
“Mungkin aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu dan cintaku terhadapmu. Sungguh aku tak kuasa untuk melawan kehendak mamaku sendiri.” ~Rey~
.
.
.
Dan berakhirlah disini, Rey menatap rumah yang telah ia belikan untuk Aqila. Ia diam didekat pagar sambil menatap rumah itu dalam diam. Setitik air mata keluar dari ujung matanya. Sungguh yang melihatnya pasti sudah faham jika keadaan lelaki itu tidak baik.
Rey memandangi rumah itu dengan sesak didadanya. Bagaimana tidak, ia membangunkan rumah ini untuk ia tinggali dengan wanitanya. Tapi sekarang ia harus menghadapi kenyataan pahit jika dia harus pergi dari hidup wanita yang ia cintai.
“Maafin aku La, aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Aku bukan lelaki yang pantas untukmu. Aku gak bisa merjuangin kamu. Aku hanya punya mama didunia ini. Aku gak bisa buat ngelawan dia La. Aku doakan semoga kamu dapat lelaki yang memang bisa berjuang buat kamu,” gumam Rey sambil menatap sendu rumah itu.
Ia merogoh ponselnya dan mengetikkan pesan pada seseorang. Setelah terkirim Rey berjalan masuk kedalam rumah sambil menunggu kehadiran orang itu.
Menunggu 15 menit akhirnya orang yang ia kirim pesan datang.
“Selamat malam tuan,” ucap Bima dengan menunduk.
“Duduk,” ucap Rey dingin.
Bima pun duduk didepan Rey sambil meletakkan tas yang ia bawa disampingnya.
“Apa berkasnya kamu bawa?” tanya Rey.
Bima mengangguk dan mengeluarkan berkas yang dimaksud oleh Rey.
“Apa tuan muda yakin?” tanya Bima saat berkas sudah tertata diatas meja.
“Sangat yakin,” jawab Rey.
“Apa tuan tidak ingin mengucapkan apapun untuk nona Qila?” tanya Bima.
“Enggak Bima. Aku gak sanggup buat ketemu dia saat ini. Aku cinta banget sama dia tapi sayangnya aku pengecut yang gak bisa merjuangin dia,” lirih Rey.
“Aku harus tanda tangan dimana Bim?” sambung Rey.
“Disini tuan,” Bima menunjuk kertas yang harus ditandangani oleh Rey.
Setelah selesai Bima merapikan semua berkas dan meletakkannya kembali kedalam tas.
“Tolong seminggu lagi kamu temui dia dan kasih ini yah,” ucap Rey.
“Apa tuan seminggu?” tanya Bima tak percaya.
“Iya, biarkan Aqila berfikir aku sudah meninggalkannya terlebih dahulu tanpa kabar,” ringis Rey.
Bima mengangguk mengerti, bagaimana pun ia hanya seorang asisten bagi Rey. Ia tak berhak ikut campur urusan pribadi Rey sendiri tanpa permintaan bosnya itu.
Setelah pamit undur diri, Rey akhirnya masuk kedalam dan dia bermalam dirumah impian Aqila.
--*--
__ADS_1
Dirumah Aqila.
Aqila berdiri di balkon kamarnya sambil menatap bintang-bintang. Sedari tadi ia menunggu kabar dari seseorang tapi tak kunjung ada pesan untuknya.
“Kamu kemana?” ucap Aqila sambil menatap bintang yang berkelap-kelip digelapnya langit.
Angin malam berhembus menerpa wajah Aqila dan membuat rambutnya bergerak. Aqila masih diam tak bergeming. Ditangan kanannya memegang sebuah ponsel miliknya.
Ia sudah menunggu pesan dari lelaki itu sejak tadi siang tapi sayangnya dia tak memberi kabar. Aqila masih berfikir positif. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan.
“Hah baiklah ayo kita tidur tubuh, kau butuh istirahat untuk menghadapi hari esok,” lirih Aqila.
Ia menyeret langkahnya pelan menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. Mengarungi mimpi yang membuatnya melupakan sejenak masalah yang ada.
Keesokan harinya,
Aqila bangun dari tidurnya dan yang ia cari pertama adalah ponselnya. Ia meraba ranjangnya mencari benda pipih itu hingga terbangun.
“Nah ketemu,” lirih Aqila.
