Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Ban 66


__ADS_3

“Ada perasaan asing yang serasa mencubit hatiku saat melihat sebuah keluarga bahagia didepanku. Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga Allah masih menyiapkan seorang tulang rusuk untukku.” ~Rey~


.


.


.


Kehadiran Adel bersama suami serta ketiga anaknya membuat suasana ruangan Mama Ria ramai. Bahkan terlihat jelas bahwa kehadiran mereka membuat Mama Ria bahagia. Tak lupa Adel membawa buah tangan berupa parcel buah untuk mama dari temannya itu.


Saat mereka baru sampai, kelimanya langsung mengerubungi ranjang Mama Ria. Adel yang menggendong Brianna dan Kevin juga menggendong Arianna kembarannya. Sedangkan Taqy, bocah tampan itu memilih duduk dikursi yang biasa Rey duduki.


Seulas senyum terbingkai diwajah cantik Adel sambil mengusap lengan wanita paruh baya didepannya.


“Gimana keadaan tante sekarang?” tanya Adel ramah.


Mama Ria tersenyum hangat. “Alhamdulillah tante udah sehat, makasih yah.”


“Makasih buat apa tante?” tanya Adel bingung.


“Tante udah tau kalau yang mengoperasi tante adalah teman dari adikmu Aqila. Tante minta maaf karena dulu tante udah misahin adikmu dengan anak tante,” lirih Mama Ria sambil menunduk.


“Udah gakpapa tante, Adel sama keluarga udah maafin tante. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran tante,” tutur Adel lembut.


“Terima kasih banyak nak, tante sungguh malu sama kamu dan adikmu.”


“Sudah tante jangan berfikiran seperti itu, sekarang tante harus fokus sama kesembuhan tante,” ucap Adel.


Mama Ria mengangguk tersenyum.


Kevin hanya menatap ke arah istrinya, ia sungguh bahagia dan bersyukur memiliki istri yang hatinya seluas samudra. Tak pernah dendam dan selalu memaafkan. Mungkin dulu awal menikah ia pernah menyia-nyiakan istrinya itu, namun sekarang sudah tak lagi. Dia selalu bilang bahwa dirinya adalah lelaki paling beruntung bisa mendapatkan istri seperti Adel.


Setelah menyapa Mama Ria, Adel dan yang lain menghampiri Rey dan Bima yang menunggu mereka di sofa. Saling bersalaman lalu mereka mulai duduk bersama.


Masih dengan sikembar yang berada digendongan orang tuanya, namun tidak dengan Taqy. Anak tampan itu malah mendekat kepada Rey dan menatap wajah Rey seksama.


Rey sendiri yang merasa diperhatikan hanya tersenyum kecil.


“Ada apa jagoan?” tanya Rey pelan sambil mengacak rambut Taqy.


“Jangan diacak lambut aku paman ish,” kesal Taqy sambil menatap marah pada Rey.


“Wah ternyata kau sudah bisa memperhatikan rambutmu yah,” goda Rey.

__ADS_1


“Iya lah. Kata papa lambut itu halus paling kelen bial nanti banyak cewek yang telpesona sama aku,” ucap Taqy percaya diri.


Rey dan Bima yang mendengar tergelak bersamaan. Tawa mereka pecah melihat tingkah anak lelaki didekatnya yang begitu percaya diri. Adel menatap suaminya yang menggaruk kepalanya tak gatal.


Sungguh Adel hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua lelakinya itu. Memang jika dirumah Taqy dan Kevin selalu kompak akan berpakaian. Apalagi semenjak Taqy dibuatkan setelan jas dan kemeja untuknya sendiri, Kevin selalu mengajak anak lelakinya itu ke pesta kolega dan tak lupa dia selalu menunjukkan bahwa mereka berdua adalah sepasang anak dan ayah yang kompak dan tampan.


“Apa ini ajaranmu?” ejek Rey pada Kevin.


“Ya jelas dong, kan emang rambut harus rapi biar banyak wanita yang terpesona,” ucap Kevin sombong.


“Oh gitu yah, emang mau bikin terpesona siapa?” sindir Adel.


Kevin mulai gelagapan, ia sampai lupa jika ada istrinya disana. Mungkin terlalu bangga jadi dia lupa situasi.


“Ah itu yang enggak, kan namanya aja lelaki yang, jadi rambutnya harus rapi. Bener kan?” tanya Kevin pada Rey dengan memberi kode dari matanya.


Rey hanya tergelak melihat tingkah pasutri didepannya itu. Namun sejujurnya didalam hati kecilnya ada sesuatu yang dicubit. Ia ingin segera memiliki istri dan anak untuk mewarnai hidupnya. Bahkan melihat kehidupan bahagia Adel dan Kevin kadang membuatnya iri.


Adel dan Kevin yang menyadari perubahan wajah Rey juga menyadari. Ketiga orang dewasa itu saling pandang. Mereka sama tak tau apa yang dipikirkan oleh Rey.


“Rey,” panggil Adel.


