Aku Pangeran

Aku Pangeran
#102 ( tiang listrik PLN)


__ADS_3

" Langsung tidur lho ya "


Adinda melotot tajam


" Iya bunda "


Sean masuk ke dalam kamar Aniel di ikuti Adimas dan tidak lama mereka keluar


" Besok bangunin Sean ya kak "


Sean meminta


" Iya "


Adimas mengangguk


" Ayo anak-anak"


Adinda berkacak pinggang di ambang pintu


Adimas dan Sean masuk ke dalam kamar dan menutup pintu


" Sudah sayang "


Sbastian bertanya


" Udah mas "


Adinda menutup pintu kamar dan menguncinya


" Sayang "


Sbastian memanggil


" Iya mas "


Adinda mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur yang memberikan cahaya remang-remang


" Kesini"


Sbastian menepuk tempat di sebelahnya


" Iya "


Adinda naik dan memeluk perut Sbastian yang ada di sampingnya


" Tidurlah sayang "


Sbastian membenarkan posisinya dan membawa adinda ke dalam pelukannya


" Mas "


Adinda memanggil


" Hm.. "


Sbastian berdehem


" Adinda dengar mas sudah menikah kembali"


Adinda menatap Sbastian


" Ssssstttt aku tidak mau mengingat dia lagi"


Sbastian menutup mulut Adinda dengan jari telunjuknya


" Sejujurnya hati Adinda sakit mas "


Adinda memeluk Sbastian dengan erat


" Apa kamu pernah dekat dengan laki-laki lain"


Sbastian membuat adinda mendongak


" Adinda ngak pernah dekat dengan yang lain , karena adinda ngak pernah bisa ngelupain mas Tian "


Adinda kembali menelusupkan wajahnya di atas dada bidang Sbastian


" Kamu tau sayang "


Sbastian menghirup dalam-dalam aroma rambut adinda


*Tuing


Lagi lagi si tiang listrik berdiri


" Apa "


Adinda mendongak


" Ngak jadi deh , kasian kamu "


Sbastian memejamkan matanya


" Apa apa....bilang dong jangan buat Adinda penasaran "


Adinda mengguncang tubuh Sbastian


" Hahaha tidak mas hanya menggodamu"


Sbastian mencubit pipi Adinda


" Maaas Adinda tau ada yang mas sembunyikan"


Adinda memelototi Sbastian


" Mas pengen "


Sbastian menyatukan dahinya dengan dahi Adinda


" Pengen makan "


Adinda mengedipkan matanya


" Udah kenyang "


Sbastian memejamkan matanya


" Pengan apa lho "


Adinda terlihat berpikir


" Udah... Tidur aja "


Sbastian mengusap wajah Adinda


" Mas pengen ini "


Adinda mengusap bibir pucat Sbastian


" Kamu tau "


Sbastian berbisik


" Tapi adinda di atas dong , adinda kan udah lama ngak lakuin , gimana ya "


Adinda duduk dan menatap tiang listrik PLN yang sudah tegak


" Jangan di pikirkan , ayo tidur "


Sbastian menarik Adinda ke dalam pelukannya


" Adinda boleh coba "


Adinda naik ke atas tubuh Sbastian


" Boleh "


Sbastian tersenyum


*Srek


Kunci kandang di buka oleh Adinda


*Tuing


Tiang listrik ukuran jumbo keluar


Adinda melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan itu membuat si tiang listrik semakin tegak dan keras


*Glup


Sbastian menelan kasar ludahnya saat melihat lekuk tubuh Adinda yang sudah lama dia inginkan


" Kamu basah sayang "


Sbastian melihat air danau menetes membasahi pakaiannya


" Hehe "


Adinda menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih


" Kemarilah "


Sbastian menarik Adinda dan membuat adinda membelakanginya


" Mas "


Adinda terkejut saat merasakan sesuatu menyentuh lubang kunci miliknya


" Aaaahhhh.. aaaahhhh.... Mas Tian "


Adinda memegang lengan Sbastian yang bertumpu di atas tubuhnya


" Hm... Danaunya sangat sempit dan becek"


Sbastian menjilat leher putih adinda


Sbastian memasukkan jari telunjuknya ke dalam lorong sempit di sana


" Mas...mas aaakkhhhh mas Tian sakit mas"


