
“Aku hanya berharap semoga kau bisa mendapatkan wanita yang cocok untukmu nak dan bisa menyempurnakan agama bersamamu.” ~Mama Angel~
.
.
.
“Kuatkan aku ya allah,” gumam Mama Angel lirih sambil membuka kotak itu secara perlahan.
Ternyata dugaannya memang benar. Ia tak akan pernah sanggup melihat isinya. Isi yang sudah banyak kenangan disana. Isinya sungguh membuat dirinya menangis dan otaknya selalu kembali ke masa lalu.
Air matanya mulai merambat melalui pipinya. Membasahi hingga jatuh kebawah. Diraihnya beberapa pakaian yang berada didalam kotak. Ya disana terdapat dua pakaian, yang satu milik Pangeran Khalid dan yang satu miliknya sendiri. Pakaian itu adalah pakaian yang mereka gunakan untuk kabur dari arab pada saat itu.
Dipeluknya kemeja berwarna putih yang warnanya hampir pudar. Ia ciumi baju itu dengan tangis air mata yang pecah.
“Aku sangat merindukanmu sayang,” lirihnya.
“Mungkin jika kita tak pergi saat itu kau pasti akan tetap bersamaku disini hiks hiks,” ucap Mama Angel dengan sesegukan.
Wanita itu terus menangis sambil memeluk pakaian itu hingga perlahan tangisan itu mereda. Ia letakkan kemeja itu diatas ranjang lalu mengambil beberapa lembar kertas disana. Ternyata lembaran itu adalah lembaran foto mereka mulai dari bertemu, berkenalan, kencan pertama dan jadian. Semuanya ada didalam kotak itu.
Kotak kenangan yang sangat Angel simpan rapi tanpa sepengetahuan siapapun. Dirinya masih belum berani untuk membongkar identitas pada ketiga anaknya. Ia hanya takut, takut jika suatu saat Kerajaan Arab tau tentang ketiga anaknya. Maka mereka akan mengambilnya. Apalagi Axel bisa menjadi pewaris tahta penerus dari ayahnya Khalid.
Menurut yang didengar oleh Angel terakhir, pewaris tahta setelah Khalid kabur adalah adik dari Khalid nomer dua. Dia yang menggantikan jabatan itu hingga akhirnya Khalid memutuskan semua tentang keluarganya dengan Kerajaan Arab. Dia ingin keluarganya hidup tanpa bayang-bayang masa lalunya dulu.
Mama Angel mulai menciumi wajah sang suami yang sedang tersenyum di foto itu. Dia dekap foto itu membayangkan dia memeluk suaminya.
“Semoga suatu saat nanti aku bisa kuat menceritakan semuanya pada anak-anak ya mas,” lirihnya.
Mama Angel mulai merebahkan dirinya dengan ditemani pakaian dan foto-foto suaminya. Biarlah pagi ini ia ingin melebur rindunya dengan mengamati semua barang milik almarhum Khalid.
Hingga Mama Angel sudah memejamkan matanya, namun suara ketukan pintu membuatnya terbangun.
“Ya sebentar,” teriak Mama Angel dari dalam kamar.
Dirinya dengan cepat memasukkan kembali semua barang itu ke dalam kotak lalu menutupnya. Meletakkan kembali ke dalam lemari dan menguncinya. Setelah selesai ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Ada apa?” tanya Mama Angel.
“Di depan ada tamu Nyonya, apa boleh masuk?” ucap Kepala Pelayan.
“Memang siapa yang bertamu?” ujar Mama Angel dengan berjalan menuju telfon rumah.
“Tuan Rey kata satpam Nyonya,” ucap Kepala Pelayan.
Mama Angel terkejut dengan kehadiran Rey dipagi hari. Tapi ia juga penasaran atas kedatangan lelaki itu. Ia mengijinkan Rey masuk lalu menunggu kehadiran lelaki muda itu di depan pintu.
Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu utama. Rey keluar dengan senyum manis ke arah mama Angel.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum tante,” ucap Rey sopan sambil mencium tangannya.
“Wa’alaykumsalam ayo masuk,” ucap Mama Angel ramah.
Mama Angel tak pernah membedakan siapapun itu, sejak dulu memang dia memiliki hati yang baik bahkan selalu ramah pada orang baru atau lama. Semua dia samakan tapi dia juga memiliki sifat waspada yang tinggi.
“Ada apa Rey?” tanya Mama Angel setelah pelayan menyuguhkan minuman diatas meja.
“Aku kesini mau tanya soal Aqila tante,” ucap Rey sopan.
“Aqila?” ucap Mama Angel.
Rey mengangguk.
“Untuk apa?” tanyanya masih tenang.
“Saya cuma ingin menemui Aqila untuk membahas tentang pekerjaan saja tante,” ucap Rey.
