Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 41


__ADS_3

“Aku hanya berharap semoga sakit ini ikut menghilang dengan tenggelamnya matahari.” ~Aqila~


.


.


.


“Gak ada gue pengen ajak lo jalan-jalan,” ucap Rossa.


“Ya ntar kan kapan-kapan juga bisa Ca,” seru Aqila.


“No, kamu gak ingat? Kamu tinggal 4 hari lagi berangkat,” rengek Rossa.


“Bisa gak kamu gak usah ikut,” bujuk Rossa.


Aqila tertawa kecil. Ya beginilah sahabatnya seperti anak kecil jika dengannya.


“Ya gak bisa lah kan udah semua persiapannya,” ucap aqila.


Rossa menoleh menatap Rey.


“Mas kan yang punya rumah sakit tempat Aqila kerja ya kan?” tanya Rossa.


Rey mengangguk.


“Mas bisa gak batalin dia buat berangkat ke Palestina,” rengek Rossa.


Rey menoleh manatap Rossa dengan tajam. “Gak bisa, karena semua data sudah dikirim dan semua sudah siap jadi gak boleh ada yang mundur,” seru Rey.


Rossa mengangguk lemah. “Baiklah aku ngalah,” sedih Rossa.


“Hey tenanglah, aku usahain pernikahan kamu aku datang,” seru Aqila.


“Beneran?” tanya Rossa senang.


“Bener,” saut Aqila.


Rey sendiri tak percaya bahwa wanitanya akan datang dipernikahan bahkan dia mengucapkan dengan tenang seperti tak ada masalah dihatinya.


"Kamu memang wanita kuat sayang, maafkan aku," ucap Rey dalam hati.


Akhirnya keduanya mengobrol banyak. Aqila tak menghiraukan Rey, dan Rey pun menatap lekat wajah Aqila. Menyimpannya dalam memori otaknya agar selalu mengingat wanita tercintanya.


“Aku pamit ke kamar mandi dulu yah,” ucap Rossa terburu-buru.


Sepertinya Rossa sudah memang menahan nya sejak tadi. Selepas kepergian Rossa keduanya hanya diam. Aqila fokus mengaduk kopi didepannya.


Rey pun diam tetap tak bergeming melepas pandangannya itu.


“Tolong jangan tatap saya seperti itu, hargain perasaan sahabat saya,” ucap dingin Aqila.


“Apa kamu gak rindu sama aku,” ucap Rey lirih menatap penuh kerinduan.


Aqila mendongak dan menatap sinis pada lelaki didepannya.


“Apa kamu masih punya muka bilang rindu padaku? Setelah semua yang kamu lakuin hah?” tanya Aqila.

__ADS_1


“Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan kehendakku,” lirih Rey.


Aqila diam ia tak ingin terlalu jauh ia takut sahabatnya melihat mereka mengobrol.


“Mamaku kemarin sakit masuk rumah sakit karena jantungnya kambuh. Dan akulah yang membuatnya masuk rumah sakit. Karena aku menolak dijodohkan dan ingin mengenalkanmu pada mama dan akhirnya mama drop. Aku sudah tak memiliki ayah lagi aku hanya punya mama. Jadi aku ingin memenuhi kebahagiaan mama meski harus menekan kebahagiaan ku,” Rey menjelaskan dengan mata memerah.


Jujur saat ini ia tertekan, ia terpaksa tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Aqila menjadi terenyuh dengan penjelasan Rey. Tetapi dia hanya diam saja. Ia ingin menangis tapi menahannya. Ia ingin memeluk lelaki didepannya tetapi tak bisa.


“Tak perlu kamu menjawabnya, datanglah besok jam 12 siang dirumah impian kamu. Aku tunggu disana dan datanglah untuk yang terakhir kalinya,” Ucap Rey.


Dan tepat kedatangan Rossa membuat keduanya diam.


Akhirnya Aqila dan Rossa melanjutkan obrolan yang sempat tertunda itu. Hingga waktu tak terasa sudah menjelang siang.


“Aku duluan ya Ca,” pamit Aqila.


“Lah kenapa buru-buru?” tanya Rossa.


“Gue ada janji sama seseorang,” ucap Aqila.


Aqila membereskan barang-barangnya dan pakaiannya. Dia berdiri dan bersalaman dengan Rey dan Rossa. Ah keduanya berdrama sangat hebat seperti seseorang yang tak pernah bertemu.


