Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 29


__ADS_3

“Apa kau tau sejak dulu aku paling benci dengan menunggu dan ingkar janji.” ~Aqila~


.


.


.


Sesampai dirumah Aqila segera menyegarkan badannya. Dia mengisi air hangat di buth upnya dan tak lupa menuang aroma vanila kesukaannya.


“Lupakan dan tenangkan pikiranmu,” gumam Aqila dalam hati sambil memasuki buth up.


Aqila mulai menenggelamkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Pikirannya mulai tenang tak memikirkan apapun lagi. Mungkin karena perasaannya sudah sering disakiti ia menjadi lebih kuat.


Hampir satu jam Aqila berendam akhirnya ia mulai beranjak. Membilas tubuhnya dibawah shower dan akhirnya membalutkan tubuhnya dengan handuk.


Aqila memakai piyama panjang dan segera keluar kamar untuk makan malam.


“Selamat malam ma,” mencium pipi sang mama.


“Malam sayang,” saut Mama Angel.


“Kak Axel kemana ma?” tanya Aqila.


“Masih dikantor sayang,” ucap Mama Angel.


Aqila menengok jam dinding diruang makan. “Udah jam 7 masih dikantor tumben ma,” ucap Aqila dengan mendudukkan dirinya.


“Sepertinya kerjaan kakakmu banyak sayang,” seru mama Angel.


Akhirnya Aqila mengangguk dan memakan makanannya berdua dengan sang mama. Belum habis makan malamnya bel berbunyi. Bibi dengan cepat keluar untuk membukakan pintu.


“Gimana kerjaan mu sayang?” tanya Mama Angel.


“Baik ma,” seru Aqila.


“Jadi berangkat kapan?” tanya Mama Angel.


“Sekitar 2 minggu lagi ma,” ucap Aqila saat tau arah kemana pembicaraan dengan sang mama.


Mama Angel mengangguk.


“Selamat malam calon mama mertua dan malam calon istri,” suara lelaki yang Aqila kenal terdengar mendekat.


Aqila spontan mengangkat wajahnya dan menoleh.


Tak ada senyuman penyambutan dari Aqila, Aqila fokus kembali memakan makanannya. Tidak dengan Mama Angel ia menyambut Rey dengan baik.


“Malam sayang,” ucap Mama Angel.


“Sudah makan malam?” sambung Mama Angel.


“Ah sudah ma,” ucap Rey.


“Oh kamu kesini mau ketemu Qila aja?” tanya Mama Angel.


“Iya ma betul,” seru Rey sopan.


“Wah mama kira mau ketemu mama,” ucap mama Angel dibuat sedih.


“Eh ini juga buat nemuin mama loh,” seru Rey gelagapan.


“Udah jangan gitu sama mama, mama cuma bercanda.”


Rey mengangguk.


Mama Angel melirik sang anak yang acuh pada Rey hingga membuatnya heran. “Cepat makannya sayang kamu ditunggu lo,” seru Mama Angel.

__ADS_1


Aqila hanya mengangguk.


Selesai makan Aqila menemui Rey yang duduk diruang tamu. Ia segera mendudukkan dirinya disofa panjang sambil memegang ponselnya.


Rey sebenarnya sudah bisa menebak wanitanya pasti marah dan ngambek padanya. Rey menghela nafas berat ini semua karena permintaan sang mama dan ponselnya yang mati.


“Ada apa?” tanya cuek Aqila dengan suara dingin.


Rey masih terdiam tapi dia menatap wajah Aqila yang tanpa senyuman itu.


“Maaf,” lirih Rey sambil menunduk.


“Maafin aku yang udah lupa sama janjiku buat jemput kamu, maaf gak ngasih kabar juga,” ucap Rey dengan penuh penyesalan.


“Iya gak papa sudah biasa aku seperti itu,” lirih Aqila.


Ia meringis dalam hati kenapa ia sering terjebak dengan keadaan seperti ini. Dilupakan janjinya, dikhianati, dan berakhir tragis gini. Ia sudah mencoba membuka hati untuk lelaki didepannya ini tetapi kenapa masih awal ia sudah melupakan janji.


“Aku tau kamu pasti marah sama aku, kamu pasti kecewa sama aku. Maafin aku, aku nyesel banget,” ucap Rey mengangkat wajahnya.


“Lain kali kumohon jangan membuat janji untuk menjemputku lagi,” ucap tegas Aqila.


“Jika kamu tidak bisa menepatinya jangan pernah janji,” sambung Aqila dingin.


Tapi untuk Rey perkatan Aqila sangat menohok hatinya. Sakit pasti, menyesal jelas, kecewa pada dirinya sendiri iya. Ia hanya bisa diam menerima kemarahan dari wanitanya.


“Jika sudah tidak ada yang dikatakan silahkan pulang aku mau tidur,” ucap Aqila dengan beranjak berdiri.


Aqila hendak beranjak tapi tangannya dicekal oleh Rey.


“Apa kamu semarah itu sama aku?” ucap Rey.


