..tok..tok


Terdengar suara pintu di ketuk


" Silahkan masuk "


Mereka yang ada di ruangan menyahuti


" Permisi "


Terlihat seila dan Lucas masuk ke dalam ruangan


" Kalian datang "


Diablo terkejut


" Kami ada di dekat sini , jadi sekalian menjenguk "


Seila tersenyum


" Selamat siang tuan muda "


Seila menghampiri Sean


" Selamat siang "


Sean tersenyum


" Tuan besar bilang anda bertambah tinggi dan tampan , ternyata benar haha "


Seila terkekeh


" Hahaha "


Sean tertawa kikuk


" Tuan muda satu ini ya "


Diablo dan Kelvin menatap Sean malas


" Bagaimana kondisi nona muda "


Lucas bertanya


" Lebih baik , terimakasih sudah datang "


Sean tersenyum


" Iya tuan muda , tapi kami hanya bisa sebentar saja , kami harus permisi "


Lucas tersenyum


" Kenapa terburu-buru "


Bram bertanya


" Tuan Bram , anda di sini "


Lucas dan seila terkejut


" Dia putraku , jadi ya wajar aku di sini "


Bram mengedikkan bahunya


" Putra "


Seila menatap Sean


" Dia papa kandungku "


Sean tersenyum


" Jadi penyeledikannya sudah beres , selamat ya tuan muda "


Seila memeluk Sean


" Anda terlalu berlebihan nona seila "


Sean tersenyum


" Oh ya tuan Diablo , saya mendapatkan berkas ini "


Lucas menghampiri Diablo


" Ini harus di berikan kepada tuan besar secepatnya "


Lucas memberitahu


" Akan aku jaga "


Diablo memasukkan berkas itu ke dalam tasnya


" Ayo seila , kita akan terlambat nanti "


Lucas membuat seila melepaskan pelukannya


" Okey "


Seila memberikan jempol


" Memang mau kemana "


Kelvin bertanya


" Kami akan ke proyek di dekat sini , sebentar lagi janji temu dengan beberapa kolega "


Lucas memberitahu


" Oh... Untungnya aku libur haha "


Kelvin memeluk pak Sam


" Anda akan di sambut dengan keluarga besar kertas di ruangan anda setelah liburan anda selesai "


Lucas menyipitkan matanya


" Tidak peduli "


Kelvin mengibaskan tangannya


" Kalau begitu kami permisi "


Lucas membungkuk dan berlalu pergi di ikuti seila


" Eh... "


Diablo menatap Sean dan Sean mengisyaratkan agar berkas itu di berikan nanti saja


Waktu berlalu , di ruangan rawat Aniel di penuhi dengan canda tawa oleh orang-orang di sana , namun tidak dengan Sean yang senantiasa menggenggam tangan Aniel untuk menunggu Aniel bangun dari pengaruh biusnya


" Eugh.... "


" Aniel "


Sean berdiri dan mendekati kepala Aniel


" Kakak "


Aniel memanggil


" Kakak di sini "


Sean membelai lembut pipi Aniel


Sean memencet tombol nurse yang ada di dekatnya


" Mau minum kak "


Aniel meminta


" Sebentar ya , tunggu Mao dulu "


Sean mencium kening Aniel


" Tuan muda "


Suara Mao memanggil


" Permisi sebentar "


Mao menggeser posisi Sean


Semua sudah berkumpul di samping Sean termasuk pak Sam yang di temani oleh Kelvin , kecuali Diablo yang sudah kembali ke kantor untuk panggilan darurat


" Bagaimana "


Sean bertanya kepada Mao


" Tolong nanti nona muda jangan sampai terlalu banyak bergerak terlebih dahulu , kalau makanan dan minuman semua sudah boleh di makan , asalkan tidak berlebihan"


Mao menjelaskan apa saja yang di perbolehkan dan tidak di perbolehkan untuk Aniel


" Baik Mao , aku mengerti "


Sean mengangguk


" Saya permisi , sebentar lagi saya kemari"