Adinda meremas lengan Sbastian dengan kuat saat dua jari Sbastian di masukkan


" Ini kembali sempit sayang "


Sbastian memeluk adinda dengan tangannya yang lain


*Syut...syut


"Aaaahhhh....mas Tian "


Adinda menggeliat saat jari Sbastian semakin dalam masuk dan mulai menari dengan gemulai di sana


" Untunglah kakiku sudah bisa di gerakkan sedikit sedikit , jadi malam ini akan terasa panjang "


Sbastian berbisik di telinga Adinda yang sudah memerah


Kaki adinda menegang dan menendang kesana kemari saat jari ketiga Sbastian di masukkan


" Jangan...mas...jangan mas "


Adinda sedikit memberontak saat ketiga jari Sbastian mulai bermain dengan indah


" Hah..hah...hah... Sakit... Mas Tian uukkhh"


Adinda memejamkan matanya dan merasakan sesuatu yang akan keluar dari lubang goa miliknya


" keluarkan sayang , jangan di tahan "


Nafas hangat Sbastian berhembus di telinga kecil Adinda


*Syuuut


Mengalir keluar air danau yang seharusnya keluar


"Kyaaaaaaa MAS TIAAAAN "


Adinda berteriak saat merasakan miliknya tiba-tiba di masuki sesuatu yang besar dari belakang


" Uuuggh sempitnya "


Sbastian memeluk adinda dengan erat dan memejamkan matanya


" Hah..hah... Keluarkan mas keluarin ini sakit mas... Sakit "


Adinda menggenggam erat tangan Sbastian saat Sbastian mulai mengocok dengan lembut , namun bukan dirinya yang bergerak , melainkan Adinda yang dia angkat lalu dia dorong ke depan dan belakang


" Kembali seperti semula sayang , ini enak"


Sbastian memasukkan miliknya semakin dalam dan membuat adinda semakin berteriak dan bergetar hebat


" Hah...hah mas Tian sakit mas... Uuuggh hah...hah... Cukup mas "


Adinda berusaha melepaskan dirinya namun Sbastian tidak semudah itu melepaskan Adinda


Sbastian mendudukkan dirinya dengan susah payah lalu membuat Adinda ada di atasnya


" Kyaaaaaaa "


Adinda berteriak ketika goa miliknya di dorong dengan keras oleh si tiang listrik PLN


Sbastian melakukan hal yang sama hingga muncrat berkali-kali di dalam Adinda , hingga waktu menunjukkan pukul 11.00


" Sudah empat jam "


Sbastian tersenyum


" Mas... Udah... Aku capek "


Adinda terdengar sangat lirih dan terlihat Adinda sudah terkulai tak berdaya di dalam pelukan Sbastian


" Kita lanjutkan besok , tidurlah sayang "


Sbastian memasukkan miliknya semakin dalam


" Uuuggh... Rasanya penuh di sana "


Adinda hanya bisa berbicara dalam hati karena dirinya sudah lemas dan bahkan tidak bisa membuka matanya lagi


" Mas Tian "


Adinda memanggil


" Iya sayang "


Sbastian mendekatkan telinganya


" Lagi mas.... Satu kali lagi "


Adinda meminta


" Iya sayang "


Sbastian mendorong agar si tiang listrik benar-benar tenggelam dan tidak terlihat


" Cukup.... Mas Tian cukup , jangan masuk lagi "


Adinda dengan lirih memperingatkan


*Syuuut


Sbastian mengeluarkan miliknya perlahan dan itu membuat air danau Adinda kembali mengalir dengan derasnya


*Sret


"Kyaaaaaaa"


Sbastian tiba-tiba memasukannya dengan cepat dan kasar , itu membuat Adinda berteriak kencang


*****


Sbastian merasakan air danau Adinda benar-benar deras dan Sbastian tidak melewatkan kesempatan itu agar Adinda kembali mengandung anaknya


" Sudah sayang , tidurlah "


Sbastian mengeluarkan si tiang listrik PLN dan benar-benar membiarkan Adinda beristirahat sebelum menyiapkan makanan untuk sahur


Pukul 12.00 malam


" Sayang "


Sbastian membangunkan Adinda


" Hm... "


Adinda menyahuti namun hanya deheman pendek


" Ayo bangun , kamu mandi terus tidur lagi ngak papa "


