
“Aku merelakan kebahagiaanku hanya untuk kebahagiaan mama.” ~Rey~
.
.
.
“Dia tadi bilang kalau dia gak cinta sama gue La hiks hiks. Gue sendiri udah jatuh cinta sama dia dari awal ketemu. Bahkan dulu masih kita berteman kecil aku sangat menyukainya. Meski umur kita beda jauh,” ucap Rossa dengan sesegukan.
“Plis jangan nangis Ca, lo harus tau cinta gak bisa dipaksain Ca, tapi kalau memang dia jodohmu. Sebesar apa dia gak cinta sama kamu dan sebesar apapun dia mencintai wanita lain maka allah tetap akan mengikat kalian diatas tali pernikahan,” ucap Aqila menenangkan.
Rossa menarik diri dari pelukannya dan menatap Aqila.
“Lo bener, semua udah diatur oleh Allah kita cuma jalanin aja,” ucap Rossa.
“Jadi lo harusnya kuat dong, lo harus nerima hasil akhirnya. Entah itu sakit atau bahagia lo harus yakin takdir allah itu sangat indah,” ucap Aqila.
Rossa mengangguk dan tersenyum.
“Makasih ya La,” ucap Rossa.
“Buat?” tanya Aqila.
“Lo selalu ada buat gue, lo selalu ngasih solusi buat gue. Gue berhutang banyak sama lo. Sekali lagi makasih banyak,” Rossa memeluk tubuh Aqila begitu pun sebaliknya.
“Iya sama sama, dalam persahabatan gak ada kata terima kasih oke,” ucap Aqila melepas pelukan Rossa.
Rossa mengangguk.
“Lo sekarang harus semangat dong, lo udah dapet lampu hijau dari ibunya jadi tinggal ambil hati nya aja,” ucap Aqila menyemangati.
“Ya lo bener, gue udah dapet nilai plusnya tinggal hatinya aja,” senyum Rossa sumringah.
“Nah gitu dong ini baru sahabat gue,” ucap Aqila dengan mencubit pipi Rossa.
Setelah berbincang cukup lama akhirnya Aqila pamit pulang dan Rossa pun kembali kerumahnya untuk berganti pakaian dan mandi sebelum ia kembali ke ruangan Mama Ria.
--*--
Diruangan Mama Ria.
Mama Ria mulai membuka matanya setelah lama ia tidak sadarkan diri. Rey yang tertidur didekat mamanya itu menjadi ikut terbangun karena gerakan tangan mamanya.
“Mama sudah sadar,” ucap Rey dengan bahagia.
“Haus,” ucap Mama Ria pelan.
Rey mengangguk lalu membantu sang mama untuk duduk dan meminum air putih. Setelah selesai Rey memencet tombol didekat ranjang sang mama. Dan tak perlu waktu lama lagi Dokter pun datang dan langsung sigap mengecek kondisi sang Mama Ria.
“Gimana kondisi mama saya dok?” tanya Rey.
__ADS_1
“Alhamdulillah kondisi mama anda baik, tapi ingat jangan bikin mama anda kepikiran dan tekanannya naik yah,” Dokter mengingatkan.
Rey mengangguk lalu Dokter pergi setelah berpamitan pada Rey dan Mama Ria. Selepas kepergian Dokter, Rey mendekat dan memegang tangan sang mama. Mama Ria sendiri membuang muka enggan menatap sang anak.
“Maafin Rey ya ma,” lirih Rey.
Mama Ria masih tak bergeming.
“Rey janji bakalan nurut sama mama, Rey bakalan ngelakuin semua permintaan mama. Tapi mama jangan sakit gini lagi ma, Rey cuma punya mama,” ucap Rey parau dengan suara menahan tangis.
Mama Ria segera mengalihkan pandangannya menatap sang anak.
“Apa kamu serius Rey?” tanya sang Mama Ria.
“Iya ma aku serius, maafin Rey ya ma udah bikin mama masuk rumah sakit,” lirih Rey dengan mencium punggung tangan sang mama.
“Udah nak gakpapa, mama seneng kamu jadinya nurut sama mama,” ucap Mama Ria.
Rey mengangguk dan menidurkan wajahnya didekat tangan sang mama sambil menikmati usapan sang mama.
Keduanya masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Rey sendiri menutup matanya sambil terbayang wajah cantik Aqila.
“Maafiin aku Qila, aku harus ninggalin kamu demi mamaku. Aku gak bisa menolak keinginan mama, aku gak ingin sakit mama bertambah parah,” lirih Rey dan tangis pun lolos dimatanya tapi dengan cepat ia menghapusnya.
“Rey,” panggil Mama Ria.
Rey mendongak dan menatap Mama Ria. Mama Ria bisa melihat sang anak pasti sudah menangis. Karena mata Rey yang sembab dan hidungnya merah.
“Kamu bener mau nurut sama mama?” tanya Mama Ria pelan.