Rey masih melamun. Hingga akhirnya Bima mengusap lengan bosnya. Rey tersentak lalu menatap ketiga orang didepannya.


“Oh tidak ada,” jawab Rey dengan memaksakan senyum.


“Apa ada yang salah dari kita?” tanya Adel pelan.


Rey terdiam, ia menarik nafas berat lalu menunduk.


“Sejujurnya aku juga ingin memiliki keluarga seperti kalian,“ ucap Rey.


Mama Ria yang mendengar ucapan anaknya juga merasa berslaah. Wanita paruh baya yang sejak tadi pura-pura tidur setelah ditinggal Adel untuk menghampiri anaknya menjadi menangis. Ini semua karena salahnya, mungkin jika dia tak memaksa Rey menikah karena perjodohan mungkin sekarang anaknya sudah bahagia.


Adel dan Kevin tercengang mendengar ucapan Rey ,mereka menjadi sungkan dan tak enak hati.


“Maafkan kami jika karena kami kamu....,” belum selesai ucapan Adel, Rey sudah memotongnya.


“Tidak Del, kamu gak salah. Aku hanya merasa bahwa mungkin aku juga harus menikah. Melihat umur ku saja sudah kepala 3,” ucap Rey dengan tertawa kecil.


“Sudah lupakan Rey, aku doakan kamu segera menemukan jodoh yang tepat untukmu.”


“Aamiin,” sahut mereka semua.

__ADS_1


Akhirnya suasana kekeluargaan mulai terasa didalam kamar perawatan itu. Hingga akhirnya waktu yang sudah menjelang siang membuat Kevin dan Adel mulai pamit untuk pulang.


Sepeninggalan Kevin dan Adel, Rey dan Bima kembali bekerja kembali. Mood mereka menjadi tambah membaik karena sudah menghabiskan waktu dengan canda tawa karena tingkah laku tiga anak dari Kevin. Yang satu, anak lelaki yang begitu duplikat dengan Kevin. Angkuh, cuek, tampan dan cara bicaranya pun sama. Sedangkan kedua anak perempuan kembar itu memiliki sifat yang berbeda. Yang Brianna sifatnya seperti ibunya Adel dan Arianna seperti Kevin yang lebih banyak diam.


Setelah dirasa pekerjaan mereka selesai akhirnya berkas-berkas itu mulai ditata rapi dan segera dibawa pulang oleh Bima agar besok tak akan ada berkas yang ketinggalan.


---*---


Disebuah Hotel.


Seorang gadis cantik baru saja selesai membersihkan dirinya, dia segera meraih ponsel dan melakukan panggilan telfon. Ia jadi lupa karena waktu. Semenjak datang ia belum mengabari kedua orang yang mungkin sedang menunggu kabarnya. Tadi ketika dia baru saja sampai di Hotel, Si Haura langsung saja beristirahat dikamarnya sampai waktu dhuhur tiba.


Bunyi dering ponsel masih terdengar, hingga Haura mencoba lagi menekan panggilan itu karena sudah 2 kali tak terjawab. Haura mencoba ketiga kalianya dan ia berharap akan diangkat. Menunggu dengan sabar hingga akhirnya panggilan itu tersambung.


“Assalamu'alaykum ” suara lembut dari balik telfon membuatnya tersenyum.


“Wa’alaykumsalam La,” sahut Haura senang.


“Udah nyampek? Kok baru ngabarin? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Aqila beruntun.


“Aku baik-baik aja kok tenang aja. Maaf ya tadi aku tidur jadi baru sempet kabarin,” sesal Haura.


“Iya gakpapa aku ngerti. Udah ngabarin kakakmu?” tanya Aqila.


“Hehehe belum,” sahut Haura.


“Yaudah sana cepet telfon dulu nanti kita lanjut yah,” ujar Aqila .


“Oke aku telfon kakak dulu yah,” pamit Haura.


Keduanya memutuskan telfon dan Haura mulai menghubungi kakaknya yang langsung saja tersambung dengan kakaknya itu. Keduanya mulai melakukan panggilan telfon yang berisi tentang semua hal yang harus dipatuhi oleh Haura saat jauh dari Khali.


Haura hanya bisa menurut dan menjawab iya, karena bagaimanapun ia tau bahwa kakaknya begitu sayang padanya hingga sangat khawatir padanya. Setelah panggilan itu terputus, Haura mulai memanggil asisten Haki dan pengawal wanita yang ia ajak untuk membantunya mulai menyelesaikan berkas meeting yang sama untuk kerja sama besok.


---*---


Kenapa likenya pada turun yah?


Apa udah bosen atau gimana?


Hmm tapi author gakpapa sih, author tetep sayang sama cerita ini jadi author bakal tetep nyelesain karya author ketiga ini. Insya allah bulan ini aku tamatin yah. Doakan aja pas waktunya bair cepet kerjain novel sikembar.


Ada yang kepo sama pertemuannya Si Haura dan Rey besok gak?

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK YAH. KAN GRATIS.


__ADS_2