
" Bagaimana "
Ayu menepuk pundak Mao
" Operasi berjalan lancar nyonya "
Mao menjawab
" Apakah anda nona muda Tia "
Mao bertanya
" Iya "
Tia mengangguk dengan malu
" Nona muda sering bercerita tentang anda , katanya anda saudari terbaik yang nona miliki "
Mao melepaskan penahan rambut hijau yang dia kenakan
" Benarkah "
Mutiara tersenyum
" Iya nona "
Mao mengangguk
" Oh ya , anda semua silahkan ke ruang rawat empat di lantai atas , saya akan segera menuju kesana dengan nona Aniel "
Mao melepaskan pakaian hijau miliknya
" Sean mau sama Aniel aja "
Sean menggeleng
" Kalau begitu nyonya dan yang lain bisa naik terlebih dahulu , tuan Diablo akan membimbing jalan "
Mao menunjuk Diablo
" Mari tuan "
Diablo mempersilahkan
" Ayo kita naik "
Pak Sam berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh Bram
" Kami berdua mau melihat di sini , mama duluan aja "
Fadlan tetap di tempat
" Iya , Reyhan mau lihat adiknya dia "
Reyhan menunjuk Sean
" Huuuh baiklah , jangan membuat masalah"
Ayu mengancam kedua putranya
" Sean "
Ayu memanggil
" Mama duluan ya "
Ayu mencium kening Sean
" Iya ma "
Sean tersenyum
" Babay kakak Sean "
Mutiara melambaikan tangannya
*Cup
Reyhan dan Fadlan mencium pipi ayu
" Kalian baik-baik ya "
Ayu menatap tajam kedua putranya
" Iya ma "
Reyhan menjawab dengan malas
" Babay boneka kecil "
Fadlan melambaikan tangannya
" Bay kakak "
Mutiara membalas lambaian tangan kedua kakaknya
" Dia tidak memperhatikan kita "
Reyhan menyenggol lengan Fadlan
" Aku tidak suka dengan dia , dia merebut adikku "
Fadlan membatin dan menatap Sean dengan tidak suka
" Kak "
Reyhan mengguncang Fadlan
" Hey "
Fadlan memanggil Sean
......
Sean memperhatikan pintu operasi tanpa menoleh sedikitpun
" Kau harus mendengarkan aku "
Fadlan menarik lengan Sean
" K..ka..kau menangis "
Fadlan terkejut dengan air mata yang membasahi pipi Sean
" Kenapa kau menangis "
Reyhan bertanya
*Bruk
Sean terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" Kenapa kau menangis "
Reyhan duduk di depan Sean dan memegang pundak Sean
" Dia akan kembali normal kak , papa pasti akan senang kak..hiks.. Aniel akan kembali seperti dulu lagi .. hiks.. "
Sean tiba-tiba memeluk Reyhan dengan erat
" A..aaaaapa "
Reyhan terkejut bukan main saat Sean tiba-tiba memeluknya
" A..aaapa kau baik-baik saja "
Reyhan menepuk punggung Sean
" Kak Fadlan tolong aku "
Reyhan menatap Fadlan
" Biarkan saja "
Fadlan mengusap rambut Sean yang di ikat dan masih saja panjang
" Tapi kak "
Reyhan menatap Fadlan dengan tatapan berbinar
" Bagaimanapun dia masih kecil "
Fadlan mengusap kepala Reyhan
" Masih kecil "
Reyhan memiringkan kepalanya
" Dasar bodoh "
*Plak
Fadlan memukul kepala Reyhan
" Kok aku sih "
Reyhan menunjuk dirinya sendiri
" Dia itu adikmu "
Fadlan menonyor kepala Reyhan
" Oh iya "
Reyhan duduk dengan benar dan membiarkan Sean meluapkan kegembiraannya semaunya
" Haisssss semoga Sean lebih punya otak dari pada orang ini "
Fadlan mendudukkan dirinya di atas kursi tunggu
" Makasih kak "
Sean melepaskan pelukannya
" Kamu laki-laki tapi kok cengeng "
Reyhan berdiri
" Ya maaf haha "
Sean berdiri dan mendudukkan dirinya di samping Fadlan
" Bagaimana "
Fadlan menyandarkan punggungnya
" Apanya "
Reyhan memiringkan kepalanya
" Aku tidak tanya padamu jadi diamlah "
Fadlan memelototi Reyhan
