
“Saat ini aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu selalu dalam lindungan Tuhan dan bahagia selalu.” ~James~
.
.
.
Keesokan harinya.
Seperti apa yang dikatakan kemarin dengan Alex. Hari ini Aqila tak kemana-mana karena memang jadwalnya kosong. Ia bersantai dirumah dengan menunggu kehadiran James.
Aqila dan Axel menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan bermain games bersama. Ya begitulah mereka jika berdua saja, sikap kekanakan keduanya akan muncul jika bersama.
Bercanda tawa hingga saling menghukum sudah wajar dilakukan mereka. Dulu mereka akan melakukan bertiga tapi sekarang sang kakak sudah memiliki kehidupan dengan suaminya dan tinggallah mereka berdua. Tapi mereka masih dicurahi kasih sayang oleh kakaknya Adel jika berkumpul dan meski lewat ponsel.
Ting tong ting tong.
Keduanya saling berpandangan sampai Axel mengangkat bahunya.
“Mungkin James,” ucap Axel.
Aqila mengangguk. Wanita cantik itu berbaju abu tua dan rambut digerai itu berjalan menuju pintu. Dia mengatur nafasnya saat sudah sampai didepan pintu memegang pelan dan mulai membuka pintu itu.
Ceklek.
James yang sedang memunggungi Aqila pun akhirnya berbalik, mereka berdua mematung tersirat dikedua bola mata mereka sangat merindu, tetapi keduanya hanya diam seperti diantara mereka ada tembok besar menjulang yang tak mengijinkan mereka berpelukan.
Akhirnya Aqila memutus pertemuan mata itu ia membuka lebar pintu dan mempersilahkan James masuk.
Setelah James duduk Aqila kebelakang sebentar meminta bibi membawakan minuman dan makanan ringan untuk James dan meminta bibi mengantarkan ke taman belakang.
Aqila kembali kedepan dan mengajak James mengobrol di taman belakang. Karena taman belakang sangat sejuk, asri dan nyaman hingga membuat Aqila berfikir jika mereka mengobrol disana, hati mereka bisa saling menerima.
“Ada apa kamu memintaku kemari La,” akhirnya setelah sekian lama saling berdiam diri James memulai pembicaraan.
“Aku hanya ingin berbincang berdua denganmu kak,” cicit Aqila pelan tapi masih bisa didengar oleh James.
“Hmm,” James berdehem.
“Bisakah kakak hidup seperti dulu. Makan teratur dan berhenti mabuk,” ucap Aqila sendu.
“Untuk apa aku menjaga makanku La, hidupku sudah tak penting lagi,” seru James.
“Bukankah saat ini ada calon anak kakak.”
“Itu bukan anak aku La,” seru James.
“Mau sampai kapan kakak mengelak, mau tak mau kakak harus menerima anak itu. Anak itu tak bersalah yang bersalah adalah kalian. Mungkin dia hadir karena kesalahan tapi hidupnya bukan kesalahan kak. Dia adalah anugrah. Banyak wanita diluar sana yang sudah menikah menginginkan seorang anak hadir diantara mereka. Tapi kenapa kalian yang sudah dipercayai seorang anak malah ingin membuangnya apalagi sampai membunuhnya. Dosa apa dia kak dosa apa!” ucap Aqila dengan menangis.
“Aku hanya ingin kakak menjaga kesehatan kakak agar anak kakak bisa melihat ayahnya ketika ia pertama lahir. Cobalah berdamai dengan masa lalu kak. Cobalah menerima semua ini kak. Cobalah kakak berfikir kedepan. Bagaimana kehidupan anak itu jika kakak tiada atau jika kakak tidak menerimanya.”
__ADS_1
“Pasti banyak hujatan, cacian dan makian yang diterima anak itu kak. Apa kakak tidak berkaca pada hidupku. Bagaimana hidupku yang tidak pernah bertemu ayahku. Tidak mendapatkan kasih sayangnya. Meski ayahku memang pergi meninggalkan ku karena allah telah memanggilnya tapi bagaimana nasibku? Kakak tau kan kakak faham kan.”
“Jadi kumohon kak buang ego kakak, terimalah Luna dan nikahi dia. Jadilah suami yang baik dan calon ayah yang baik. Terima anak itu dan rawatlah dia dengan kasih sayang. Cintai dia karena bagaimanapun dia darah daging kakak,” tangis Aqila makin pecah.
James sendiri diam tapi dia tertegun bagaimana bisa wanita yang ia sakiti bisa berbicara seperti itu padanya. Menyuruhnya menikahi wanita yang sudah membuat hubungan mereka hancur bahkan Aqila berbicara dengan tenang meski memang air matanya menangis.
“Aku merasa hina La, aku malu denganmu,” ucap James.
“Malu untuk apa kak?” tanya Aqila.
“Lihatlah berdosanya aku menyianyiakan kamu, kamu yang baik hati dan mengerti aku tapi aku telah menjahatimu,” lirih James.
