
Siapkan tisu hiks.
---*---
“Begitulah kehidupan ada suka maupun duka, ada pertemuan ada perpisahan, ada bahagia ada kesedihan, ada cinta dan ada luka. Jangan lupakan, ikatan pernikahan adalah ikatan sakral bukan permainan, jadi menikahlah dengan seseorang yang memang mencintai dan dicintaimu. Menikahlah untuk sekali dalam seumur hidup. Jangan pernah memaksakan kehendak apapun didalam pernikahan.” ~Author JBlack~
.
.
.
“Tolong menikahlah dengan Rey setelah aku tiada, gantilah aku untuk menjaganya Ca. Aku tau Mas Rey sangat mencintaimu.”
Deg.
Degub jantung Aqila berdetak kencang bahkan dirinya begitu terkejut dengan permintaan sahabatnya itu. Apalagi ketika menatap kedua matanya yang penuh permohonan. Namun Aqila tak langsung menjawab. Dirinya menghindari tatapan mata dengan Rossa dan menunduk.
Tangannya yang dipegang Rossa sudah semakin erat, Aqila mulai mengatur nafasnya. Dia tak menginginkan ini bahkan dengan keadaan hatinya yang sudah tak ada perasaan dengan lelaki diseberang ranjang Rossa.
Perasaannya sudah berubah, cintanya sudah hilang saat dia mulai mengikhlaskan semuanya. Bahkan perlahan hatinya sudah terisi oleh kehadiran pemilik senyum manis itu.
Aqila mulai berfikir keras. Dia harus memantapkan hatinya, tak boleh gegabah dan menjerumuskan dirinya dengan keputusan yang salah. Dia harus melibatkan semuanya dengan Allah.
“Ya Allah bantu aku untuk semua ini,” gumam Aqila dalam hati.
Dirinya mulai meregangkan genggaman tangan Rossa. Dia mulai menegakkan wajahnya dan menatap wajah Rossa. Wanita itu masih menatapnya dengan penuh harap.
Dibelakang sana, lelaki berparas tampan tak kalah berdebar hatinya, dia berharap gadis gamisnya membuat sebuah keputusan yang tepat. Dirinya berdoa dalam hati semoga saat ini Allah menunjukkan kuasanya. Dia berharap gadisnya akan menjadi miliknya. Meski terlihat egois namun bagaimanapun dia juga bersiap melamar gadis itu untuk dirinya.
Untuk Rey sendiri, dirinya tak menyangka jika gadis berstatus istrinya itu bisa meminta sesuatu yang teramat besar untuk dirinya. Dia tak menyangka bahwa gadis yang selalu tak ia anggap bersikap bak malaikat saat ini. Perasaan bersalah dan menyesal semakin mendalam dalam hatinya. Genggaman tangannya semakin mengerat.
Suasana diruangan memang begitu hening, jantung semua orang berdetak kencang menunggu jawaban gadis bergamis dan berkerudung panjang itu. Mereka semua saling tenggelam dalam pikirannya. Menerka akan jawaban apa yang akan diberikan oleh Aqila.
Aqila mulai melepas genggaman tangan Rossa dan dirinya mulai mendekat ke arah Rossa. Genggaman tangan Rey dan Rossa terlepas karena Aqila berniat memeluk Rossa.
Aqila mulai membungkuk dan memeluk Rossa.
“Apa kamu begitu menyanyangiku?” bisik Aqila tepat ditelinga Rossa.
“Ya aku sangat menyanyangimu,” lirih Rossa pelan.
“Jika kau menyanyangiku, kau tak akan memaksakan kehendakmu untukku kan,” ucap Aqila.
Rossa mengangguk. Aqila mulai melepas pelukannya dan menatap Rossa.
“Pertama aku minta maaf Ca, aku tak bisa mengabulkan permintaanmu itu,” ucap Aqila dengan mantap.
“Kenapa?” tanya Rossa dengan nafas yang mulai memberat.
__ADS_1
“Karena aku sudah tak mencintai Rey Ca, aku sudah melupakannya. Ku mohon jangan pernah memaksaku.” Suara Aqila parau karena air matanya sudah mulai menggenang.
Dia sudah mulai takut melihat sahabatnya sudah menarik nafas dengan berat.