" Huh kak Fadlan emang jahad , aku ngak suka "
Reyhan dengan kasar mendudukkan dirinya di samping Sean
" Lebih baik... Makasih kak "
Sean memberikan sebuah senyuman untuk Fadlan
" Kau tidak bodoh kan "
Fadlan menatap Sean dengan sinis
" Kau bodoh "
Reyhan menunjuk Sean
" Diam.. sudah kubilang aku tidak bicara denganmu "
Fadlan menyisihkan tangan Reyhan
" Tapi kau menatapku "
Reyhan tidak mau kalah
" Aku tidak menatapmu bodoh "
Fadlan memicingkan matanya
" Kau yang bodoh "
Reyhan memonyongkan bibirnya
" Berbicara denganmu tidak akan ada habisnya "
Fadlan memilih untuk menutup mulutnya
" Hahahaha... Astaga kakak "
Sean tertawa melihat kedua saudaranya yang bertengkar di sampingnya
*Cklek
Pintu ruang operasi terbuka
" Mao "
Sean berdiri
Terlihat sebuah bankar keluar dari dalam ruangan
" Hai cantik "
Sean memegang tangan Aniel
" Kapan dia akan sadar "
Sean berjalan mengikuti laju bankar
" Mungkin satu atau dua jam setelah ini "
Mao menjawab
" Ini adikmu "
Reyhan bertanya
" Jangan di jawab "
Fadlan memperingatkan
" Kok jangan di jawab sih , Reyhan kan cuma tanya sama Sean "
Reyhan menatap Fadlan dengan tajam
" Astaga "
Sean mendengar dan melihat pertengkaran kecil di antara kedua saudaranya yang lebih pendek darinya selama perjalanan menuju lantai atas
" Huuuuhh kakak "
Sean memegang pundak kedua saudaranya
" Ini sudah di depan pintu kamar , jika kakak mau di marahi mama... Maka silahkan masuk terlebih dahulu "
Sean menunjuk pintu masuk
" Ups.... Maaf "
Reyhan menutup mulutnya
" Kurasa aku mulai menyukaimu "
Fadlan menepuk pundak Sean
" Itu akan menjijikkan "
Reyhan menyahuti
" Aku tidak bicara padamu "
Fadlan memelototi Reyhan
" Sudahlah "
Sean mengisyaratkan untuk melanjutkan perjalanan hingga titik perhentian
*Cklek
Salah satu perawat membuka pintu dan yang lain mendorong masuk bankar lalu memasang infus untuk Aniel
" Jika nona nanti sadar , tolong hubungi saya , saya akan menyelesaikan beberapa pasien lagi "
Mao menaikkan selimut Aniel
" Makasih Mao "
Sean tersenyum
" Apapun untuk tuan muda tampanku "
Mao mengusap rambut Sean
" Saya permisi tuan dan nyonya sekalian "
Mao membungkuk
" Dan ya , paman Sam jangan lupa istirahat.. jika tidak maka saya akan membawa anda istirahat di rumah secara paksa "
Mao berkacak pinggang
" Iya iya Mao "
Pak Sam menatap Mao sinis
" Awas ya paman "
Mao berjalan keluar namun matanya masih bersitegang dengan pak Sam
" Mao sangat posesif ya "
Diablo membuat Sean terkekeh
" Paman tau kan "
Sean mengambil kursi dan duduk di samping Aniel
" Iya sih "
Diablo mengangguk
" Bagaimana keadaannya "
Ayu berdiri dan membawa mutiara ke dalam gendongannya
" Kata Mao nanti dia akan bangun setelah dua atau satu jam "
Sean mengusap kepala Aniel
" Apa Alin akan baik baik aja kak "
Mutiara menepuk nepuk pundak Sean
" Kamu mau ketemu dengan alinda kan , duduklah di sini "
Sean mengambil mutiara dari gendongan ayu
" Iya "
Mutiara turun dari gendongan ayu dan di dudukkan di atas pangkuannya
" Berarti nanti kalau Alin bangun , nanti alin bisa liat wajah Tia "
Mutiara menatap Aniel dengan bahagia
__ADS_1
" Kamu sudah makan belum "
Bram bertanya
" Nanti aja pa , Sean makan bareng Aniel "
Sean tersenyum
" Mama suapin ya "
Ayu mengusap rambut Sean
" Nanti aja ma , mama sudah makan belum"
Sean balik bertanya
