
“Jika kita berjodoh maka Allah akan mempertemukan kita dilain waktu.” ~Khali Mateen~
.
.
.
Hari yang ditakutkan Khali akhirnya tiba, hari dimana kepulangan Pangeran Khali ke negaranya. Entah kenapa rasanya ia enggan untuk meninggalkan Indonesia. Bahkan ia ingin menetap saja disini. Namun demi untuk membicarakan semua masalahnya dengan keluarga, mau tak mau Pangeran Khali harus kembali.
Lelaki tampan yang dipuja oleh banyak wanita itu tengah memperhatikan penampilannya saat ini. Kemeja santai dan celana jeans menjadi outfit pilihannya. Tak lupa dengan topi dan masker untuk menutupi penyamarannya.
Sebenarnya di Bandara sudah ada pihak keamanan kerajaan yang ditugaskan untuk menjaga calon pemilik tahta kerajaan itu. Namun karena Khali tak suka menjadi sorotan mau tak mau dia memerintahkan para pengawal untuk bersembunyi dan menyamar.
Setelah membetulkan penampilannya. Khali mulai keluar kamar dan melangkahkan kakinya ke arah lift. Penginapan yang membuatnya aman dan nyaman ini pasti akan ia beri bonus nantinya.
Khali dan Ibra segera menaiki mobil yang sudah disediakan oleh hotel. Tak lupa mereka memakai jasa supir hari ini karena mereka langsung ke Bandara.
Khali menatap jalanan yang beberapa hari ini menemaninya. Bahkan dengan mudah Khali bisa mengingat kemana arah jalan rumah gadis yang memenuhi pikirannya. Menatap jalanan yang mulai ramai Khali hanya bisa menghela nafas berat.
Entah kenapa dia ingin segera sampai kerumahnya dan mencoba merayu Sang Mulia Raja dan Ibunda Ratu. Khali hanya berdoa semoga keputusannya ini tak ditolak oleh pihak kerajaan.
Selama perjalanan Ke Bandara Khali menfokuskan dirinya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya melalui iped miliknya.
---*---
“Kakak,” teriak Aqila.
Sedari tadi Aqila memanggil nama sang kakak namun yang dipanggil tak kunjung datang, dengan kesal gadis itu berjalan kearah kamar kakaknya.
Dog dog dog.
Dengan tak sabar Aqila menggedor pintu dengan meneriaki nama sang kakak.
“Astagfirullah gadis perawan bukannya salam malah gedor gedor,” gerutu Adel.
Yang ditanya hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ada apa?” tanya Adel selidik.
“Itu apa beneran Pangeran Khali pulang sekarang?” tanya Aqila.
“Iya hari ini. Kakak aja tau dari Kak Kevin kalau mereka akan pulang dengan pesawat pribadi,” sahut Adel.
Aqila terdiam, ia bingung harus melakukan apa. Pikirannya terbagi kemana-mana. Disisi lain ia ingin bertemu lelaki itu sebelum dia kembali ke negaranya tetapi disisi lain pikirannya menghalau dengan pikiran bahwa mereka tak seharusnya bertemu karena tak ada hubungan.
__ADS_1
Aqila berbalik badan tak mengucapkan sepatah katapun. Hatinya bimbang dan nyalinya menciut saat dia ingat bahwa lelaki itu adalah pangeran.
Aqila kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya. Memejamkan matanya dan mengingat setiap pertemuan-pertemuan dengan lelaki itu. Setiap kenangan yang mereka lakukan bahkan tak ada yang berkesan tapi entah kenapa jika mengingat hal receh itu membuat Aqila tersenyum dengan pipi merona.
Aqila masih memejamkan matanya dengan hati yang saling berdebat.
“Ingat kamu itu cewek dan cewek itu punya harga diri. Masak iya cewek yang nyamperin si cowok sih ya malu dong,” ucap otak Aqila.
“Namun hatiku sendiri mengatakan bahwa aku mulai ada rasa padanya,” sahut hati Aqila tak ingin mengalah.
Begitulah perdebatan antara pikiran dan hatinya. Hingga membuat Aqila merasa ia butuh sholat kali ini. Bertepatan dengan Sholat Dhuha akhirnya Aqila melaksanakan sholat sunna dua rakaatnya. Setelah selesai ia mulai menengadahkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
Bibirnya bergerak dengan diiringi air mata membasahi pipinya. Entah doa apa yang dipanjatkan oleh Aqila saat ini.
Selesai berdoa Aqila melipat mukenahnya dan segera mengganti gamis dan hijabnya. Aqila memoles make up tipis di wajah babyfacenya.
Dengan langkah cepat ia menuruni tangga dan berlari keluar rumah. Aqila segera memasuki mobil miliknya dan menginjak pedal gas pelan-pelan. Saat ini tujuannya hanya satu yaitu Bandara, ia harus sampai dengan selamat pikir Aqila.
