Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 bab 79


__ADS_3

“Ternyata kebenarannya bahwa kehadiran nenekku tanpa sepengetahuan kakekku.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Keesokan harinya.


Suara Adzan subuh mulai terdengar memenuhi area perumahan. Dinginnya pagi mulai menusuk tubuh yang tak memakai selimut. Matanya mulai mengerjap pelan. Namun saat dirinya ingin memindahkan tubuhnya, ia merasakan ada tangan diatas perutnya.


Mama Angel langsung membuka matanya dan menatap samping kanan dan kirinya, seketika senyumnya memgembang saat tau jika didekatnya adalah ketiga buah hatinya dengan Khalid.


Mama Angel mulai menangis, dia mencoba merasakaan kebersamaan ini. Rasanya mereka sudah lama tak tidur bersama. Mama Angel merasa pagi ini begitu istimewa.


Namun bayangan indah itu hilang ketika ingatannya tentang semalam datang kembali. Mama Angel menatap pintu yang tertutup rapat. Dia tak boleh lengah dan anak-anaknya akan meninggalkannya. Saat ini dirinya harus menjadi ibu yang lebih kuat dan tangguh. Dia harus berani melawan semua masa lalunya.


Mama Angel mulai menarik nafas dalam dan melepaskan dekapan tangan dari ke dua anaknya. Turun dari ranjang dengan hati-hati lalu segera membersihkan diri. 10 menit kemudian Mama Angel telah keluar dengan pakaian bersih dan bersiap melakukan ibadah sholat.


Mendengar suara takbiratul ihram, Aqila mulai mengerjapkan matanya. Gadis itu perlahan duduk dan melihat bahwa disamping dirinya kakak lelakinya masih tertidur. Aqila mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang sedang melakukan kewajiban setiap umat muslim. Aqila bangga memiliki mama seperti Angel.


Mungkin mamanya memang mualaf namun dia sukses mendidik ketiga anaknya dengan kehidupan yang pas-pasan. Jika mengingat masa lalu, Aqila kadang sedih. Mereka tinggal menjadi keluarga sederhana tanpa ayah. Posisi ayah digantikan oleh kakaknya Adel dengan bekerja di Restaurant. Sekolah saja mereka harus mencari sekolah yang murah. Mengingat itu hati Aqila sakit dan semakin menambah kekecewaan kepada kedua kakek dan neneknya.


Lamunan Aqila buyar saat suara lembut itu memanggilnya.


“Lagi mikirin apa sayang?” tanya Mama Angel pelan.


“Gak ada ma.” Aqila menggeleng pelan memaksa tersenyum.


“Ya sudah kamu sekarang mandi dan sholat yah.” Perintah Mama Angel.


Aqila mengangguk, dirinya langsung keluar dari kamar mamanya menuju kamar tercintanya.


Ceklek.


Dibukanya pelan pintu itu lalu ditutupnya kembali. Dirinya segera bergegas mandi. Mengingat waktu subuh adalah waktu sholat paling pendek. Hingga wajib kaum manusia harus melaksanakan sholatnya sebelum telat.


Setelah berkeluh kesah dengan sang illahi, ponsel miliknya berdering. Aqila beranjak dengan memakai mukenah lalu mengambil ponselnya.


“Khali,” gumam Aqila pelan.


Dirinya segera menggeser icon hija untuk menerima panggilan.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.


“Wa’alaykumsalam, ngapain?” tanya pria di seberang.


“Selesai sholat. Kamu sendiri?” tanya Aqila.


“Sama dan sekarang aku lagi lihat jendela seorang gadis tertutup,” ucap Khali.


“Hah! Jendela gadis siapa?” tanya Aqila bingung.


“Mendekatlah ke jendelamu dan buka tirainya.”


Aqila menurut, setelah memakai jilbab dia mendekat ke arah tirai. Dibukannya pelan jendela kaca itu dan keluar. Menghirup aroma angin yang segar dan bau tanah yang tercium membuat Aqila sedikit tenang. Ponsel masih ebrada digenggaman tangan kanannya menempel pada telinga.


Eh tapi dia lupa bahwa telfonnya masih tersambung, saat merasakan telfon masih ditelinganya dan suara hembusan nafas.


