Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 68


__ADS_3

“Aku tak menyangka akan hasil ikhtiyar dan doa ikhlas pada sang pencipta, melibatkan segala hal dengannya dan ternyata hasil akhirnya begitu menenangkan jiwa dan membahagiakan hati.”


.


.


.


Bandar Seri Begawan.


Pekerjaan Aqila semakin hari semakin banyak. Sepulang dirinya dari rumah sakit, dia langsung mengerjakan tugas dari sang kakak iparnya lewat email. Hubungannya dengan Khali juga masih tetap, bahkan setelah dari Bandara, mereka sudah tak pernah bertemu.


Namun Aqila juga sudah memantapkan hatinya, dia juga sudah mulai punya jawaban atas lamaran dari Khali. Buah dari kesabarannya memanjat doa pada Allah, dan juga tak lupa banyak melibatkan Allah menjadikan hati dan pikirannya mantab akan satu hal.


Dia selalu berdoa pada Allah untuk didekatkan dengan jodohnya, jika tak jodoh maka jauhkan. Aqila sendiri sekarang tak terlalu berharap pada makhluk ciptaan Allah. Dia takut sakit kembali, dia takut hatinya kembali rapuh. Jadi sekarang dia mulai menguatkan hatinya dengan bantuan Allah.


Pagi ini adalah hari libur bagi Aqila. Sesuai dengan jadwal bersama Dini. Mereka akan menghabiskan waktu liburnya di Apartmen Aqila.


Keduanya akan memasak bersama dan membersihkan apartemen bersama-sama. Beginilah jika mereka memiliki jadwal libur bareng. Melakukan hal yang bermanfaat bagi keduanya serta membantu satu dan yang lain.


Saat ini kedua wanita berbeda darah itu sedang menyiapkan segala bahan yang akan mereka masak. Bahkan sesekali terdengar canda tawa dari keduanya.


“Kita mau masak apa La?” tanya Dini bingung.


“Gimana kalau kita masak sesuai selera kita,” ajak Aqila.


“Boleh, emang kamu mau masak apa?” tanya Dini.


“Aku pengen makan mie apong yang pedes banget terus atasnya ada taburan ayam dan tak lupa ada kuahnya juga, uhhh nikmat sekali.” Aqila seperti membayangkan sambil sesekali membasahi bibirnya.


“Hahahha udah jan dibayangin lihat tingkahmu,” ejek Dini.


“Huh dasar emang gak pernah suka liat orang bayangin makanan,” gerutu Aqila.


“Hahaha aku cuma kasihan sama perutmu udah lapar tapi kamu bayangin aja. Sana mending masak,” celetuk Dini.


Aqila mengangguk lalu mereka memulai memasak. Dini yang saat itu juga ingin makanan seperti Aqila akhirnya dia membantu Aqila membuat mie apong. Segala bahan makanan semua tersedia, karena memang jika Aqila ingin makanan Indonesia, maka David yang akan jadi perantara pengiriman dari kelaurganya dirumah.


Setelah berkutat hampir 1 jam lebih, akhirnya mie apong itu jadi, bahkan merahnya cabe sudah membuat kedua liur gadis itu ingin menetes. Perlahan mereka menata makanan itu diatas meja makan. Tak lupa keduanya membuat minuman segar untuk keduanya.


Melihat semua makanan dan minuman telah tertata rapi, Aqila dan Dini segera duduk dikursi yang tersedia. Tak lupa memanjatkan doa sebelum makan lalu mulai menyantap makanan dengan sangat lahap.


---*---


Di sebuah ruangan.


Terdapat keempat orang sedang duduk mengelilingi meja. Wajah keempatnya saling bersitatap serius. Setelah mendapatkan kabar dari orang suruhannya. Perubahan wajar mereka terlihat.


Keempat orang itu yang tak lain adalah Khali, Ibra, Raja Malik dan Ratu Mayra. Mereka sudah mendapat kabar tentang Kerajaan Arab. Kondisi dan sikon semuanya sudah didapat.


Rencananya kali ini Raja Malik dan Anaknya Khali akan datang berkunjung kesana. Mereka akan bertemu dengan Ayah Ibu Khalid yang sudah berusia lanjut namun masih sehat wal’afiat.


Menurut kabar yang di dapat, kedua ornag tua itu sudah menyuruh dan meminta orang keamanan kerajaan untuk mencari keberadaan anak lelakinya yang pergi beberapa tahun yang lalu.