" Mama papa dan lainnya udah makan tadi , kamu yang belum makan "
Pak Sam menyahuti
" Nanti aja kek "
Sean tersenyum
" Iya kalau Aniel bentar lagi sadar , kalau masih lama nanti kamu bisa sakit "
Pak Sam menatap Sean tajam
" Hehehe "
Sean menunjukkan Gigi putihnya yang rapih
" Permisi "
Terdengar sebuah suara wanita
" Bibi Aini "
Mutiara mengenali
" Aduuh nona muda kenal ya sama saya , jadi terharu deh "
Bi Aini mengusap matanya
" Bener kata Alin , bibi emang lebay haha "
Mutiara tertawa
" Nona muda jahad huhu "
Bi Aini memeluk Sean dengan erat
" Bibi Aini bawa apa "
Mutiara melihat barang bawaan bi Aini
" Aduh nona muda , saya ini bawa banyak banget , nona muda mau puding ngak "
Bi Aini menuju meja dan mengeluarkan semua makanan yang dia bawa
" Bibi hebat , Tia mau "
Mutiara merosot dari pangkuan Sean
*Tok..tok..tok
Terdengar suara pintu di ketuk
" Silahkan masuk "
Mereka yang ada di ruangan menyahuti
" Permisi "
Terlihat seila dan Lucas masuk ke dalam ruangan
" Kalian datang "
Diablo terkejut
" Kami ada di dekat sini , jadi sekalian menjenguk "
Seila tersenyum
" Selamat siang tuan muda "
Seila menghampiri Sean
" Selamat siang "
Sean tersenyum
" Tuan besar bilang anda bertambah tinggi dan tampan , ternyata benar haha "
Seila terkekeh
" Hahaha "
Sean tertawa kikuk
" Tuan muda satu ini ya "
Diablo dan Kelvin menatap Sean malas
" Bagaimana kondisi nona muda "
Lucas bertanya
" Lebih baik , terimakasih sudah datang "
Sean tersenyum
" Iya tuan muda , tapi kami hanya bisa sebentar saja , kami harus permisi "
Lucas tersenyum
" Kenapa terburu-buru "
Bram bertanya
" Tuan Bram , anda di sini "
Lucas dan seila terkejut
" Dia putraku , jadi ya wajar aku di sini "
Bram mengedikkan bahunya
" Putra "
Seila menatap Sean
" Dia papa kandungku "
Sean tersenyum
" Jadi penyeledikannya sudah beres , selamat ya tuan muda "
Seila memeluk Sean
" Anda terlalu berlebihan nona seila "
Sean tersenyum
" Oh ya tuan Diablo , saya mendapatkan berkas ini "
Lucas menghampiri Diablo
" Ini harus di berikan kepada tuan besar secepatnya "
Lucas memberitahu
" Akan aku jaga "
Diablo memasukkan berkas itu ke dalam tasnya
" Ayo seila , kita akan terlambat nanti "
Lucas membuat seila melepaskan pelukannya
" Okey "
Seila memberikan jempol
" Memang mau kemana "
Kelvin bertanya
" Kami akan ke proyek di dekat sini , sebentar lagi janji temu dengan beberapa kolega "
Lucas memberitahu
" Oh... Untungnya aku libur haha "
Kelvin memeluk pak Sam
" Anda akan di sambut dengan keluarga besar kertas di ruangan anda setelah liburan anda selesai "
Lucas menyipitkan matanya
" Tidak peduli "
Kelvin mengibaskan tangannya
" Kalau begitu kami permisi "
Lucas membungkuk dan berlalu pergi di ikuti seila
" Eh... "
Diablo menatap Sean dan Sean mengisyaratkan agar berkas itu di berikan nanti saja
Waktu berlalu , di ruangan rawat Aniel di penuhi dengan canda tawa oleh orang-orang di sana , namun tidak dengan Sean yang senantiasa menggenggam tangan Aniel untuk menunggu Aniel bangun dari pengaruh biusnya
" Eugh.... "
" Aniel "
Sean berdiri dan mendekati kepala Aniel
" Kakak "
Aniel memanggil
" Kakak di sini "
Sean membelai lembut pipi Aniel
Sean memencet tombol nurse yang ada di dekatnya
" Mau minum kak "
Aniel meminta
" Sebentar ya , tunggu Mao dulu "
Sean mencium kening Aniel
" Tuan muda "
Suara Mao memanggil
