
" Langsung tidur lho ya "
Adinda melotot tajam
" Iya bunda "
Sean masuk ke dalam kamar Aniel di ikuti Adimas dan tidak lama mereka keluar
" Besok bangunin Sean ya kak "
Sean meminta
" Iya "
Adimas mengangguk
" Ayo anak-anak"
Adinda berkacak pinggang di ambang pintu
Adimas dan Sean masuk ke dalam kamar dan menutup pintu
" Sudah sayang "
Sbastian bertanya
" Udah mas "
Adinda menutup pintu kamar dan menguncinya
" Sayang "
Sbastian memanggil
" Iya mas "
Adinda mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur yang memberikan cahaya remang-remang
" Kesini"
Sbastian menepuk tempat di sebelahnya
" Iya "
Adinda naik dan memeluk perut Sbastian yang ada di sampingnya
" Tidurlah sayang "
Sbastian membenarkan posisinya dan membawa adinda ke dalam pelukannya
" Mas "
Adinda memanggil
" Hm.. "
Sbastian berdehem
" Adinda dengar mas sudah menikah kembali"
Adinda menatap Sbastian
" Ssssstttt aku tidak mau mengingat dia lagi"
Sbastian menutup mulut Adinda dengan jari telunjuknya
" Sejujurnya hati Adinda sakit mas "
Adinda memeluk Sbastian dengan erat
" Apa kamu pernah dekat dengan laki-laki lain"
Sbastian membuat adinda mendongak
" Adinda ngak pernah dekat dengan yang lain , karena adinda ngak pernah bisa ngelupain mas Tian "
Adinda kembali menelusupkan wajahnya di atas dada bidang Sbastian
" Kamu tau sayang "
Sbastian menghirup dalam-dalam aroma rambut adinda
*Tuing
Lagi lagi si tiang listrik berdiri
" Apa "
Adinda mendongak
" Ngak jadi deh , kasian kamu "
Sbastian memejamkan matanya
" Apa apa....bilang dong jangan buat Adinda penasaran "
Adinda mengguncang tubuh Sbastian
" Hahaha tidak mas hanya menggodamu"
Sbastian mencubit pipi Adinda
" Maaas Adinda tau ada yang mas sembunyikan"
Adinda memelototi Sbastian
" Mas pengen "
Sbastian menyatukan dahinya dengan dahi Adinda
" Pengen makan "
Adinda mengedipkan matanya
" Udah kenyang "
Sbastian memejamkan matanya
" Pengan apa lho "
Adinda terlihat berpikir
" Udah... Tidur aja "
Sbastian mengusap wajah Adinda
" Mas pengen ini "
Adinda mengusap bibir pucat Sbastian
" Kamu tau "
Sbastian berbisik
" Tapi adinda di atas dong , adinda kan udah lama ngak lakuin , gimana ya "
Adinda duduk dan menatap tiang listrik PLN yang sudah tegak
" Jangan di pikirkan , ayo tidur "
Sbastian menarik Adinda ke dalam pelukannya
" Adinda boleh coba "
Adinda naik ke atas tubuh Sbastian
" Boleh "
Sbastian tersenyum
*Srek
Kunci kandang di buka oleh Adinda
*Tuing
Tiang listrik ukuran jumbo keluar
Adinda melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan itu membuat si tiang listrik semakin tegak dan keras
*Glup
Sbastian menelan kasar ludahnya saat melihat lekuk tubuh Adinda yang sudah lama dia inginkan
" Kamu basah sayang "
Sbastian melihat air danau menetes membasahi pakaiannya
" Hehe "
Adinda menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih
" Kemarilah "
Sbastian menarik Adinda dan membuat adinda membelakanginya
" Mas "
Adinda terkejut saat merasakan sesuatu menyentuh lubang kunci miliknya
" Aaaahhhh.. aaaahhhh.... Mas Tian "
Adinda memegang lengan Sbastian yang bertumpu di atas tubuhnya
" Hm... Danaunya sangat sempit dan becek"
Sbastian menjilat leher putih adinda
Sbastian memasukkan jari telunjuknya ke dalam lorong sempit di sana
" Mas...mas aaakkhhhh mas Tian sakit mas"
Adinda meremas lengan Sbastian dengan kuat saat dua jari Sbastian di masukkan
