Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 52


__ADS_3

“Aku disini bukan karena kamu masih di dalam hatiku, namun aku kesini ingin membawamu dari jurang kehancuran.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


“Ikutlah denganku besok kembali ke Brunei.”


Aqila terkejut bukan main, apa dia tak salah dengar. Lelaki didepannya mengajaknya kembali ke Brunei. Aqila memilih menunduk dengan menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa ragu. Dia juga bingung apa dia kembali atau tidak. Sedangkan dirinya masih ingin disini tetapi dia juga tau disana pekerjaan menunggunya.


“Kapan tuan kembali?” tanya Aqila.


“Jangan panggil tuan, kita kan sudah sepakat,” ujar Khali.


“Tapi saya, eh aku masih canggung” lirih Aqila yang masih bisa didengar oleh Khali.


Khali mengulum senyumnya, menggemaskan sekali gadisnya itu.


“Bagaimana? Apa kamu mau kembali ke Brunei bersamaku?” tanya Khali kembali.


“Aku masih ingin disini,” ucap Aqila pelan sambil menatap Khali.


Aqila bisa menangkap raut wajah kecewa di wajah Khali. Bila seperti ini ia juga tak tega.


“Beri aku satu alasan kuat kenapa aku harus kembali ke Brunei?” tanya Aqila.


Benar saja wajah Khali berubah bersinar. Lelaki tampan itu tersenyum penuh percaya dirinya. Ia menatap mata Aqila namun Aqila memalingkan wajahnya, bagaimanapun ia tak bisa menguasai dirinya jika sudah saling bertemu dengan manik teduh itu.


“Jika kamu kembali, aku akab membawamu ke istana untuk bertemu raja dan ratu.”


Glek.


Aqila menelan ludahnya paksa. Ia tercengang mendengar ucapan lelaki didepannya. Namun tak lama rasa hangat menjalar di wajahnya. Ia yakin pipinya sudah memerah seperti tomat. Entah kenapa mendengar ucapan Khali membuat perutnya seperti tergelitik oleh banyaknya kupu-kupu yang terbang.


Khali tersenyum manis padanya. Membuat gadis itu segera menunduk.


“Aku akan meminta ijin pada mama, jika boleh aku akan memberi kabar padamu,” ujar Aqila pelan.


Rasanya, lidahnya masih kelu untuk memanggil aku dan kamu diantara keduanya. Karena melihat status mereka yang jauh dan juga Aqila sudah terbiasa dengan bahasa formal jika bicara dengan Khali.


Setelah dirasa percakapan mereka telah selesai, Aqila ijin untuk pulang terlebih dahulu.


---*---


Dirumah Aqila.


Sesampai dirumah Aqila segera mencari keberadaan sang mama.


“Mama,” teriak Aqila.


Hening.


“Mama,” panggil Aqila lagi.


“Ya sayang dibelakang mama,” teriak Mama Angel.


Aqila berjalan menuju arah suara. Dirinya melihat mamanya dengan ketiga ponakannya itu sedang bersantai. Aqila segera berjalan kesana.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan ketiga ponakannya.


“Wa’alaykumslam tante,” sahut ketiganya.


“Uhh ponakan tante yang ganteng sama cantik, tante minta cium dong,” ucap Aqila sambik menepuk pipinya.


Dengan senang hati ketiganya mencium pipi Aqila, setelah itu mereka kembali bermain dan Aqila menuju mamanya.


“Baru sampai?” tanya Mama Angel.


“Iya ma.” Aqila mengangguk.


Aqila mulai merangkai kata yang pas untuk mamanya. Dia juga bingung apa mamanya mengijinkan dirinya kembali atau tidak. Bagaimanapun dia harus bersikap profesional untuk sebuah pekerjaan.


“Ma,” panggil Aqila.


“Ya sayang,” Mama Angel menatap anaknya.


“Aqila mau pulang ke Brunei ma,” ujar Aqila.


“Kapan sayang?” sahut Mama Angel lembut.


“Besok ma,” ujar Aqila.


“Baiklah sayang, apa perlu mama bantu beresin pakaianmu?” tanya Mama Angel dengan senyuman.


Aqila mengernyitkan dahinya mendengar respon mamanya. Ia tak salah mamanya menerima ucapannya dengan cepat. Biasanya mamanya ini yang paling sulit untuk ditinggal dan sekarang kenapa begitu mudah.


“Tumben mama ijinin?” tanya Aqila.


“Loh masak iya mama mau nahan, kan kamu disana kerja?” tanya Mama Angel.


“Jadi gimana nak?” tanya Mama Angel lagi.


“Ya jadi besok ma, tapi Pangeran Khali ngajak pulang bersama,” cicit pelan Aqila.


Mama Angel menahan senyum. Sebenarnya dia sudah tau jika sang anak akan kembali bersama Khali ke Brunei. Namun dia memilih diam karena takut sang anak akan menolak.


