
“Aku takut untuk berharap padamu, aku hanya bisa berharap pada Allah. Jika kita ditakdirkan bersama maka kita akan bersatu di ikatan halalnya.” ~Khadijah Haura~
.
.
.
Adzan magrib mulai berkumandang memenuhi seluruh perumahan disekitar masjid. Semua orang berbondong-bondong menuju masjid.
Sama seperti dirumah Aqila dan Kevin. Para lelaki yang sehat mulai berjalan menuju mobil dan mengendarainya untuk ke masjid. Sedangkan para sesepuh dan wanita memilih sholat dirumah berjamaah di mushollah rumah Kevin.
Namun ada satu gadis yang tak ikut sholat, dia adalah Haura. Malam ini Haura lagi kedatangan tamu bulanan kaum hawa dan bersamaan dia ada janji bertemu rekan bisnisnya. Kedekatan mereka memang mulai terjalin sejak mereka mulai bekerja sama. Keduanya bahkan sering bertukar kabar lewat gadget.
Namun dalam hati kecil Haura, tak ada harapan yang ia taruh pada lelaki itu. Karena bagaimanapun dia sadar bahwa dia adalah seorang putri kerajaan. Putri kerajaan yang akan menikah dengan seorang pangeran nanti.
Jadi tentu saja Haura tak memakai hati dalam hubungan dekatnya ini. Bahkan Haura hanya menganggapnya teman.
Setelah Ratu Mayra selesai sholat magrib, Haura segera menghampiri mamanya untuk berpamitan. Seperti biasa Haura akan di introgasi dan akan diikuti oleh pengawal kerajaan. Dengan bujuk rayu Haura. Akhirnya Ratu Mayra memperbolehkan Haura keluar hanya dengan 1 pengawal.
Senang bukan main tentu saja, karena memang selama ini Haura jika keluar pasti pengawalannya ketat. Lalu malam ini dia hanya ditemani oleh 1 pengawal saja, itu sudah membuatnya seperti mendapat hadiah uang banyak.
---*---
Dengan diantar oleh supir Kevin dan diikuti oleh pengawal, akhirnya mobil yang ditumpangi Haura mulai meninggalkan halaman rumah Kevin.
Keadaan jalanan memang ramai, banyak lalu lalang kendaraan roda empat dan roda dua. Haura tersenyum saat melihat sepasang manusia yang sepertinya sedang berpacaran asyik bergoncengan bersama. Tak lupa pelukan erat diberikan si cewek pada cowoknya. Haura hanya bisa menggeleng kecil.
“Lucu banget sih,” gumam Haura pelan.
Karena keadaan jalanan yang ramai membuat perjalanan Haura harus tersendat-sendat. Bagaimanapun namanya ibu kota Jakarta pastinya akan selalu ramai. Tak ada kata sepi di jalanan Jakarta. Pasti akan selalu ada lalu lalang meski hanya 1 atau 2 mobil dan motor.
Akhirnya perjalanan yang lumayan kesendat berakhir. Mobil terparkir aman di slot parkir dengan rapi. Haura turun diikuti oleh pengawal kerajaan. Merapikan gamisnya dulu dan tak masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dirasa semua sudah rapi akhirnya Haura berjalan masuk ke dalam.
Disana ternyata lelaki itu sudah menunggunya, sebelum beranjak Haura menatap pengawalnya.
“Kamu tunggu dimeja berbeda yah,” ucapnya tegas.
“Baik tuan putri,” sahut pengawal.
Haura berjalan menuju meja sang teman dekatnya, sedangkan pengawalnya berjalan menuju meja yang tak jauh dari Haura. Haura tersenyum dan segera menangkupkan kedua tangan didepan dadanya.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum,” sapa Haura.
“Wa’alaykumsalam,” ucap lelaki itu sambil berdiri.
“Maaf ya lama, jalanan macet,” sesal Haura.
Lelaki itu hanya mengngguk lalu mereka mulai duduk di kursi yang tersedia. Lelaki yang tak lain adalah Rey itu membuat Haura sempat terpana. Penampilan Rey yang biasanya rapi hari ini terlihat berbeda. Penampilan Rey yang santai hanya memakai kemeja putih polos dengan lengan digelung lalu tak lupa celana jeans untuk menutupi kakinya.
Haura mengalihkan perhatiannya agar tak terus kepikiran oleh ketampanan Rey. Dia menatap buku menu yang disodorkan oleh Rey. Dia mulai memilih makanan dan minuman pada pelayan.
Sambil menunggu makanan mereka datang, akhirnya keduanya mulai mengobrol tentang pekerjaan. Memang kerap kali keduanya merasa cocok saat membahas tentang pekerjaan. Rey akui memang pesona Haura begitu kuat. Namun Rey tak mau memakai perasaannya lagi. Ia harus lebih hati-hati dari sebelumnya. Bagaimanapun dia juga harus menjaga perasaan wanita agar tak tersakiti lagi olehnya.
