Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 21


__ADS_3

“Untuk pertama kalinya bagiku mengkhawatirkan keadaan seorang wanita sepanjang aku hidup.” ~Khali Mateen~


.


.


.


Keesokan harinya.


Tepat hari ini adalah hari pertama Aqila harus berangkat bekerja. Jadwal dokter pengganti yang akan digantikan olehnya mulai saat ini harus menjadi kewajiban untuk Aqila bekerja. Sejujurnya dia sudah merasa tubuhnya meriang tapi mau bagaimanapun namanya kewajiban ia harus mengesampingkan semuanya.


Aqila segera bergegas mandi dan melaksanakan kewajiban umat muslim. Tepat pukul setengah 7 pagi Aqila turun dari tangga menuju meja makan.


Kantung mata menghitam, sembab dan wajah lesu sudah terpancar jelas dari wajah cantiknya. Jika biasanya mata dan wajah itu bersinar, sekarang tak ada lagi semuanya berubah muram.


Sesampainya dimeja makan, gadis yang biasanya suka bercanda hari ini hanya diam. Memakan makanannya dengan cepat lalu segera berpamitan pada semua orang.


Mama Angel dan Adel menatap sedih kearahnya. Tak ada lagi keceriaan dari anak gadisnya.


“Ma sepertinya Adel harus bertemu Rossa,” seru Adel tiba-tiba.


“Jangan nak,” Mama Angel menggeleng.


“Biarlah adikmu menyelesaikan semuanya sendiri. Jika dia tak sanggup maka nanti kita akan membantunya,” sambungnya.


Adel mengangguk lesu. Dia menjadi tak selera makan juga, apalagi sang suami sudah berangkat kerja. Adel cepat berjalan menuju kamar anak-anaknya karena hanya mereka yang bisa membuat moodnya membaik.


---*---


Di mobil Aqila.


Selama perjalanan, Aqila tampak tak begitu fokus dengan menyetirnya. Bahkan beberapa kali dia mendapat teguran dari pengendara motor yang lain. Hingga tiba di perempatan, Aqila berhenti kerena lampu jalan berwarna merah. Dia diam sambil menerawang kedepan memikirkan bagaimana hubungan persahabatannya saat ini. Jika mengingat itu air mata Aqila mengalir lagi.


Tin tin!


Bunyi klakson dari belakang mobilnya menyadarkannya jika lampu sudah berpindah warna hijau. Aqila menjalankan mobilnya membelah jalanan yang lumayan ramai. Lagi-lagi pikirannya terbagi menjadi dua bahkan dia hampir tak fokus menatap kedepannya. Hingga suara jeritan membuatnya kembali ke alam sadarnya lagi.


“Awas!” teriak orang-orang.


Aqila dikagetkan dengan mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya berjarak beberapa meter hingga spontan Aqila membanting stir kemudi kekiri hingga,


BRAKK.


Dugh.


Mobil Aqila menabrak pembatas jalan sebelah kiri, mobil depannya sudah ringsek karena benturan cukup keras. Dan orang-orang segera mengerumuni mobil Aqila.


Keadaan Aqila sendiri didalam sudah tak sadarkan diri, kepalanya terbentur setir kemudinya hingga mengeluarkan darah. Orang-orang mengetuk jendela mobil berulang kali. Namun Aqila yang sudah tak sadarkan diri membuat orang-orang mencari cara lain untuk menolongnya.


Bersamaan dengan kejadian itu, Pangeran Khali dan Ibra melewati jalan yang sama menuju Perusahaan Kevin. Sesuai rencana dadakan kemarin, mereka akan bertemu lagi hari ini untuk meeting kedua. Namun perhatian kedua lelaki itu menjadi terpusat pada sebuah mobil yang menabrak pembatas jalan itu.


Bukan karena apa, mobil itu serasa tidak asing dipenglihatan mereka.


“Tuan apa itu mobil Tuan Kevin?” tanya Ibra tiba-tiba.

__ADS_1


“Aku juga tadi ingin mengatakan itu Ibra,” saut Pangeran Khali.


“Menepi sekarang,” perintahnya.


Ibra pun menepikan mobilnya dan kedua lelaki tampan segera keluar dari mobil. Wajah tampan mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan Khali sendiri sampai lupa tak mengenakan maskernya karena terlalu khawatir dengan keadaan mobil yang ia ketahui milik rekan kerjanya. Keduanya membelah kerumunan dan segera bertanya pada orang-orang disana.


Khali mencoba membuka pintu tapi tetap tak berhasil. Ia mengintip dari jendela mobil tak bisa karena kaca mobil milik Kevin tak tembus pandang.


“Kita pecahkan kaca mobilnya Ibra,” tutur Khali.


Ibra mengangguk dan mengambil sebuah batu besar. Dengan hitungan mundur Ibra sudah memposisikan dirinya untuk memukul kaca mobil itu.


1


2


3


Dugh. Pyar.


Terlihatlah seorang wanita yang tertunduk dengan keadaan kerudung putihnya sudah bersimbah darah. Khali segera menegakkan tubuhnya dan seketika matanya membulat.


“Aqila,” ucap spontan Khali.


Dengan segera dia membuka pintu dan membuka sabuk pengamannya. Sebelum ia memggendong tubuh Aqila, Ibra menahannya.


“Biarkan saya saja tuan,” ucap Ibra sopan.


“Minggir,” ucap dingin Khali.


“Tapi tuan tidak pernah bersentuhan dengan seorang wanita,” seru Ibra tak kalah tegas.