“Berarti kamu setuju sama perjodohanmu dengan Rossa.”
Rey terdiam, sejujurnya saat ini ia ingin berteriak bilang tidak, tetapi ia sudah mencoba mengalah dan ingin menuruti permintaan sang mama untuk kesehatan mamanya juga.
“Jangan sampek mama...” belum Mama Ria melanjutkan perkataannya Rey sudah memotong.
“Iya ma Rey mau,” final sudah Rey berbicara dengan tegas.
Dia membuang rasa cintanya hanya untuk kesehatan sang mama. Anggap saja ia pria jahat yang sudah menyakiti perempuan yang sangat ia cintai. Ia sudah memberikan janji pada Qila untuk tak menyakitinya tapi sayangnya sekarang ia akan menyakiti Aqila kembali.
“Anak pintar kamu memang anak mama,” Mama Ria memeluk anaknya.
Rey memejamkan matanya dipelukan sang mama. “Maafin aku La maafin aku harus pergi dari kamu ini semua demi mama bukan keinginanku,” jerit hati Rey.
Mama Ria melepas pelukan dengan sang anak, wajah bahagia tergambar jelas diwajahnya. Rey bisa melihat itu. Melihat kebahagiaan mamanya. “Hanya untuk kebahagiaan mama aku melakukan ini ma, merelakan wanita yang aku cintai dan meninggalkannya untuk membuat mama senang,” ucap Rey sendu menatap wajah sang mama.
Mama Ria sejujurnya tau sang anak memperhatikannya tapi dia memilih diam tanpa menatap sang anak lelakinya. Hatinya senang saat ini sang anak menuruti keinginannya dan dia akan mendapatkan besan sekaligus menantu yang sederajat.
Setelah cukup lama mereka berdiam diri suara pintu yang terbuka membuat mereka menatap pintu.
“Mama sudah sadar?” ucap Rossa berjalan cepat menuju brangkar Mama Ria.
__ADS_1
Ia memeluk Mama Ria dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Iya sayang tante sudah sadar,” ucap Mama Ria lembut.
“Alhamdulillah. Aku tadi kaget denger kabar dari Anakku kalau kamu jatuh pingsan di kantornya Rey,” ucap Mama Clara sambil cipika cipiki dengan Mama Ria.
“Iya Clar, jantungku kambuh,” ucap Mama Ria pelan.
“Tapi sekarang baik-baik aja kan?” tanya Mama Clara.
“Iya alhamdulillah baik udah,” Mama Ria tersenyum.
“Ayo kalian duduk,” pinta Mama Ria.
Rey sedari tadi diam, dia hanya menatap wajah Rossa dengan raut muka datar. Tak ada rasa kagum dengan wanita didepannya melainkan benci karena wanita itu ia tidak bisa mendapatkan wanitanya dan cintanya.
Rossa dan Mama Clara duduk disamping ranjang Mama Ria. Disana ada kursi khusus agar bisa didekat pasien.
“Ah Clar aku mau kasih tau kabar,” ucap Mama Ria terlihat senang.
“Ada pa Ri?” tanya Mama Clara penasaran.
“Rey udah setuju dijodohin sama Rossa,” ucap Mama Ria dengan wajah bahagia.
Mama Clara pun tak kalah bahagia ia menatap wajah Rey dengan berseri.
“Apa itu benar nak Rey?” tanya Mama Clara.
Rey mengangguk dengan sorot mata datar kearah Rossa.
Rossa pun tersentak kaget mendengar itu.
“Bagaimana dia bisa mau menikah denganku, bukannya dia sejak kemarin menolak?” gumam Rossa dalam hati.
Ia menatap Rey sebentar dan ketika pandangan mereka beradu Rossa segera menunduk.
“Pandangan matanya saja membuat hatiku berdebar. Ya tuhan aku bahagia sekali dia bisa mau menikah dengan ku” ucap bahagia Rossa dalam hati.
Rey sendiri setelah lama menatap Rossa ia segera membuang pandangannya. Ia berdiri dan menatap sang mama.
“Rey keluar dulu ya ma,” ucap Rey pamit.
Mama Ria mengangguk ,ia paham betul apa maksut pamit dari sang anak. Ia tau sang anak pasti terpaksa dan tertekan dengan keinginannya tapi ini satu-satunya keinginan Mama Ria agar sang anak tak dipermainkan lagi oleh wanita terutama yang berhubungan dengan wanita di masa lalu Rey.
--*--
Lalala gimana gimana gak gantung lagi kan, kemarin aku pinjam gantungan tetangga taruh sini mangkanya ngegantung hahaha.
Sejujurnya aku mau up sekali sehari ini tapi sayangnya liat komen antusias dan like nya jadinya aku semangat nulis buat sore ini.
Terimakasih yang sudah mampir dikarya ketigaku.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE KOIN POIN YAH.
Dan jangan lupa mampir ke ceritaku JODOH PILIHAN MAMA.