
"Terimakasih telah membuatku bahagia dengan caramu sendiri." ~Aqila~
.
.
.
Setelah merasa tubuh keduanya sudah bugar akhirnya mereka keluar dan segera melajukan mobilnya menuju masjid istiqlal.
Masjid Istiqlal adalah salah satu ikon Jakarta yang lokasinya berdekatan dengan Istana Negara dan Monumen Nasional. Diresmikan pada tahun 1978, masjid terbesar di Asia Tenggara ini merupakan “Masjid Nasional” yang dibangun untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.
Arsitekturnya megah dan sering menjadi objek foto fotografer nasional maupun internasional. Masjid ini tidak hanya indah, tetapi juga nyaman dan mampu menampung sekitar 200.000 orang. Masjid Istiqlal buka selama 24 jam untuk umat Muslim yang ingin beribadah. Pengunjung juga dapat berfoto di area masjid, dan beristirahat sejenak selama berjalan-jalan di Jakarta.
Dan dengan berkendara sedikit kencang akhirnya butuh waktu 20 menit dari dufan ke masjid Istiqlal untuk sampai. Setelah memarkirkan mobilnya Rey memberikan sebuah paperbag pada Aqila.
“Apa ini mas?” tanya Aqila dengan wajah bingung.
“Buka aja sayang,” saut Rey.
Aqila membukanya dan senyum mengembang diwajahnya. Sebuah gaun dan mukenah lengkap. Dengan warna putih bersih. Aqila menatap Rey dan tatapan keduanya beradu.
“Kapan kamu siapin ini mas?” tanya Aqila.
“Dari semalam. Karena memang aku udah niat ajak jalan-jalan kamu dan pasti butuh waktu lama,” ucap Rey dengan tersenyum.
Aqila mengangguk dan keduanya segera menuju kamar mandi yang tersedia. Setelah berganti pakaian dan mengambil wudhu Aqila dan Rey segera menunaikan kewajibannya.
Setelah selesai Aqila merapikan mukenanya dan segera keluar. Menunggu kedatangan Rey dan akhirnya Rey pun menghampiri Aqila.
Berjalan beriringan menuju mobil dan segera masuk. Aqila mengambil tasnya dan disana ada sisir rambut. Aqila segera menyisir rambutnya setelah rapi ia menggunakan lipglos juga.
“Ah selesai,” gumam Aqila.
Rey yang melihat hanya bisa senyum-senyum sendiri.
“Mas ke Kota tua yah,” ajak Aqila semangat.
“Tapi ini udah jam segini loh sayang,” saut Rey.
“Jalan-jalan doang mas” rengek Aqila, “Pen foto aja,” bujuk Aqila.
Final Rey tak bisa menolak permintaan wanitanya itu. Ia mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju Kota Tua. Hanya butuh waktu 14 menit mereka sampai ditempat.
Kota tua sendiri berada di sudut kota metropolitan Jakarta, ada satu kawasan yang menyimpan nilai historis tinggi tetapi juga jadi tempat wisata hits, Kota Tua namanya. Banyaknya gedung-gedung tua bergaya kolonial yang masih kokoh berdiri memberikan nuansa seolah kembali ke masa lampau. Karenanya Tak heran jika hari libur atau akhir pekan tiba, kawasan ini selalu ramai dipadati pengunjung.
Saat mengunjungi tempat wisata di Jakarta yang satu ini, ada banyak hal yang bisa Anda jelajahi. Ada Museum Fatahilah yang jadi saksi sejarah perjuangan bangsa untuk meraih kemerdekaan. Lalu ada Gedung Merah, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa hingga Stasiun Kereta Api Kota.
Rey dengan segera menyiapkan kameranya dan digantung dileher. Sedangkan Aqila sendiri menatap penampilannya dari kamera handphonenya.
“Ayo mas,” ajak Aqila tak sabaran.
“Iya bentaran sayang,” bujuk Rey.
Keduanya keluar dari mobil dan sesuai apa yang dikatakan Aqila mereka hanya duduk dan berfoto secara bergantian.
Bak seorang model Aqila foto dengan lihainya, berpose dan tersenyum sangat menambah kecantikan Aqila.
__ADS_1
Dan begitupun sebaliknya Rey juga difotoin oleh Aqila nih. Tak kalah kerennya juga hasil jepretan Aqila. Setelah puas keduanya kembali ke mobil dan tempat terakhir mereka adalah Tugu Monas.
Hanya butuh waktu 12 menit akhirnya mereka sampai ke Tugu Monas. Mencari tempat parkir yang pas akhirnya keduanya keluar bersama dan bergandengan tangan .
