
“Aku tak menduga jika lelaki yang tak pernah berpacaran sepertinya juga bisa romantis.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Bandar Seri Begawan.
Selama 3 hari setelah sampai di negara yang aman ini, Aqila dan Khali sama-sama berkutat dengan kesibukan masing-masing. Bahkan keduanya tak pernah bertukar kabar sedikitpun. Tiga hari ini juga mereka sama-sama tak bertemu. Aqila yang sibuk karena pasien anak semakin banyak dan Khali yanh pekerjaan kantornya yang menumpuk.
Seperti saat ini, Aqila baru saja selesai makan siang. Seharusnya jam segini dia pulang, namun karena Dokter jaga sift siang sakit akhirnya digantikan oleh Aqila. Dia dengan suka rela menambah jam kerjanya dibantu oleh Dini juga.
“Kamu yakin gak tidur dulu?” tanya Dini.
“Enggak Din, mending kita keliling aja,” ajak Aqila.
Dini mengangguk, memang seperti itulah Aqila jika sudah berkutat dengan anak-anak pasti Aqila bersemangat. Apalagi sejak kepulangannya dari Jakarta hati Aqila menjadi lega tanpa beban. Entahlah menurutnya urusan hati sudah kelar dan bebas.
Tinggal satu yang ia tunggu, memberi jawaban pasti untuk lelaki disana yang mengkhitbahnya secara tidak resmi. Jika mengingat itu entah kenapa membuatnya tersenyum sendiri dengan pipi memerah. Jantungnya selalu berdegub kencang jika mengingat wajah tampan nan mata teduh itu lagi.
Setelah jadwal keliling mereka selesai. Akhirnya mereka kembali ke ruangannya. Aqila mulai merebahkan tubuhnya ke sofa. Rasanya kaki dan punggungnya mulai sakit. Dini sendiri telah berjalan menuju ruang pribadi Aqila. Begitulah mereka berdua, meski tak ada hubungan darah namun keduanya saling berbagi tanpa iri dan tanpa perhitungan.
Sore harinya mereka segera kembali ke apartemen setelah jam kerja habis. Keduanya memesan taxi online karena tak ingin merepotkan David. Sepanjang perjalanan Aqila dan Dini sama-sama menikmati indahnya jalanan yang bersih itu.
“Rasanya aku kangen jalan-jalan,” celetuk Dini.
“Hahahaha ngode nih,” ejek Aqila.
“Ho’oh.” Dini mengangguk.
“Ya nanti kita bakal jalan-jalan oke,” sahut Aqila enteng.
“Serius kan?” tanya Dini.
“Iya serius, pikiranku juga butuh refreshing nih,” ujar Aqila.
“Hahahah kalau fikiranmu mah full terus,” sindir Dini.
“Heleh udah gak usah dibahas,” seru Aqila jengkel.
Memang setelah kedatangannya ke Brunei, Aqila sudah dicerca banyak pertanyaan oleh Dini. Dengan sabar Aqila menceritakan semuanya pada Dini dan mulai dari situ, Dini selalu menyindirnya tentang fikirannya yang selalu full.
Akhirnya perjalanaan sore itu pun berakhir, mereka segera membayar uang taxi dan keluar. Berjalan bersama menuju gedung apartemen, keduanya telah bercakap santai dengan sesekali tertawa. Hingga suara panggilan membuat keduanya menghadap kebelakang.
“Nona Aqila.”
Aqila dan Dini berbalik. Disana Asisten Ibra berjalan kearah mereka.
“Ada apa Asisten Ibra?” tanya Aqila bingung.
__ADS_1
“Ini nona dari tuan,” ucap Ibra memberikan sebuah kotak.
“Untuk saya.” Tunjuk Aqila.
“Iya nona,” jawab Ibra.
Aqila mengangguk dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Selepas kepergian Ibra, Dini dan Aqila berjalan kembali menuju apartemen mereka.
Dengan hebohnya Dini berjalan masuk ke apartemen Aqila. Dia sudah penasaran dengan kotak yang dibawa sahabatnya itu.
Aqila segera mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu dengan Dini yang sudah duduk terlebih dahulu. Meletakkan tas nya dulu lalu mulai meraih kotak itu. Kota hitam berpita pink lucu sungguh menggemaskan. Aqila perlahan membuka kotak itu. Jantungnya berdebar kencang karena penasaran dengan isinya. Dini juga tak kalah hebohnya, dia menunggu smabil tak bisa diam.
Setelah penutupnya terbuka mata.mereka terbelalak lebar. Isinya sungguh mengejutkan. Tanpa dibuka pun mereka sudah tau jika isinya adalah sebuah gamis merk terkenal. Bahkan gamis ini bisa dibuat 1 diseluruh dunia. Diatasnya ada sebuah kertas kecil berisi pesan. Aqila mengambil dan segera menyembunyikannya dari Dini.
“Ih buka dong,” ucap Dini.
“Gak mau, rahasia wlekk.” Memeletkan lidahnya.
“Pelit banget sih,” ketus Dini.
“Hahhaha biarin,” sahut Aqila.