Sbastian membangunkan Adinda


" Iya mas "


Adinda mendudukkan dirinya dan pergi mandi dengan langkah gontai


" Bisa bisanya ngak pakek apapun "


Sbastian geleng-geleng kepala melihat Adinda berjalan tanpa kain menuju kamar mandi


Setelah beberapa saat


" Mas Tian mau mandi "


Adinda keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono


" Mas mandi sendiri aja "


Sbastian terlihat sudah duduk di atas kursi roda


" Mas kenapa tadi ngak tunggu Adinda "


Adinda menghampiri Sbastian


" Mas bisa sendiri "


Sbastian mencium kening Adinda dan berlalu menuju kamar mandi


Setelah Sbastian selesai dari kamar mandi


" Udah cantik istriku "


Sbastian tersenyum melihat Adinda yang sudah memakai legging dan memakai kaos pendek milik Sbastian


" Gini kok cantik "

__ADS_1


Adinda menahan senyumannya dan merebahkan diri di atas tempat tidur


" Mau aku bantu mas "


Adinda berdiri


" Mas bisa sendiri "


Sbastian menolak


Sbastian berlalu ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya tanpa bantuan Adinda


" Ini udah jam satu , kamu tidur aja sebentar, nanti mas bangunkan "


Sbastian berhenti di samping tempat tidur


" Ngak deh "


Adinda membantu Sbastian naik ke atas tempat tidur


" Pelan-pelan mas "


Adinda menyandarkan tubuh Sbastian di sandaran tempat tidur


*Prang


Suara kaca pecah berasal dari kaca balkon


" Siapa kamu "


Adinda terkejut


" Kesini sayang "


Sbastian memeluk Adinda dan menatap orang itu tajam


" Orang lumpuh seharusnya mudah di habisi kan"


Orang itu mengeluarkan semacam pisau kecil yang sering di sebut dengan belati


" Kau menginginkan nyawaku , bunuh aku tapi jangan sentuh yang lain "


Sbastian menyembunyikan Adinda di dalam pelukannya


" Hahaha mudah sekali , kenapa mereka bilang di sini sangat ketat "


Pria aneh itu tertawa


*Syut


Tiba-tiba pria aneh itu melemparkan belati yang dia pegang dengan kecepatan penuh


*Prang


Sebuah besi membuat belati terhenti dan suara yang berbenturan sampai di telinga Sbastian


" SEAN PERGI "


Sbastian berteriak


" Papa tenang saja , dia ini hanya keroco"


Sean meletakkan besi yang dia pakai


*Bug


Orang aneh itu tiba-tiba terjatuh dan pingsan


" Bagus Lao "


Sean memberikan jempol


" Tuan "


Terlihat Aloe berdiri di pagar balkon


" Kenapa "


Sean menendang pria aneh itu hingga pria aneh itu terlentang dengan luka di wajah akibat serpihan kaca jendela


" Beberapa dari mereka kami tangkap "


Aloe memberi laporan


" Hm... Suruhan otak atau tidak "


Sean keluar menuju balkon


" Iya tuan , di luar kami menangkap sepuluh orang termasuk lima penyusup "


Aloe menjawab


" Apa saudaraku baik-baik saja "


Sean memperhatikan seluruh halaman dari balkon Sbastian


" Senior Mao dan key ada di sana "


Aloe menjawab


" Saya akan bawa mereka ke pusat "


Lao menyeret laki-laki aneh di sana


" Pastikan tidak bisa bundir "


Sean berbalik


" Baik tuan "


Mereka mengangguk


" Maaf mengganggu istirahat papa dan bunda hehehe "


Sean menunjukkan Gigi putihnya


" Sean "


Sbastian memanggil


" Iya papa "


Sean menjawab


" Papa mau bicara "


Sbastian melepaskan Adinda dari pelukannya


" Sebaiknya kita pergi dulu dari sini , biar ini di bersihkan dan di perbaiki "


Sean melihat serpihan kaca di sana


" Baiklah "


Sbastian mengambil kursi rodanya dan naik ke atas kursi roda di bantu Adinda


" Bunda pakai dress dulu "


Sean mengingatkan


" Iya "