“Masih disana?” tanyanya.

__ADS_1


“Kamu cantik ketika memejamkan matamu,” ucap Khali.


Aqila membulatkan matanya, bagaimana dia bisa tau pikrinya. Aqila mulai menatap sekelilingnya dan,


Deg.


Jantungnya berdegub kencang melihat lelaki yang ia rindukan berada di salah satu balkon kamar rumah Kevin. Aqila melambaikan tangannya pelan dan dibalas lambaian tangan oleh Khali.


“Jangan menangis,” ucap Khali pelan dari sambungan telefon.


“Iya aku gak nangis.”


“Bagus. Itu baru gadisku. Nanti bolehkah kita bertemu?” tanya Khali.


“Boleh banget, datanglah langsung ke taman belakang rumahku yah,” ucap Aqila.


“Oke.”


Setelah itu panggilan terputus dan Aqila mulai masuk kembali ke dalam kamar saat melihat Khali juga beranjak dari posisinya.


Dia langsung berjalan menuju dapur. Suara dentingan alat dapur membuatnya yakin jika sudah ada seseorang disana.


“Mama, Haura.” teriak kaget Aqila.


“Astagfirullah sayang. Kamu ngagetin mama aja,” ucap Mama Angel.


“Hahahaha maafin Qila ma,” ujar Aqial cengengesan.


“Udah gakpapa sayang,” Mama Angel menggeleng.


“Mama sedang masak apa?”


“Masak nasi goreng.” Bukan suara Mama Angel melainkan Haura yang menjawab.


“Ih apaan sih,” sungut Haura.


“Wah Haura udah ada calon?” tanya Mama Angel.


“Belum ada tante, Qila aja yang sembarangan,” ucap Haura sambil mendelik sebal ke arah Aqila.


Mama Angel hanya bisa menggeleng melihat tingkah keduanya. Mama Angel kembali fokus dengan memasak nasi goreng. Bau harum nasi goreng sudah menguar do seluruh dapur. Bahkan sesekali Aqila mengambil sedikit nasi goreng melalui sendok dengan dalih mencicipi. Tentu saja hal itu juga diikuti oleh Haura.


Setelah nasi goreng siap, Mama Angel mulai menatanya diatas piring lalu ditata rapi di atas meja makan.


Tepat pukul 06.00 pagi. Semua orang berkumpul di meja makan. Mereka mulai memakan sarapan hingga habis. Setelah itu Aqila mulai membantu mamanya membersihkan meja makan.


---*---


Sesuai dengan telfonnya tadi subuh, Aqila berjalan menghampiri Khali yang sudah duduk di meja taman.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila sambil tersenyum.


“Wa’alaykumsalam.”


Aqila perlahan duduk didepan kursi Khali. Keduanya sama-sama diam, namun Khali diam karena memikirkan masalah ini. Sedangkan Aqila diam untuk menenangkan degub jantungnya. Bagaimanapun jika bersama Khali masih ada rasa gugup dalam dirinya sendiri. Setelah lama diam akhirnya Khali mulai mencoba mengatur nafasnya.


“Apa kamu masih kecewa sama mereka?” tanya Khali tiba-tiba.


Aqila sontak saja kaget dan menatap wajah lelaki yang bisa menggetarkan hatinya.


Lama Aqila terdiam kemudian dia mulai menunduk.

__ADS_1


“Masih malahan aku sangat kecewa pada mereka,” sahut Aqila dengan wajah sedih.


“Bukankah nenek sudah mau kesini dan mencari kalian?” tanya Khali lagi.


“Kenapa baru sekarang dia mencari kami. Atau mungkin dia tau tempat kami dari keluarga kamu?” tebak Aqila.


Tepat sasaran.


Khali terdiam, bagaimana bisa calon istrinya ini begitu tepat dalam menebak bahkan dalam sekali tebakan dan langsung kena. Dia mulai bingung apa harus memang jujur jika keluarganya yang memberitahu atau tidak.


“Kenapa diam? Bener kan?” tanya Aqila lagi.


Khali mulai menghembuskan nafasnya berat dan menatap aqila.


“Lihat aku,” pinta Khali.


Aqila menghadap Khali dan menatap dalam pada dua manik mata teduhnya.