Entah kenapa jalanan pagi ini ini menurut Aqila lumayan lamban. Bahkan sesekali Aqila memencet klakson tak sabaran saat melihat mobil didepannya berjalan seperti siput.
Hampir 1 jam akhirnya mobil yang ia kendarai sudah sampai diparkiran mobil. Dengan setengah berlari Aqila mulai menatap ke semua arah didalam Bandara. Dirinya berjalan ke setiap loket tiket dan para penumpang namun sayangnya wajah lelaki itu tak ada.
Ia mengingat kembali percakapan dengam sang kakak dan ia ingat pesawat pribadi ya pesawat pribadi pikir Aqila.
Wanita itu segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju area pintu khusus pesawat pribadi. Disana ada 4 orang penjaga yang menatap arah Aqila.
“Maaf nona anda tak boleh masuk,” ucap salah satu security.
“Tolong ijinkan saya masuk, saya ingin bertemu Tuan Khali,” mohon Aqila.
“Mohon maaf nona, sesuai prosedur yang ada anda dilarang masuk,” ujar security yang lain.
Setelah hampir 10 menit mereka berdebat dan tetap dimenangkan oleh pengaman kerajaan. Akhirnya Aqila pergi dan duduk dikursi yang tak jauh dari sana. Ia menyerah ia telat untuk datang. Aqila menghapus kasar air matanya dan mulai menghembuskan nafasnya.
Namun tak disangka air mata itu terus mengalir sepertinya suasana hatinya sangat buruk malah semakin memburuk. Ia belum sempat mengatakan perasaan pada lelaki itu namun sekarang ia akan ditinggal pergi.
Tapi ia tak begitu sakit hati ketika mengingatkan bahwa dia akan dipindah tugas disana.
Lamunan Aqila buyar ketika mendengar suara familiar dibelakangnya. Bahkan hembusan nafas lelaki itu diceruk lehernya terasa.
“sedang apa kamu disini?” tanya suara bariton itu.
Aqila tersentak ia buru-buru membalikkan tubuhnya dan tak sengaja hidung mereka bersentuhan. Dengan tinggi badan yang hampir sama membuat keduanya hampir sejajar tinggi tubuhnya.
Aqila spontak mundur beberapa langkah. Dan memilih menunduk. Jari tangannya sudah saling meremas dan badannya sedikit gemetar. Sejujurnya ini bukan pertemuan pertama kali mereka tapi entah kenapa ada suatu dorongan di diri Aqila yang membuatnya canggung.
__ADS_1
“Qila saya tanya sedang apa kamu disini?” tanya Khali.
Aqila mendongak.
“Aku ingin bertemu kamu untuk terakhir kalinya,” lirih Aqila dan menunduk kembali.
“Kamu kira aku pulang dan bakal mati disana,” dengus kesal Khali.
“Eh bukan.” Aqila dengan cepat menggeleng.
“Aku takut jika ini pertemuankita yang terakhir dan kamu gak bakal kembali ke nagara ini,” uca Aqila dengan wajah masih menunduk.
“Apa dibawah ada uang sampai kamu betah menatap bawah,” kesal Khali.
Aqila buru-buru mendongak dan menatap mata indah dengan senyum manis.
“Sudah sana pulang,” ucap Khali.
“Enggak, aku masih mau lihat kamu,” lirih Aqila.
“Jaga diri disini yah inget jangan teledor dan pelan-pelan aja nyetirnya,” ucap Khali mengingatkan pasrah.
Aqila seperti anak kecil yang mengangguk patuh.
“Apa kamu mau mengantarku sampai kedalam?” tanya Khali.
“Hah apa boleh?” sahut Aqila.
“Tentu saja,” ujar Khali.
Keduanya berjalan masuk menuju tempat khusus pesawat pribadi. 15 menit kemudian datanglah Ibra dan pelayan yang Aqila yakini jika mereka memberikan info jika Khali harus segera pergi.
Khali mendekat kearah Aqila. Aqila spontan mendongak dan mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang ingin Khali lontarkan tapi entah kenapa seperti ada yang tercekat ditenggorokannya.
Ia menelan salivanya berulang kali saat sedang menatap mata indah itu.
Asisten Ibra masih setia menunggu dibelakang Khali dengan menjaga jarak.
“inget kamu hati-hati pulangnya,” ucap Khali, Aqila mengangguk.
“Aku berdoa semoga Allah merencanakan takdir indahnya untuk kita agar kita bisa bertemu kembali, dan saat itu pula aku menganggap kamu jodoh yang diberikan oleh Allah padaku dan aku berharap Allah memudahkan jalanku untuk melamarmu.”
---*---
Selamat membaca.
__ADS_1
Jangan lupa poin dan koin kalian simpan dulu buat senin aja yah. LIKE aja yah
Aku ucapin terimakasih banyak atas doa-doa dari aunty-aunty online. Semoga setiap doanya diijabah oleh allah dan kembali pada kalian juga. Aamiin