Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 41


__ADS_3

“Disatu sisi aku ingin menutupi semuanya untuk melindungi perasaan adikku, tapi disisi lain aku ingin membuka semuanya demi kehidupan seseorang.” ~Adel~


.


.


.


Di dalam mobil.


Keheningan tercipta didalamnya. Semua orang berkutat dengan fikirannya sendiri. Adel terngiang-ngiang perkataan Rey.


“Rossa mengidap kangker otak stadium 4.”


Perkataan itu selalu terdengar di telingannya hingga membuat Adel menutup telinganya. Ia bingung harus melakukan apa.


“Sayang kamu gakpapa?” tanya Kevin panik.


Adel tersentak ia menatap suaminya.


“Gakpapa mas,” sahut Adel.


Mama Angel pun sama dengan Adel. Teriakan Rey tadi terdengar jelas sampai didalam mobil. Bahkan Mama Angel sampai tertegun didalam mobil mendengar kabar buruk itu. Hingga membuat Axel harus memeluk mamanya untuk menguatkan.


Mobil berhenti sejenak didekat kantor pos penjagaan. Kevin mulai melakukan semua prosedur hingga akhirnya mereka diijinkan masuk ke dalam perumahan mewah itu.


Mobil Kevin mulai melaju memasuki perumahan dengan kanan kiro terdapat rumah yang menjulang tinggi besar dengan pilar kokoh didepannya. Hingga akhirnya butuh waktu hampir 5 menit mobil mulai berhenti didepan sebuah gerbang hitam tinggi. Satpam membukakan pintu pagar dan Kevin segera memasukkan mobilnya kedalam halaman sebuah rumah.


“Ayo kita sampai,” ajak Kevin setelah mematikan mesin mobil.


Mama Angel turun dibantu oleh Axel. Dia bagaikan masih linglung. Tak memperhatikan sekelilingnya dalam otaknya hanya Rossa, Rossa dan Rossa. Bagaimanapun Mama Angel sangat dekat dengan gadis itu.


Sejak dulu saat mereka SMP sampai sebesar ini, Rossa sering kerumah Aqila hanya untuk bermain, makan bersama dan menginap. Saat itulah yang membuat Mama Angel begitu dekat dengan anak dari Clara itu.


Adel sendiri setelah turun dari mobil ia mulai memfokuskan dirinya dengan rumah didepan matanya. Pas sekali rumah ini bersebelahan dengan rumahnya sendiri. Bahkan disamping rumah diberi sebuh jembatan penghubung antara keduanya. Desain rumah keren yang diminta Kevin memang jadinya sangat cepat dan sangat memuaskan.


Adel menatap kebelakang, ia melihat mamanya hanya diam menatap kosong. Adel mendekati dan menyentuh pundaknya.


“Mama,” panggil Adel.


Mama Angel tersentak kecil. Dia menatap anak perempuannya.


“Iya sayang,” sahutnya.


“Mama ada apa?” tanya Adel.


“Mama gakpapa kok,” ucap Mama Angel dengan memaksakan senyum.


“Ayo ma masuk,” ajak Adel.


Mama Angel menatap rumah didepannya.

__ADS_1


“Masya allah rumah ini besar banget,” ucap Mama Angel terharu.


“Rumah ini gak ada artinya dengan mama yang udah melahirkan istri aku ini ma,” ucap Kevin mendekat.


“Makasih ma, mama sudah melahirkan anak yang sangat membuatku beruntung ini,” ucap Kevin tulus.


“Sama-sama nak, tapi kamu gak perlu gini juga mama itu demi anak apapun pasti mama lakuin,” ujar Mama Angel.


Kevin mengangguk, sedangkan Adel dan Axel terharu. Mereka berempat masuk kedalam rumah dengan disambut oleh banyak pelayan.


Mata Axel dan Mama Angel membulat saat melihat pelayan yang begitu banyak.


“Ini kenapa banyak banget?” tanya Mama Angel saat mereka sudah duduk diruang tamu.


“Rumah ini besar ma kan gak mungkin kalau aku kasih cuma 4/5 ma,” ucap Adel.


“Tapi ini juga terlalu banyak nak,” ujar Mama Angel.


“Enggak kok ma, ini pas.”


“Hmm yaudah deh.”


Mama Angel memilih mengalah. Bagaimanapun jika melawan menantu dan anaknya ini pasti dia bakal kalah. Apalagi jika sudah dirayu karena kehadiran anak yang menjadi istri Kevin, maka Mama Angel tak bisa menolak.


Dengan bantuan Kevin mereka mulai berkeliling dirumah berlantai dua yang lebar dan panjang itu. Bahkan tak dipungkiri halaman belakang hampir mirip dengan taman baca Aqila. Banyak ditumbuhi buah-buahan dan ada air terjun buatan yang mengalir menjadi penghubung antara rumah Kevin dan rumah Mama Angel.