“Nenek dan kakek kamu sudah sejak awal papa kamu pergi mereka mencari. Namun sayangnya Paman Khalid begitu cerdik dan mengubah identitasnya lalu lari kemari. Hingga akhirnya mereka kesulitan mencari kalian dan mulai menyerah. Namun mereka selalu berdoa semoga Khali dan Angel mau kembali ke Arab.” Khali menjeda sesaat kemudian menatap mata Aqila kembali dalam-dalam.


“Lalu saat kemarin kami ke Arab memang selain untuk pekerjaan kami juga ingin bertemu Kakek dan nenek kalian untuk masalah ini. Namun....,” Khali menggantung.


“Namun apa?” tanya Aqila.


“Kakek kamu masih dengan keegoisannya berbeda dengan nenek kamu.”


Aqila menatap Khali dengan tatapan tak percaya. Dia tak menyangka bahwa kakeknya masih begitu egois meski kehilangan anaknya selama ini. Bagaimana jika dia tau bahwa anaknya sudah meninggal? Bisa dipastikan bahwa mamanya yang akan disalahkan.


Aqila menghadap ke depan dengan tatapan kosong. Namun raut kesedihan terpancar jelas dimatanya. Khali menjadi kasihan ingin ia memeluknya namun dia ingat batasan antara keduanya. Akhirnya Khali memberi semangat melalui perkataannya.


“Jangan sedih, wanitaku kan kuat,” gurau Khali.


Aqila tersenyum kecut tanpa menatap Khali. “Lahir tanpa tau wajah ayahku dan tak tau kakek dan nenekku hingga sekarang. Lalu saat mereka tau keberadaan kami, mereka hanya ingin mencari anaknya saja.” lirih Aqila.


“Aku merasa kadang takdir Allah kepadaku begitu tidak adil.”


“Apa gadisku tak percaya bahwa setiap Allah memberikan masalah dan ujian akan ada hikmah dibalik itu semua?” tutur Khali lembut.


Aqila masih terdiam namun ia mendengar dengan baik ucapan Khali. Semua yang dikatak lelaki itu benar. Dia percaya apa yang Allah berikan pasti ada bonus dibaliknya. Aqila mulai menatap Khali perlahan.


“Aku percaya, hanya saja kenapa ujian selalu datang kepada kami?”


“Karena Allah yakin dan tau bahwa keluargamu bisa melalui semua ini.” Yakin Khali.


Memang benar, dulu saat dia hidup bersama keluarga tanpa kehadiran ayahnya. Hidupnya juga bahagia bahkan kasih sayang dan cinta sellau diberikan oleh kakak dan mamanya. Tak ada kekurangan kasih sayang pun dihidupnya. Itu tandanya memang semua ujian yang Allah kasih ada banyak hikmah dihidupnya.Salah satunya adalah keluarga yang begitu harmonis dan bahagia. Mengingat masa lalu masih berempat membuat Aqila tersenyum dalam diamnya.


Khali sendiri yang melihat gadis didepannya tersenyum dalam diamnya menjadi tau bahwa gadisnya pasti sedang memikirkan semuanya. Mungkin dia sekarang akan mencoba untuk menerima kehadiran neneknya.


“Apa kau tak merindukan nenekmu?” tanya Khali pelan dengan tiba-tiba.


“Sejak dulu aku sangat merindukan kakek dan nenekku, membayangkan wajah mereka seperti apa.Namun melihat foto ayahku yang tampan aku bisa mengerti pasti kakek dan nenekku sangat tampan dan cantik. Ternyata memang benar kan? semalam nenekku begitu cantik,” ujar Aqila.


“Nah pumpung Nenek Fatimah ada disini ayo ikut aku menemuinya,” ajak Khali dengan berdiri.


---*---


Gimana gimana? Aqila mau gak yah ketemu Ratu Fatimah.


Uhuyy si Prince emang pandai buat nenangin hati sama nasihat-nasihat. Ya tuhan pen cubit dikau aja Prince hihi.


Udah-udah jan halu dipagi hari Thor😅

__ADS_1


LIKE DAN KOMENNYA GUYS JAN LUPA.


Kalau boleh minta votenya juga dong, biar karya ini bisa naik ranking.


__ADS_2