" Ini kembali sempit sayang "
Sbastian memeluk adinda dengan tangannya yang lain
*Syut...syut
"Aaaahhhh....mas Tian "
Adinda menggeliat saat jari Sbastian semakin dalam masuk dan mulai menari dengan gemulai di sana
" Untunglah kakiku sudah bisa di gerakkan sedikit sedikit , jadi malam ini akan terasa panjang "
Sbastian berbisik di telinga Adinda yang sudah memerah
Kaki adinda menegang dan menendang kesana kemari saat jari ketiga Sbastian di masukkan
" Jangan...mas...jangan mas "
Adinda sedikit memberontak saat ketiga jari Sbastian mulai bermain dengan indah
" Hah..hah...hah... Sakit... Mas Tian uukkhh"
Adinda memejamkan matanya dan merasakan sesuatu yang akan keluar dari lubang goa miliknya
" keluarkan sayang , jangan di tahan "
Nafas hangat Sbastian berhembus di telinga kecil Adinda
*Syuuut
Mengalir keluar air danau yang seharusnya keluar
"Kyaaaaaaa MAS TIAAAAN "
Adinda berteriak saat merasakan miliknya tiba-tiba di masuki sesuatu yang besar dari belakang
" Uuuggh sempitnya "
Sbastian memeluk adinda dengan erat dan memejamkan matanya
" Hah..hah... Keluarkan mas keluarin ini sakit mas... Sakit "
Adinda menggenggam erat tangan Sbastian saat Sbastian mulai mengocok dengan lembut , namun bukan dirinya yang bergerak , melainkan Adinda yang dia angkat lalu dia dorong ke depan dan belakang
" Kembali seperti semula sayang , ini enak"
Sbastian memasukkan miliknya semakin dalam dan membuat adinda semakin berteriak dan bergetar hebat
" Hah...hah mas Tian sakit mas... Uuuggh hah...hah... Cukup mas "
Adinda berusaha melepaskan dirinya namun Sbastian tidak semudah itu melepaskan Adinda
Sbastian mendudukkan dirinya dengan susah payah lalu membuat Adinda ada di atasnya
" Kyaaaaaaa "
Adinda berteriak ketika goa miliknya di dorong dengan keras oleh si tiang listrik PLN
Sbastian melakukan hal yang sama hingga muncrat berkali-kali di dalam Adinda , hingga waktu menunjukkan pukul 11.00
" Sudah empat jam "
Sbastian tersenyum
" Mas... Udah... Aku capek "
Adinda terdengar sangat lirih dan terlihat Adinda sudah terkulai tak berdaya di dalam pelukan Sbastian
" Kita lanjutkan besok , tidurlah sayang "
Sbastian memasukkan miliknya semakin dalam
" Uuuggh... Rasanya penuh di sana "
Adinda hanya bisa berbicara dalam hati karena dirinya sudah lemas dan bahkan tidak bisa membuka matanya lagi
" Mas Tian "
Adinda memanggil
" Iya sayang "
Sbastian mendekatkan telinganya
" Lagi mas.... Satu kali lagi "
Adinda meminta
" Iya sayang "
Sbastian mendorong agar si tiang listrik benar-benar tenggelam dan tidak terlihat
" Cukup.... Mas Tian cukup , jangan masuk lagi "
Adinda dengan lirih memperingatkan
*Syuuut
Sbastian mengeluarkan miliknya perlahan dan itu membuat air danau Adinda kembali mengalir dengan derasnya
*Sret
"Kyaaaaaaa"
Sbastian tiba-tiba memasukannya dengan cepat dan kasar , itu membuat Adinda berteriak kencang
*****
Sbastian merasakan air danau Adinda benar-benar deras dan Sbastian tidak melewatkan kesempatan itu agar Adinda kembali mengandung anaknya
" Sudah sayang , tidurlah "
Sbastian mengeluarkan si tiang listrik PLN dan benar-benar membiarkan Adinda beristirahat sebelum menyiapkan makanan untuk sahur
Pukul 12.00 malam
" Sayang "
Sbastian membangunkan Adinda
" Hm... "
Adinda menyahuti namun hanya deheman pendek
" Ayo bangun , kamu mandi terus tidur lagi ngak papa "
