
"Aku hanya berharap semoga apa yang sedang Allah rencanakan membuatku semakin bisa lebih dekat denganNYa." ~Aqila~
.
.
.
Keesokan harinya,
Seperti biasa setiap sarapan semua orang akan berkumpul di meja makan. Begitupun keluarga Kevin. Semua melakukan sarapan bersama. Terlihat Aqila baru saja keluar dari kamar dengan gamis polos dan hijab instan.
Ia berjalan menuju meja makan setelah menyapa kedua ponakannya yang sedang bermain.
“Pagi ma,” sapa Aqila lalu mencium pipi sang mama.
Itulah rutinitas Aqila sebelum duduk di meja makan. Dia akan mencium sang mama tercinta di wajahnya.
“Mama masak apa ?” tanya Aqila.
“Nasi goreng sayang, ayo duduk,” ajak Mama Angel.
Aqila mengangguk lalu duduk disamping Kakaknya Axel.
“Udah gedhe masih manja aja sama mama,” seru Axel.
“Ya biarin kan aku masih muda wleee,” memeletkan lidahnya.
“Muda apaan, udah 21 udah tuir dirimu hahahaa,” ejek Axel.
“Hlahh 21 itu masih muda. Yang tua itu kakak udah 24 belum nikah,” tak kalah semangat mengejeknya.
“Tua gimana, masih ganteng begini,” Axel memberengut.
“Udah-udah dasar kalian gak ada akurnya sama sekali,” seru Adel melerai.
Akhirnya perdebatan kedua kakak beradik itu berhenti. Mereka mulai sarapan dengan tenang. Selesai sarapan Kevin mengajak Aqila mengobrol sebentar diruang kerjanya yang masih ada dirumah lamanya.
“Ada apa kak?” tanya Aqila setelah dia duduk diruang kerja sang kakak ipar.
“Apa kamu masih libur dinas?” tanya Kevin.
“Iya kak, satu minggu ini jadwal ku kosong,” seru Aqila.
“Bagus, berarti hari ini ikut ke kantor yah,” ajak Kevin.
Aqila mengernyitkan alisnya, heran juga.
“Memangnya ada apa kak?” tanya Aqila.
“Besok kerjasama kakak akan dimulai dengan salah satu pangeran dari salah satu negara di Asia Tenggara, seperti yang waktu itu kakak obrolin sama kamu sebelum berangkat ke Palestina,” seru Kevin.
“Oh iya ingat. Baiklah tapi apa harus sekarang?” seru Aqila.
“Iya kan besok kita pertemuannya,” ucap Kevin.
“Hmmm baiklah,” jawab Aqila lesu.
Kevin yang melihat perubahan wajah Aqila pun juga sadar bahwa sang adik menutupi sesuatu.
“Kenapa lesu begitu?” tanya Kevin hangat.
__ADS_1
“Eh enggak kok kak,” Aqila menggeleng kepala.
“Yakin gakpapa, jujur dong sama kakak,” bujuk Kevin.
“Sebenarnya Aqila hari ini pengen ke suatu tempat dulu, tapi kalau ke kantor jadinya gak bisa dong,” ucap Aqila.
Kevin berpikir dalam diamnya. Ia mencari solusi agar sang adik iparnya menjadi senang.
“Bagaimana kalau kamu ke kantor sampai jam makan siang terus pulang,” seru Kevin.
Dan benar saja wajah Aqila langsung tersenyum sumringah. Aqila langsung menyetujuinya.
Dia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan ganti bajunya. Setelan gamis dan krudung syar’i warna hitam menjadi pilihannya saat ini. Sebelum keluar kamar dia berfoto sedikit di depan cermin. Menutupi wajahnya dengan handphone dan akhirnya terambil lah satu potret fotonya ini.
Setelah selesai, Aqila segera mengambil tasnya dan berjalan keluar karena ia akan berangkat bersama kakak iparnya.
Aqila berpamitan pada seluruh keluarganya dan tak lupa mencium pipi mama dan kakaknya Adel. Mengucapkan salam dan melambaikan tangan lalu Kevin segera menginjakkan gasnya meninggalkan pelataran halaman rumah lamanya itu.
Sepanjang perjalanan keheningan terjadi di mobil. Karena Aqila menikmati jalanan Jakarta yang mulai ramai itu. Ia merindukan padatnya jalanan ini dan juga merindukan cake kesukaannya itu.
Butuh waktu 30 menit akhirnya mobil Kevin memasuki parkiran perusahaannya. Keduanya keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu khusus yang langsung tersambung dengan lift khusus petinggi perusahaan.
“Kak,” panggil Aqila.
“Ya,” saut Kevinm
“Apa rekan kerja kakak besok orangnya galak,” ucap Aqila pelan.
“Hmmm entah,” Kevin mengangkat kedua bahunya.
“Ya tau sih tapi besok aja deh kamu yang nilai sendiri,” seru Kevin tersenyum misterius.
“Ih nyebelin juga sama kayak Kak Adel,” gerutu Aqila.
“Lah hahaha namanya aja kita jodoh mangkanya sama sifatnya,” goda Kevin.
“Haiss ya iya iya jodoh deh,” kesal Aqila.
