
“Aku tak menyangka jika keluargamu akan sehangat ini kepadaku.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
“Masya allah apa ini sebuah kebetulan,” gumam Raja Malik dalam hati.
Dirinya masih terdiam mengamati wajah yang memang sangat dirindukan, bahkan sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu karena suatu hal.
Saat Raja Malik melamun, sebuah elusan tangan membuatnya tersadar. Raja menatap istrinya yang tersenyum lembut kearahnya.
“Kenapa Bi?” tanya Umi Mayra.
“Gakpapa Mi,” ucap Raja Malik.
Kedua orang paruh baya kembali menatap Aqila dan tersenyum.
“Silahkan duduk,” ujar Raja Malik.
Dirinya memilih diam, sampai nanti dia akan menyuruh asistennya untuk membawa data yang lain tentang gadis didepannya ini.
Setelah semua orang duduk, beberapa pelayan keluar membawa cemilan dan minuman untuk teman mengobrol mereka. Menatanya begitu indah nan rapi diatas meja. Lalu segera undur diri saat sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Silahkan diminum dan dimakan nak,” pinta Ratu Mayra.
“Iya Ratu.” Aqila mengangguk sopan.
Semua orang mulai memgambil sedikit makanan untuk memulai obrolan santai itu. Aqila hanya meminum sedikit air digelas kaca itu.
“Aqila asli indonesia?” tanya Raja Malik pelan.
“Iya Baginda Raja. Saya asli Indonesia,” sahut Aqila sopan.
“Panggil kami Abi dan Umi saja. Baru kalau nanti sudah diluar kamu boleh panggil Raja dan Ratu,” ucap Umi Mayra.
Haura dan Khali tersenyum melihat orang tua mereka menerima kehadiran Aqila. Aqila mengangguk meski agak canggung dia harus memanggil tanpa embel-embel pangkat mereka.
“Papa Mama dimana sayang?” Tanya Umi Mayra.
“Mama ada di Indonesia, kalau papa udah meninggal,” lirihnya dengan kepala menunduk.
Bagaimanapun meski kejadiannya sebelum dia lahir, namun ketika membahas tentang itu pasti ada rasa sakit dihatinya. Sering timbul perasaan iri ketika melihat teman-temannya masih memiliki orang tua lengkap.
“Oh maafkan umi nak.” Sesal Umi Mayra.
Untuk Raja Malik, dia mematung fikirannya memproses kata meninggal yang terus menghantui otaknya. Ia bahkan nyaris tak percaya namun bagaimanapun didepannya ini adalah anak dari orang yang dia cari.
__ADS_1
“Tak apa-apa Umi, Aqila juga sudah ikhlas. Namun memang setiap membahas almarhum ada perasaan masih tak rela,” ucap Aqila.
“Wajar nak, tapi ingat kau harus tetap ikhlas,” ujar Umi Mayra.
“Emm iya umi, untuk ikhlas sudah pasti. Namun ketika mata tak sengaja melihat mereka yang berkumpul bersama kedua orang tuanya terkadang membuatku iri,” lirihnya.
Umi Mayra berpindah duduk ke dekat gadis yang ia tau dekat dengan anak tertuanya.
“Umi tau pasti kamu akan minder, tapi ingat masih ada mama dan saudaramu kan yang ada disampingmu,” ujarnya lembut sambil mengusap pucuk kepala Aqila yang terbalut jilbab.
“Bener umi, aku masih punya mereka yang selalu berada didekatku,” ujar Aqila tersenyum.
Diam-diam tak ada yang tau jika ada sepasang mata menatap intens ke arah Aqila. Matanya menelisik setiap jengkal wajah dan pahatan sempurna dari Allah.
“Bahkan senyum nya sangat mirip denganmu,” lirihnya dalam hati.
“Oh iya mulai tadi aku belum kenalin kamu sama adik aku,” ujar Khali kemudian.
“Huh emang kakak gak pernah anggap aku.” Haura menyaut dengan cemberut.
“Hehehe maafin kakak ya sayang,” bujuk Khali.
Khali mulai mengenalkan kedua gadis yang umurnya tak jauh beda. Keduanya bersalaman dan mulai mengobrol ringan. Ternyata keduanya cepat akrab. Aqila yang hangat dan keibuan disanding dengan Haura yang cerewet namun manja. Mereka seperti kakak dan adik sudah. Saling melengkapi dan bahkan tak ada kecanggungan pada keduanya.