Sbastian membangunkan Adinda
" Iya mas "
Adinda mendudukkan dirinya dan pergi mandi dengan langkah gontai
" Bisa bisanya ngak pakek apapun "
Sbastian geleng-geleng kepala melihat Adinda berjalan tanpa kain menuju kamar mandi
Setelah beberapa saat
" Mas Tian mau mandi "
Adinda keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono
" Mas mandi sendiri aja "
Sbastian terlihat sudah duduk di atas kursi roda
" Mas kenapa tadi ngak tunggu Adinda "
Adinda menghampiri Sbastian
" Mas bisa sendiri "
Sbastian mencium kening Adinda dan berlalu menuju kamar mandi
Setelah Sbastian selesai dari kamar mandi
" Udah cantik istriku "
Sbastian tersenyum melihat Adinda yang sudah memakai legging dan memakai kaos pendek milik Sbastian
" Gini kok cantik "
__ADS_1
Adinda menahan senyumannya dan merebahkan diri di atas tempat tidur
" Mau aku bantu mas "
Adinda berdiri
" Mas bisa sendiri "
Sbastian menolak
Sbastian berlalu ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya tanpa bantuan Adinda
" Ini udah jam satu , kamu tidur aja sebentar, nanti mas bangunkan "
Sbastian berhenti di samping tempat tidur
" Ngak deh "
Adinda membantu Sbastian naik ke atas tempat tidur
" Pelan-pelan mas "
Adinda menyandarkan tubuh Sbastian di sandaran tempat tidur
*Prang
Suara kaca pecah berasal dari kaca balkon
" Siapa kamu "
Adinda terkejut
" Kesini sayang "
Sbastian memeluk Adinda dan menatap orang itu tajam
" Orang lumpuh seharusnya mudah di habisi kan"
Orang itu mengeluarkan semacam pisau kecil yang sering di sebut dengan belati
" Kau menginginkan nyawaku , bunuh aku tapi jangan sentuh yang lain "
Sbastian menyembunyikan Adinda di dalam pelukannya
" Hahaha mudah sekali , kenapa mereka bilang di sini sangat ketat "
Pria aneh itu tertawa
*Syut
Tiba-tiba pria aneh itu melemparkan belati yang dia pegang dengan kecepatan penuh
*Prang
Sebuah besi membuat belati terhenti dan suara yang berbenturan sampai di telinga Sbastian
" SEAN PERGI "
Sbastian berteriak
" Papa tenang saja , dia ini hanya keroco"
Sean meletakkan besi yang dia pakai
*Bug
Orang aneh itu tiba-tiba terjatuh dan pingsan
" Bagus Lao "
Sean memberikan jempol
" Tuan "
Terlihat Aloe berdiri di pagar balkon
" Kenapa "
Sean menendang pria aneh itu hingga pria aneh itu terlentang dengan luka di wajah akibat serpihan kaca jendela
" Beberapa dari mereka kami tangkap "
Aloe memberi laporan
" Hm... Suruhan otak atau tidak "
Sean keluar menuju balkon
" Iya tuan , di luar kami menangkap sepuluh orang termasuk lima penyusup "
Aloe menjawab
" Apa saudaraku baik-baik saja "
Sean memperhatikan seluruh halaman dari balkon Sbastian
" Senior Mao dan key ada di sana "
Aloe menjawab
" Saya akan bawa mereka ke pusat "
Lao menyeret laki-laki aneh di sana
" Pastikan tidak bisa bundir "
Sean berbalik
" Baik tuan "
Mereka mengangguk
" Maaf mengganggu istirahat papa dan bunda hehehe "
Sean menunjukkan Gigi putihnya
" Sean "
Sbastian memanggil
" Iya papa "
Sean menjawab
" Papa mau bicara "
Sbastian melepaskan Adinda dari pelukannya
" Sebaiknya kita pergi dulu dari sini , biar ini di bersihkan dan di perbaiki "
Sean melihat serpihan kaca di sana
" Baiklah "
Sbastian mengambil kursi rodanya dan naik ke atas kursi roda di bantu Adinda
" Bunda pakai dress dulu "
Sean mengingatkan
" Iya "
Adinda mengambil dress dan hijabnya lalu memakainya