Hingga pintu lift terbuka akhirnya mereka sampai di lantai tempat ruangan Kevin. Aqila mengikuti Kevin masuk ke ruangannya dan disana sudah ada Rudi yang menyiapkan semua berkas untuk besok.
“Gimana Rud?” tanya Kevin.
“Beres, tinggal Aqila aja belajar,” seru Rudi.
“Ini dek berkasnya buat besok,” Kevin menyerahkan berkasnya.
“Oke kak,” saut Aqila.
Kevin sudah duduk dikursi kebesarannya, sedangkan Aqila dan Rudi duduk di sofa sambil mempelajari berkas kerja sama itu. Bahkan sesekali Aqila bertanya pada Rudi dan Kevin jika bagian berkas itu tak ia pahami.
Suasana semakin sunyi, semua orang fokus dengan pekerjaannya. Bunyi ketikan keyboard memenuhi ruangan itu. Hingga tanpa mereka sadari jam makan siang sudah saatnya.
Ketukan di pintu membuat perhatian semua orang teralihkan. Kevin mempersilahkan masuk dan terlihat sekretaris Eva yang muncul.
“Ada apa?” tanya Kevin.
“Ini berkas anda tuan,” ucap Eva memberikan berkas itu.
“Oke terimakasih,” seru Kevin singkat tanpa menatap Eva.
__ADS_1
“Emmm apa tuan tidak memesan makan siang?” tanya Eva hati-hati.
Aqila mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan Eva. Ia menatap jam ditangannya hingga matanya membulat melihat jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang.
“Ini sudah waktunya makan siang kak malahan lebih,” celetuk Aqila tiba-tiba.
Spontan saja Kevin juga menatap jam tangannya dan tak percaya. Ternyata mereka terlalu fokus hingga lupa makan siangnya.
“Ya udah kita makan siang bersama disini dulu dek gimana?” ajak Kevin.
“Setuju kak,” Aqila mengangguk.
“Tolon pesankan makanan untuk kami ya Eva,” pinta Kevin.
“Siap tuan.”
Eva undur diri, dan Kevin pun beranjak dari dudukkannya. Dia ikut mendudukkan dirinya pada sofa bersama Rudi.
“Begini ini kalau gila kerja bisa lupa makan,” gerutu Rudi.
“Udah konsekuensi nya,” ucap enteng Kevin.
“Iya apalagi punya bos sama gila kerjanya alamat telat makan mulu,” gerutu Rudi.
“Wah wah apa gaji lu mau dipotong kok cerewet amat,” goda Kevin.
“Hah jangan dong,” saut Rudi.
Aqila yang menatap keduanya hanya bisa menahan tawa. Karena memang ia tau sedari dulu lelaki didepannya adalah sepasang sahabat yang kadang akur kadang berantem. Tapi begitulah mereka sama-sama workholic. Tapi jika ada urusan sama istri mereka, pekerjaan akan ditinggalkan.
Akhirnya setelah menunggu, makan siang mereka telah sampai, ketiganya makan siang dengan lahap mungkin otak dan perut mereka sudah lelah. Dan makan membuat stamina mereka kembali lagi.
Meminum jus yang dapat mendinginkan otaknya membuat pikiran ketiganya nyaman kembali.
“Alhamdulillah kenyang,” ucap Aqila sambil mengusap perutnya.
“Iya lah namanya abis makan,” celetuk Rudi.
“Doa dulu sana kak abis makan,” ucap Aqila pada Rudi.
“Eh iya lupa heheh,” Rudi menjawab cengengesan.
Selesai merapikan mejanya dan berkas laporan yang dibawa. Aqila segera pamit undur diri dan meminjam mobil Kevin untuk pulang. Kevin pun mengiyakan karena ia bisa pulang bersama Rudi.
Setelah memasuki mobil Kevin, Aqila melajukan mobilnya ke satu tempat. Tempat yang mungkin akan mengingatkannya pada masa lalunya. Atau bisa jadi tempat untuknya membuka lembaran baru dengan membantu banyak orang ditampung dirumah ini.
Ya Aqila mempunyai keinginan menjadikan rumah impiannya menjadi taman baca gratis untuk anak-anak. Dan memang bertempatan sekali beberapa meter dari rumahnya ada panti asuhan juga.
Aqila sampai dipekarangan rumah impiannya. Ia menatap rumah itu dengan senyuman. Tak ada lagi rasa untuk siapapun. Kenangan siapapun sudah hilang dalam pikiran dan otaknya. Saat ini Aqila hanya bisa percaya bahwa Allah akan selalu membantunya melewati ujian hidupnya ini.
Aqila memasuki rumah impiannya dan tak lupa mengucapkan salam. Rumah itu bersih karena memang ia meminta pada kakaknya Adel untuk menyiapkan pembantu untuk membersihkan rumah ini setiap hari. Meski begitu keluarga Aqila belum ada yang sampai kemari.
---*---
Selamat membaca 🤗
Pangeran Khalinya besok aja yah muncul hehehe.
Kalau up nya telat atau jadwal upnya berantakan mohon maaf yah. Author udah up tapi memang prosea reviewnya lama jadi dimohon para pembaca sedikit bersabar yah. Terimakasih.
YOK JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH
__ADS_1