Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 7


__ADS_3

“Jika berada disekitarmu barang itu tak berguna lebih baik berikan pada orang lain yang lebih membutuhkan.” ~Aqila~


.


.


.


Aqila berjalan berkeliling dirumah impiannya, beberapa lemari buku sudah tertata rapi di ruangan perpustakaan dalam rumah. Ruangan yang seharusnya menjadi kamar dirubah menjadi perpustakaan besar.


Aqila tersenyum senang, cat yang sudah ia rombak menjadi lebih manis, dan dinding terdapat manik manik gambar bertema anak-anak membuat kesan nyaman bagi anak-anak jika bermain disana.


Dihalaman depan pun sudah ditambah dengan beberapa mainan untuk anak-anak, seperti ayunan, prosotan, dan lebih banyak lagi. Dan juga kolam ikan pun menjadi lebih berwarna karena Aqila meminta mengisinya dengan ikan-ikan koi yang lucu.


Bunga teratai indah mengapung di air kolam, dan taman yang asri membuat siapa saja yang datang akan menjadi betah dan senang. Aqila beralih ke kebun belakang. Buah-buahan yang tumbuh pun terlihat sehat dan segar. Aqila memetik sebuah apel dan segera membawanya ke kran air untuk dicuci.


Setelah dicuci ia duduk di hamparan rumput sambil memakan buah apel dengan tenang.


“Ah manis sekali,” gumam Aqila menatap apel ditangannya.


Ia terus mengunyah apel itu hingga habis dan berdiam diri disana sambil matanya menatap indahnya kebun didepan matanya.


Cukup lama berdiam diri disana, Aqila masuk dan merebahkan dirinya di ranjang tempatnya istirahat. Beberapa menit akhirnya Aqila sudah terlelap.


--*--


Di waktu yang bersamaan.


Seorang lelaki tampan keluar dari Bandara dengan mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Karena kepopulerannya dan ketampanannya siapa yang tidak mengenalnya.


Bahkan akun media sosialnya pengikutnya sudah berjuta-juta orang. Dan sejujurnya pemegang akunnya itu ada orang kepercayaan, hanya sesekali saja dia membukanya. Karena memang pekerjaannya yang banyak dan sering berkeliling dunia membuatnya tak punya waktu meladeni media sosial.


Pangeran Khali berjalan diikuti Asisten Ibra dibelakangnya. Mereka berjalan menuju mobil yang sudah siap menjemputnya. Keduanya segera masuk kedalam setelah sopir membukakan pintu.


Pangeran Khali segera membuka masker dan topi.


“Alhamdulillah akhirnya bebas juga,” ucap syukurnya.


“Iya tuan alhamdulillah. Maafkan saya yang tidak menutup Bandara ini,” ucap sesal Ibra.


“Sudah lah tidak perlu minta maaf Ibra. Itu keinginanku memang,” saut Pangeran Khali.


Sopir melajukan mobilnya meninggalkan Bandara, sepanjang perjalanan Khali fokus pada tabletnya.


“Bagaimana besok Ibra?” tanya Khali.


“Besok kita melakukan pertemuan di Perusahaan Tuan Kevin, tuan,” ucap Ibra.


“Baiklah,” seru Pangeran Khali.


Mobil melaju sedang membelah jalanan yang mulai sore. Kepadatan Jakarta masih terlihat meski tak seperti dipagi hari. Mobil berhenti di depan sebuah Hotel dekat Perusahaan Kevin.

__ADS_1


“Besok siapkan saya mobil agar saya mengendarai sendiri,” ucap Ibra dingin.


Supir itu mengangguk lalu meninggalkan hotel itu setelah memastikan kedua lelaki tampan itu masuk kedalam Hotel.


Ibra memesan satu kamar hotel untuknya dan untuk Pangeran Khali. Keduanya beriringan masuk ke dalam lift dan memencet tombol untuk keatas.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Keduanya keluar dari lift dan berjalan beriringan menuju kamar masing-masing. Pangeran Khali segera masuk dan berjalan masuk ke kamar mandi. Tujuannya saat ini untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat.


Memakai baju taqwa dan sarung terlihat makin menawan. Segera pangeran melaksanakan sholatnya. Setelah selesai dia tak langsung tidur melainkan mengecek pekerjaannya lewat tablet ditangannya. Begitupun sebaliknya. Dikamar Ibra pun ,lelaki itu sibuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Dengan cekatan ia mengetik semua pekerjaan pada laptop yang ia bawa.


---*---


Aqila bangun karena suara ketukan pintu dari luar. Dia meregangkan otot-ototnya lalu beranjak dari ranjang. Berjalan dengan sempoyongan karena memang rasa kantuk dan pusing menyerangnya.


