
“Aku harus bisa menyelesaikan semua ini dan segera pergi dari kehidupan mereka.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Selama 3 hari dirumah sakit Aqila terbebas dari pekerjaan apapun. Ia hanya tidur, makan, sholat dan santai. Seperti ini sesungguhnya membuat Aqila bosan tapi mau bagaimana lagi daripada mamanya marah ia hanya bisa menurut.
Hari ini adalah hari kepulangan Aqila. Semua barang-barangnya sudah dipacking oleh pelayan dan dibantu oleh Mama Angel. Aqila sendiri sudah berganti gamis dan infus ditangan kanannya pun sudah terlepas. Ia merasa senang bukan main karena terbebas dari bosannya ruangan putih ini.
Setelah menunggu Kakak iparnya Kevin yang sedang mengurusi administrasi akhirnya Aqila dibantu duduk dikursi roda dan akan didorong oleh Adel. Tapi tangan Adel menggantung saat suara Khali keluar.
“Apa boleh saya yang mendorong?” tanya Khali.
“Boleh silahkan,” balas Adel ramah.
Aqila mengutuk kakaknya yang seenaknya mengijinkan Khali untuk mendorong kursi rodanya. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun. Sampai diparkiran Aqila berdiri dibantu oleh Adel lalu masuk ke mobil. Begitupun Adel dan Mama Angel ikut masuk dalam mobil.
Kevin perlahan menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit diikuti mobil Pangeran Khali.
“Tuan kapan kita pulang?” tanya Ibra.
“Lusa bagaimana?” tanya Khali.
“Baiklah tuan, saya akan menyiapkan pesawat pribadi kita” ucap Ibra sopan.
Jalanan siang itu terlihat macet, bahkan beberapa kali mobil yang ditumpangi Kevin maupun Ibra harus berdiam diri ditempat. Cuaca yang panas membuat mereka yang berada dimobil merasa panas. Meski AC dihidupkan tak membuat mereka semua menjadi segar.
Waktu yang seharusnya ditempuh setengah jam akhirnya lambat sampai 1 jam karena macet. Dua mobil masuk kepekarangan rumah Aqila. Dengan dibantu mamanya, Aqila masuk diikuti semua orang. Aqila segera duduk diruang keluarga dengan ditemani kakaknya dan yang lain.
Mama Angel ijin kebelakang untuk membuatkan minuman bagi semua orang.
Diruang keluarga, Khali dan Kevin asyik mengobrol sedang Aqila memilih memejamkan matanya sambil menyandarkan dirinya di sofa. Entah kenapa rasa pusing itu kembali menyerang. Ia bahkan memijat dahinya agar rasa pusing itu berkurang.
Adel yang sedang memegang ponsel disampingnya menjadi khawatir.
“Kenapa La?” tanya Adel.
“Pusing kak,” lirih Aqila.
“Kamu istirahat aja dikamar.” Suara Khali mengudara diruangan itu.
Aqila mengangguk dan ijin untuk masuk ke kamarnya. Dibantu Adel ia masuk ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya di ranjang.
“Kak,” panggil Aqila saat mereka sudah saling duduk diranjang.
“Hm,” saut Adel.
“Tolong bantu aku buat keluar dari rumah sakit Rey kak,” pinta Aqila.
Sontak penuturan Aqila membuat Adel terkejut buat main. Bukannya apa, dokter adalah cita-cita Aqila sejak kecil, bahkan bekerja disana atas usahanya sendiri. Namun sekarang malah dia sendiri yang meminta bantuan Adel untuk berhenti
“Apa kamu yakin?” tanya Adel ragu.
“Sangat yakin kak, kumohon tolong aku,” ucap Aqila.
__ADS_1
“Baiklah kakak akan bilang sama Kak Kevin,” tutur Adel.
Ada binar bahagia dimata Aqila. Dia mencium pipi Adel lalu mulai merebahkan dirinya. Adel dengan setia mengusap kepala sang adik. Satu butir air mata lolos dimatanya dan dengan sigap ia hapus. Ia tak pernah menyangka adiknya akan mengalami kisah cinta seperti ini. Bahkan teman lelaki kuliahnya dulu juga harus mengalami nasib seperti ini.
Setelah dirasa Aqila tidur, Adel segera meninggalkan kamar sang adik menuju ruang keluarga. Terlihat disana suaminya masih berbincang ringan dengan Khali. Bahkan sesekali terlihat tawa dari keduanya.
“Aqila tidur sayang?” tanya Kevin saat melihat istrinya duduk disampingnya.
“Iya mas, tapi...,” ucap Adel menggantung.
“Tapi apa?” tanya Kevin.
“Tolong bantu dia untuk keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja,” lirih Adel.
Khali yang mendengar pun sontak penasaran juga dengan apa yang terjadi.
“Kalau boleh tau apa yang terjadi Nona?” tanya Khali sopan.
“Eh itu bukan apa-apa,” Adel menggeleng pelan.
“Apa karena dia,” ucap Kevin ambigu.