---*---
Setelah acara mengobrol dan kenal mengenal akhirnya kedua gadis yang umurnya sama itu semakin akrab. Bahkan tak jarang Haura bergelanyut manja dilengan kanan Aqila. Aqila pun tak keberatan. Bahkan dia menikmati kebersamaan ini.
“Ternyata luas juga yah Ra,” ucap Aqila.
“Iya lah. Kalau gak pernah kesini pasti capek,” celetuk Haura.
“Iya ini kaki aku udah ngerasa capek,” ucap Aqila dengan terkikik geli.
Dirinya sungguh merasa lelah dan sakit dibagian kakinya. Namun dia masih penasaran dengan ruangan-ruangan yang belum ia gapai. Keduanya mulai melanjutkan perjalanan itu hingga akhirnya adzan dhuhur terdengar. Ternyata waktu 2 jam lebih terasa sebentar menurutnya.
“Ayo sholat,” ajak Aqila.
Haura tersenyum menatap Aqila.
“Wanita yang cocok untuk kakak,” ucapnya dalam hati.
Haura menarik tangan Aqila dan membawanya ke arah musholla. Mereka segera menyelesaikan sholat dhuhur berjamaah disana. Aqila bahkan tak menayadari jika yang menjadi imamnya adalah pangerannya sendiri yaitu Khali.
Setelah selesai sholat, mereka berjalan menuju meja makan. Tadi Haura sudah diberitahu umi nya untuk membawa Aqila makan siang bersama. Disinilah mereka, mengelilingi meja panjang bernuansa emas. Sedari mendekat, Aqila tak henti-hentinya menatap takjub namun tak terlalu ia perlihatkan. Makan dengan baik bahkan hampir tak ada suara denting sendok dan garpu.
Selesai makan siang, Aqila, Khali dan Haura memilih duduk bersama di taman yang tadi dikunjungi keduaya. Mereka duduk bersama sambil berceloteh. Sayangnya yang asyik berbincang adalah Aqila dan Haura. Tawa mereka bahkan menggema di dalam ruangan. Pangeran Khali menatap tawa gadis itu yang terlihat sekali jika itu tawa yang ikhlas.
Khali sampai tak sadar jika ada dua pasang mata yang menatap ke arahnya. Sangking terlalu larut dengan lamunan indahnya membuat kedua wanita itu terkekeh geli.
__ADS_1
“1 2 3,” ucap Haura tanpa suara menghadap ke Aqila.
Aqila juga ikutan menghitung mundur. Seketika....,
“Dor.”
“Astagfirullah.” Mengelus dada.
“Kamu ya nakal banget,” ucap Khali dengan mencubit hidung Haura.
“Mangkanya kakak ngelamun segitunya. Ngelamunin apa? Wajahnya kak Aqila, hah emang dia cantik,” ejek Haura.
“Heh dasar kalian berdua sama saja.” Khali menggeleng kecil melihat tingkah dua gadis yang sangat ia jaga sepenuh hati.
---*---
Akhirnya waktu pun semakain sore, Aqila pun mulai berpamitan pada mereka semua. Dirinya merasa bahagia, keluarga lelaki disampingnya ini begitu hangat.
Sepanjang perjalanan, Aqila menatap keluar jendela dengan tersenyum. Sepertinya malam ini senyum itu tak akan menyurut dari wajah cantiknya.
Hingga mobil berhenti di area parkir apartmen.
“Tuan mau mampir?” tanya Aqila
“Apa boleh?” Tanya balik Khali.
“Boleh. Tapi...,” Aqila menggantung. Rasanya dia malu akan menyebutkan ini.
Sejujurnya tadi dia hanya ingim berbasa-basi, tapi kenapa ditanggepinya serius begini fikir Aqila.
“Tapi apa?” tanya Khali yang tak sabar.
“Hubungi Asisten Ibra untuk datang kemari,” perintahnya.
Khali segera mengambil ponselnya dan menekan panggilan. Dia tau apa maksut dari gadis didepannya ini.
Tut tut.
“Ya tua....,” sebelum selesai Ibra berbicara. ucapannya telah diputus oleh Khali.
“SEGERA DATANG KE APARTEMEN AQILA SEKARANG.”
---*---
Kasihan si Ibra, entar jadi obat nyamuk kali yah, hahaha.
Masih pada kepo kan? Hayooo.
Apa hubungannya Raja Malik sama Aqila? Siapa yang dimaksud? Kalau emang baca dari jodoh pilihan mama sampai sini pasti bakalan paham.
__ADS_1
Hahahaha main teka teki dulu ah.