Sean membawa kedua orangtuanya menuju kamarnya
" Bunda duduk dulu "
Sean mendudukkan Adinda yang terlihat masih syok di sofa kamar
" Apa itu tadi "
Sbastian membelai lembut kepala Adinda
" Hm.... Sean akan cerita nanti , ini bukan saatnya "
Sean memberikan segelas air kepada Adinda
" Baiklah "
Sbastian membuat syok istrinya agak reda
" Papa tidur di sini saja , Sean akan tidur dengan kakak "
Sean membenarkan tempat tidurnya
Sean keluar dari kamar dan menutupnya
" Tuan "
Aloe berdiri di samping Sean
" Bagaimana mereka "
Sean menggulung lengan baju tidur panjangnya
" Mereka sudah saya kirim ke pusat , maaf atas kelalaian ini tuan "
Aloe membungkuk
Sean berjalan turun dari lantai atas menuju lantai dasar
" Siapa kamu "
Sean menghampiri salah satu penjaga
" Siap tuan saya penjaga yang baru "
Penjaga itu menjawab dengan percaya diri
" Hm.... Ambilkan pisau "
Sean meminta
" Ini tuan "
Aloe memberikan sebuah pisau
" Ikut aku "
Sean berjalan keluar dari rumah di ikuti si penjaga baru
" Perhatian "
Sean berteriak di depan pintu
" Siap tuan "
Semua orang di sana bersikap siap
*Srek
Tiba-tiba kepala dari si penjaga baru terlepas dari lehernya
" Kalian paham "
Sean membuang belatinya
" Siap paham tuan "
Semua orang menelan ludahnya kasar
" Dia melewati batas , dan aku tidak suka , aku tidak akan membuat kalian seperti ini jika kalian tidak kelewat batas"
Sean menerima lap putih dari Lao dan mengusap tangannya sampai bersih
" Sahur pagi ini sangat menyeramkan "
Sean membuang lap yang dia pegang dan berbalik menuju ruang tamu
" Tuan benar-benar tidak kenal ampun"
Para prajurit menghela nafas lega saat Sean sudah menutup pintu masuk
Beberapa Minggu berlalu , dan hari ini sudah menjadi puasa terakhir di bulan ramadhan
" Kakak "
Aniel datang dan membuat meja Sean berantakan
" Kenapa "
Sean menyisihkan semua dokumen penting miliknya
" Aku mau beli baju sama bunda , kakak ikut ya "
Aniel mengajak
" Kakak sibuk sayang "
Sean tersenyum
" Kakak selalu sibuk , ngak pelnah mau main sama Aniel , Aniel benci kakak "
Aniel menghentakkan kakinya kesal dan keluar dari ruang kerja Sean
" Aku juga pengen main sih... Maaf ya kecil"
Sean kembali menandatangani beberapa kertas di atas mejanya
" Gimana "
Adimas bertanya
" Aku benci kak Sean humph.. "
Aniel mendudukkan dirinya dengan kasar di atas karpet
" Kalau papa ajak pasti mau "
Aniel melihat Sbastian yang baru saja turun dari lantai atas
" Papaaaaaa "
Aniel berlari memeluk kaki Sbastian
" Iya sayang "
Sbastian membawa Aniel ke dalam gendongannya
Sbastian kini sudah kembali sehat , Sbastian sudah bisa berjalan dengan lancar dan semua syaraf Sbastian sudah kembali normal
" Kakak Sean ngak mau ikut cali baju buat lebalan , kalau papa ajak pasti mau "
Aniel menepuk pelan pipi Sbastian
" Ya ayo ke kakak "
Sbastian membawa Aniel naik ke lantai dua menuju ruang kerja Sean
*Cklek
Pintu terbuka dan terlihat Sean yang sedang sibuk dengan laptop dan kertasnya
" Sean "
Sbastian memanggil
" Iya papa "
Sean menanggapi namun dirinya masih sibuk dengan kertas di hadapannya
" Nak.. kamu boleh bekerja , tapi luangkan waktu untuk keluarga , kamu tidak boleh mengabaikan keluargamu hanya karena pekerjaan "
Sbastian menasehati
" Iya pa Sean mengerti "
Sean menghentikan tangannya
" Kamu mau kemana gadis kecil "
Sean bertanya
" Ngak mau , aku benci kakak humph.."