Mama Angel menatap mata lelaki di depannya. Terlihat keraguan disana dan masih ada titik kesedihan dimatanya. Mama Angel tersenyum ke arah Rey.
“Bukankah kamu bisa membahasnya dengan Kevin nak?” tanya Mama Angel masih tenang.
Meski dalam hatinya ia khawatir Rey akan berulah lagi. Apalagi dengan status anaknya yang sudah dikhitbah oleh lelaki lain. Ya meskipun khitbahnya belum diterima namun sama saja. Mama Angel ingin menajga anaknya.
“Kevin sendiri yang meminta saya bertemu dengan Aqila tante,” ujar Rey sopan.
Apa dia tak salah. Bukannya kemarin-kemarin Kevin sendiri yang meminta untuk merahasiakan posisi Aqila. Lalu kenapa sekarang Lelaki itu sendiri yang menyuruh Rey untuk tanya pada Mamanya.
“Apa tante gak salah denger?” tanya Mama Angel.
“Enggak tante.” Rey menggeleng.
Mama Angel memijat pelipisnya pelan, ia sungguh pusing. Namun bagaimanapun ia harus menelfon menantunya terlebih dahulu untuk mengecek kebenarannya.
Mama Angel pamit kebelakang lalu meraih ponsel yang berada diatas meja ruang keluarga. Ia tekan nama menantunya sambil menunggu nada panggilan.
“Ya halo ma,” sahut suara dari seberang.
“Adel ini mama nak,” ucap Mama Angel.
“Ya ma ada apa?” tanya Adel dari balik telfon.
“Mama mau tanya sama suamimu nak, apa Kevin ada?” tanya Mama Angel ragu sambil menatap jam didinding.
“Ada ma, bentar Adel panggilkan,” sahut Adel.
Beberapa saat keadaan hening. Sepertinya Adel sedang mencari keberadaan suaminya itu. Dengan sabar Mama Angel menunggu hingga akhirnya suara dari seberang terdengar.
“Ada apa ma?” tanya Kevin.
__ADS_1
“Mama mau tanya sama kamu nak,” ujarnya ragu.
“Ya ada apa ma?” suara Kevin masih tenang.
“Apa kamu yang meminta Rey datang ke rumah mama dan untuk memberi alamat Aqila berada?” tanya Mama Angel pelan.
Tak ada sahutan di seberang. Hanya ada suara helaan nafas dari bibir Kevin yang terdengar dari telinga Angel.
“Iya ma,” suara Kevin berat.
“Untuk apa memang nak?” tanya Mama Angel lembut.
“Rey hanya ingin bertemu Aqila untuk bertanya soal rumah sakit terbaik. Dia ingin mencoba mengajukan operasi jantung untuk mamanya ma,” ucap Kevin lirih.
“Tapi....,” Mama Angel menggantung.
“Percayalah padaku ma, Rey sudah ikhlas menjalani semuanya ma.” Kevin menyakinkan.
“Apa kamu yakin?” tanya Mama Angel.
“100% yakin ma,” sahut Kevin.
“Baiklah.” Mama Angel pasrah.
Sambungan telfon mati, lalu Mama Angel mulai kembali ke ruang tamu. Disana pria tampan itu masih setia menunggunya.
“Kamu yakin kan meski tante kasih tau dimana Aqila kamu tak akan menyakitinya lagi”? Tanya Mama Angel pelan.
Terlihat jelas dimatanya ada sebuah keraguan dan ketakutan untuk memberitahu posisi anaknya. Bukan karena apa, namun melihat anaknya menangis serasa ribuan jarum menusuk dadanya. Yang membuat jantungnya seperti diremas dan sesak. Itulah yang dirasakan seorang ibu ketika melihat anaknya sedih.
“Rey sudah ikhlas tante, tak akan ada perasaan di hubungan ini. Sejujurnya Rey kesini juga perihal mama tante,” ucap Rey menunduk.
“Ya tante sudah tau dari Kevin, bicaralah jujur pada tante. Mungkin tante bisa bantu ” ujar Mama Angel.
“Iya tante maafkan aku jika aku belum jujur tadi. Aku masih takut tante gak mau bantuin untuk bertemu,” lirih Rey.
“Jangan berfikiran buruk dulu. Coba dulu baru bisa berbicara. Oke?” ucap Mama Angel.
Rey mengangguk menahan umpatan untuk dirinya sendiri, dimana ia menunggu kabar tentang Aqila berada saat ini. Karena memang ia bertanya saat ini untuk kondisi mamanya yang menurun.
“Aqila dan Dini setelah lepas dari rumah sakitmu, mereka langsung berangkat ke Brunei.”
---*---
Wahahaha mau disusulin ta bang ke Brunei? yakin? Gak takut bang? Disana wilayah Pangeran Khali loh.
Yaudah tunggu lanjutannya yah.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE.
__ADS_1