" Permisi sebentar "
Mao menggeser posisi Sean
Semua sudah berkumpul di samping Sean termasuk pak Sam yang di temani oleh Kelvin , kecuali Diablo yang sudah kembali ke kantor untuk panggilan darurat
" Bagaimana "
Sean bertanya kepada Mao
" Tolong nanti nona muda jangan sampai terlalu banyak bergerak terlebih dahulu , kalau makanan dan minuman semua sudah boleh di makan , asalkan tidak berlebihan"
Mao menjelaskan apa saja yang di perbolehkan dan tidak di perbolehkan untuk Aniel
" Baik Mao , aku mengerti "
Sean mengangguk
" Saya permisi , sebentar lagi saya kemari"
Mao membungkuk dan berjalan keluar
" Hai sayang "
Sean menggenggam tangan Aniel
" Aniel mau minum "
Aniel meminta
" Ini minumnya "
Bi Aini memberikan air putih
" Minum perlahan "
Sean membantu Aniel minum dengan sedotan
" Sudah "
Aniel melepaskan sedotannya
" Apa kamu lapar "
Sean bertanya
" Iya , Aniel belum makan "
Aniel mengiyakan
" Kakak suapi "
Sean melepaskan genggamannya
" Ada banyak olang ya "
Aniel menebak
" Ada Tia lho "
Mutiara angkat suara
" Wah.. Tia di mana "
Aniel menengadahkan tangannya
" Di sini "
Mutiara menggenggam tangan Aniel
" Di sini ada siapa aja "
Aniel bertanya
" Ada mama , papa Tia , dua kakak Tia , kakek Sam , paman Kelvin , bibi Aini udah itu aja "
Mutiara menyebutkan satu persatu orang di sana
" Banyak ya haha "
Aniel terkekeh
" Sini kakak suapin "
Sean duduk di samping Aniel
" Tia duduk di sini lho "
Sean menepuk tempat di dekatnya
" Oke "
Mutiara yang tadinya ada di gendong Bram kini turun di samping Aniel
" Kakak udah makan "
Aniel bertanya
" Udah , sekarang giliran Aniel sama Tia "
Sean berbohong
*Cup
Ayu mencium kening Sean
" Makanlah "
Ayu berbisik
" Nanti aja ma "
Sean membalas bisikan ayu
" Biarlah ma , nanti jika dia tidak mau makan , papa akan pukul "
Bram menatap Sean tajam
" Hehe "
Sean menunjukkan Gigi putihnya
" Jangan kejam kejam "
Ayu mencubit pinggang Bram
" Sakit sayang "
Bram tersenyum
" Awas aja ganggu anakku "
Ayu menunjuk Bram
" Iya iya "
Bram memonyongkan bibirnya
" Makan ayo bismillah dulu "
Sean menyuapi Aniel dan mutiara bergantian hingga nasi di atas piring ludes tak tersisa
" Kakak sekarang makan "
Aniel berbicara dengan nada memerintahkan
" Iya , kakak makan sekarang "
Sean menuangkan sedikit nasi di atas piring miliknya di tambah sedikit lauk dan memakannya dengan cepat
" Jangan cepat-cepat "
Ayu memperingatkan
" Eum... "
Sean hanya mengangguk
Sean berlalu ke kamar mandi dan mencuci piring dan tangannya lalu kembali duduk di samping Aniel yang sedang bermain dengan mutiara
" Aku nanti sekolah lho "
Mutiara berbicara dengan nada yang senang
" Benalkah "
__ADS_1
Aniel terlihat senang
" Gimana kalau Alin sekolah sama Tia "
Mutiara memberikan ide
" Aku kan belum sembuh "
Aniel menyentuh matanya yang masih tertutup perban tebal
" Kalau sudah sembuh nanti kita sekolah "
Sean membelai lembut kepala Aniel
" Sekolah di tempat aku ya kak "
Mutiara menarik lengan Sean
" Memang kamu sekolah di mana hm.. "
Sean membenarkan rambut ikal mutiara yang terjatuh
" Di sana , jauuuuh banget "
Mutiara menceritakan tentang sekolahan yang akan dia masuki tahun depan
" Alinda masih empat tahun , apa boleh ma "
Sean bertanya
" Boleh "
Ayu mengangguk
" Kalau begitu akan Sean daftarkan nanti "
Sean tersenyum
" Benel ya kak "
Aniel terlihat senang
