Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 21


__ADS_3

"Melihatmu terpuruk seperti ini membuat hatiku ikut sakit, mungkin ini yang dimaksud satu saudara kandung jika yang satu sedih yang lain pasti akan ikut merasakan sedih." ~Axel~


.


.


.


Tapi sayang Aqila masih bungkam ia tak membukakan pintu untuk sang kakak.


“Ada yang tak beres pasti. Aku harus cari tau,” gumam Axel dalam hati.


Axel segera kembali kedalam kamar dan mengambil ponselnya. Entah menelfon siapa hingga ia segera mematikan sambungan telfon setelah memberi perintah.


Tak butuh waktu lama ponsel Axel berbunyi kembali.


“Gimana?” tanya Axel setelah ia menekan layar hijau itu.


“.....”


“Bagus terimakasih. Selalu awasin dan ikutin kemanapun Aqila oke,” ucap Axel dari balik telfon.


Tut.


Ia segera mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban orang diseberang.


Rahangnya mengeras ketika mendengar penjelasan dari lawan bicaranya.


“Ternyata lo masih punya nyali juga ketemu Aqila,” lirih Axel dengan mengepalkan kedua tangannya.


--*--


Ditempat James.


Sepeninggalan Aqila, James duduk di kursi yang diduduki Aqila.


“Apakah sebenci itu dirimu padaku sayang. Apa tak ada lagi pintu maafku darimu ” gumam James dalam hati dengan memejamkan matanya.


“Mungkin jika aku tak membuka pintu untuk Luna pasti aku masih menjalin hubungan ini” butir bening keluar dari ujung mata James.


Memang benar dia lelaki tapi sekarang adalah titik terendah dirinya. Ia kehilangan segalanya cinta, pekerjaan dan hubungan persaudaraan dengan Kevin.


Dengan langkah gontai James melangkahkan kakinya meninggalkan taman kota menuju mobilnya.


Setelah masuk kedalam mobil ia segera melajukan dengan kecepatan sedang. Meninggalkan taman kota dan membelah jalanan. Tujuannya saat ini pulang dan curhat pada satu-satunya teman yang masih mau membantunya. Siapa lagi kalau bukan Alex. Dia yang berada disampingnya saat ia seperti ini.


Meski Alex kecewa pada James tapi lelaki itu masih mau berteman dan membantu James. Bahkan dia juga mencarikan pekerjaan untuk James juga.


Setelah sampai didepan tempat tinggalnya sekarang ia segera keluar dari mobil dan masuk kedalam. Terlihat Alex sedang duduk dengan menatap laptop diatas pahanya.


James segera menghempaskan dirinya disamping Alex hingga menimbulkan suara yang membuat Alex mendongakkan wajahnya


“Kenapa lo?” tanya Alex ketika menatap wajah James yang muram.


“Gue ketemu Aqila,” lirih James.


Hingga membuat Alex mendelik.


“Dimana?” tanya Alex.


“Taman kota,” saut James.


“Terus apa yang lo lakuin?” tanya Alex.

__ADS_1


Dan mengalirlah cerita yang tadi James alami tanpa ditambahi dan memang terlihat jelas wajah menyesal dan sedih pada James.


“Beri dia waktu dulu James. Qila pasti masih emosi sama lo ” ucap Alex sambil mengusap pundak James.


“Iya lo bener,” James mengangguk.


“Ya udah sana lo istirahat,” usir Alex.


James berdiri dan berjalan gontai menuju kamarnya. Alex hanya bisa menatap punggung lelaki yang menjauh darinya.


“Semoga dari masalah ini lo bisa berubah dan lebih menghargai pasangan lo nanti” lirih Alex dengan menatap sendu punggung James yang mulai menghilang.


--*--


Didalam kamar James.


Ia segera masuk kekamar mandi untuk menyegarkan diri dan otaknya. Ia memilih berendam malam ini.


“Beri aku satu pintu maaf dari Aqila ya allah,” ucap James dengan menangis.


Ia sudah tak bisa menahan laju air matanya. Ia berteriak melampiaskan sakit dihatinya sedari tadi. Bahkan tanpa sadar ia memukul buth up tempat ia berendam hingga punggung tangannya membiru dan luka.


James segera berdiri dan segera keluar dari kamar mandi. Memakai pakaiannya dan langsung berjalan menuju ranjangnya. Ia tak berfikir sakit ditangannya karena menurut James sakit hatinya saat ini lebih dominan.


James segera memejamkan matanya dan akhirnya mengarungi indahnya mimpi.


--*--


Dikamar Aqila.


Setelah ia masuk kedalam kamar. Aqila terduduk dilantai dibalik pintu dan menangis meraung-raung. Iya benci pada dirinya sendiri yang masih mencintai James. Sudah jelas-jelas lelaki itu mengkhianatinya tetapi kenapa hatinya sang lemah dan tak tega melihat penampilan lelaki yang pernah ia cintai didepannya.