Adinda mengambil dress dan hijabnya lalu memakainya


Sean membawa kedua orangtuanya menuju kamarnya


" Bunda duduk dulu "


Sean mendudukkan Adinda yang terlihat masih syok di sofa kamar


" Apa itu tadi "


Sbastian membelai lembut kepala Adinda


" Hm.... Sean akan cerita nanti , ini bukan saatnya "


Sean memberikan segelas air kepada Adinda


" Baiklah "


Sbastian membuat syok istrinya agak reda


" Papa tidur di sini saja , Sean akan tidur dengan kakak "


Sean membenarkan tempat tidurnya


Sean keluar dari kamar dan menutupnya


" Tuan "


Aloe berdiri di samping Sean


" Bagaimana mereka "


Sean menggulung lengan baju tidur panjangnya


" Mereka sudah saya kirim ke pusat , maaf atas kelalaian ini tuan "


Aloe membungkuk


Sean berjalan turun dari lantai atas menuju lantai dasar


" Siapa kamu "


Sean menghampiri salah satu penjaga


" Siap tuan saya penjaga yang baru "


Penjaga itu menjawab dengan percaya diri


" Hm.... Ambilkan pisau "


Sean meminta


" Ini tuan "


Aloe memberikan sebuah pisau


" Ikut aku "


Sean berjalan keluar dari rumah di ikuti si penjaga baru


" Perhatian "


Sean berteriak di depan pintu


" Siap tuan "


Semua orang di sana bersikap siap


*Srek


Tiba-tiba kepala dari si penjaga baru terlepas dari lehernya


" Kalian paham "


Sean membuang belatinya


" Siap paham tuan "


Semua orang menelan ludahnya kasar


" Dia melewati batas , dan aku tidak suka , aku tidak akan membuat kalian seperti ini jika kalian tidak kelewat batas"


Sean menerima lap putih dari Lao dan mengusap tangannya sampai bersih


" Sahur pagi ini sangat menyeramkan "


Sean membuang lap yang dia pegang dan berbalik menuju ruang tamu


" Tuan benar-benar tidak kenal ampun"


Para prajurit menghela nafas lega saat Sean sudah menutup pintu masuk


Beberapa Minggu berlalu , dan hari ini sudah menjadi puasa terakhir di bulan ramadhan


" Kakak "


Aniel datang dan membuat meja Sean berantakan


" Kenapa "


Sean menyisihkan semua dokumen penting miliknya


" Aku mau beli baju sama bunda , kakak ikut ya "


Aniel mengajak


" Kakak sibuk sayang "


Sean tersenyum


" Kakak selalu sibuk , ngak pelnah mau main sama Aniel , Aniel benci kakak "


Aniel menghentakkan kakinya kesal dan keluar dari ruang kerja Sean


" Aku juga pengen main sih... Maaf ya kecil"


Sean kembali menandatangani beberapa kertas di atas mejanya


" Gimana "


Adimas bertanya


" Aku benci kak Sean humph.. "


Aniel mendudukkan dirinya dengan kasar di atas karpet


" Kalau papa ajak pasti mau "


Aniel melihat Sbastian yang baru saja turun dari lantai atas


" Papaaaaaa "


Aniel berlari memeluk kaki Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian membawa Aniel ke dalam gendongannya


Sbastian kini sudah kembali sehat , Sbastian sudah bisa berjalan dengan lancar dan semua syaraf Sbastian sudah kembali normal


" Kakak Sean ngak mau ikut cali baju buat lebalan , kalau papa ajak pasti mau "


Aniel menepuk pelan pipi Sbastian


" Ya ayo ke kakak "


Sbastian membawa Aniel naik ke lantai dua menuju ruang kerja Sean


*Cklek


Pintu terbuka dan terlihat Sean yang sedang sibuk dengan laptop dan kertasnya


" Sean "


Sbastian memanggil


" Iya papa "


Sean menanggapi namun dirinya masih sibuk dengan kertas di hadapannya


" Nak.. kamu boleh bekerja , tapi luangkan waktu untuk keluarga , kamu tidak boleh mengabaikan keluargamu hanya karena pekerjaan "


Sbastian menasehati


" Iya pa Sean mengerti "


Sean menghentikan tangannya


" Kamu mau kemana gadis kecil "


Sean bertanya


" Ngak mau , aku benci kakak humph.."