“Ku mohon maafkan aku, kita pasti bisa bahagia meski tak bersatu Ca dan kamu jangan merasa bersalah karena memang ini sudah takdir allah,” ucap Aqila.
“Kalau begitu aku titip Rey padamu Ca, tolong jaga dia dan rubahlah dia menjadi lelaki yang taat beribadah yah.” Suara Rossa mulai menghilang dan terbata.
“Ca.”
“Rossa nak.” Mama Clara mendekat.
Semua orang mendekat namun Rossa tak melepaskan genggaman tangannya pada Aqila.
Rossa tersenyum. “Tuntun huh aku huh La,” ucap Rossa dengan nafas yang berat dan pelan.
Aqila menangis dia mengeratkan genggaman tangannya dan mulai mendekatkan bibirnya ditelinga sahabatnya.
“ʾašhadu ʾan lā ʾilāha ʾillā -llāh.”
“ʾaš-ha-du ʾan lā ʾilā-ha ʾillā -llāh,” sahut Rossa dengan terbata serta mata yang mulai memejam.
“wa ʾašhadu ʾanna muḥammadan rasūlu -llāh,” ucap Aqila dengan mulai menangis.
“wa ʾaš-ha-du ʾan-na mu-ḥammadan r-asūlu -llāh.” Sambil matanya mulai terpejam.
Aqila menangis memeluk sahabatnya yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya, memeluknya erat dan menciumi pucuk kepala Rossa.
Mama Clara sudah terjatuh pingsan saat sang anak menghembuskan nafas terakhirnya. Untung saja Kevin berdiri tak jauh dari Mama Clara dan dengan sigap Kevin menggendongnya dan membawa ke ruang perawatan.
“Tenanglah disana Ca, tunggu aku,” lirih Aqila dengan berlinang air mata.
Tubuhnya masih memeluk Rossa begitu erat.
“Aku sayang padamu hiks hiks,” ucap Aqila parau.
Rey sendiri tak kalah sedih. Dia bahkan menangis. Dia menciumi tangan kiri Rossa dengan lembut.
“Maafkan aku Ca maafkan aku yang sudah mengabaikanmu, mengabaikan cintamu,” lirih Rey dengan mencium punggung tangan Rossa.
Semua orang saling mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Ruangan putih itu diselimuti kesedihan yang mendalam, semua orang mulai menjauh dari ranjang karena suster mulai membuka satu persatu alat yang melekat ditubuh Rossa.
Aqila tak berhenti menangis. Dia memeluk tubuh kakaknya Adel. Dia bahkan berulang kali mengucapkan maaf karena ia telah meninggalkan Rossa. Namun Adel dengan setia mengusap punggung adiknya sambil menenangkan jika bukan kesalahannya semua yang terjadi ini. Ini semua adalah takdir tuhan yang sudah Allah rencanakan begitu baik untuk semua orang.
Tak ada raut angkuh diwajah Rey, wajahnya diselimuti penyesalan dan kesedihan. Lelaki itu hanya membutuhkan pelukan. Mama Ria dengan lembut memeluk anak lelakinya dengan erat. Mengusap punggungnya saat merasakan bahwa tubuh anaknya bergetar yang menandakan bahwa Rey menangis.
“Ikhlaskan nak, Rossa sudah bahagia disana. Dia gak sakit lagi,” lirih Mama Ria.
“Aku jahat ma, aku begitu jahat. Aku sudah menyakitinya disaat dia sakit ma,” ucap Rey dengan menangis.
__ADS_1
“Kamu tidak salah nak, kamu gak jahat ini sudah takdirnya. Kamu harus menerimanya. Ikhlaskan dia nak. Kamu harus terus menatap ke depan,” ucap Mama Ria.
Rey tak menyahut. Dia hanya diam dipelukan mamanya. Pelukan yang membuatnya nyaman sejak dulu. Bahkan pelukan ini yang memberi dia kekuatan dulu saat ayahnya meninggal.
Perlahan suster mulai mengurus jenazah Rossa untuk dibawa pulang kerumahnya agar segera dibersihkan dan dimakamkan.
---*---
Kedatangan jenazah Rossa disambut duka air mata oleh keluarga besarnya. Bahkan banyak keluarga dari tante yang langsung tak sadarkan diri. Memang Rossa adalah sosok perempuan ceria, kocak dan penyayang. Kekocakannya akan bertambah jika sudah bersama Aqila dulu.