" Nanti kita beli perlengkapan sekolah setelah kamu sembuh "
Sean
" Aku udah beli , semuanya walna pink "
Mutiara menunjuk pakaian miliknya yang memiliki warna pink
" Walna pink itu gimana "
Aniel bertanya
" Setelah perbannya di buka , nanti kakak ajarkan banyak warna "
Sean membelai kepala Aniel
" Emang kamu bisa jadi guru "
Reyhan menepuk pundak Sean
" Jangan hiraukan dia "
Fadlan menyahuti
" Aku ngak tanya kak Fadlan tau "
Reyhan perotes
" Mulai deh "
Mutiara menatap kedua kakaknya malas
" Emang sering kayak gini "
Sean berbisik
" Iya , setiap hali "
Mutiara mengangguk
" Meleka belisik ya "
Aniel ikut berbisik
" Iya , aku ngak suka , makanya aku suka kak Sean aja "
Mutiara membuat mereka berdua berhenti bertengkar
" Kau mengambil hati adikku heh "
Reyhan mencengkram erat kerah Sean
" Hahaha "
Sean tertawa kikuk
" Aku tidak jadi suka sama Sean "
Fadlan menggumam dan mutiara sudah ada di dalam pelukannya
" Mulai lagi "
Ayu menatap anak-anaknya malas
" Kakak tau "
Aniel membuat ketiga orang itu menoleh
" Kakak Sean itu baik lho "
Aniel membuat mutiara mengangguk
" Kakak Sean ngak pernah beltengkal sama aku "
Aniel mengatakan seolah kakakku itu baik jadi jangan di pukul
" Kakakmu ini jahat tau "
Reyhan menatap Sean tajam
" Kakak baik tau "
Aniel tidak terima
" Iya , kakak Sean itu baik "
Mutiara membuat suasana semakin mencekam
" Sssttttt "
Aniel meletakkan telunjuknya di bibirnya
" Ups... Kakak alan sama kak ley baik juga kok "
Mutiara memeluk leher Fadlan
" Kau meracuni pikiran adikku "
Hawa tidak mengenakkan keluar dari tubuh Reyhan
" Huft.... Melelahkan juga ya "
Sean membatin
" Udah aku bilang kakakku itu baik "
Aniel mengerenyitkan keningnya
" Kakakmu itu jahad "
Reyhan memelototi Aniel
" Kakakku baik baik baik pokoknya baik"
Aniel menghentakkan kakinya
" Iya iya , jangan banyak gerak dulu ya "
Sean melepaskan cengkraman Reyhan dengan mudah dan menghentikan Aniel yang masih menghentakkan kakinya
" Reyhan , Fadlan jangan ganggu adik Linda"
Ayu memelototi kedua putranya
" Tapi ma "
Reyhan menatap ayu
" Iya ma "
Reyhan dengan gontai berjalan dan duduk di bawah ayu lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan ayu
Hampir satu bulan berjalan , Aniel masih terus di rawat di rumah sakit karena usia yang masih harus selalu di pantau oleh dokter , meski Mao ada di rumah namun Mao menyarankan agar tetap di rumah sakit sampai perban di lepas
" Hari ini Aniel akan melepaskan perbannya pa "
Sean kini ada di rumah dan sedang menyeka tubuh Sbastian
" Papa tau , aku seneng banget nanti Aniel bisa lihat papa sama Sean , Aniel bisa lari-lari , Aniel bisa belajar "
Sean mencurahkan seluruh isi hatinya sambil menyeka Sbastian dengan telaten hingga waktu menunjukkan pukul sembilan pagi
" Sean sudah melakukan terapi untuk papa , sekarang Sean mau ke rumah sakit , papa cepet sadar ya , Sean tunggu papa sadar , Sean sayang sama papa "
Sean mencium kening Sbastian lama setelah itu Sean mengambil jas kantor miliknya dan berjalan keluar ruangan
" Selamat siang tuan "
Para penjaga membungkuk hormat
" Selamat siang paman , Sean pergi dulu "
Sean melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga dengan cepat
" Semoga tepat waktu "
Sean berlari keluar dan masuk ke dalam mobil
" Ngebut ya paman "
Sean berbicara dengan Kelvin