Melihat wajah Khali yang mengeras dengan nafas mulai menderu akhirnya Ibra mengalah. Khali segera menggendong tubuh gadis yang memenuhi pikirannya itu. Ia membawa Aqila ke mobilnya dan segera membaringkan tubuhnya dikursi belakang dengan kepala ia letakkan dipangkuannya.


“Cepat Ibra,” ucap Khali setelah mereka didalam mobil.


Ibra segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan bibir Khali tak luput berdoa pada Allah untuk keselamatannya dan keselamatan gadis yang berada didekatnya ini.


Entah kenapa jantungnya berdetak kencang ,bahkan ini pertama kali dia menggendong seorang perempuan dan sedekat ini. Seumur hidup dia tak pernah sepeduli ini tapi entah kenapa pada Aqila serasa semuanya berbeda. Ada rasa takut ketika melihat gadis itu seperti ini.


Setelah mobil membelah jalanan yang ramai, sampailah mereka didepan rumah sakit. Ibra masuk kedalam untuk memanggil perawat dan Dokter. Sedangkan Khali menggendong tubuh Aqila.


Para perawat dan Dokter mendekatkan brangkar dan Khali dengan hati-hati meletakkan tubuh Aqila dibrangkar tersebut. Seketika wajah cantik itu terlihat. Dan tenyata Dokter yang sedang bertugas di UGD adalah Dokter Paul. Matanya membelalak melihat ternyata pasien yang tak lain tak bukan adalah temannya.


“Ini Dokter Qila,” ucap Paul.


“Ayo cepat bawa Dokter Qila,” teriak Dokter Paul.


Brangkar didorong dengan cepat menuju ruang UGD. Bahkan Khali dan Ibra mengikuti langkah para perawat itu.


“Tolong tunggu disini tuan,” ucap salah satu perawat.


---*---


Diluar ruangan Khali duduk dikursi tunggu dengan pakaian yang terkena darah. Dia menyugar rambutnya yang rapi. Entah kenapa hatinya tak menentu. Memikirkan tentang Aqila dan tak peduli dengan pekerjaannya.

__ADS_1


“Kamu sudah menghubungi keluarganya Ibra?” tanya Khali.


“Sudah tuan,” ucap Ibra.


Ya tepat tadi ketika tubuh Aqila sudah diletakkan di brangkar, Khali meminta Ibra menghubungi keluarga Aqila agar ke rumah sakit. Tentu saja Kevin syock mendengar kabar yang mengejutkan.


Kevin segera menjemput istri dan mertuanya dirumah lamanya. Sepanjang perjalanan pun Kevin tak mengucapkan banyak kata. Ia hanya bilang untuk ke rumah sakit sekarang dan tak mengatakan alasannya.


Hingga akhirnya mobil mereka telah terparkir dengan rapi di parkiran rumah sakit. Dengan segera mereka berjalan masuk kedalam menuju ruang UGD.


Terlihat Pangeran Khali dan Asisten Ibra disana.


“Mas siapa sih yang sakit?” tanya Adel tak sabar.


Kevin hanya diam dan mendekat kearah Khali.


“Assalamu’alaykum,” salam Kevin.


“Wa’alaykumsalam,” saut Ibra dan Khali.


“Bagaimana dengan keadaannya tuan?” tanya Kevin panik.


Belum sempat Khali mengeluarkan suara, pintu ruangan terbuka dan dokter keluar dari pintu itu. Tentu saja Khali dan semua orang mendekat.


“Bagaimana keadaan adik ipar saya dok?” tanya Kevin.


“Iya dok bagaimana keadaan Dokter Qila?” tanya Khali tak kalah paniknya.


Tentu saja perkataan Kevin dan Khali membuat Mama Angel dan Adel terkejut.


“Anakku,” teriak Mama Angel histeris.


Adel segera memeluk tubuh mamanya dan mendekapnya erat. Ia sama dengan mamanya kaget dengan berita mengejutkan ini. Dan akhirnya kesadaran Mama Angel hilang.


“Mama,” teriak Adel membawa tubuh sang mama yang lemas.


“Astagfirullah ma.” Kevin berlari menuju istrinya dan membawa sang mama mertua dalam gendongannya.


Mereka membawa tubuh Mama Angel sesuai arahan suster disana. Sedangkan Khali tetap berada didepan Dokter menunggu kabar keadaan Aqila.


“Kondisi Dokter Qila baik- baik saja. Alhamdulillah tak ada luka berat. Hanya dahi sebelah kanan terbentur setir kemudi. Tapi untung saja tak terlalu keras. Mungkin butuh beberapa saat untuk menunggu dia sadar. Dan kita lihat juga apa beliau mengalami trauma atau tidak,” ucap Dokter Paul.


Khali mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


“Sebentar lagi pasien akan saya pindahkan ke ruang perawatan,” ucap Dokter Paul.


“Sekali lagi terimakasih banyak dok,” ucap Khali.


Dokter Paul mengangguk dan segera meninggalkan Khali untuk kembali kedalam. Tak beberapa lama Kevin telah kembali dan meninggalkan istrinya untuk menunggu mama mertuanya.


Kevin menanyakan kondisi Aqila dan Khali pun mengulangi perkataan Dokter Paul tadi. Tak henti-hentinya Kevin mengucapkan terima kasih pada Khali karena sudah menolong adik ipar yang sangat dia sayangi.


Hatinya merasa lega karena kondisi Aqila tak ada hal serius. Hanya menunggunya sadar dan Kevin berdoa semoga adik iparnya tak mengalami trauma berat akibat kecelakaan ini.


---*---

__ADS_1


Selamat membaca.


Terimakasih atas apresiasi kalian ini. Vote dan Like kalian membuatku lebih semangat menulis lagi meski dalam keadaan riweh.


__ADS_2