Bahkan banyak keluarga yang tak percaya jika ponakan mereka mengalami sakit parah seperti almarhum papanya dulu.
Jenazah Rossa diletakkan diruang utama rumahnya. Disekeliling jenazahnya sudah banyak keluarga dan para tetangga udah melatunkan ayat suci Al-quran.
Lantunan ayat tiap ayat menggema diruangan besar itu. Aqila sendiri berada tak jauh dari jenazah sabatnya dengan masih berderai air mata. Sungguh dia tak memiliki tenaga untuk berdiri. Dia hanya ingin didekat sahabatnya. Tak ada dendam dihatinya yang ada hanya penyesalan karena telah meninggalkan teman masa kecilnya itu.
Dari sejak SMP mereka berdua sudah saling menyanyangi. Sekolah SMA di sekolah yang sama hingga dipisahkan saat kuliah karena keduanya menempuh jurusan yang berbeda. Namun meski berbeda tiap libur mereka akan jalan berdua bahkan bergantian untuk menginap dirumah mereka.
Selesai mengaji para tetangga dan keluarga langsung mengurus jenazah dengan baik. Dari membersihkan, memandikan, mensucikan dan mengkafani. Lalu yang terakhir mereka mensholati bersama.
Hingga bagian terakhir yaitu pengantaran jenazah ke tempat istirahat yang terakhir. Saat mengantarkan, Aqila tak jauh-jauh dari tubuh Mama Clara dan Kakaknya Adel. Ketiganya saling memapah untuk menguatkan satu dengan yang lain. Bahkan Mama Clara begitu terlihat menyayangi Aqila seperti menyayangi anaknya sendiri.
Wanita paruh baya itu memeluk Aqila sambil mengucapkan maaf jika dulu anaknya pernah menyakitinya di hubungan percintaan, tapi Aqila sudah mengantakan jika semua itu sudah tak ada gunanya untuk dibahas. Keduanya sudah saling memaafkan dan mengikhlaskan.
---*---
Pemakaman.
Jenazah mulai diangkat dan dimasukkan kedalam lubang tanah. Perlahan namun pasti jenazah mulai diletakkan di atas tanah. Setelah memposisikan agar jenazah menghadap kiblat perlahan tubuh itu ditutup oleh kayu-kayu tipis. Perlahan tanah mulai dijatuhkan kedalam lubang menutupi tubuh Rossa yang terbalut kain kafan.
Disana saat tanah mulai menutupi jenazah, Aqila menangis hingga tak sadarkan diri. Adel dengan setia memeluk adiknya yang tak sadarkan diri dan dibantu oleh Kevin.
Pangeran Khali bahkan ikut serta dalam pemakaman dan menatap sedih kearah gadisnya yang pingsan. Ia tak bisa menggendong dengan sembarangan karena tubuh itu belum halal untuk dipegangnya.
Dengan pelan Kevin menggendong tubuh adik iparnya dan membawanya ke mobil. Dibelakangnya diikuti oleh Adel, Pangeran Khali, Ibra, Axel dan Mamanya Angel.
Bagaimanapun keluarga Aqila sudah sangat dekat dengan keluarga Mama Clara. Selain karena hubungan bisnis juga karena kedua gadis muda itu bersahabat. Akhirnya acara pemakaman itu berlangsung cepat meski dengan keadaan Aqila yang lemah didalam mobil.
---*---
Selamat membaca.
Luar biasa Komen kalian tembus 50 komen. Wahh ternyata kalian luar biasa. Terimakasih atas apresiasi kalian dan maaf up nya telat soalnya lampunya baru nyala. Jadinya wifi nya baru hidup. Maaf yah dan untuk komen diatas yang gak aku balas memang aku sengaja biar pada kepo hehehe.
Yang mau hujat author karena gak sesuai alurnya monggo silahkan. Author mau kabur aja ampunnn.
Pokoknya kalau sabar sampai tamat bakalan ngerti dan puas dengan semua ceritanya. Jadinya jangan di unfavorit dulu meski kalian kecewa, baca aja sampai tamat. Entar Babang Rey juga bahagia kok, bahagia bersamaku.
Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE
__ADS_1