
“Bolehkah aku merindukanmu sebentar saja? Menurutku dua hari kedepan begitu lama membuatku ingin meloncat pagar rumah demi bertemu denganmu.” ~Khali Mateen~
.
.
.
Tepat hari ini sudah dua hari mereka tak bertemu. Itu tandanya pernikahan mereka akan dilaksanakan lusa. Namun entah kenapa sejak pagi Khali memberengut di ruang tamu rumah Kevin.
Semua orang hanya menahan tawa karena sudah tau kenapa sikap pangeran tertua itu. Sikap dewasa, sikap angkuh dan wibawanya menjadi menguap. Yang ada hanya sikap seorang lelaki yang ingin ketemu calon istrinya.
Khali hanya duduk diam di ruang tamu sambil mengecek pekerjaannya lewat laptop. Dirinya tak memperdulikan semua orang yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Saat asyik melihat laporan, ponsel Khali berbunyi.
“Ya assalamu’alaykum Ibra,” ujar Khali setelah menggeser icon hijau.
“Wa'alaykumsalam, Apa benar tuan akan menikah?” tanya Ibra to the point.
“Iya benar lusa aku menikah. Kenapa?” tanya Khali enteng.
“Tuan kenapa tidak bilang padaku. Tidak ada kabar sama sekali dari tuan,” ujar Ibra terdengar kesal disana.
“Hehehe iya aku lupa memberitahumu,” sahut Khali sambil menepuk keningnya.
“Pasti kalau aku tak bilang, tuan tak akan mengatakan,” ucap lelaki diseberang.
“Ya nggak lah. Aku bakal kabarin, tapi emang aku lupa banget sibuk dari kemarin,” ujar Khali.
Ibra hanya mengangguk diseberang kemudian keduanya mulai membahas tentang pekerjaan. Lalu Ibra juga mengatakan akan ke Jakarta besok. Dia juga ingin menyaksikan hari bahagia tuannya itu. Tentu saja ucapan Ibra diterima dan disetujui oleh Khali langsung. Bagaimanapun kedua lelaki ini adalah kesatuan. Keduanya sangat bekerja sama dan kompak. Khali sendiri sudah menganggap Ibra sebagai kakaknya. Karena memang Ibra sangat mengayomi Khali selama ini.
Panggilan keduanya terputus dan Khali segera meletakkan ponselnya ke meja. Dirinya ingin mencoba ke lantai dua untuk melihat Aqila lewat balkon yang berhadapan dengan kaca balkon rumah Kevin.
Dibukanya pintu balkon itu oleh Khali, dirinya mulai keluar dan menatap balkon Aqila yang sepi. Pintu tertutup rapat dan gorden pun juga sama tertutup. Khali masih disana menunggu, ia sudah merindukan gadis itu namun mau bagaimana lagi. Jika dia nekat bertemu maka uminya pasti akan marah-marah padanya.
---*---
Rumah Aqila.
Jika Khali sedang menunggu Aqila di balkon. Berbeda dengan Aqila, saat ini Aqila dan Adel sedang tertawa terbahak-bahak. Dengan posisi Adel yang mengintip dari gorder kamar Aqila dan Aqila yang sedang melakukan panggilan telfon.
Teringat obrolannya dengan Haura beberapa menit yang lalu. Obrolan yang membuat kedua adik kakak itu tertawa lepas sampai meneteskan air matanya.
🍵🍵🍵
Saat Aqila sedang membantu mamanya di dapur tiba-tiba ponselnya berbunyi. Aqila segera merogoh dan mengernyitkan alisnya saat tau id nama Haura yang memanggil.
Digesernya icon hijau itu kemudian segera menempelkan ke telinganya.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum Ra,” ucap Aqila.
“Wa’alaykumsalam La, kamu dimana?” tanya Haura diseberang.
“Di dapur kenapa?”
“Hahahaha pindah panggilan ini ke video dan lihatlah sesuatu yang akan membuatmu tertawa,” titah Haura.
Aqila mulai mengganti ke video kemudian terlihat di layar hp seorang lelaki yang ia tau siapa sedang duduk di ruang tamu sambil memasang wajah jutek dan mengetik keyboard di laptop dengan tak sabaran.
“Kenapa kakakmu Ra?” tanya Aqila dengan tersenyum lebar.
“Dia itu merajuk pengen ketemu kamu,” ledek Haura.
“Astaga ya allah hahahah.” Suara tawa Aqila membuat Adel dan Mama Angel yang sedang memasak menjadi penasaran.
Dua wanita itu mendekat ke arah Aqila yang sedang menatap layar itu.
“Kenapa La?” tanya Adel saat disamping adiknya.
“Astagfirullah kakak ngagetin aja,” ucap Aqila.
“Itu kenapa nak?” Mama Angel mengulang lagi pertanyaan Adel.
“Hihi Haura bilang Khali sedang uring-uringan ma pengen ketemu Qila,” ucap Aqila dengan tersenyum malu.