Aqila mulai mengambil gamis itu dan membukanya, gamis berwarna Navy dan lengkap dengan kerudungnya. Aqila membukanya lebar dan mencoba nya didepan tubuhnya.
“Gimana?” tanya Aqila pada Dini.
“Sempurna,” sahut Dini tak bohong.
“Hhahaha udah tutup tu mulut entar ada lalat,” ejek Aqila.
“Tapi ini harganya mahal pasti,” celetuk Aqila.
“Ya jelas lah, lihat aja bahannya halus gini” ucap Dini.
Setelah mengobrak-abrik gamis itu, akhirnya Dini pamit kembali ke apartemennya. Dirasa Dini telah pergi. Aqila meraih kerta itu dan mulai membukanya. Dia sudah dibuat makin penasaran dengan pesan apa yang akan diberikan oleh Khali untuknya. Dibukanya kertas itu perlahan dan mulai terlihat kata demi kata disana.
Hy gadis bergamis,
Semoga suka dengan gamis yang ku beri, pakailah ketika kamu ke Istana bersamaku. Untuk waktunya aku kabarin. Selamat bertugas.
Salam Hangat,
Khali.
Uhhh manis sekali pikir Aqila. Dirinya hanya senyum-senyum sendiri sambil melipat kertas itu. Meletakkan kertas itu ke kotak surat yang ia buat didalam kamarnya.
---*---
Di Ruang Kerja Khali.
Seorang lelaki tampan sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Pikirannya menerawang menunggu kabar dari asistennya.
__ADS_1
Tak beberapa lama , ketukan pintu membuatnya menegakkan diri.
“Masuk,” teriak Khali dari dalam.
Ibra masuk dengan sopan dan berjalan mendekat ke arah majikannya.
“Bagaimana Ibra?” tanya Khali.
“Sudah saya antar tuan dan diterima oleh nona,” sahutnya.
“Bagus, kita tinggal nentuin waktu aja kalau gitu,” ucap Khali.
“Memang tuan beneran mau ajak dia ke istana?” tanya Ibra hati-hati.
“Iya Ibra, aku sudah serius ingin membawanya kerumah agar bertemu Raja dan Ratu,” ujar Khali tegas.
“Tapi tuan kan baru kenal sama dia?” tanya Ibra.
“Jodoh tak menentukan seberapa lama kita kenal Ibra. Dalam islam jika kita sudah mampu dan cocok maka segerakan. Aku ingin segera menikahinya, oleh sebab itu aku membawanya ke istana,” ujar Khali menjelaskan.
“Iya tuan.”
Sedingin dan seberani Asisten Ibra, dia sama saja seperti asisten lainnya. Yang sudah sangat patuh dengan tuannya. Bahkan hidup di mereka sampai tak dipikrikan. Berdekatan dengan wanita saja tak pernah. Karena hidup mereka sudah ia serahkan untuk bos mereka saja.
Setelah Ibra selesai memberi laporan akhirnya dia undur diri dan tinggallah Khali sendiri. Ia putar kursi kerjanya dan menghadap ke sebuah taman kecil di Istananya.
Dirinya hanya bisa tersenyum kecil saat mengingat wajah gadis yang mengusik hatinya itu. Bahkan kadang tertawa kecil saat mengingat wajah jengkel dan menggemaskannya. Ketika dia cemberut tingkah menggemaskannya meningkat pesan menurut Khali.
--*--
Disebuah ruangan.
Seorang lelaki paruh baya yang ketampanannya masih terlihat jelas meski umurnya sudah mulai memasuki 50 tahun. Kegagahan dalam dirinya bahkan kewibawaannya masih tak menyurut. Ketegasan dan jiwa bekerjanya pun masih menguat.
Pria paruh baya itu sedang duduk di sofa ruang kerjanya menunggu kehadiran tangan kanannya untuk sebuah informasi. Akhirnya setelah menunggu lama, kabar itu didapat juga.
Lelaki yang umurnya masih sekitar 30 tahunan itu mendekat ke arah pria paruh baya itu dengan sopan. Memberikan sebuah tablet diatas meja lalu diraihnya.
“Jelaskan ini?” titahnya.
“Nona Aqila Kanaira Putri Cullen adalah pasangan dari Edward Cullen dan Angelia,” ujar lelaki 30 tahunan itu.
Deg.
Jantung Pria paruh baya itu mulai berdetak kencang mendengar sebuah nama yang tak asing. Dan bahkan disana tangan kanannya mendapatkan sebuah potret foto sebuah keluarga bahagia.
Dari situ jantungnya semakin tercekat, matanya mulai berkaca-kaca. Hanya dirinya yang tau kenapa dirinya menangis. Ia belai foto itu dengan sayang. Hingga ia merasa kerinduannya mulai sedikit berkurang dengan hanya melihat foto itu.
---*---
Hayoo siapa itu? dan apa hubungannya sama Aqila. Yok tebak aja.
__ADS_1
Author gak jadi kabur deh hahaha soalnya ini novel belum tamat hihi.
JANGAN LUPA LIKE. KOMEN DAN VOTE