Mao membungkuk dan berjalan keluar


" Hai sayang "


Sean menggenggam tangan Aniel


" Aniel mau minum "


Aniel meminta


" Ini minumnya "


Bi Aini memberikan air putih


" Minum perlahan "


Sean membantu Aniel minum dengan sedotan


" Sudah "


Aniel melepaskan sedotannya


" Apa kamu lapar "


Sean bertanya


" Iya , Aniel belum makan "


Aniel mengiyakan


" Kakak suapi "


Sean melepaskan genggamannya


" Ada banyak olang ya "


Aniel menebak


" Ada Tia lho "


Mutiara angkat suara


" Wah.. Tia di mana "


Aniel menengadahkan tangannya


" Di sini "


Mutiara menggenggam tangan Aniel


" Di sini ada siapa aja "


Aniel bertanya


" Ada mama , papa Tia , dua kakak Tia , kakek Sam , paman Kelvin , bibi Aini udah itu aja "


Mutiara menyebutkan satu persatu orang di sana


" Banyak ya haha "


Aniel terkekeh


" Sini kakak suapin "


Sean duduk di samping Aniel


" Tia duduk di sini lho "


Sean menepuk tempat di dekatnya


" Oke "


Mutiara yang tadinya ada di gendong Bram kini turun di samping Aniel


" Kakak udah makan "


Aniel bertanya


" Udah , sekarang giliran Aniel sama Tia "


Sean berbohong


*Cup


Ayu mencium kening Sean


" Makanlah "


Ayu berbisik


" Nanti aja ma "


Sean membalas bisikan ayu


" Biarlah ma , nanti jika dia tidak mau makan , papa akan pukul "


Bram menatap Sean tajam


" Hehe "


Sean menunjukkan Gigi putihnya


" Jangan kejam kejam "


Ayu mencubit pinggang Bram


" Sakit sayang "


Bram tersenyum


" Awas aja ganggu anakku "


Ayu menunjuk Bram


" Iya iya "


Bram memonyongkan bibirnya


" Makan ayo bismillah dulu "


Sean menyuapi Aniel dan mutiara bergantian hingga nasi di atas piring ludes tak tersisa


" Kakak sekarang makan "


Aniel berbicara dengan nada memerintahkan


" Iya , kakak makan sekarang "


Sean menuangkan sedikit nasi di atas piring miliknya di tambah sedikit lauk dan memakannya dengan cepat


" Jangan cepat-cepat "


Ayu memperingatkan


" Eum... "


Sean hanya mengangguk


Sean berlalu ke kamar mandi dan mencuci piring dan tangannya lalu kembali duduk di samping Aniel yang sedang bermain dengan mutiara


" Aku nanti sekolah lho "


Mutiara berbicara dengan nada yang senang


" Benalkah "

__ADS_1


Aniel terlihat senang


" Gimana kalau Alin sekolah sama Tia "


Mutiara memberikan ide


" Aku kan belum sembuh "


Aniel menyentuh matanya yang masih tertutup perban tebal


" Kalau sudah sembuh nanti kita sekolah "


Sean membelai lembut kepala Aniel


" Sekolah di tempat aku ya kak "


Mutiara menarik lengan Sean


" Memang kamu sekolah di mana hm.. "


Sean membenarkan rambut ikal mutiara yang terjatuh


" Di sana , jauuuuh banget "


Mutiara menceritakan tentang sekolahan yang akan dia masuki tahun depan


" Alinda masih empat tahun , apa boleh ma "


Sean bertanya


" Boleh "


Ayu mengangguk


" Kalau begitu akan Sean daftarkan nanti "


Sean tersenyum


" Benel ya kak "


Aniel terlihat senang


" Nanti kita beli perlengkapan sekolah setelah kamu sembuh "


Sean


" Aku udah beli , semuanya walna pink "


Mutiara menunjuk pakaian miliknya yang memiliki warna pink


" Walna pink itu gimana "


Aniel bertanya


" Setelah perbannya di buka , nanti kakak ajarkan banyak warna "