Ia membuka kunci dengan cepat lalu membuka salah satu aplikasi chat. Tapi sayangnya ia harus menelan pil pahit lelaki yang ia tunggu tak memberi kabar. Akhirnya dengan langkah gontai ia memasuki kamar mandi. Segera membersihkan diri dan memakai pakaiannya. Setelah selesai ia segera turun ke meja makan.
“Pagi ma,” bagai rutinitas tiap hari mencium pipi wanita paruh baya itu.
“Pagi sayang, kenapa wajahmu kusut banget?” tanya Mama Angel.
“Gakpapa ma lagi males aja,” jawab Aqila.
“Ih apaan sih kak,” kesal Aqila.
“Yakan bener kan,” goda Axel.
“Jangan ngaco sana makan,” ucap Aqila.
Akhirnya mereka makan seperti biasa. Setelah selesai Aqila dan Axel segera berpamitan pada sang mama dan keluar rumah.
“Kakak aku numpang mobil kakak yah,” pinta Aqila.
“Bailklah ayo,” ajak Axel.
Semenyebalkannya Aqila, Axel sangat menyayangi adiknya itu. Tak ada yang bisa menyakiti Aqila bahkan siapapun. Axel sangat sayang pada Aqila karena ia juga tau bagaimana besarnya Aqila tanpa hadirnya seorang ayah.
Ia sering dicaci saat masih sekolah. Bahkan dulu Aqila pernah dibilang anak haram karena ia tidak pernah diantar oleh sang ayah. Dan pada kenyataannya ayah mereka telah berada di syurga.
Meninggalkan halaman rumah dan segera menerjang padatnya jalanan yang mulai dipenuhi oleh mobil-mobil yang hendak mengantar orang bekerja, sekolah dan banyak lagi.
Sesampai di halaman Rumah Sakit, Aqila membuka sabuk pengamannya dan berpamitan pada Axel.
“Kakak hati-hati yah,” ucap Aqila lembut.
“Oke sayang ,kamu juga ya semangat kerjanya,” ucap Axel.
Aqila mengangguk lalu segera masuk ke Rumah Sakit. Sedangkan Axel ia segera mengendarai mobilnya menuju kantor. Hari ini ia juga ada kerja sama dengan perusahaan Rey. Mangkanya dia bergitu semangat hari ini untuk menggoda calon adik iparnya itu.
__ADS_1
“Kak Kevin mana Kak Rud?” tanya Axel setelah ia berada dikantor dan ingin keruangan Kevin.
“Masih dirumah Xel,” jawab Rudi.
“Lah belum berangkat?” tanya Axel.
“Kayak gaktau kakak iparmu aja kamu,” lirih Rudi.
“Iya tau, bucinnya minta ampun kayak Kak Rudi juga,” ledek Axel.
“Heleh kamu masih single. Nanti kalau udah nikah kamu bakalan bucin juga,” ucap Rudi.
“Halah gak mungkin kak,” saut Axel.
“Ya kita lihat aja nanti,” ucap Rudi.
Axel mengangguk.
“Berkas buat kerja sama perusahaan Rey udah kan kak?” tanya Axel.
Rudi mengangguk “Nih,” menyodorkan berkas itu.
“Oke aku siap-siap,” ucap Axel.
“Kamu sama aku kan?” tanya Rudi memastikan.
“Iya lah kak kan emang disuruh Kak Kevin,” Axel geleng kepala dengan tingkah asisten sekaligus sahabat kakak iparnya ini.
“Ya mungkin aja kamu bisa sendiri,” ucap ketus Rudi.
“Heleh bilang aja kakak pengen pulang kan,” goda Axel.
“Ustt udah ayo,” ajak Rudi.
Jika berhadapan dengan Axel pastinya ia akan jadi bahan ledekan terus menerus tanpa henti.
--*--
Bagaimana dengan part ini?
Mau dilanjut gak? Author makin semangat lo buat up soalnya kalian gercep vote, like dan komen.
Untuk hari minggu tahan dulu votenya yah. Tabung aja dulu poinnya sama koinnya buat vote hari senin oke.
Author usahain sehari up 2 episode yah. Soalnya author biar cepet tamatin karya ini dan segera nulis cerita sikembar.
Ada yang kepo gak sama cerita sikembar?
Dan apa ada hubungannya sama cerita anak Kevin dan Adel?
Tunggu aja oke.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YAH..
__ADS_1