Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 50


__ADS_3

“Aku sadar jika kehidupan di dunia ini tak ada yang kekal. Jika kita kehilangan maka yang harus kita lakukan hanya satu yaitu mengikhlaskan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Selama 7 hari setelah kematian Rossa. Aqila dan Rey sama-sama menjadi pribadi yang pendiam. Bahkan untuk Aqila sendiri dia tak keluar sama sekali dari kamarnya. Setelah kepulangannya dari makam 7 hari lalu. Aqila segera diboyong oleh keluarganya ke rumah baru.


Aqila diberikan sebuah kamar yang pas jendela kaca menghadap ke taman. 7 hari Aqila menghabiskan waktunya di kamar. Bermain sendiri bersama barang pemberian Rossa. Bahkan tak jarang figura berisi foto berdua dengan sahabatnya itu berceceran di atas ranjang.


Aqila makan dengan baik namun dia tetap makan di dalam kamar. Apapun itu dia akan didalam keluar. Tak pernah keluar sama sekali bahkan sekalipun diajak jalan atau dibujuk apapun tetap saja Aqila menolaknya.


Rasanya Aqila hanya ingin mengenang kenangan bersama sahabatnya itu. Dia merasa bersalah dan juga menyesal karena telah egois meninggalkan sahabatnya sendirian. Meski keluarganya banyak mengatakan bahwa dirinya tak bersalah tapi entah kenapa rasa itu muncul sendiri.


Setiap malam Aqila akan tidur dengan memeluk boneka atau foto Rossa. Ketika bangun pagi yang ia cari adalah figura itu lagi karena tiap malam, mama dan kakaknya akan membereskan foto-foto itu diatas ranjang. Dalam sholatnya hanya doa pada sahabat dan keluarganya yang ia tujukan.


Begitulah jika kita sudah sangat menyanyangi sesama makhluk ciptaannya, maka ketika terpisah karena maut akan ada jiwa yang sakit dan tak rela.


Rey sendiri, seminggu lelaki workholic itu tak ke kantor sama sekali. Bhakan dirinya tinggal dirumah yang ia tinggali dulu bersama istrinya itu. Tidur diranjang istrinya dan memeluk bantal yang selalu dipakai wanita itu.


Perasaan Rey bukannya cinta melainkan rasa bersalah yang teramat dalam. Bahkan setiap malam Rey selalu bermimpi bertemu dengan Rossa. Selalu berteriak dan menangis setiap tengah malam membuat mamanya khawatir akan kejiwaan anak lelakinya.


Sudah berulanh kali Mama Ria meminta anaknya untuk ke psikiater namun hasilnya selali ditolak. Pekerjaan menumpuk dikantor akhirnya di kontrol oleh Bima dan Mama Ria. Mau bagaimanapun emosi Rey masih naik turun hingga diringa tak bisa diganggu.


Semua keperluan tanda tangan akhirnya harus memakai tanda tangan Mama Ria untuk sementara karena Rey seperti lepas tangan dengan kewajibannya. Mama Ria tak bisa melakukan apapun dia hanya bisa menerima kelakuan anaknya dan mengambil alih sementara perushaaan.


---*---


Hari ini pagi ke delapan setelah meninggalnya Rossa. Sejak selesai sholat subuh Aqila segera turun kebawah. Dia berjalan pelan menuju dapur. Dia meyakini pasti mamanya sudah ada disana dan benar saja. Mama Angel sedang memasak dibantu para maid disana.


Mama Angel yang merasa ada yang memperhatikan akhirnya mengangkat wajahnya dan ia mematung saat melihat anaknya yang selama 7 hari dikamar akhirnya keluar.


Melepas pisau dan sayur yang dipegangnya. Mama Angel berjalan mendekat ke anaknya. Begitupun Aqila matanya sudah berkaca-kaca dan mendekat ke mamanya dengan merentangkan keduanm tangan. Dengan sigap Mama Angel menerima pelukan sang anak.


“Alhamdulillah nak kamu mau keluar,” ucap Mama Angel dengan menangis.


“Maafin Aqila ya ma yang udah buat mama khawatir,” lirih Aqila.


“Gak papa sayang, mama faham kamu masih merasa kehilangan tapi ingat satu. Semua kehidupan di dunia gak ada yang kekal sayang. Umur orang gak ada yang tau. Jika suatu saat nanti kita berpisah karena kematiamln jangan pernah marah pada Allah. Ingatlah kita makhluk hidup yang bisa mati kapan saja. Jika nanti kematian datang hanya satu yang selalu kita lakukan ikhlaskan ikhlaskan dan ikhlaskan sayang. Mengerti?” ujar Mama Angel dengan lembut.


Ia berharap anak gadisnya sudah kembali seperti semula dan pandangannya terbuka ketika ia memberikan nasihat seperti ini.


