
“Apakah memang benar cintamu kepadaku sebesar itu?” ~Aqila~
.
.
.
“Dari yang mama dengar sepertinya lelaki itu menyukai mu sayang,” ucap Mama Angel.
Reflek Aqila menoleh dan terkejut
“Suka ma?” tanya Aqila pelan.
“Tapi kan aku sama dia gak dekat ma chat aja enggak,” ucap tulus Aqila.
“Meski chat gak pernah tapi kalau namanya suka itu tanpa bisa kita cegah sayang,” ujar Mama Angel menjelaskan.
“Tapi umur kita beda 12 tahun ma. Ya tuhan ma terlalu jauh banget,” ujar Aqila sambil geleng-geleng kepala.
“Apa kamu pernah dengar kata-kata yang bilang gini cinta itu tak memandang umur, “ucap Mama Angel.
Kalah telak sudah Aqila terdiam. Apa yang dikatakan sang mama benar dan itu membuat hatinya ragu dan gusar.
🍵🍵
Kamu ingin tau apa mauku?” tanya Rey.
Aqila mengangguk.
“Baiklah duduklah yang tenang dan aku akan mengajakmu kesuatu tempat,” ucap Rey.
Aqila pun menurut dia diam sambil menatap jalanan yang dia lalui hingga tak butuh waktu lama mereka sampai disebuah rumah minimalis. Rumah yang indah dan mata Aqila membeku.
“Tunggu-tunggu rumah ini?” gumam Aqila dengan penuh tanya.
Rey pun mengamati pergerakan Aqila dan seakan ia tau tentang pikiran Aqila. Dengan hangat ia menggenggam tangan Aqila dan menariknya memasuki pagar yang menutup itu. Dibukanya dan masuk kedalam pekarangan.
Mata Aqila semakin membulat dan mulutnya menganga tak percaya.
“Ini ini..” ucap Aqila.
Dia menatap Rey penuh tanya.
Rey tau arti tatapan itu ia tersenyum dan mengusap kepala Aqila.
“Ini rumah impianmu,” ucap Rey.
“Apa!!” kaget tak percaya.
__ADS_1
“Iya ini rumahmu. Rumah sesuai desain dan keinginanmu,” ucap Rey lembut kearah Aqila.
“Bagaimana bisa?” tanya Aqila.
“Nanti aku ceritakan, ayo,” ajak Rey.
Ia mengulurkan tangan dan diterima oleh Aqila. Rey mengajak Aqila masuk kerumah minimalis yang memiliki dua lantai dan kamar pun tak begitu banyak. Dibawah hanya ada 2 kamar, 1 dapur, 1 ruang tamu dan 2 kamar mandi diluar. Dilatai dua ada 1 kamar utama, 1 ruang kerja dan 1 ruang gym.
Aqila menatap tiap ruangan penuh takjub. Sesuai dengan keinginannya yang terdalam. Sesuai dengan gambaran yang ia gambar di meja kerja diruangan kerjanya.
Lalu mereka turun menuju halaman belakang dan mata Aqila berkaca-kaca. Benar disana ada taman bermain sederhana, ada sebidang tanah untuk berkebun. Dan ada tempat untuk gazebo juga. Ini memang rumah impiannya sama persis tak ada yang terlewat.
Aqila menatap Rey disampingnya yang juga sedang menatapnya.
“Bagaimana bisa kamu mengetahui ini semua?” tanya Qila.
“Ayo duduk dulu,” Rey menarik tangan Qila dan duduk di gazebo.
Aqila diam tapi ia masih setia menatap wajah Rey dan menunggu kejelasan lelaki itu.
“Sejujurnya aku tau dari gambar yang kamu pajang diruangan mu,” ucap Rey.
Tampak wajah Qila terkejut.
“Terus?” tanya Qila tak sabaran.
Aqila tampak berpikir dan benar. Memang dia yang memberi note itu dibawah gambar belakangnya.
“Kapan kamu tau gambar itu?” tanya Aqila.
“Saat pertama kali ketemu kamu di kantin, dari itu aku mencari semua tentangmu dan juga aku sempat keruanganmu saat malam. Maaf aku lancang tapi aku hanya ingin melihat saja,” ucap Rey.
Lalu Rey menceritakan kejadian saat ia melihat gambar itu diruangan Aqila.