“Sekecewanya itukah kamu sama aku sayang?” lirih Rey.


Aqila masih diam, ia juga tidak menepis tangan Rey yang memegang pergelangan tangannya. Pelan Aqila memutar tubuhnya dan melepaskan cekalan Rey.


Aqila berdiri dan berjalan menuju pintu utama. Ia membuka pintunya lebar-lebar.


“Silahkan pulang waktu sudah malam,” ucap Aqila tanpa menatap Rey.


Rey menunduk ia menjadi sangat bersalah dan menyesal. Ia berjalan perlahan dan berhenti didepan Aqila. Ia menatap wajah cantik itu.


Dengan cepat Rey merangkuh tubuh Aqila dan memeluknya.


“Maafkan aku,” Rey memeluk dengan erat.


“Lepasin Rey lepasin,” Aqila meronta.


Sayangnya Rey tak melepasnya ia makin memeluk erat Aqila.


“Tolong maafin aku jangan cuekin aku kayak gini. Aku tadi sore mau hubungin kamu tapi ponselku mati sayang maafin aku,” ucap Rey tak terasa air matanya menetes.


Aqila merasakan pundaknya hangat dan basah, ia segera melepas pelukannya dan mengangkat wajah Rey.


Aqila kaget baru kali ini ia melihat wajah angkuh lelaki itu menangis. Kalau seperti ini hati Aqila pasti tak tega.


Dengan pelan Aqila menghapus air mata Rey. “Aku maafin tapi plis jangan nangis,” lirih Aqila.


Rey masih enggan menatap Aqila tapi tetesan air matanya mulai berhenti.


“Lihat aku,” Aqila menggerakkan dagu rey Agar terangkat.


Rey menurut ia mengangkat wajahnya dan menatap Aqila sayu.


“Jangan pernah menangis untukku, kita masih belum ada hubungan apapun. Aku hanya kecewa saja kamu gak ngasih kabar ke aku. Aku jadi khawatir sama kamu itu saja,” ucap Aqila pelan.


“Maafin aku sekali lagi sayang maaf,” Rey kembali memeluk Aqila.

__ADS_1


Aqila mengangguk dalam pelukan Rey, ia juga membalas pelukan itu dan mempererat pelukannya.


“Udah aku udah maafin kamu,” ucap Aqila.


“Makasih sayang makasih,” ucap Rey ingin mencium pipi Aqila tapi segera Aqila menutup kedua pipinya.


“Jangan cium aku,” ucap Aqila dengan mengerucutkan bibirnya.


“Hahah kenapa sayang?” tanya Rey.


“Gak mau pokoknya,” seru Aqila.


“Iya-iya, yaudah gimana aku masih disuruh pulang?” tanya Rey.


“Enggak deh, ayok masuk,” Aqila menjawab dengan cengengesan.


“Ah aku ada hadiah untukmu sayang,” ucap Rey setelah duduk.


“Mana?” tanya Aqila celingukan.


“Di mobil.”


“Astaga masih dimobil aja udah bilang,” Aqila menepuk jidatnya.


“Bentar aku ambil.”


Rey segera keluar dan mengambil paperbag yang tadi ia beli bersama Rossa. Dia segera kembali kedalam dan memberikannya pada Aqila.


“Buka sayang,” ucap Rey disamping Aqila.


Aqila segera membuka paperbag itu dan mengeluarkan isinya.


“Masya allah gaunnya indah banget mas,” ucap Aqila dengan senyum lebar dan membuka gaun itu didepannya.


“Coba kamu pakek sayang,” pinta Rey.


“Jangan mas nanti bau,” ucap Aqila.


“Ya udah buat besok kita jalan gimana?” ajak Rey.


“Besok?” ulang Aqila.


Rey mengangguk. “Kan kamu libur besok kerjanya,” ucap Rey.


Spontan Aqila menoleh. “Tau darimana?” tanya Aqila menatap tajam.


“Hehehe itu yang,” Rey menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Apa mas?” tanya Aqila masih menatap tajam.


--*--


Keceplosan deh babang Rey dasar😆


yang komen bilang baru seneng udah sakit lagi?


udah gak mau baca cerita ini juga.


Ya tuhan author mau tanya nih namanya romance pasti bakal ada masalah kan disetiap jalannya. Cinta sejati itu ditumbuhi banyak masalah bukan aroma bucin saja☹️ kalau bucin doang gak bakal ada feel dapetnya loh. Serius ini.


Mau coba? coba baca novel yang full romance bucin. Bosan gak? pasti bakalan ada bosennya soalnya gak ada greget-gregetnya.


Author jadi sedih baca komen kalian sampai pada bilang stop baca stop vote😭


Yasudahlah author diem bae. Yang mau lanjut baca silahkan yah. Sabar aja kalau baca dicerita ini, kan dicerita sebelah milik author gregetnya ada tapi disini bakal ada yang lebih greget lagi😁


YUK JANGAN LUPA VOTE POIN DAN KOIN, LIKE, KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA DAN FAVORITNYA.

__ADS_1


__ADS_2