Aqila diam saja namun ia mengangguk dan mempererat pelukannya.


“Sekarang ayo kamu mau makan apa sayang?” tanya Mama Angel penuh perhatian.

__ADS_1


Mereka meregangkan pelukan dan menatap satu sama lain.


“Aqila pengen makan bubur ayam ma,” lirihnya.


“Buryam?” tanya Mama Angel.


Aqila mengangguk antusias.


“Baiklah mama buatin buryam tapi dengan satu syarat?” ucap Mama Angel dengan mengangkat satu jari telunjuk kanannya kedepan anaknya.


“Apa ma?” tanya Aqila.


“Kamu harus senyum terus seharian ini, gimana?” tanya Mama Angel dengan mengangkat salah satu alisnya.


“Oke siapa takut, ayo buatkan ma,” ucap Aqila semangat.


Mama Angel tersenyum lebar dan menyuruh anaknya duduk dikursi meja makan. Mama Angel membuatkan sarapan buryam spesial untuk anaknya. Tak lama Axel keluar dari kamar menuju meja makan.


“Ehhh gadis gamis udah mau turun?” ledek Axel.


“He apasih kak,” ucap ketus Aqila.


“Ya kamu lah, pakek ngedekem dalam kamar kayak bertapa aja,” ucap Axel meledek.


“Ya biarin namanya aja aku merasa kehilangan,” sungut Aqila.


Aqila tertunduk. Ia tau perkataan kakaknya semuanya benar dan memang apa yang dia lakukan juga salah. Aqila tak menjawab dirinya hanya diam sambil meletakkan kepalanya diatas tangan yang ia lipat di meja.


Axel yang merasa telah menyinggung sang adik segera mendekat. Dia merengkuh tubuh sang adik dan memeluknya.


“Maafin kakak yah,” lirih Axel.


“Iya, Qila juga minta maaf udah repotin kakak,” ucap Aqila lirih.


“Gakpapa sayang, kakak gak ngerasa direpotin tapi lain kali denger jangan kayak gini lagi. Kamu harus menerima semua takdir Allah,” Nasihat Axel.


“Iya kak aku pasti ingat,” sahut Aqila.


Axel melepas pelukannya dan mengacak kerudung sang adik hingga membuat sang empunya marah karena kerudung yang ia pakai berantakan.


“Nyebelin banget sih,” dengus kesal Aqila.


Axel hanya trkekeh geli melihat wajah adiknya yang kesal itu. Menurutnya wajah kesal Aqila sungguh sangat menggemaskan pikirnya.


Tak berlangsung lama, buryam yang diinginkan Aqila sudah jadi dan Mama Angel segera meletakkan bubur ayam itu diatas meja makan.


“Selamat makan anak mama”, ucap Mama Angel.

__ADS_1


“Makasih ma,” ujar Aqila tulus.


Axel yang sedang memakan roti segera menatap mangkuk didepan adiknya.


“Buryam, mau dong ma,” ucap Axel semangat.


“Hee tukang ngikut,” dengus kesal Aqila.


“Ya biarin wlekk.”


Hah si Axel gak inget umur masih aja kek anak kecil bener gak? Hihi


Mama Angel hanya geleng-geleng kepala menatap kedua anaknya yang tak pernah akur itu. Setelah buryam milik Axel sudah ada didepannya, mereka segera makan dengan lahap. Rasanya sudah lama keduanya tak memakan buryam buatan mamanya sendiri. Rasa buryam ini dengan yang biasa mereka beli masih lebih enak milik sendiri.


Tak butuh waktu lama semangkuk buryam itu tandas ditelan perut mereka. Keduanya hanya terkikik geli melihat bagaimana cepatnya makan dan melahap buryam itu.


Kesenangan keduanya terganggu karena suara bel berulang kali.


“Siapa kak?” tanya Aqila pada Axel.


Axel mengangkat bahunya.


“Coba sama liat,” ucap Axel.


“Sana kakak aja yang buka,” suruh Aqila.


“Hee gadis gamis ya kamu lah sana,” usir Axel.


Aqila hanya menghela nafas berat sambil memandang kesal ke arah kakaknya. Dia berdiri dan menuju ke pintu.


“Ya sebentar,” teriak Aqila saat bel berbunyi lagi.


“Gak sabaran banget sih,” gerutu Aqila sambil membuka pintu.


Ceklek.


Aqila mematung.


---*---


Selamat membaca.


Hayo tebak siapa yang datang kerumah Aqila sepagi ini.


Author mau ucapin terima kasih karena semua pembaca telah ikut hadir memeriahkan komen, like dan vote yah. Makasih


JANGAN LUPA LIKE ,KOMEN DAN VOTE YA BUAT UANG JAJAN.

__ADS_1


__ADS_2