" Okey "
Kelvin memberi jempol untuk Sean
Mobil melintas jalan raya yang cukup padat karena akhir pekan , dengan di kawal oleh beberapa bodyguard perjalanan menjadi lebih singkat dan cepat hingga rumah sakit
" Pas "
Sean tersenyum melihat dirinya tepat waktu saat menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit
Sean berlari masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai atas meninggalkan Kelvin
*Ting
Lift terbuka
" Salam tuan "
Para pengawal yang berjaga di lorong membungkuk memberi salam
" Apa dokter sudah kesini "
Sean bertanya
" Baru saja masuk ke ruangan nona "
Mereka menjawab
" Makasih "
Sean bergegas masuk dan terlihat pak Sam yang duduk di samping Aniel
" Maaf kakak telat "
Sean mencium punggung tangan pak Sam
" Kakak kemana aja "
Aniel mengulurkan tangannya dan Sean menyambut uluran tangan Aniel
" Maaf sayang , kakak baru aja habis mandiin papa "
Sean duduk di atas bankar di samping Aniel
" Siap ya "
Mao dengan sabar melepaskan perban yang ada di kepala Aniel
" Aku takut kak "
Aniel menggenggam erat tangan Sean
" Jangan takut , kakak sama kakek di sini "
Sean mencium pucuk kepala Aniel
" Nah nona muda perlahan buka matanya "
Mao mengusap kedua mata Aniel
" Ngak sakit kan Mao "
Aniel bertanya
" Ngak sakit kok nona "
Mao mengusap kembali mata Aniel
Perlahan mata Aniel terbuka dan Aniel spontan menyipitkan matanya
" Terangnya kak "
Aniel kembali menutup matanya
" perlahan sayang "
Sean memeluk Aniel
Aniel membuka matanya perlahan dan terlihat Mao di depannya bersama seorang perawat
" Bagaimana "
Sean mengusap rambut Aniel
" Kakak "
Aniel menatap Sean dengan tatapan berbinar
" Kamu kakak "
Aniel menyentuh hidung Sean
" Ini kakak "
Sean tersenyum dan luruh air matanya
" Kakak menangis "
Aniel menyentuh air mata Sean
" Kakak senang "
Sean menyatukan keningnya dan kening Aniel
" Ini kakek "
Sean menunjuk pak Sam
" Kakek Sam "
Aniel mengulurkan tangannya dan pak Sam menerima uluran tangan Aniel
" Halo cucu kakek yang cantik "
Pak Sam tersenyum
" Dan ini Mao "
Aniel menunjukkan Mao
" Iya , itu Mao "
Sean memeluk Aniel sambil memperhatikan Aniel yang melihat sekelilingnya
" Ini di mana "
Aniel menatap sekitar
" Di rumah sakit "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan turun dari bankar
*Srak
Sean membuka kelambu rumah sakit
" Wow "
Aniel menempelkan wajahnya di atas kaca yang menunjukkan pemandangan kota yang padat dan ramai
" Itu apa kak "
Aniel menunjuk langit
" Itu awan , itu burung dan langit "
Sean menunjukkan banyak hal kepada Aniel
" Tuan muda terlihat sangat bahagia "
Mao duduk di atas bankar di samping pak Sam
" Banyak yang di tanggung cucuku akhir akhir ini , dia sangat kuat melebihi papanya , papa kandungnya bahkan kamu "
Pak Sam tersenyum
" Tuan muda masih harus menanggung banyak hal di masa depan "
Mao memperhatikan tawa Aniel yang selalu di sambut kekehan oleh Sean
" Biarkan dia istirahat sejenak , dia akan berlari lagi setelah ini "
Pak Sam berdiri
" Mau kemana paman "
Mao bertanya
" Bermain dengan cucuku "
Pak Sam menghampiri Aniel dan Sean
" Kakek Kakek itu sangat Kelen "
Aniel menunjuk berbagai macam benda yang ada di depan matanya
" Kapan Aniel bisa pulang "
Sean menurunkan Aniel dan membiarkan Aniel melihat banyak hal sepuasnya
" Hari ini juga bisa "
Mao tersenyum
__ADS_1