“Sepertinya mas, tolong yah kasih surat pengunduran diri Aqila kesana,” pinta Adel.
Kevin hanya bisa pasrah dan mengangguk. Dia segera meraih ponselnya dan menghubungi Rudi untuk mengurus semuanya dan Rudi pun menyanggupi.
Setelah panggilan terputus Adel pamit undur diri kembali ke kamar meninggalkan obrolan para lelaki yang ia yakini masalah tentang bisnis.
---*---
Setelah kejadian di kantor itu, Rey kembali kerumahnya dan dia benar menepati janji pada orang tua Aqila bahwa dia tak mendekati gadis itu lagi. Bahkan 3 hari ini Rey hanya sibuk di kantor sampai malam dan pulang kerumah saat dirasa istrinya itu sudah tertidur.
Hari ini rencana Rey membawa Rossa untuk tinggal dirumah yang sudah dibeli Rey. Mereka sudah menyiapkan segala kebutuhan mereka.
Dengan mengendarai mobil sendiri Rey membawa Rossa kerumahnya. Hanya butuh waktu 20 menit mereka telah sampai dirumah mewah berlantai dua. Pilar besar sudah berdiri kokoh dibagian depan.
Rossa merasa suka dengan keadaan rumah yang akan ia tinggali itu. Ia bahkan keluar dari mobil langsung melihat sekelilingnya. Rey sendiri segera keluar dari mobil dan mengeluarkan koper yang ia bawa dibantu oleh pelayan.
“Masuk,” ucap dingin Rey.
Rossa sendiri sudah biasa mendapat sikap seperti itu dari Rey. Ia mengekori Rey dari belakang.
“Ini kamar untukmu,” ucap Rey.
“Untukku.” Rossa menunjuk dirinya sendiri.
“Iya,” saut Rey.
“Terus kamar mas?” tanya Rossa.
“Ya disini, tapi aku bakal jarang tidur sini karena aku sering menghabiskan waktu di ruang kerja,” ucap Rey.
Rey segera pergi meninggalkan Rossa yang masih mematung menyerap ucapan Rey barusan.
“Lebih baik seperti ini toh dia sudah mau bersikap lembut padaku,” gumam Rossa dalam hati.
Rossa segera masuk kedalam kamar itu. Ia menatap sekeliling kamar yang didominasi warna putih dan biru itu. Ia masuk kesalah satu ruangan yang ia yakini disana adalah ruang ganti. Lemari baju tertata rapi memenuhi ruangan itu, lemari khusus jam dan dasi pun berbeda. Bahkan untuk sepatu juga tertata rapi.
__ADS_1
Ketukan dipintu membuat Aqila beranjak keluar.
“Maaf nona mengganggu waktu anda,” ucap sopan pelayan sambil menundukkan kepalanya.
“Iya tidak apa-apa,” sahut Rossa.
“Ini koper milik anda dan sebentar lagi akan ada pelayan yang menatanya,” seru kepala pelayan.
Rossa memberi ruang untuk pelayan meletakkan koper-kopernya dan segera berpamitan pergi setelah selesai.
Rossa segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi perut Rossa mulai meronta dia keluar kamar menuju dapur untuk mencari makanan untuk mengganjal perutnya ini.
---*---
Di ruang kerja Rey.
Lelaki itu hanya diam termenung sambil menopang dagunya. Pikirannya melalang buana entah kemana. Tawa Aqila entah kenapa selalu terngiang-ngiang dipikirannya. Bahkan ketika ia memejamkan matanya bayangan wajahnya selalu datang.
“Ya tuhan bantu aku melupakannya untuk saat ini. Sungguh aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku akan mulai belajar mengikhlaskannya tuhan,” lirih Rey.
Tak ingin berlarut-larut Rey mulai mengerjakan berkas perusahaan didepannya. Lebih baik seperti ini daripada harus mengingat cintanya pikir Rey.
Hampir sore dia diruang kerja. Hingga suara ketukan pintu membuatnya menatap pintu.
“Masuk,” teriaknya dari dalam.
Bima masuk kedalam ruang kerja Rey sambil membawa sebuah map yang entah apa isinya. Tapi ketika melihat logo rumah sakit di atasnya membuat Rey mengernyitkan dahinya.
“Ada apa Bim?” tanya Rey penasaran.
Bima tak langsung menjawab dia masih diam. Rasanya dia takut tuannya akan kaget dan marah melihat map yang ia bawa.
“Ada apa Bim, cepat!” titah Rey tak bisa dibantah.
Bima perlahan memberikan map itu diatas meja Rey dan mendorongnya. Rey menerima Map itu dan melihat cover map itu.
Perlahan namun pasti ia membuka map itu. Dan matanya membelalak melihat kata dikertas itu.
Deg.
.
.
.
.
.
-----*-----
Selamat membaca.
Terimakasih atas likenya semua yang sudah pencet like, vote dan komen.
Hayoo ada yang penasaran gak? Isinya map apa coba?
__ADS_1
Mungkin map berisi surat cinta hahahahaha.
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA DONG GUYS.