Aniel membuang pandangannya dari Sean
" Papa ikut cari baju buat hari raya "
Sean berdiri dan membersihkan pekerjaannya
" Semua ikut , cuma kamu yang ngak mau ikut"
Sbastian menatap Sean dengan tajam
" Hm.... Sean punya ide "
Sean mengambil hp nya dan memasukannya ke dalam kantong sakunya
_____________
Halo :
Sean menelfon seseorang
Iya tuan :
Orang di sebrang menanggapi
Set yang aku minta kemarin tolong di siapkan hari ini , aku akan kesana:
Sean memasukkan satu bulpoin ke dalam saku celananya
Baik tuan:
Orang di sebrang mengiyakan
__________
Sean menutup telfon secara sepihak
" Sean punya kejutan untuk kalian semua "
Sean berjalan keluar di ikuti Sbastian
__ADS_1
" Kamu ini Sean "
Sbastian menjitak kening Sean
" Hehehe "
Sean hanya cengengesan karena itu
" Bunda kakak , ayo berangkat "
Sean menghampiri Adinda dan Adimas
" Sean "
Adinda memanggil
" Iya Bun "
Sean menoleh
" Kamu itu seharusnya luangin banyak waktu buat adek , adek itu paling sayang sama kamu "
Adinda mengingatkan
" Iya bunda , Sean minta maaf "
Sean menunduk
" Minta maaf ke adek lha , kok ke bunda "
Adimas memukul lengan Sean
" Iya iya bawel "
Sean menatap Adimas malas
" Yang bawel siapa coba "
Adimas menggerutu
" Udah udah , ayo pergi "
Sbastian membawa istri kecilnya dengan kedua anaknya yang sudah perjaka
" Kita ke mana nih "
Sbastian yang memegang kemudi bertanya setelah mereka keluar dari gerbang
" Ke suit land aja pa , Sean punya kejutan di sana "
Sean meminta
" Oke "
Sbastian melajukan mobil menuju suit land di pusat kota
Suit land adalah mall besar yang baru rampung di bangun tahun kemarin oleh Sean , dan kini suit land di kelola oleh orang kepercayaan Sean
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan padat untuk menuju suit land , akhirnya Sbastian memarkirkan mobilnya di parkiran mobil bawah tanah
" Ayo naik "
Sean membawa yang lain melalui lift khusus para pekerja
" Emang boleh pakek lift ini "
Adimas bertanya
" Boleh lah "
Sean tersenyum
*Ting
Setelah lift sampai di lantai pertama mall tempat staf mall berkumpul untuk beristirahat
" Astaga tuan "
Semua staf yang tadinya beristirahat , bermain handphone dan tertawa langsung berdiri dan membungkuk
" Maaf menganggu , lanjutkan saja kegiatan kalian "
Sean keluar membawa Sbastian dan lainnya menuju pintu keluar ruang staf
" Kenapa mereka tadi membungkuk "
Adimas bertanya kepada Sbastian
" Mungkin karena kita tiba-tiba lewat sana "
Adinda memberi kemungkinan
" Jangan mengganggu orang seperti itu lagi Sean "
Sbastian mengingatkan
" Iya papa hehe "
Sean hanya cengengesan saat Sbastian menasehatinya
" Hm... Kita ngak pernah kesini , jadi kita harus cari satu-satu... Atau bertanya "
Adinda menaikkan alisnya
" Hahaha itu seru "
Sean terkekeh
" Lantai satu dulu "
Aniel terlihat bersemangat
" Ini tiga puluh lantai lho "
Sean menyipitkan matanya dan menggumam
" Waaaahhhh aku sama kak Sean pelnah beli itu , aku mah lagi "
Aniel menunjuk sebuah toko eskrim
" Boleh "
Sbastian membawa keluarganya menuju toko es krim
" Kak seaaaaan "
*Pluk
Sesosok anak kecil memeluk kaki Sean
" Mutiara jangan lari-lari "
Suara Fadlan memanggil
" Halo kecil "
Sean menggendong Aniel ke dalam pelukannya
" Tiaaaa halo "
Aniel menyapa
" halo Alin "
Mutiara melambaikan tangannya