Tentu saja kabar ini menjadi kabar baik untuk Raja Malik dan Khali. Mereka seperti mendapat peluang untuk mempertemukan menantu dan cucunya dengan kedua orang tua dari ayah mereka.


Mereka menggunakan bahasa melayu.


“Terus kapan kita berangkat abi?” tanya Khali.


“Besok nak, bagaimana?” tanya Raja Malik.


“Kalau aku terserah abi. Aku siap kapan pun saja,” ujar Khali.


“Umi ikut ya abi,” ucap Ratu Mayra.


“Tentu saja sayang, kamu selalu menemaniku,” sahut Raja Malik sambil mengecup tangan sang istri.

__ADS_1


“Wow wow tenang abi, ingat disini ada dua lelaki jomblo,” ucap Khali menunjuk dirinya dan Ibra.


Ibra sendiri hanya tersenyum kecil, dirinya memang sudah dianggap anak oleh Raja Malik dan Ratu Mayra. Oleh sebab itu, terkadang Ibra tinggal didalam istana. Bahkan mereka terkadang makan satu meja makan. Namun sering kali Ibra yang memberi banyak alasan ketika keluarga Khali memintanya bergabung.


Menurutnya keluarga Raja Malik sudah terlalu baik dengan dirinya. Dirinya banyak dicurahi kasih sayang meski bukan termasuk keluarga mereka.


Lamunan Ibra buyar karena gerakan sikutan Khali.


“Ada apa Ibra?” tanya Khali.


“Tidak ada tuan,” sahut Ibra sopan.


“Kau masih sama saja nak, bersikaplah seperti putraku jika hanya ada kita,” ujar Raja Malik.


Ibra menatap lelaki paruh baya didepannya, matanya berkaca-kaca mendengar suara tulus bahkan tatapan teduh itu. Ibra tersenyum dan mengangguk.


“Iya ayahanda maafkan saya,” ujar Ibra.


“Baiklah tak apa kau berbicara sopan yang pasti kau mau merubah panggilan mu seperti itu kepadaku,” ucap Raja Malik.


Ratu Mayra hanya ikut tersenyum. Dia memang sudah menganggap Ibra seperti putranya. Dia tak pernah membedakan kasih sayang kepada mereka. Hanya memang Ibra sendiri yang kadang malu pada mereka.


Setelah obrolan panjang itu berakhir, mereka semua segera kembali ke kamar masing-masing. Khali sendiri segera melaksanakan sholat dhuha seperti kebiasaannya. Dia berganti pakaian dulu dan membersihkan dirinya. Melaksanakan sholat dua rakaat dan tak lupa membaca alquran.


“Shadaqallahul Azhim,” lirih pria berjubah putih panjang dengan kopyah dikepalanya.


Mengusap kedua tangannya pada wajah lalu tak lupa mencium kitab suci Alquran. Khali segera berdiri dan meletakkan Alquran pada tempatnya, lalu tak lupa mengganti gamisnya dengan baju santai.


Lelaki itu memilih menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menatap berkas yang ada diatas meja dikamarnya.


“Aku tak ingin mengeluh ya allah, tapi kenapa berkas ini selalu banyak setiap harinya,” ringis hati Khali.


Saat tangannya hendak mengambil berkas, ponselnya berbunyi. Khali mengurungkan niatnya mengambil kertas putih itu. Ia lebih tertarik mengambil benda pipih miliknya.


Dilihatnya id nama pemanggil dan senyum kecil mendarat di bibir kissable nya.


“Wa’alaykumsalam,” sahut suara merdu dibalik telfon.


“Ada apa La?” tanya Khali.


“Emm bisakah kita bertemu?” Tanya Aqila ramah.


“Kapan?” tanya balik Khali.


“Nanti malam,” ujar Aqila.


“Baiklah bisa. Dimana?” tanyanya lagi.


“Kita ketemu di dekat Masjid Omar jam 7 malam setelah sholat isya,” ucap Aqila pelan.


“Oke.”


“Jangan lupa ajaklah Ibra biar kita tak berduaan. Aku juga mengajak Dini,” ucap Aqila lagi.


Khali tersenyum. Ia merasa gemas dengan tingkah gadis diseberang telfonnya itu tapi dia juga mengiyakan. Setelahnya panggilan sudah terputus dan Khali meletakkan ponselnya kembali. Sekarang yang menjadi pikirannya hanya satu. Untuk apa Aqila mengajaknya bertemu.


----*----


Semenjak keberangkatannya dari Apartemen, Aqila merasa tangannya dingin. Bahkan sesekali dia meremas tangan Dini yang ia genggam. Dini sendiri tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan sahabatnya itu.