Aqila segera berjalan cepat meninggalkan ruangan yang sangat menyakitkan itu, ia berjalan tergesa menuju lift. Lift hampir tertutup dan Aqila segera menyekatnya dengan tangannya. Akhirnya pintu kembali terbuka. Tetapi Aqila terpaku menatap seseorang didepannya.


“Kak Alex,” cicit Aqila.


“Aqila,” lirih Alex.


“Ayo masuk,” ajak Alex.


“Kamu darimana?” tanya Alex.


“Habis dari nemuin temen,” ucap Aqila.


“Ohh,” saut Alex.


“Kalau kakak?” tanya Aqila.


“Aku dari bertemu teman juga,” saut Alex.


Aqila mengangguk.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Keduanya keluar bersamaan dan berjalan menuju parkiran mobil.


“Sepertinya aku duluan kak,” ucap Aqila saat sudah berdiri didekat mobilnya.


“Wow wow ganti mobil?” tanya Alex.


“Enggak” Aqila menggeleng,“Ini punya kak Axel.”


“Aku kira kamu ganti.”


“Ya gak bakal lah kak. Yaudah ya aku mau pulang bye,” Aqila melambaikan tangannya pada Alex dan lelaki itu juga melambaikan tangannya.

__ADS_1


Setelah berada dibalik kemudi, Aqila segera melajukan mobilnya. Matanya sudah tak kuasa ia menangis, hatinya menjerit didalam mobil. Berulang kali ia memukul setir kemudi.


Mengendarai dengan kecepatan tinggi tujuannya hanya satu yaitu laut. Ia ingin melampiaskan sakit hati, kecewa dan marahnya pada laut. Ia ingin berteriak sekencang mungkin ia ingin menertawakan dirinya yang selalu tragis di hubungan percintaannya.


Air mata sudah berlinangan. Make up nya sudah luntur. Tapi wajah cantik itu tak berkurang. Mungkin hanya satu yang terlihat yaitu menyedihkan.


Aqila berlari kehamparan pasir putih itu tanpa alas kaki. Ia terduduk dipinggiran laut. Menatap pemandangan didepannya dengan menangis.


“Apa salahku di kehidupan sebelumnya ya allah, kenapa harus aku lagi yang sakit. Kenapa hati aku yang selalu disakiti ya allah,” teriak Aqila.


“Kenapa hidup selalu gak adil sama aku ya allah, kenapa.”


“Apa kurang puas kau mengambil ayahku dan sekarang bahkan kau memberiku ujian seperti ini,” isak tangis Aqila.


Ia menangis meruang dipinggir laut. Untung saja keadaan laut sepi. Memang tempat ini adalah tempat favorit Aqila jika sedang sedih.


Tak peduli dengan pakaiannya yang sudah kotor dan basah kena air laut. Aqila hanya ingin melampiaskan sedihnya. Ia ingin setelah ini tak akan ada air mata lagi. Tak akan ada cinta lagi dihidupnya ia sudah lelah. Ia menyerah dengan semua ini.


Aqila diam tetap dengan posisi sama ia ingin menunggu matahari terbenam. Ia ingin menatap salah satu keajaiban dari Allah yang sangat ia sukai. Dan berharap sakit hatinya ikut hilang dengan tenggelamnya matahari.


Sinar jingga sudah merebak. Matahari tersenyum ingin tenggelam dan berganti bulan.


“Selamat tinggal semuanya, semoga semua akan menjadi kenangan dan aku sudah lelah dengan cinta,” gumam Aqila lirih.


Ia berdiri dan kembali ke mobilnya. Mengendarai mobilnya kembali kerumahnya. Satu yang diinginkan adalah istirahat dan istirahat.


“Aku pulang,” teriak Aqila.


Rumahnya sepi.


Aqila merogoh handphone dan menelfon seseorang.


“Halo,” saut suara diseberang.


“Kakak dimana?” tanta Aqila.


“Kakak sama mama dirumah sikembar,” seru Axel.


“Ah yaudah deh,” seru Aqila.


“Kamu dirumah?” tanya Axel.


“Iya.”


“Yaudah sana istirahat kalau capek. Kakak sama mama pulang nanti.”


“Yaudah bye.”


Akhirnya panggilan keduanya terputus. Aqila berjalan gontai dan segera membersihkan dirinya. Ia merebahkan dirinya diranjang yang penuh cerita ini. Mulai memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


--*--


Kisahnya mbak Aqila kayak saya dulu pas sekolah hehehe.


Lama kelamaan jadi kuat hatinya disakitin mulu. Tapi ingat satu "Sehabis hujan pasti akan ada pelangi yang indah."


OKE AYO JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.

__ADS_1


__ADS_2