“Lupakan itu kak, mari kita lupakan masa lalu kita dan kita rubah diri kita menjadi lebih baik kak,” ucap Aqila.
James mengangguk.
“Apa kakak mengerti dengan apa yang aku ucapkan.”
“Aku mengerti La, aku akan menerima anak itu dan aku akan menyayanginya seperti yang kamu minta menjadi ayah yang baik untuknya La,” lirih James.
“Jangan lupa nikahi Luna dan jadilah suami yang baik untuknya,” ucap Aqila dengan tersenyum dan menghapus bekas air matanya.
“Iya La.”
“Aku juga sudah memaafkan semuanya kak, aku sudah memaafkan kakak dan ayo kita hidup dengan tanpa beban dan dendam. Aku menganggap kakak sebagai kakak aku sekarang,” ucap Aqila.
“Terimakasih banyak sudah menyadarkanku ya La, aku sadar karena nasihatmu,” ucap James.
Aqila mengangguk “Aku hanya perantara dari tuhan agar membuatmu sadar kak.”
“Aku sudah bilang bahwa aku sudah memaafkan kakak,” ucap Aqila tersenyum tulus.
“Terimakasih dan bolehkah aku memelukmu.”
Aqila tertegun dengan permintaan James yang seperti Rey. Tapi mau tak mau Aqila akan menyetujui untuk yang terakhir kalianya.
Aqila menghambur kepelukan James. Pelukan yang dulu membuatnya nyaman dan aman.
“Pelukanmu masih sama kak bahkan bau tubuhmu masih sama. Masih sama membuatku nyaman kak dan degub jantungku masih berdetak kencang. Aku doakan kamu bahagia kak dan sehat selalu,” gumam Aqila dalam hati.
“Kamu wanita baik dan tak cocok denganku La, aku doakan kamu bahagia selalu dan mendapat lelaki yang baik untukmu” gumam James dalam hati.
Setelahnya mereka saling melepaskan pelukannya dan sama-sama tersenyum.
“Semoga kakak sehat selalu dan nanti akan aku bilang pada kak Kevin agar kakak tetap kerja di perusahaan Kak Kevin,” ucap Aqila.
“Terimakasih,” seru James.
Aqila mengangguk.
--*--
Selama perjalanan pulang James menatap keluar jendela dia sudah memantapkan hatinya menikahi Luna dan menerima anak dalam kandungan Luna. Ia mengendarai mobilnya menuju rumah tembak.
__ADS_1
Dan akhirnya mobil itu berhenti didepan rumah tembak. James keluar dengan tersenyum lalu ia melangkah lebar menuju rumah tembak. Disana ada Alex duduk diruang tamu.
Alex menatap kedatangan James dengan aneh. Lelaki itu tersenyum pada Alex hingga membuat Alex tertegun.
“Apa dia sudah insaf” batin Alex.
“Luna kemana Lex?” tanya James.
“Di kamar.”
James berjalan cepat menuju kamarnya. Ia
membuka pintu pelan dan mendapati Luna sedang mengelus perutnya dan sepertinya dia sehabis bicara dengan anak dalam kandungannya.
James menatap kearah Luna dan turun keperutnya.
“Anakku,” gumam James dalam hati.
Ia berjalan menghampiri Luna dan duduk disampingnya.
“Bolehkah aku memegang anakku,” ucap James pelan menatap Luna.
Luna tertegun tapi dia mengangguk. James mengelus dengan sayang hingga dia berlutut didepan Luna.
“Anak papa sehat sehat ya sayang,” ucap James sambil mencium perut Luna.
Luna sendiri meneteskan air mata sampai menutup mulutnya agar isak tangisnya tak terdengar. Ia tak salah lihatkan lelaki itu menerima anaknya. Lelaki itu bahkan mengusap perutnya dengan sayang.
“James,” panggil Luna.
James mendongak. Ia menatap sayu wajah wanita didepanya.
“Maafkan aku Lun, maafkan aku yang kemarin belum bisa menerimamu dan janin kita,” ucap James penuh penyesalan.
“Apa kamu mau memaafkan ku.”
“Mau James mau makasih banyak sudah mau menerima kami,” Luna memeluk James.
James pun menerima pelukan itu dan mengeratkan pelukannya juga. “Kita jalani semua bersama ya Lun kita beri hidup nyaman untuk anak kita,” lirih James.
Luna mengangguk. “Dan secepatnya aku akan menikahimu,” ucap James.
Luna melepas pelukan itu “Beneran?”
“Iya beneran agar anak kita resmi statusnya,” ucap James.
“Makasih mas makasih.”
Akhirnya kedua nya bisa menerima keadaan yang terjadi karena kesalahan. Keduanya saling memaafkan dan saling menasehati. Begitulah manusia jika yang satu salah maka yang lain harus memberitahu. Bagaimanapun hasil akhirnya yang penting kita sudah menasehati.
Jika dia berubah maka itu bonus dari Allah untuk kita yang sudah mencoba membuatnya mengerti dengan keadaan.
--*--
__ADS_1
Selamat membaca😁
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH