Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 24


__ADS_3

“Selagi janur kuning belum melengkung aku akan selalu mengejar cintamu.” ~Rey~


.


.


.


Setelah kejadian meeting itu Rey semakin gencar mendekati Qila. Dari mengirimkan coklat dan bunga. Kotak nasi untuk makan siang. Bahkan mengirim pesan untuk bertemu. Semua itu Rey kirimkan setiap hari selama satu minggu ini.


Tapi sayangnya Aqila tak terusik sama sekali. Hatinya tertutup dan masih membeku. Entah ia masih menyimpan perasaan pada James atau karena ia masih trauma akan menjalin hubungan lagi.


Tepat hari ini seperti biasa Aqila menerima bekal kotak siang dari Bima. Ia menghela nafas kasar saat menatap lelaki garang didepannya itu. Wajahnya memang tampan tapi tak ada senyum terlukis di bibirnya.


“Astaga tiap hari seperti ini aku jadi gila,” gerutu Aqila dalam hati.


“Saya bisa minta tolong,” ucap Aqila sebelum Bima undur diri.


“Bisa nona,” ucap sopan Bima sambil menunduk.


“Saya mohon jangan terlalu formal sama saya ,karena anda lebih tua dari saya,” ujar Aqila sambil meringis.


Sejujurnya ia juga kurang suka dengan sikap Bima kepadanya. Ia seperti majikan yang disegani oleh Bima.


“Tapi itu tidak bisa nona. Anda adalah wanitanya bos saya,” ucap Bima mantap.


“Ya tuhan saya sudah bilang berapa kali saya bukan wanitanya bos anda,” kesal Aqila.


Ia mengacak rambutnya dan menatap datar pada Bima.


“Katakan pada bos anda. Cukup sudah mengirim kotak makan, coklat, bunga dan semuanya. Saya risih mendapatkan ini semua. Saya mohon sampaikan ucapan saya,” ucap Aqila sarkas.


“Baik saya ucapkan,” Bima masih tenang.


“Gak bos gak asisten sama sama menyebalkan,” umpat Qila dalam hati.


“Apa masih ada nona?” tanya Bima.


“Tidak,” ucap Qila.


“Baiklah saya ijin undur diri dulu permisi.”


Aqila mengangguk lalu Bima mundur dan pergi meninggalkan Aqila sendiri. Sepeninggalan Bima, Aqila menatap kotak nasi didepannya.


“Kenapa kamu sampai usaha seperti ini apa kamu benar-benar serius padaku,” entah kenapa hati Aqila sedikit tersentuh.


Ia membuka kotak makanan dan terlihat salad buah kesukaannya. Ada note kecil diatas tutup kotak itu.


Semangat makan, aku tau kamu pasti suka sama salad buah kan. Apalagi dengan buah tertentu. Aku tau banget. Segera dihabiskan saladnya. Selamat makan :


Rey*


Aqila tertegun bagaimana bisa lelaki itu tau makanan kesukaannya. Ia mengambil sendok dan mulai melihat buah-buahan saladnya. Dan benar disana hanya ada strawberry, apel, kiwi dan mangga. Tak ada lagi yang lain. Itu adalah buah kesukaan Aqila.


Diam-diam Aqila tersenyum. Hatinya menghangat melihat perhatian dari seseorang. Entah kenapa sudah lama ia tak diperhatikan seperti ini.


Ia segera menghabiskan salad buahnya hingga tandas. Lalu setelah itu menghabiskan sebotol air mineral.


“Enak,” gumam Aqila senang.

__ADS_1


“Eh perasaan apa ini, kenapa aku jadi senang sekali mendapat perhatian ini. Ada apa denganku,” gumam Aqila dalam hati.


--*--


Dikantor Rey.


“Bagaimana?” tanya Rey setelah melihat Bima datang.


“Sudah saya kirim tuan, dan nona bilang jangan mengirimnya lagi,” ucap Bima.


Bima mulai menceritakan semuanya pada Rey saat kejadian tadi. Tapi jawaban Rey malah membuat Bima tercengang.


“Wanita selalu seperti itu, dimulut bilang tidak di hati bilang iya. Selalu berbeda,” ucap Rey dengan tersenyum.


“Apa bos jadi segila ini,” ucap Bima dalam hati.


Ia merasa aneh akhir-akhir ini. Bosnya sering tersenyum dan kadang tertawa sambil menatap layar ponsel miliknya. Tapi Bima tak ambil pusing ia hanya bisa berdoa semoga sang bos segera mendapat jodoh yang tepat.


“Ya sudah kamu boleh lanjutkan pekerjaan,” usir Rey.


Bima undur diri dan meninggalkan ruangan Rey. Setelah Bima pergi Rey menatap bingkai foto dimeja kerjanya. Foto wanitanya memakai seragam dinasnya.


“Aku yakin kamu bakal membalas cintaku,” gumam Rey.


Setelah itu Rey kembali berkutat dengan pekerjaanya. Karena jam 3 ia harus menjemput wanitanya di rumah sakit.


