Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 25


__ADS_3

“Senyuman manismu terngiang jelas di pikiranku bahkan hanya mengingatnya membuat jantungku berdetak kencang.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Keesokan harinya.


Suasana apartemen masih sunyi sepi. Detak jarum saja yang menggema diruang tengah. Di dapur seorang pria tampan telah memasak makanan untuk dirinya dan bosnya karena ia merasa lapar. Sedangkan pemilik apartemen masih asyik menjelajah mimpi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Bima baru saja selesai memasak. Dia pergi mengambil baju ganti miliknya dalam mobil lalu segera membersihkan dirinya. 15 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi yang berada dilantai pertama.


Sambil menunggu sang majikan bangun, dia menyelesaikan pekerjaan lewat laptop yang berada dipangkuannya saat ini. Lebih baik mengisi waktu kosongnya dengan bekerja daripada menunggu orang bangun tidur dengan hanya diam saja.


---*---


Didalam kamar Rey.


Seorang lelaki masih asyik mengarungi mimpinya. Keadaan pakaian yang ia kenakan masih sama yaitu pakaian kantor. Bau alkohol pun memenuhi kamar yang biasanya rapi dan wangi.


Terdengar getaran dari ponsel miliknya yang berada di saku celana. Mau tak mau getaran itu membangunkannya. Ia menggeliat kan tubuhnya dan mengerjapkan matanya pelan.


Sinar matahari sudah menembus ditirai dinding kamarnya. Bahkan langit terlihat cerah dari balik kaca kamarnya. Rey perlahan mendudukkan dirinya dan menyadarkan punggungnya. Dia melihat ke kanan ke kiri dan ternyata dia berada dikamar.


Rey merasa kepalanya pusing dan ia menatap pakaian yang ia kenakan.


“Hah.” Rey menghembuskan nafas kasarnya.


Dia mengambil ponsel yang sedari tadi tak berhenti bergetar. Terdapat id nama seseorang yang sangat tak ingin ia lihat. Bahkan puluhan pesan dan telfon dari id yang sama dan id milik mamanya.


Rey melempar ponsel itu ke ranjang dan dia beranjak untuk ke kamar mandi. Setelah menghambiskan waktunya untuk mandi dan berganti pakaian santai. Rey keluar dari kamar dan turun dari tangga. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah Bima sedang menatap layar laptopnya.


“Kamu disini Bim?” tanya Rey.


Lelaki itu berjalan melewati Bima menuju dapur.


“Iya tuan.” Bima meletakkan laptop yang berada dipangkuannya lalu mengikuti langkah tuannya.


“Kamu yang memasak?” tanya Rey.


“Iya tuan, lebih baik anda segera makan lalu kita segera berangkat ke kantor.”


“Apa ada jadwal penting Bim?” tanya Rey.


“Iya tuan, anda memiliki jadwal penting hari ini,” sahut Bima.

__ADS_1


“Baiklah ayo kita makan dulu.”


Dua lelaki itu segera duduk dan mengambil piring untuk mereka isi makanan. Tak butuh waktu lama keduanya segera melahap makanan yang cocok di lidah Rey.


“Kamu pinter juga masak Bim,” puji Rey.


“Terimakasih tuan,” saut Bima.


Setelah sarapan, Rey segera beranjak ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Jika Bima sudah bilang penting pasti akan ada hal penting dikantor yang harus ia urus.


---*---


Di kantor Rey.


Sejak ia sampai di kantor. Pekerjaannya menumpuk di meja kerjanya. Tanda tangan, mengecek berkas perusahaan dan menyiapkan berkas untuk meeting penting semua dicek ulang oleh Rey. Bahkan kehadiran Bima didepannya kini membantu dirinya.


Dia merasa pusing karena pekerjaan ini sepertinya tak selesai-selesai. Dalam hati Rey pernah menerawang, mungkin kehidupan orang sederhana tak mungkin seperti ini. Mereka akan kerja dan pulang ke rumah dengan tanpa beban saat berkumpul bersama keluarga. Tidak seperti orang kaya pasti tidak dirumah dikantor dibebani setumpuk berkas seperti ini.


Keadaan diruangan menjadi terpecah karena kondisi gaduh diluar. Bima ijin undur diri untuk melihat ada apa gerangan dan Rey mengijinkan. Namun sebelum Bima sampai di depan pintu, pintu telah terbuka lebar dan muncullah Rossa dengan wajah marah.


“Kamu kemana aja semalam mas?” tanya Rosaa dengan nada tinggi.


Rey yang melihat kehadiran Rossa tak terkejut lagi karena melihat banyaknya pesan dan telfon dari wanita itu pasti dia akan datang ke kantornya


“Aku tidur di apartemen,” ucap Rey malas.


“Apa kamu yakin mas?” tanya Rossa dengan nada menyindir.


“Ya mungkin saja semalam kau memadu kasih dengan sahabatku,” sindir Rossa.


“Rossa.” suara Rey menggelegar.