Sean membelai kepala Aniel


" Emang kamu bisa jadi guru "


Reyhan menepuk pundak Sean


" Jangan hiraukan dia "


Fadlan menyahuti


" Aku ngak tanya kak Fadlan tau "


Reyhan perotes


" Mulai deh "


Mutiara menatap kedua kakaknya malas


" Emang sering kayak gini "


Sean berbisik


" Iya , setiap hali "


Mutiara mengangguk


" Meleka belisik ya "


Aniel ikut berbisik


" Iya , aku ngak suka , makanya aku suka kak Sean aja "


Mutiara membuat mereka berdua berhenti bertengkar


" Kau mengambil hati adikku heh "


Reyhan mencengkram erat kerah Sean


" Hahaha "


Sean tertawa kikuk


" Aku tidak jadi suka sama Sean "


Fadlan menggumam dan mutiara sudah ada di dalam pelukannya


" Mulai lagi "


Ayu menatap anak-anaknya malas


" Kakak tau "


Aniel membuat ketiga orang itu menoleh


" Kakak Sean itu baik lho "


Aniel membuat mutiara mengangguk


" Kakak Sean ngak pernah beltengkal sama aku "


Aniel mengatakan seolah kakakku itu baik jadi jangan di pukul


" Kakakmu ini jahat tau "


Reyhan menatap Sean tajam


" Kakak baik tau "


Aniel tidak terima


" Iya , kakak Sean itu baik "


Mutiara membuat suasana semakin mencekam


" Sssttttt "


Aniel meletakkan telunjuknya di bibirnya


" Ups... Kakak alan sama kak ley baik juga kok "


Mutiara memeluk leher Fadlan


" Kau meracuni pikiran adikku "


Hawa tidak mengenakkan keluar dari tubuh Reyhan


" Huft.... Melelahkan juga ya "


Sean membatin


" Udah aku bilang kakakku itu baik "


Aniel mengerenyitkan keningnya


" Kakakmu itu jahad "


Reyhan memelototi Aniel


" Kakakku baik baik baik pokoknya baik"


Aniel menghentakkan kakinya


" Iya iya , jangan banyak gerak dulu ya "


Sean melepaskan cengkraman Reyhan dengan mudah dan menghentikan Aniel yang masih menghentakkan kakinya


" Reyhan , Fadlan jangan ganggu adik Linda"


Ayu memelototi kedua putranya


" Tapi ma "


Reyhan menatap ayu


" Iya ma "


Reyhan dengan gontai berjalan dan duduk di bawah ayu lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan ayu


Hampir satu bulan berjalan , Aniel masih terus di rawat di rumah sakit karena usia yang masih harus selalu di pantau oleh dokter , meski Mao ada di rumah namun Mao menyarankan agar tetap di rumah sakit sampai perban di lepas


" Hari ini Aniel akan melepaskan perbannya pa "


Sean kini ada di rumah dan sedang menyeka tubuh Sbastian


" Papa tau , aku seneng banget nanti Aniel bisa lihat papa sama Sean , Aniel bisa lari-lari , Aniel bisa belajar "


Sean mencurahkan seluruh isi hatinya sambil menyeka Sbastian dengan telaten hingga waktu menunjukkan pukul sembilan pagi


" Sean sudah melakukan terapi untuk papa , sekarang Sean mau ke rumah sakit , papa cepet sadar ya , Sean tunggu papa sadar , Sean sayang sama papa "


Sean mencium kening Sbastian lama setelah itu Sean mengambil jas kantor miliknya dan berjalan keluar ruangan


" Selamat siang tuan "


Para penjaga membungkuk hormat


" Selamat siang paman , Sean pergi dulu "


Sean melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga dengan cepat


" Semoga tepat waktu "


Sean berlari keluar dan masuk ke dalam mobil


" Ngebut ya paman "


Sean berbicara dengan Kelvin


" Okey "


Kelvin memberi jempol untuk Sean


Mobil melintas jalan raya yang cukup padat karena akhir pekan , dengan di kawal oleh beberapa bodyguard perjalanan menjadi lebih singkat dan cepat hingga rumah sakit