🍵🍵
Malam itu sepulang Rey dari kantor. Ia memang sengaja ke rumah sakit karena ia ingin datang ke ruangan kerja wanitanya.
Bima sudah mendapatkan kunci duplikatnya sekaligus membereskan semuanya. Sesampainya dirumah sakit Rey dan Bima turun dari mobil yang berbeda. Mereka masuk kedalam rumah sakit. Hingga tepat Rey dan Bima didepan ruangan Aqila.
Bima segera membuka pintu dan meminta Rey masuk. Saat Rey masuk ia terpana dengan ruangan Aqila. Yang ada dipikiran Rey saat ini adalah bersih, wangi dan rapi. Memang benar ruangan Aqila selalu bersih dan wangi. Karena Aqila sangat suka dengan kebersihan. Dan rapi juga salah satu kewajiban saat Aqila bekerja.
Dan saat Rey berkeliling ia menatap foto keluarga di meja kerja Aqila. Senyumnya mengembang ketika melihat disana ada Mama Angel, Adel, Axel dan Aqila. Foto itu membuatnya mengembangkan senyumnya.
“Meski kamu kurang kasih sayang papa, tapi keluargamu sangat menyanyangimu,” lirih Rey dengan menatap foto itu.
Ia beralih melihat foto Aqila saat memakai baju toga. Dan tak sengaja mata Rey manangkap sebuah bingkai di meja Aqila. Ia ambil bingkai itu dan ternyata foto disana adalah sebuah desain rumah.
Rey melihat dengan seksama setelah selesai menatapnya Rey melihat kebawah dan ada tulisan “Rumah Impianku”.
__ADS_1
“Ah apa rumah impianmu seperti ini,” gumam Rey dengan tersenyum.
“aku akan menfotonya dan meminta Bima menyelesaikan ini semua. Aku sungguh serius padamu,” sambung Rey dengan menatap sendu kebingkai foto itu.
Rey letakkan kembali ke tempat semula setelah memfotonya dan ia segera menatap sekelilingnya. Hingga selesai ia kembali keluar dari ruangan Aqila.
“Aku mengirim gambar padamu Bim, tolong kerjakan secepat mungkin,” perintah Rey serius.
Kalau seperti ini sudah pasti ini perintah mutlak tak boleh ada yang menunda atau membantahnya. Rey hanya bisa mengangguk sopan.
🍵🍵
“Sampai seperti itu?” tanya Aqila setelah mendengar cerita Rey.
“Ya, aku serius dengan perasaanku padamu, oleh sebab itu aku membuktikan dengan membangunkan rumah ini untukmu” ucap Rey mantap
“Tapi tapi..” Aqila terdiam ia masih menatap Rey dengan wajah sendu
“Tapi apa La?” tanya Rey dengan menggenggam tangan Aqila.
“Aku masih belum bisa membuka hatiku, maaf hatiku terlalu sakit dengan 4 tahun mencintai orang yang salah,” lirih Aqila dengan menunduk.
Rey mengangkat dagu Aqila dan menatap penuh cinta kearah Aqila.
“Aku mengerti dan aku sudah tau semuanya. Aku tak memaksanya tapi kamu perlu tau bahwa aku mencintaimu tulus. Aku ingin menikahimu, ku mohon jangan menjauhiku,” pinta Rey dengan sendu.
Aqila menatap dalam mata Rey, ia mencoba mencari kebohongan tapi sayangnya perkataan lelaki itu jujur. Ia melihat cinta untuknya dimata Rey.
Itu semua membuat hati Aqila menghangat dan tiba-tiba ia tersenyum.
“Mau kah kamu membantuku mengobati luka ini?” tanya Aqila dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
Rey membulatkan matanya mendengar ucapan Aqila. Apa itu tandanya Aqila memberi kode lampu hijau untuk mendekatinya.
Rey tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada wanitanya.
“Mari kita mulai dari berteman agar kita saling mengenal,” ucap Rey mantap.
Aqila mengangguk. “Baiklah aku mau. Teman,” ucap Aqila dengan tersenyum.
Langit sudah mulai akan gelap. Aqila meminta Rey untuk mengantarnya pulang. Mau tak mau Rey mengantarkan Aqila agar keluarganya tak khawatir.
--*--
Wah wah gimana dengan part ini?
Yok vote dong guys hari senin nih. jika sampai sabtu vote sampek 10 ribu lebih aku akan crazy up dek.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN Bintang 5.
__ADS_1