Setelah puas berkeliling, Kevin mulai mengantar Mama Angel dan Axel ke kamar masing-masing. Kevin membiarkan mereka beristirahat karena ia yakin bahwa mertuanya itu pasti capek setelah berkeliling dirumah sebesar ini. Bahkan belum semua yang mereka jelajahi.


---*---


Adel duduk menyendiri dengan menatap air terjun buatan itu. Air mengalir bebas ke bawah tanpa beban bahkan mereka begitu mudah mengaliri setiap hal dibawahnya.


Fikiran Adel saat ini hanya tertuju pada ucapan Rey yang terus terngiang. Jika boleh jujur sedari tadi Adel tak fokus dengan penjelasan suaminya saat berkeliling tapi ia mencoba menutupi semua itu.


Adel mulai memikirkan apa dia harus menghubungi sang adik untuk memberitahu jika sahabatnya sakit dan sedang sekarat atau ia harus menutupi dari sang adik semua ini.


Adel menatap benda pipih ditangannya. Dia mulai menekan buku telefon dan menggulir kebawah mencari sebuah nama yang ia cari.


Dapat.


Adel mulai menimbang apa ia harus menelfon, memberi pesan atau tidak semuanya. Saat jarinya hendak menekan icon hijau, ponsel itu melayang diambil tangan deseorang. Adel menoleh dan mendapati suaminya yang mengambil ponselnya.


“Kembalikan mas,” pinta Adel.


“Buat apa?” tanya Kevin dingin.


Adel diam.


“Kamu mau nelfon Aqila buat bilang semuanya yah,” ucap Kevin.


“Apa kamu gak mau berfikir perasaan Aqila disana juga yang. Hati dia tersakiti dan kita harus menganggunya lagi saat dia mulai belajar melupakan dia disana,” sambung Kevin.

__ADS_1


“Apa kamu tega?” tanya Kevin.


Adel buru-buru menggeleng.


“Nah mangkanya jangan bilang apapun sayang,” ucap Kevin melemah.


“Tapi kasihan Rossa mas, aku takut nanti Aqila bakalan menyesal,” ujar Adel.


“Gak bakalan sayang,” ucap Kevin.


Akhirnya mendengar bujuk rayu Kevin, Adel mulai tenang dan tak berfikir untuk menghubungi adiknya. Mendengar ucapan suaminya juga semua benar. Sang adik disana juga sedang berjuang melupakan semuanya bahkan adiknya lah yang paling tersakiti dan sekarang ia harus datang untuk tersakiti lagi.


Adel pasti akan maju paling utama untuk menjaga adiknya itu. Ia sudah bertekad dalam hati bahwa dia harus menjaga adiknya mulai saat ini agar tak menangis kembali.


---*---


Keesokan harinya.


Akhirnya hasil CT scan sudah keluar. Dokter memanggil Rey dan Mama Clara untuk menemuinya diruangan. Dengan penuh perhatian Rey membantu Mama Clara berjalan karena keadaan wanita paruh baya itu melemah.


Mereka duduk didepan dokter yang sedang membuka amplop putih berlogo rumah skait. Dia menyerahkan hasil CT scan itu pada Rey.


Tentu saja Rey yang menerima juga bingung.


“Maksutnya apa dok?” tanya Rey.


“Begini tuan, ternyata diagnosa saya benar. Bahwa pasien memang mengidap kangker otak stadium 4,” ucapnya.


“Terus dok.”


“Untuk kesembuhannya sangat kecil apalagi melihat pasien tak memiliki semangat hidup. Tubuhnya saja semakin drop dari kemarin,” ujarnya lagi.


Rey menunduk ,tangannya mencengkram kuat kertas ditangannya sedangkan Mama Clara sudah menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Tolong anak saya dok,” pinta Mama Clara.


“Sembuhkan dia dok agar dia bisa lebih lama bersamaku,” pinta Mama Clara.


“Untuk ini ibu serahkan semua sama Allah bu,” ucap Dokter.


Mama Clara dan Rey keluar dari ruangan Dokter dengan putus asa. Jangankan mereka, dokter saja sudah putus asa bagaimana dengan mereka juga.


Mereka mulai masuk kembali ke ruangan Rossa. Disana Rossa masih belum sadarkan diri. Tubuhnya juga sudah banyak selang kehidupan yang menempel. Rey pun berharap semoga Rossa membuka matanya agar dia bisa banyak mengucapkan maaf pada gadis yang berstatus istrinya itu.


---*---


Selamat membaca.


Kenapa makin hari, like nya makin turun yah? Apa ceritanya udah gak menarik atau bagaimana?


Namun bagaimanapun aku bakal tetep nyelesain novel ini sesuai alur yang udah aku tentuin yah. Untuk yang udah kangen Pangeran Khali sama Si Dokter cantik. Besok babnya tentang mereka hihi.

__ADS_1


Yang kangen babang Alex sama James sabar ya. Mereka masih kerja di perusahaan Kevin kok. Hehhe


YUK JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK


__ADS_2