Jangan ditanya bagaimana Rey bisa tau? Karena memang ia memegang duplikat jadwal Aqila.


Jam 14.30 Rey keluar dari kantor dengan gagah. Ia menaiki lift langsung menuju parkiran.


Ting.


Rey segera keluar dan berjalan menuju mobilnya. Ia segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga tepat 20 menit ia sampai diparkiran rumah sakit.


Dengan langkah mantap dan gagah ia berjalan masuk dan menuju ruangan Aqila.


Ceklek.


Masih kosong Rey masuk dan duduk di sofa tunggu didalam ruangan itu.


Aqila sendiri ia sedang melakukan pengecekan diruangan poli untuk hari ini. Ya begitulah dia jika ingin pulang ia akan mengecek data semua anak dibuku. Setelah berkutat hampir setengah jam. Aqila berdiri dan berjalan beriringan dengan Dini.


“Saya langsung pulang ya Dok, soalnya ditungguin,” ucap Dini langsung berlari.


“Astaga itu anak,” Qila menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah sampai didepan ruangannya Aqila segera masuk kedalam dengan santai. Ia belum menyadari kehadiran sosok orang asing disana. Sangking fokus dengan ponselnya kehadiran Rey tak diketahui.


“Ehem,” deheman Rey mengagetkan Aqila.


“Astagfirullah. Kamu kok seneng banget ngagetin orang,” ketus Aqila.


“Hey cantik kenapa marah? Jangan marah dong,” rayu Rey.


Aqila tak menggubris ia meraih tas slempangnya dan membuka jasnya.


“Jika tidak ada hal penting silahkan keluar. Saya mau pulang,” ucap Aqila sesopan mungkin.


Rey berdiri.

__ADS_1


“Aku akan mengantarmu,” suara Rey bergitu lembut.


Deg.


Deg.


Deg.


“Kenapa jantung ini,” gumam Aqila dalam hati.


Tatapannya masih terpaku dengan manik mata Rey. Rey yang melihat pun tersenyum penuh arti.


“Aku tau kamu mulai membuka hati untukku kan,” ucap Rey dalam hati.


Rey langsung menggenggam tangan Aqila dan membawanya pulang. Aqila tak bisa memprotes entah kenapa hatinya hangat, bibirnya kelu ia hanya bisa menatap genggaman tangannya yang dilakukan oleh lelaki didepannya.


Hingga disepanjang koridor banyak Dokter, suster yang memberi hormat dan pasti banyak yang tanya dengan hubungan mereka. Tapi Aqila tak menjawab ia menutupi semua itu.


Sampai didepan mobil Rey, Rey membukakan pintu dan membantu memasang sabuk pengaman. Rey tersenyum dan membantunya memakaikan sabuk pengaman.


Disepanjang perjalanan, Rey tak melepas tangan Aqila yang digenggamnya. Aqila pun sepertinya sudah nyaman pikir Rey.


Aqila menatap tangan yang digenggam oleh Rey.


“Apa kamu akan terus memegang tanganku?” tanya Qila


Rey sejenak menoleh dan tersenyum.


“Iya aku takut kamu pergi” ucap Rey


“sejujurnya mau mu apa sih?” tanya Aqila


Aqila ingin tau apa motif Rey sampai seperti ini padanya. Umur mereka saja beda 12 tahun. Dan Rey sepertinya mengharapkan cinta Aqila sungguh-sungguh. Memang selama satu minggu Aqila sudah dibuat pusing oleh tingkah Rey.


Sampai ia cerita pada sang Mama, dan jawaban sang mama membuatnya terdiam. Ia teringat saat sore hari berbincang dengan sang mama.


🍵🍵


Sore itu Aqila dan Mama Angel duduk ditaman belakang rumah mereka. Menikmati angin sore yang segar dan menyejukkan.


Aqila saat itu tepat 5 hari diganggu oleh Rey dengan hal aneh-aneh. Membuat pikirannya resah dan kacau. Hingga ekspresi wajahnya pun bisa ditebak oleh sang mama.


“Kamu kenapa nak?” tanya Mama Angel lembut.


“Begini ma Aqila mau curhat sama mama,” ucap Aqila.


Mama Angel mengangguk lalu mendekat pada sang anak.


“Ceritalah sayang,” mengusap rambut sang anak.


“5 hari ini aku seperti diteror sama laki-laki mah. Tapi buka teror sih dia itu kalau pagi kirim roti, coklat dan bunga ma padaku, kalau siang ia kirim kotak bekal makan. Kalau pas shift sore juga bawain makanan ma. Itu semua ia lakuin ke aku aja ma. Padahal aku udah jutek sama dia eh dianya tetep ngeyel deket sama aku ma. Aku harus gimana?” tanya Aqila.


“Dari yang mama dengar sepertinya lelaki itu menyukai mu sayang” ucap Mama Angel.


"Apa!!"


--*--


Uhuyy gimana-gimana hayoo part ini?

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAH


__ADS_2