Aniel membuang pandangannya dari Sean


" Papa ikut cari baju buat hari raya "


Sean berdiri dan membersihkan pekerjaannya


" Semua ikut , cuma kamu yang ngak mau ikut"


Sbastian menatap Sean dengan tajam


" Hm.... Sean punya ide "


Sean mengambil hp nya dan memasukannya ke dalam kantong sakunya


_____________


Halo :


Sean menelfon seseorang


Iya tuan :


Orang di sebrang menanggapi


Set yang aku minta kemarin tolong di siapkan hari ini , aku akan kesana:


Sean memasukkan satu bulpoin ke dalam saku celananya


Baik tuan:


Orang di sebrang mengiyakan


__________


Sean menutup telfon secara sepihak


" Sean punya kejutan untuk kalian semua "


Sean berjalan keluar di ikuti Sbastian

__ADS_1


" Kamu ini Sean "


Sbastian menjitak kening Sean


" Hehehe "


Sean hanya cengengesan karena itu


" Bunda kakak , ayo berangkat "


Sean menghampiri Adinda dan Adimas


" Sean "


Adinda memanggil


" Iya Bun "


Sean menoleh


" Kamu itu seharusnya luangin banyak waktu buat adek , adek itu paling sayang sama kamu "


Adinda mengingatkan


" Iya bunda , Sean minta maaf "


Sean menunduk


" Minta maaf ke adek lha , kok ke bunda "


Adimas memukul lengan Sean


" Iya iya bawel "


Sean menatap Adimas malas


" Yang bawel siapa coba "


Adimas menggerutu


" Udah udah , ayo pergi "


Sbastian membawa istri kecilnya dengan kedua anaknya yang sudah perjaka


" Kita ke mana nih "


Sbastian yang memegang kemudi bertanya setelah mereka keluar dari gerbang


" Ke suit land aja pa , Sean punya kejutan di sana "


Sean meminta


" Oke "


Sbastian melajukan mobil menuju suit land di pusat kota


Suit land adalah mall besar yang baru rampung di bangun tahun kemarin oleh Sean , dan kini suit land di kelola oleh orang kepercayaan Sean


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan padat untuk menuju suit land , akhirnya Sbastian memarkirkan mobilnya di parkiran mobil bawah tanah


" Ayo naik "


Sean membawa yang lain melalui lift khusus para pekerja


" Emang boleh pakek lift ini "


Adimas bertanya


" Boleh lah "


Sean tersenyum


*Ting


Setelah lift sampai di lantai pertama mall tempat staf mall berkumpul untuk beristirahat


" Astaga tuan "


Semua staf yang tadinya beristirahat , bermain handphone dan tertawa langsung berdiri dan membungkuk


" Maaf menganggu , lanjutkan saja kegiatan kalian "


Sean keluar membawa Sbastian dan lainnya menuju pintu keluar ruang staf


" Kenapa mereka tadi membungkuk "


Adimas bertanya kepada Sbastian


" Mungkin karena kita tiba-tiba lewat sana "


Adinda memberi kemungkinan


" Jangan mengganggu orang seperti itu lagi Sean "


Sbastian mengingatkan


" Iya papa hehe "


Sean hanya cengengesan saat Sbastian menasehatinya


" Hm... Kita ngak pernah kesini , jadi kita harus cari satu-satu... Atau bertanya "


Adinda menaikkan alisnya


" Hahaha itu seru "


Sean terkekeh


" Lantai satu dulu "


Aniel terlihat bersemangat


" Ini tiga puluh lantai lho "


Sean menyipitkan matanya dan menggumam


" Waaaahhhh aku sama kak Sean pelnah beli itu , aku mah lagi "


Aniel menunjuk sebuah toko eskrim


" Boleh "


Sbastian membawa keluarganya menuju toko es krim


" Kak seaaaaan "


*Pluk


Sesosok anak kecil memeluk kaki Sean


" Mutiara jangan lari-lari "


Suara Fadlan memanggil


" Halo kecil "


Sean menggendong Aniel ke dalam pelukannya


" Tiaaaa halo "


Aniel menyapa


" halo Alin "


Mutiara melambaikan tangannya


" Tos hahaha "


Aniel dan Tiara melakukan high five


" Papa ini mutiara "


Sean memperkenalkan mutiara


" Sean "