" Pas "


Sean tersenyum melihat dirinya tepat waktu saat menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit


Sean berlari masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai atas meninggalkan Kelvin


*Ting


Lift terbuka


" Salam tuan "


Para pengawal yang berjaga di lorong membungkuk memberi salam


" Apa dokter sudah kesini "


Sean bertanya


" Baru saja masuk ke ruangan nona "


Mereka menjawab


" Makasih "


Sean bergegas masuk dan terlihat pak Sam yang duduk di samping Aniel


" Maaf kakak telat "


Sean mencium punggung tangan pak Sam


" Kakak kemana aja "


Aniel mengulurkan tangannya dan Sean menyambut uluran tangan Aniel


" Maaf sayang , kakak baru aja habis mandiin papa "


Sean duduk di atas bankar di samping Aniel


" Siap ya "


Mao dengan sabar melepaskan perban yang ada di kepala Aniel


" Aku takut kak "


Aniel menggenggam erat tangan Sean


" Jangan takut , kakak sama kakek di sini "


Sean mencium pucuk kepala Aniel


" Nah nona muda perlahan buka matanya "


Mao mengusap kedua mata Aniel


" Ngak sakit kan Mao "


Aniel bertanya


" Ngak sakit kok nona "


Mao mengusap kembali mata Aniel


Perlahan mata Aniel terbuka dan Aniel spontan menyipitkan matanya


" Terangnya kak "


Aniel kembali menutup matanya


" perlahan sayang "


Sean memeluk Aniel


Aniel membuka matanya perlahan dan terlihat Mao di depannya bersama seorang perawat


" Bagaimana "


Sean mengusap rambut Aniel


" Kakak "


Aniel menatap Sean dengan tatapan berbinar


" Kamu kakak "


Aniel menyentuh hidung Sean


" Ini kakak "


Sean tersenyum dan luruh air matanya


" Kakak menangis "


Aniel menyentuh air mata Sean


" Kakak senang "


Sean menyatukan keningnya dan kening Aniel


" Ini kakek "


Sean menunjuk pak Sam


" Kakek Sam "


Aniel mengulurkan tangannya dan pak Sam menerima uluran tangan Aniel


" Halo cucu kakek yang cantik "


Pak Sam tersenyum


" Dan ini Mao "


Aniel menunjukkan Mao


" Iya , itu Mao "


Sean memeluk Aniel sambil memperhatikan Aniel yang melihat sekelilingnya


" Ini di mana "


Aniel menatap sekitar


" Di rumah sakit "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan turun dari bankar


*Srak


Sean membuka kelambu rumah sakit


" Wow "


Aniel menempelkan wajahnya di atas kaca yang menunjukkan pemandangan kota yang padat dan ramai


" Itu apa kak "


Aniel menunjuk langit


" Itu awan , itu burung dan langit "


Sean menunjukkan banyak hal kepada Aniel


" Tuan muda terlihat sangat bahagia "


Mao duduk di atas bankar di samping pak Sam


" Banyak yang di tanggung cucuku akhir akhir ini , dia sangat kuat melebihi papanya , papa kandungnya bahkan kamu "


Pak Sam tersenyum


" Tuan muda masih harus menanggung banyak hal di masa depan "


Mao memperhatikan tawa Aniel yang selalu di sambut kekehan oleh Sean


" Biarkan dia istirahat sejenak , dia akan berlari lagi setelah ini "


Pak Sam berdiri


" Mau kemana paman "


Mao bertanya


" Bermain dengan cucuku "


Pak Sam menghampiri Aniel dan Sean


" Kakek Kakek itu sangat Kelen "


Aniel menunjuk berbagai macam benda yang ada di depan matanya


" Kapan Aniel bisa pulang "


Sean menurunkan Aniel dan membiarkan Aniel melihat banyak hal sepuasnya


" Hari ini juga bisa "


Mao tersenyum

__ADS_1


__ADS_2