“Gimana acaranya kakakmu?” tanya Rey tiba-tiba saat obrolan pekerjaan mereka selesai.
Memang kemarin Haura sempat bercerita pada Rey jika kakaknya akan datang melamar Aqila malam itu. Tentu saja ucapan Haura membuat hatinya sakit. Tapi anehnya sakitnya tak seperti dulu, sekarang terlihat Rey lebih tak menyedihkan. Bahkan dirinya menyadari jika karena kehadiran Haura lah yang membuat Rey bisa move on dari Aqila.
“Alhamdulillah lancar, oh iya nanti undangannya aku kasih kamu yah,” ucap Haura dengan senyum merekah.
“Okey,” sahut Rey cuek.
Bukan karena apa, menyembuhkan hati oleh luka tak semudah membalikan tangan lalu melupakan. Manusia diberi ingatan dan hati untuk memikirkan semua yang telah diuji oleh Allah. Allah akan memberi ujian untuk menjadi pelajaran bagi umatnya. Jika kita bisa melewati ujian dari allah, maka kita akan naik tingkatan di mata Allah.
Pelayan pun akhirnya datang, makanan mulai disaji dengan rapi diatas meja. Haura dan Rey sama-sama lahap memakan menu makan malam. Bahkan keduanya terlihat seperti sedang kelaparan, Makan keduanya pun cepat dan masih elegan.
Memikirkan hal itu lagi, Rey menggelengkan kepalanya. Ia tak boleh berada didalam kubangan masa lalunya. Ia harus bisa melupakan dan membuka lembaran baru. Dia ingat sekarang hanya memiliki mama dan dengan status baru yaitu seorang hot duda. Rey begitu ingin tertawa jika mengingat panggilan orang-orang itu padanya.
Akhirnya acara makan malam bersama pun selesai. Tak ada yang istimewa memang. Karena bagaimanapun keduanya juga tak pandai dalam sebuah hubungan dekat. Keduanya sama-sama berani memberi perhatian saat di ponsel. Jika sudah bertemu seperti ini keduanya sama-sama pemalu dan pendiam.
Saat Haura akan berpamitan pada Rey. Rey mulai berinisiatif untuk mengantarnya.
“Aku anter ya Ra,” ucap Rey.
“Ehh gak usah. Aku dianter pengawal,” sahut Haura jujur.
“Hah! Pengawal? Dimana Ra?” tanya Rey beruntut.
“Hahaha sabar satu-satu yah tanyanya,” ujar Haura dengan tawa kecil.
Haura mulai menunjuk pengawalnya yang sedang duduk santai menatap ke arahnya. Segelas minuman menemani kesendirian pengawal itu.
Haura dan Rey berjalan bersisian menuju pengawal kerajaan.
__ADS_1
“Ayo kita pulang,” titah Haura tegas.
“Baik tuan putri,” jawab pengawal itu.
Setelah berpamitan pada Rey, keduanya mulai terpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
---*---
Dirumah Aqila.
Setelah makan malam, Khali mengajak Aqila berbicara bersama. Tentu saja Aqila menyetujuinya namun dia mengajak Khali mengobrol di taman depan rumahnya.
Keduanya duduk disebuah bangku yang tersedia. Sama-sama canggung dan malu. Degub jantung keduanya berdetak cepat. Keduanya duduk dengan ada celah agar tak berdekatan.
Selama beberapa menit terdiam akhirnya Aqila memulai pembicaraannya terlebih dahulu.
“Emmm mau ngomong apa?” tanya Aqila sambil menunduk.
Terlihat Khali merogoh saku celananya, mengambil sesuatu dari sana dan menariknya. Terlihat sebuah kotak beludru merah yang begitu familiar. Khali menatap Aqila dan Aqila juga balik menatapnya.
“Aku ingin menambah ini di mahar kita. Apa boleh?” tanya Khali sambil membuka kotak beludru itu.
Sepasang cincing sangat indah. Begitu berkilau dan elegan. Aqila memegang kotak itu dengan hati-hati agar tak bersentuhan. Ditatapnya dua cincin itu dengan tersenyum.
“Bagus banget cincinnya,” ucap Aqila.
“Kamu suka?” tanya Khali ikut tersenyum.
“Suka banget malah,” sahut Aqila.
“Jadi ini untuk mahar yah?” tanya Khali.
“Iya, makasih banyak.” Aqila mengucapkan dengan perasaan tulus.
Senyum tak luntur dari bibir keduanya, mereka berharap tak ada halangan apapun untuk beberapa hari ke depan. Apalagi mulai besok keduanya tak akan bisa bertemu.
--*--
Bab menuju detik-detik tamat.
Aku selipin Babang Rey buat yang kangen yah, hihihi.
__ADS_1
JANGAN LUPA GUYS LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.