“Hiks hiks kenapa tuhan kenapa dia mengkhianatiku,” teriak Aqila.


Aqila menangis hingga kelelahan dan tertidur di lantai.


--*--


Axel yang telah mendapat info segera mencari bibi untuk meminta kunci cadangan kamar Aqila. Dan alhamdulillah kunci itu ada.


Dengan langkah cepat Axel segera memasukkan kunci itu dan berhasil.


Ceklek.


Ia membuka pintu dan jantungnya seakan berhenti. Sang adik tercintanya tergeletak diatas lantai dengan wajah pucat.


Axel segera mengangkat tubuh Aqila dan menidurkannya diatas ranjang.


“Kamu masih menangis untuknya La,” gumam Axel dengan mengusap pipi sang adik.


Badan Aqila mulai demam mungkin karena tertidur dilantai. Akhirnya Axel segera menuju dapur untuk mengambil kompresan.


Dengan telaten Axel mengompres dahi sang adik. Badan Aqila bergetar sekaligus bibir yang meracau.


“James james james,” racau Aqila tanpa sadar.


“Ya allah sedalam itu cintanya adikku untuk lelaki brengsek itu,” lirih Axel dengan menatap sendu wajah sang adik.


Setelah mengompres berulang kali akhirnya Axel yang kelelahan tidur disamping Aqila.


Tengah malam Aqila terbangun. Ia mengerang karena kepalanya sakit.


“Ughhhh,” erangan Aqila dengan memegang kepalanya.

__ADS_1


Axel yang tidur dibawahnya spontan terbangun dan khawatir.


“Aqila kamu kenapa dek?” cemas Axel.


“Kepalaku pusing kak,” lirih Aqila.


Axel mengecek dahinya dan ternyata demamnya masih. Dengan cekatan Axel mengambil makanan sekaligus obat.


“Ayo kamu paksa makan dulu baru minum obat,” ujar Axel.


Dengan penuh perhatian Axel menyuapi Aqila sampai habis lalu membantunya meminum obat. Setelah selesai Aqila berbaring kembali dan Axel pun mengompres kembali.


Perlahan kantuk menyerang Aqila dan ia tertidur lagi.


“Semoga besok pagi demammu turun dek,” ucap Axel.


Sejujurnya dirumah hanya ada Axel dan Aqila dan pelayan. Mama Angel sedang menginap dirumah Kevin dan Adel. Dan Axel pun tak ingin membuat khawatir sang mama mangkanya ia tak menghubungi sang mama.


Axel pun ikut membaringkan dirinya tidur disamping adik dan terlelap.


Keesokan harinya.


Axel sudah bangun terlebih dahulu dan segera membereskan alat kompress setelah mengecek bahwa suhu tubuh Aqila sudah normal.


Ia meregangkan tubuhnya sambil berjalan kembali ke kamarnya sendiri. Merebahkan dirinya dikasur dan ingin memejamkan matanya. Tetapi seketika ia ingat sesuai ia meraba ranjangnya mencari ponsel dan ketemu.


Menekan keyboar dengan cepat lalu mengirimnya.


“Hah aku akan tidur seharian ini,” lirih Axel lalu terlelap kembali.


Dikamar Aqila.


Aqila mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya. Ia mencoba mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya diranjang.


“Badanku sakit semua” ucap Aqila dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Aqila menatap jam dan tersenyum.


“Aku shift sore jadi aku lebih tenang. Aku turun ah laper,” lirih Aqila.


Ia berjalan ke kamar mandi terlebih dahulu dan mencuci wajahnya. Setelah selesai ia keluar kamar dan menuju meja makan.


“Selamat pagi mbak Qila” sapa bibi.


“Pagi bi,” saut Aqila dengan tersenyum.


Ya begitulah Aqila ia paling pintar menutupi rasa hatinya dengan selalu tersenyum pada semua orang. Padahal hatinya sendiri sedang sakit hancur dan remuk.


“Kak Axel kemana bi?” tanya Aqila.


“Mas Axel pasti tidur mbak kan semalaman ia jagain non Qila,” ucap bibi.


“Jadi ngerepotin kakak,” lirih Aqila dalam hati.


Dirinya menyesal kenapa harus menangis hingga tertidur dilantai dan merepotkan sang kakak ketika dirinya semalam demam.


“Hah,” menghembuskan nafas kasar.


Aqila memulai ritual sarapan paginya sendirian. Meski bibirnya pahit ia berusaha keras menelan makanan itu


--*--


Semangatin Aqila dong biar cepet move on dan buka hatinya hehehe.

__ADS_1


Ayo ayo jangan lupa LIKE. KOMEN. DAN VOTE KOIN POIN KARYA AKU INI YAH. DAN JANGAN LUPA RATE BINTANG 5


__ADS_2