" Tos hahaha "
Aniel dan Tiara melakukan high five
" Papa ini mutiara "
Sean memperkenalkan mutiara
" Sean "
Fadlan menepuk pundak Sean
" Papa ini adalah saudara kandung yang Sean ceritakan "
Sbastian menunjuk kedua saudaranya
" Paman "
Fadlan dan Reyhan menyalami Sbastian
" Mama di sini juga "
Sean bertanya
" Mama sama papa lagi di sana "
Fadlan menunjuk salah satu toko
" Kakak Sean...gendong "
Aniel meminta kepada Sean
" Iya sini "
Sean mengambil Aniel dari gendongan Sbastian
" Kak Fadlan kak ehan , ini kak Dimas "
Sean memperkenalkan Adimas
" Fadlan "
"Reyhan "
Reyhan dan Fadlan menjabat tangan Adimas
" Sean "
Suara ayu membuat semua menoleh
" Mama "
Sean tersenyum
" Halo sayang "
*Cup
Ayu mencium kening Sean
" Mama "
Aniel menoel pipi ayu
" Hahaha cantiknya kamu "
Ayu menciumi seluruh wajah Aniel
" Kalian mau cari apa "
Bram mengusap kepala Sean
" Bunda mau cari baju buat lebaran "
Sean menunjuk Adinda
" Bunda , papa ini mama dan papa Sean "
Sean memperkenalkan ke empat orang tuanya
" Bram "
"Sbastian "
Papa saling menjabat tangan dan terlihat sorot mata dingin dari Sbastian
" Saya ayu "
" Saya Adinda "
Para mama menjabat tangan dan terlihat mereka akan menjadi akrab
" Ayo beli baju sama "
Aniel mengajak mutiara
" Oke "
Mutiara memberikan jempol
" Ayo beli baju kak "
Aniel dan mutiara menepuk pipi Sean
" Iya ayo "
Sean membawa Aniel dan mutiara memasuki toko baju
" Itu cantik buat mama "
Mutiara menunjuk salah satu pakaian
" Kalau itu cantik buat bunda "
Aniel menunjuk pakaian yang lain
Sean berjalan mengelilingi toko sesuai permintaan Aniel dan mutiara yang ada di dalam gendongannya
" Ayo kesana "
Aniel menunjuk sebuah rak yang berisi berbagai macam aksesoris anak
Di tempat papa
" Anda papa kandung Sean "
Sbastian memulai percakapan
" Iya , anda papa asuh Sean "
Bram balik tanya
" Iya "
Sbastian menjawab dengan singkat
" Terimakasih sudah merawat Sean "
Bram menatap Sbastian
" Anda akan mengambil Sean "
Sbastian membalas tatapan Bram
" Sean sudah nyaman dengan anda , biarkan saja "
Bram membuat Sbastian terkejut
" Terimakasih , Sean itu nyawa saya "
Sbastian membuat Bram terkejut
" Sean menceritakan banyak tentang anda"
Bram tersenyum
" Sean juga bercerita banyak tentang anda"
Sbastian membalas senyuman Bram
" Pa "
Reyhan dan Adimas menarik pakaian papanya masing-masing
" Kenapa "
Sbastian dan Bram menyahuti
" Mama kalau pilih pakaian gini bakal lama"
Reyhan berbisik di dekat telinga Bram
" Reyhan bener , kalau kita pulang malem nanti gimana "
Adimas membenarkan kalimat Reyhan
" Kalian bener hm.... "
Bram meletakkan jarinya di atas dagunya
" Kamu tenang saja "
Sbastian menepuk pundak Adimas dan berlalu menghampiri Adinda
" Sayang "
Sbastian membelai lembut kepala Adinda yang tertutup hijab
" Iya mas "
Adinda menoleh
" Kapan-kapan kita beli baju berdua aja ya , kalau sekarang kasihan anak-anak pasti nunggu lama "
Sbastian tersenyum manis
" Tapi kan ini buat lebaran "
Adinda terlihat murung
" Kalau buat lebaran Sean udah siapin buat semuanya , kita seragaman "
Sean yang tiba-tiba nongol menurunkan Aniel dan Mutiara
" Mama Mama aku tadi beli ini sama Alin"
Mutiara menunjukkan beberapa aksesoris
" Iya kami kembaran ma , cantik ngak "
__ADS_1
Aniel menunjukkan aksesoris yang mereka bawa