“Hahahaaha lucu banget ma,” sahut Adel.
“Wah tante inget muda yah,” celetuk Haura.
Wajah Haura memenuhi layar dan menyapa Adel dan Mama Angel. Ketiganya mengobrol bersama hingga ucapan Haura yang tiba-tiba membuat Aqila dan Adel saling pandang.
“Kakak ke lantai dua, aku tebak dia bakal ke balkon yang berhadapan sama kamarmu La. Ayo sana ke kamar coba La.”
Keduanya beradu pandang lalu menatap Mama Angel.
“Lihatlah ke atas namun biar Kak Adel aja yang tengok,” ucap Mama Angel dengan diiringi senyum kecil.
“Siyapp ma.” Jawab kedua kakak beradik itu.
Aqila dan Adel segera melangkah ke kamar. Lalu Adel berjalan mengendap ke gorden yang tertutup sedangkan Aqila ke ranjang. Dan benar saja tebakannya , disana Khali menatap terus ke arah balkon kamar Aqila membuat tiga orang itu tertawa terbahak.
🍵🍵🍵
“Kasihan Khali La,” ucap Adelm
“Ho.oh kak tapi mau bagaimana lagi” ujar Aqila.
__ADS_1
Adel mengangguk. Bagaimana lagi ini memang permintaan Mama Angel. Dia yang menginginkan adanya pingitan di pernikahan anaknya. Jadinya ya seperti ini harus menahan rindu yang harus ditahan sampai lusa.
--*--
Sore harinya orang-orang mulai banyak yang datang. Kesepakatan anggota keluarga jika dirumah Aqila akan ada pelaminan sederhana untuk berfoto ria bersama keluarga dan undangan yang diundang untuk momen kenang-kenangan.
Aqila setuju karena menurutnya ini akan sederhana dan tak akan memakan biaya yang cukup besar. Menurutnya lebih baik uang untuk pernikahan mereka digunakan untuk masa depan keduanya saja. Daripada harus dibuang hanya dengan waktu sekejap.
Para dekorasi pelaminan sudah datang. Mobil angkut pun sudah diam didepan rumah Aqila. Pekerja mulai menggotong royong mengeluarkan semua hiasan pelaminan dari mobil lalu di masukkan ke dalam rumah Aqila. Rencananya pelaminan itu akan diletakkan ditaman belakang, karena disana tatanannya sudah indah dan bagus.
Aqila dibantu Adel membawakan minuman untuk para pekerja. Mereka membawa nampan berisi jus buah dan cemilan lalu meletakkannya ke meja taman.
“Silahkan mbak,” ucap Aqila tersenyum ramah.
Ia sudah bisa menebak jika wanita yang duduk dibangku ini adalah bos dari bagian dekorasi.
“Makasih ya mbak ” sahutnya sopan.
Aqila dan Adel mengangguk lalu undur diri. Mereka memilih membantu mamanya yang sedang menyiapkan hantaran untuk calon suaminya.
Tadi pagi memang Kevin dan Rudi meminta bantuan Adel juga membeli segala perlengkapan untuk hantaran. Sejujurnya mereka tinggal menyuruh orang bisa. Namun karena ini pernikahan Aqila membuat mereka mau berjalan ke mall dan mencari semuanya sendiri.
“Apa sudah lengkap ma?” tanya Adel sambil duduk di ranjang kamar Aqila.
“Sudah sayang, tinggal kita kasih ke bagian menghias kotak hantaran aja,” sahut Mama Angel.
“Apa harus seribet ini ya ma kalau nikah,” celetuk Aqila tiba-tiba.
“Ya nggak sayang, tapi ini udah sederhana banget loh gak ribet,” ucap Mama Angel sambil mengusap kepala sang anak yang tertutup hijab.
“Tapi tetep aja ya ma rame sama banyak orang.”
“Yaiya dong dek namanya aja mau nikah,” sahut Adel.
Aqila memilih tak menjawab dan segera merebahkan dirinya di ranjang kamarnya tepat disamping mamanya. Dia memejamkan matanya singkat karena merasa lelah dengan semua yang sudah ia kerjakan seharian ini.
Inilah salah satu alasan ia tak mau pernikahan megah. Selain menghabiskan uang. Ini juga membuat semua pekerjaan harus lebih ekstra dan banyak pekerjaan penting yang tersendat. Namun Aqila hanya bisa pasrah karena ia juga tak ingin nenek, kakek, keluarga Khali dan keluarganya sedih jika ia menolak adanya rencana kecil-kecilan ini.
--*--
Ada yang udah gak sabar gak buat pernikahan besok?
Undangannya aku sebar di ig yah hehehe. Jan lupa hadir yah. Biar bisa potret sama Si Khali dan Aqila.
Author juga udah dapet visualnya Khali loh. Ah rasanya gemes uyy.
Udah kalau kepo follow ig author @ini_jblack
__ADS_1
Biar bisa pantengi foto para visual hehe.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.