Menjelajahi kota Jakarta rasanya belum lengkap kalau tak mampir ke Monas atau Tugu Monumen Nasional. Destinasi yang dibangun di atas tanah seluas 80 hektar ini merupakan sebuah bangunan monumental yang dibangun untuk memperingati dan mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan. bentuk monumen bersejarah ini pun memiliki makna yang mendalam.
Dengan menjelajahi setiap sudut Monas, Anda akan diajak mengenal bagaimana perjalanan sejarah masa demi masa bangsa Indonesia hingga masa modern secara singkat namun cukup atraktif. Jika Anda ingin melihat kota Jakarta lebih jelas, maka Anda bisa naik ke bagian puncak monumen yang memiliki ketinggian lebih dari 100 meter tersebut. Tak perlu takut kelelahan sebab ada lift dengan kapasitas 11 orang yang bisa membawa Anda ke puncak tertinggi Monas.
Keduanya bergadengan tangan sesekali menggenggam tangan satu dengan yang lain. Senyum mengembang tak luntur-luntur dari wajah Aqila dan Rey. Dan tak lupa mengabadikan foto bersama.
“Foto ini akan aku bawa ke Palestina,” ucap Aqila pada Rey.
“Bagus harus kamu bawa loh yah,” ancam Rey.
“Itu pasti,” saut Aqila.
“Dan Foto ini udah jadi walpaper handphone aku,” ucap Rey pada Aqila.
“Ih gombal,” gerutu Aqila.
“Ya biarin sama kamu harus gombal loh,” seru Rey dengan wajah tengilnya.
“Awas ya kamu Rey,” kesal Aqila.
Setelah cukup lama mereka berkeliling dan berbicara dari hati ke hati akhirnya Aqila mengajak untuk pulang karena waktu cepat berlalu.
--*--
Dan disinilah mereka sekarang didepan pintu utama Aqila.
Rey hendak mengetok dan ternyata kepala Axel yang kepentok tangannya.
“Ya mau ketuk pintu lah,” gerutu Rey.
“Ayo masuk,” Axel membuka lebar pintu itu dan masuklah mereka semua.
“Gimana kencan kalian?” ledek Adel.
“Rahasia,” ucap Aqila.
“Heleh palingan ya di cafe doang,” saut Axel.
“Sembarangan plak,” Rey memukul lengan Axel.
“Ishhh,” meringis sambil mengusap lengannya.
“Emang kemana sih?” tanya Axel.
“Dasar tukang kepo wleekkk,” Aqila memeletkan lidahnya pada Axel
“Adek durhaka,” sinis Axel.
“Sejak kapan Qila durhaka sama kakak?” tanya Aqila.
“Sejak sekarang,” ucap Axel pura-pura marah.
Akhirnya obrolan terus dilanjutkan sampai jam menunjukkan pukul 20.00 . Dan obrolan sempat berhenti karena bunyi telfon dari ponsel Rey.
“Bentar ya,” Rey berdiri dan mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
“Ya ma,” ucap Rey setelah panggilan terhubung.
“Kamu dimana? tanya mama Ria.
“Lagi dirumah temen ma,” saut Rey.
“Cepet pulang sekarang.”
Tut.
Mama Ria mematikan telfon sepihak. Rey hanya bisa membuang nafas kasar dan kembali masuk.
“Ada apa mas?” tanya Aqila.
“Aku pulang dulu ya mama barusan telfon,” pamit Rey.
“Ya udah sono sono pulang,” usir Kevin yang daritadi diam.
“Tukang usir,” sinis Rey.
“Yang aku pulang yah,” sikap Rey langsung berubah pada Aqila.
“Dasar bucin,” ucap Axel.
“Biarin,” saut Rey.
“Hati-hati pulangnya ya mas,” Aqila menggandeng tangan Rey dan membawanya keluar.
“Iya sayang kamu juga langsung istirahat,” ucap Rey.
Aqila mengangguk dan mengambil tangan Rey lalu menciumnya.
“Assalamu’alaykum,” salam Rey.
Cup.
Mengecup puncak kepala Aqila.
“Wa’alaykumsalam,” jawab Aqila.
Rey pun masuk kedalam mobil dan sebelum meninggalkan halaman rumah Aqila ia melambaikan tangannya terlebih dahulu.
--*--
Author : Mama Ria keburu telfon aja gak kasihan apa sama Si Rey lagi ngapel hahaha🤣
Readers : Lah yang nulis kan ya elu tong, ngapain marah sama Mama Ria
Author : Eh iya gue lupa
Readers : Dasar pikun
Author : Hee kalian bilang apa?
Readers : Oh enggak thor, Author cantik
Author : Ya kalo itu dari dulu lah
Readers : Kepedeannya gak berkurang
Udah udah stop stop
__ADS_1
Ayo waktunya jangan lupa LIKE, VOTE KOIN/POIN DAN KOMEN.