Fadlan menepuk pundak Sean


" Papa ini adalah saudara kandung yang Sean ceritakan "


Sbastian menunjuk kedua saudaranya


" Paman "


Fadlan dan Reyhan menyalami Sbastian


" Mama di sini juga "


Sean bertanya


" Mama sama papa lagi di sana "


Fadlan menunjuk salah satu toko


" Kakak Sean...gendong "


Aniel meminta kepada Sean


" Iya sini "


Sean mengambil Aniel dari gendongan Sbastian


" Kak Fadlan kak ehan , ini kak Dimas "


Sean memperkenalkan Adimas


" Fadlan "


"Reyhan "


Reyhan dan Fadlan menjabat tangan Adimas


" Sean "


Suara ayu membuat semua menoleh


" Mama "


Sean tersenyum


" Halo sayang "


*Cup


Ayu mencium kening Sean


" Mama "


Aniel menoel pipi ayu


" Hahaha cantiknya kamu "


Ayu menciumi seluruh wajah Aniel


" Kalian mau cari apa "


Bram mengusap kepala Sean


" Bunda mau cari baju buat lebaran "


Sean menunjuk Adinda


" Bunda , papa ini mama dan papa Sean "


Sean memperkenalkan ke empat orang tuanya


" Bram "


"Sbastian "


Papa saling menjabat tangan dan terlihat sorot mata dingin dari Sbastian


" Saya ayu "


" Saya Adinda "


Para mama menjabat tangan dan terlihat mereka akan menjadi akrab


" Ayo beli baju sama "


Aniel mengajak mutiara


" Oke "


Mutiara memberikan jempol


" Ayo beli baju kak "


Aniel dan mutiara menepuk pipi Sean


" Iya ayo "


Sean membawa Aniel dan mutiara memasuki toko baju


" Itu cantik buat mama "


Mutiara menunjuk salah satu pakaian


" Kalau itu cantik buat bunda "


Aniel menunjuk pakaian yang lain


Sean berjalan mengelilingi toko sesuai permintaan Aniel dan mutiara yang ada di dalam gendongannya


" Ayo kesana "


Aniel menunjuk sebuah rak yang berisi berbagai macam aksesoris anak


Di tempat papa


" Anda papa kandung Sean "


Sbastian memulai percakapan


" Iya , anda papa asuh Sean "


Bram balik tanya


" Iya "


Sbastian menjawab dengan singkat


" Terimakasih sudah merawat Sean "


Bram menatap Sbastian


" Anda akan mengambil Sean "


Sbastian membalas tatapan Bram


" Sean sudah nyaman dengan anda , biarkan saja "


Bram membuat Sbastian terkejut


" Terimakasih , Sean itu nyawa saya "


Sbastian membuat Bram terkejut


" Sean menceritakan banyak tentang anda"


Bram tersenyum


" Sean juga bercerita banyak tentang anda"


Sbastian membalas senyuman Bram


" Pa "


Reyhan dan Adimas menarik pakaian papanya masing-masing


" Kenapa "


Sbastian dan Bram menyahuti


" Mama kalau pilih pakaian gini bakal lama"


Reyhan berbisik di dekat telinga Bram


" Reyhan bener , kalau kita pulang malem nanti gimana "


Adimas membenarkan kalimat Reyhan


" Kalian bener hm.... "


Bram meletakkan jarinya di atas dagunya


" Kamu tenang saja "


Sbastian menepuk pundak Adimas dan berlalu menghampiri Adinda


" Sayang "


Sbastian membelai lembut kepala Adinda yang tertutup hijab


" Iya mas "


Adinda menoleh


" Kapan-kapan kita beli baju berdua aja ya , kalau sekarang kasihan anak-anak pasti nunggu lama "


Sbastian tersenyum manis


" Tapi kan ini buat lebaran "


Adinda terlihat murung


" Kalau buat lebaran Sean udah siapin buat semuanya , kita seragaman "


Sean yang tiba-tiba nongol menurunkan Aniel dan Mutiara


" Mama Mama aku tadi beli ini sama Alin"


Mutiara menunjukkan beberapa aksesoris


" Iya kami kembaran ma , cantik ngak "

__ADS_1


Aniel menunjukkan aksesoris yang mereka bawa


__ADS_2