Matanya berkilat tajam ada kemarahan didalamnya. Rey berdiri menghampiri Rossa dengan alis yang tajam. Dia berdiri didepan Rossa dengan diam. Melihat Rey seperti itu membuat nyali Rossa menciut. Dia mundur beberapa langkah dari Rey tapi ternyata Rey juga mendekat.


“Kamu dengar ini yah. Aku gak ketemu Aqila sama sekali semalam dan asal kamu tau sahabatmu kecelakaan dan keluarganya pun tak mengijinkan ku menjenguknya. Apa kamu puas?” teriak Rey.


“Puas mas aku puas. Sekalian aja wanita itu mati biar kamu gak ada yang godain,” ucap Rossa dengan suara tinggi.


“Kamu.” Tangan Rey sudah mengudara tapi ia segera memukul angin.


Rey memilih diam tak ingin berdebat lagi dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Saat ini hatinya lelah dan pikirannya capek.


“Kamu pergi aja sekarang aku sedang sibuk,” lirih Rey.


Lelaki itu berjalan menuju kursi kebesarannya lalu memulai memegang berkas yang tadi ia pegang. Rossa terperangah menatap lelaki itu tak percaya. Sejak kapan lelaki itu mengalah dan bisa bersikap lembut seperti ini.


Tanpa pamit Rossa pergi dari ruangan Rey dengan sejuta pikiran yang dipenuhi tentang suami dan sahabatnya itu.

__ADS_1


Disisi lain memang Rossa mengkhawatirkan keadaan sahabatnya namun gensinya yang besar dan penglihatan ketika suaminya bertemu sahabatnya itu membuat rasa khawatir Rossa sirna.


--*--


Di rumah sakit.


Sejak bangun tidur, ruangan Aqila dipenuhi oleh kedatangan keluarga dan rekan kerjanya. Ruangan yang semula lenggang, terlihat penuh oleh banyaknya kado dari rekan sesama dokter dan para keluarga pasien yang mengenal Aqila.


Mau bagaimanapun Dokter Qila terkenal dokter yang baik dan ramah. Bahkan setiap hari Jum’at Dokter Aqila akan membagikan makanan untuk para pasien.


Saat ini diruangan itu hanya ada Pangeran Khali, Ibra, Kevin dan Adel. Mama Angel sudah diantar pulang oleh Axel untuk istirahat. Dengan paksaan Kevin dan Khali akhirnya Mama Angel mau meninggalkan anak gadisnya dengan penjagaan kedua lelaki itu.


Adel sendiri sempat tertegun kenapa sang mama begitu percaya pada lelaki yang termasuk rekan kerja suaminya itu. Bahkan Adel sempat melihat perhatian lebih dari Khali untuk adiknya.


Namun Adel mencoba menepis itu semua. Pikirnya tak mungkin seorang pangeran akan jatuh cinta pada adiknya itu. Adel segera menghampiri ranjang sang adik saat melihat adiknya terbangun.


“Ada apa hm?” tanya Adel.


“Aku capek tiduran kak pen duduk,” ucap Qila cemberut.


“Yaudah kakak atur nih ranjangmu,” ucap Adel.


Adel mengatur ranjang Aqila agar bisa naik dan adiknya duduk dengan bersandar diranjang. Setelah selesai Adel duduk disamping sang adik.


“Gimana masih pusing?” tanya Adel dengan mwngusap kepala Aqila.


“Sedikit kak, sakit juga.”


“Mangkanya naik mobil jangan ceroboh,” tutur Adel.


“Lah aku gak ceroboh lo,” seru Qila dengan mencebikkan bibirnya.


“Kalau gak ceroboh gak bakalan nabrak begini bawel,” ledek Adel.


“Ih apaan sih.” Aqila menepis tangan sang kakak yang memencet hidungnya.


“Udah jangan ngambek mulu tuh dari semalem udah ditungguin pangeran masa cemberut,” ledek Adel dengan setengah berbisik.


Aqila menatap Pangeran Khali yang sedang duduk disofa disudut ruangan. Tatapan mereka tak sengaja bertemu bahkan saling mengunci. Aqila menatapnya dengan ekspresi datar berbanding terbalik dengan Pangeran Khali yang tersenyum manis kearahnya.


Deg deg deg.


Aqila segera memutus kontak mata itu dan menunduk. Entah kenapa jantungnya berdegub kencang dan ada perasaan hangat saat melihat senyuman itu. Pipi Aqila sudah pasti memerah tapi ia masih menunduk. Adel yang melihatnya hanya menahan tawa tapi ia yakin kedua manusia berbeda jenis itu saling mengagumi satu dengan yang lain.


---*---


Selamat membaca

__ADS_1


Mau up lagi gak buat nanti malam? Kalau mau yuk komen dan like yang kenceng oke. Kalau like nya sampai 100 lebih sebelum pukul 9 malam aku bakalan up lagi.


Kuy kuy tekan Like


__ADS_2