“Baiklah nak. Tak apa yang harus kamu ingat tetap jaga diri,” ucap Mama Nagel mengingatkan.


“Kalau itu sudah pasti ma, Aqila bakal jaga diri,” ujar Aqila sambil mengerlingkan salah satu matanya.


“Nah itu baru anak mama.”


Celotehan ketiga anak itu membuat obrolan keduanya berhenti. Mereka mengawasi ketiga bocah itu dengan penuh hati-hati. Maka tak ayal Aqila sering ikut kesana kemari untuk mengikuti gerak ponakannya yang semakin lincah.


--*--


Di rumah Rey.


Hari ini sudah keberapa kalinya Mama Ria membujuk anak lelakinya itu. Namun tetap saja Rey sendiri tak ingin diganggu bahkan dia sering mengunci pintu kamar miliknya.


Hingga membuat Mama Ria menjadi khawatir akan psikologis sang anak. Dirinya sudah tak memiliki ide apapun hanya satu fikirannya tertuju pada seseorang yang membuat anaknya seperti ini. Mama Ria mulai berjalan menuju kamarnya mengambil ponselnya.


Panggilan ketiga tetap tak diangkat. Namun itu semua tak mengurungkan niat Mama Ria yang sudah menaruh harapan. Dan benar saja seperti mendapat rejeki Mama Ria segera berdiri.


“Assalamu’alaykum nak,” salam Aqila.


“.......”

__ADS_1


“Bolehkah tante minta tolong?” pinta Mama Ria.


“........”


“Datanglah kerumah nak tolong bantu tante biar Rey mau turun dan keluar kamar,” mohon Mama Ria.


Dari seberang masih belum ada balasan, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Mama Ria masih menunggu dengan penuh harap dan cemas.


Panggilan keduanya terputus karena diputuskan oleh sepihak. Mama Ria menatap ponsel itu dan tersenyum getir.


“Semoga kamu bisa nak, bisa bantu tante buat bangkitin semangat Rey,” gumam Mama Ria pelan sambil menatap ponselnya.


Menjelang pukul 18.00 sehabis sholat magrib, seorang perempuan datang ke kediaman Rey yang baru. Perempuan itu datang dengan diantar oleh sang kakak yang berada disampingnya. Mobil terparkir rapi didepan pintu utama. Keduanya pun mulai turun bersama.


Setelah sampai didepan pintu, dia mulai menekan bel pintu rumah.


Ting tong ting tong.


Ceklek.


“Assalamu’alaykum,” salam ramah Aqila.


Ya gadis yang dihubungi oleh Mama Ria adalah Aqila. Dia yakin jika gadis didepannya bisa membuat Rey bangkit dari keterpurukan.


“Wa’alaykumsalam,” sahut Mama Ria.


“Ayo masuk,” ajaknya begitu senang.


Aqila dan Axel masuk kedalam. Mereka mulai duduk setelah dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Ketiganya mulai berbincang membahas tentang keadaan Rey.


Jujur Aqila tampak shock. Dia tak menyangka lelaki angkuh itu akan mengalami gangguan kejiwaan seperti ini. Yang membuatnya lebih kaget lagi, mama dari lelaki itu meminta bantuannya agar sang anak bisa bangkit lagi.


Namun Aqila hanya bisa bilang untuk mencoba berbicara dengan Rey. Mama Ria mulai mengantar Aqila menuju kamar yang selama ini ditempati lelaki itu. Dibelakangnya dengan setia sang kakak menemaninya.


Tok tok tok.


“Nak ini mama sayang. Mama masuk yah,” teriak Mama Ria.


Aqila saling pandang dengan Axel dan dibalas mengedikkan bahunya oleh Axel. Mama Ria mulai membuka pintu perlahan dan masuk. Adel dan Axel sendiri masih menunggu diluar.


Di dalam kamar, Rey sedang duduk dilantai sambil menyandarkan punggungnya ke ranjang. Kedua kakinya ditekuk untuk menompang dagunya. Ditangan kanannya ada foto pernikahan miliknya dan Rossa.


Wajah tampan Rey sudah terlihat tak terawat, bahkan wajah yang biasanya terlihat semangat dan angkuh sekarang berubah muram dan kacau.


Mama Ria mencoba mendekat dan menyentuh pundak sang anak lelakinya.


“Ada tamu yang mau bertemu denganmu nak,” ucap Mama Ria pelan.


Rey hanya acuh, dia masih menatap selembar foto itu. Mama Ria menghela nafas berat sebelum berucap kembali. Dia mulai mendekatkan bibirnya dengan telinga sang anak.


“Didepan pintu kamarmu, ada Aqila dan Axel ingin menjengukmu.”


---*---


Selamat membaca.


Gubrak apa yang terjadi yaa hahaha. Kasihan Babang Rey, sini nak sini emak peyuk. Jangan sampek sedih terus ya. Tenang masih ada emak loh.


Gimana part ini?

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN dan VOTE.


__ADS_2