“Tenanglah, rilex dong,” goda Dini.


“Aku merasa grogi serius loh Din,” ujar Aqila lirih.


“Ya tuhan gitu aja udah grogi. Apalagi nanti kalau mau ijab kabul. Lari tu jantung,” goda Dini.


“Ih ngeselin deh,” kesel Aqila.

__ADS_1


Begitulah Dini. Ia pandai mencairkan suasana, bahkan Dini memang orangnya ceria, dan mudah bercanda. Siapa saja yang dekat dengannya pasti merasa senang dan nyaman.


Sesampainya di dekat Masjid Omar. Aqila dan Dini mengedarkan pandangannya. Mencari obyek yang mereka tuju. Seketika tatapan Aqila membeku. Matanya menatap lelaki yang berjalan ke arahnya.


Dia terpesona.


Disana seorang lelaki tinggi, gagah, dan badannya yang kekar terlihat begitu tampan. Pakaian gamis putih panjang sampai mata kaki yang sangat berbeda dengan pakaian biasa dia pakai. gamis itu membalut tubuh kekar dengan begitu pas. Bahkan wajah tampan yang banyak diidam-idamkan oleh kaum wanita itu terlihat berseri-seri.


Karena terpesona sampai-sampai Aqila tak menyadari jika dihadapannya sudah ada lelaki yang ia tunggu. Dini sendiri sampai menepuk jidatnya melihat temannya begitu melamun disamping tubuhnya. Dini segera menyenggol tubuh Aqila hingga sang empu tersadar.


“Astagfirullah,” lirih Aqila tersadar dengan menunduk.


Dirinya sudah yakin jika kedua pipinya sudah memerah semerah tomat. Ia sungguh malu kepergok sedang mengagumi ciptaan-NYA.


Khali tersenyum. “Assalamu’alaykum”


“Wa’alaykumsalam,” sahut Aqila.


“Ada apa mengajakku bertemu disini?” tanya Khali pelan.


Aqila diam, sungguh ia sejak tadi juga sudah berdzikir untuk lebih memantapkan hatinya. Jawaban ini pasti akan mempengaruhi segala masa depannya. Diterima atau tidak pasti akan merubah semua dihidupnya. Aqila berjalan agak menjauh dari Dini. Dia menatap Masjid Omar diseberang.


Dalam hatinya tak henti-hentinya Aqila memanjat doa pada Allah.


“Ya allah restuilah jawabanku ini” ucap Aqila dalam hati.


Aqila menatap sampingnya yang sudah ditempati Khali. Ia pandangi wajah tampan, hidung mancung itu, rahang tegas dan tubuh kekar itu tepat berada tak jauh darinya. Khali yang merasa diperhatikan juga menatap kekiri.


Pandangan mereka bertemu. Terkunci satu dengan yang lain. Kedua mata itu menyiratkan sebuah kerinduan karena mereka tak bertemu semenjak dari Bandara.


Aqila mulai mengatur nafasnya dan menatap lebih dalam mata Khali.


“Aku kesini ingin memberikan jawaban lamaran dari istikhorohku,” ucap Aqila mantap.


Deg deg deg.


Jantung Khali berdegub kencang. Dirinya sungguh takut mendengar penolakan dari gadis itu. Dia juga tak kalah dari Aqila. Khali memanjatkan banyak doa untuk kebaikan dirinya dan Aqila. Ia meminta semoga ia mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.


Aqila tersenyum kecil melihat wajah Khali yang sudah gusar.


“Jangan gusar,” goda Aqila.


Khali tersenyum kikuk, tapi dia mencoba menatap mata gadis itu.


Pandangan mereka kembali bertemu, bahkan kedua bibir mereka saling tersenyum. Perlahan mulut Aqila mulai terbuka.


“Bismillahirrahmanirrahim. Aku....,“ ucap Aqila menggantung.


Khali masih menunggu.


“Aku menerima pinanganmu pangeranku.”


----*----


Khali : Wah lihat mak aku diterima loh mak. Aku gak jomblo lagi.


Author : Iya alhamdulillah selamat yah. Cium tangan emak dulu, sungkem yah.


Khali : Iya mak, sini mak aku peluk dan cium dulu.


Wahahahahaha aku yang nulis sambil gedag gedug ae atine.


Duhh gemes deh sama kalian nih, pen tak cubit dua-duanya.


Hayo yang milih pasangan Khali & Aqila.


JANGAN LUA LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK YAH, JANGAN LUPA VOTENYA PULA.

__ADS_1


__ADS_2