Ceklek.


“Qila,” teriak cempreng suara yang tak lain suara Dini.


“Astagfirullah,” Aqila mengelus dadanya.


“Ih apaan sih,” ucap Dini kesal.


“Ya kamu dateng-dateng ngagetin aja, salam dulu cantik,” ucap Aqila.


“Kalau hidungnya gak lupa?” goda Aqila.


“Ya gak lah, ngawur kamu La,” ucap Dini memukul pelan lengan Aqila.


“Ya kan kali aja ketinggalan ahhaha,” Aqila cekikikan.


“Ah iya aku kesini bawa buku-buku itu,” seru Dini menunjuk kardus didekatnya.


Ya Dini memang ikut andil dalam pembukaan Taman Baca ini nanti ,mereka berdua yang memiliki keinginan untuk bisa membangun Taman Baca yang bermanfaat untuk semua orang. Dalam hal buku, Dini menyumbangkan buku-bukunya untuk ia taruh disana.


Memang benar. Dini termasuk wanita yang hoby membaca buku. Dia berhenti membaca cuma untuk makan, minum, tidur, sholat dan kerja. Lain itu dia akan membaca dan menulis. Memang begitulah Dini, ia sudah kecanduan seperti Aqila.


Aqila keluar dan mendorong kardus berisi buku agar masuk kedalam.


“Masya allah banyak banget ini Din,” ucap syukur Aqila.


“Iya La, daripada numpuk dirumah mending bawa kemari kan.”


“Yaps betul bisa dibaca mereka semua. Kan lebih bermannfaat,” ucap Dini.


Aqila membenarkan pendapat Dini, karena apa yang dikatakannya benar. Daripada buku itu hanya diam dan dipajang saja. Lebih baik dipinjamkan agar bermanfaat bagi orang banyak.


Keduanya saling membantu menata buku di rak lemari yang sudah disediakan. Setelah selesai Aqila segera memesan makanan online karena memang keduanya sangat lapar.

__ADS_1


Aqila menyandarkan dirinya di kursi sofanya dengan kepala ia dongakkan keatas seperti memikirkan sesuatu. Badannya memang lelah karena perutnya merasa lapar. Hatinya gelisah entah apa yang ia pikirkan, dirinya saja tidak mengerti.


Setelah mengambil pesanannya pada driver ojol, keduanya segera makan dengan lahap hingga tandas makanan itu. Minumannya langsung kosong karena menahan hausnya tenggorokannya.


Dibersihkannya lantai tempat mereka telah makan, dan membersihkan semuanya. Setelah selesai keduanya pulang dengan mengendarai mobil sendiri-sendiri. Aqila mampir ke toko kue langganannya.


“Selamat datang,” ucap salah satu pelayan.


Pelayan yang hafal keberadaan Aqila segera mendekati wanita yang sedang celingukan itu.


“Ada yang bisa dibantu?” tanya pelayan pada Aqila.


“Bungkuskan cake blackforest ya mbak dan kayak biasanya,” ucap Aqila.


Pelayan itu mengangguk dan tak butuh waktu lama lagi Aqila sudah menerima pesanan mereka.


Sesampai dirumah Aqila masuk kedalam sambil tersenyum saat melihat keluarganya sedang bersantai di ruang keluarga.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.


“Wa’alaykumsalam,” saut semua orang.


“Udah pulang dek?” tanya Axel.


Aqila mengangguk dan menidurkan kepalanya dipangkuan sang mama.


“Apa kamu lelah sayang?” tanya Mama Angel pelan.


Aqila menggeleng pelan sambil matanya masih terpejam. Tapi firasat ibu bagaimana pun pasti paham jika sang anak sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tapi Mama Angel memilih diam agar sang anak menceritakannya sendiri.


Mengelus kepalanya penuh cinta hingga membuat Aqila terduduk dan pamit ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah badannya segar, Aqila segera turun kebawah untuk bersantai di ruang keluarga.


Semua keluarga sedang melaksanakan makan malam, hanya denting sendok yang terdengar. Setelah selesai Kevin menghampiri Aqila.


Dia mendudukkan dirinya pada sofa depan Qila.


“Qila jangan lupa besok ya jam 8, jangan telat,” ucap Kevin.


“Siap kak,” saut Aqila yakin.


Kali ini tak ada rasa malu atau takut karena Aqila sudah bertekat untuk membantu kakaknya di dunia bisnis, jika memang kakaknya mengalami kesulitan.


--*--


Selamat membaca.


Deg deg degan gak mau ketemu sama My Prince huuuu.


Ayo kalian komen yang rame disini, yukkk gimana yah ekspresi Aqila kalau lihat Pangeran Khali.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.

__ADS_1


__ADS_2