
“Aku tidak pernah berfikir akan berada disituasi sulit seperti ini” ~Aqila~
.
.
.
Tepat hari ini setelah dua hari bertemu Rossa, Rossa mengabari jika dia dan calon tunangannya akan menemui Aqila di Mall. Aqila yang memiliki jadwal libur kerja hari ini menjadi senang. Karena ia akan menemui temannya dan tak merasa bosan jika berdiam diri dirumah.
Aqila segera berdandan dengan cantik, entah kenapa hari ini ia ingin memakai pakaian yang terkesan feminim yang membuat penampilan Aqila semakin manis. Siapapun yang melihatnya pasti akan terperangah. Wajah kebulean yang cantik dan mempesona hari ini semakin terlihat.
Aqila mematut diri didepan cermin. Ia memoleskan make up tipis diwajah mulusnya. Terakhir ia memberi sentuhan dibibirnya.
“Sempurna,” gumam Aqila sambil tersenyum manis di depan cermin.
Ia mengambil tas yang sesuai dengan bajunya dan tak lupa sepatu yang membuatnya nyaman. Setelah selesai Aqila segera keluar dari kamar dan mendapati sang kakak Axel sedang bersantai di depan televisi. Lebih tepatnya bukan bersantai melainkan mengerjakan pekerjaan dilaptopnya sambil dilihat oleh televisi hahaha pikir Aqila.
Bau semerbak membuat perhatian Axel terpecah. Ia mendongak mencari asal usul bau harum ini.
“Wah adek kakak mau kemana nih?” tanya Axel.
“Mau ketemu Rossa kak,” saut Aqila sambil duduk disamping Axel.
“Rossa sahabat kamu itu?” tanya Axel.
Aqila mengangguk. “Hari ini dia mau ngenalin calon tunangannya kak,” ucap Aqila.
“Wah bagus dong, kamu kapan?” goda Axel.
“Halah lupakan gak ada masih,” ucap Aqila.
“Lah si Rey kemana emang?” tanya Axel heran.
“Ya ada lah kerja,” ketus Aqila.
“Yaudah ah aku berangkat ya,” pamit Aqila.
Sebenarnya lebih tepatnya Aqila memilih menghindari pertanyaan sang kakak. Ia sendiri masih sakit hati dengan kejadian beberapa hari kemarin. Ia tak ingin merusak mood indahnya hari ini.
“Qila,” panggil Axel.
“Ah iya,” Aqila berbalik.
“Kamu katanya mau pinjem mobil sport kakak,” ucap Axel.
Aqila mengangguk antusias.
“Kuncinya ambil disitu,” menunjuk nakas dekat meja televisi.
“Makasih ya kak,” ucap Aqila girang.
__ADS_1
“Jangan sampek lecet,” ancam Axel.
“Siap bos,” memberi hormat.
Axel hanya bercanda tapi dia lebih memetingkan keselamatan sang adik daripada mobil sport miliknya itu. Meski mobil itu kesayangan untuknya tapi sang adik lebih utama.
Aqila berjalan sambil tersenyum lebar menuju garasi dibukanya pintu garasi dan terlihat mobil sport keren warna hitam yang sudah dimodifikasi oleh sang kakak.
“Ah keren banget,” ucap Aqila.
Ia segera masuk dan mengendarai mobil meninggalkan halaman rumahnya. Jalanan tampaknya sedang ramai. Padahal waktu masih pukul 9 pagi. Aqila mengendarai dengan hati-hati mengingat ancaman sang kakak. Terutama mobil yang dikendarainya menghabiskan banyak duit untuk memodifikasinya.
Setelah melewati jalanan yang ramai akhirnya Aqila sampai di suatu pusat pembelajaan terbesar dijakarta. Dan disinilah dia di Grand Indonesia. Salah satu mall terbesar dijakarta.
Grand Indonesia merupakan mal di Jakarta. Mal ini dibuka pada tahun 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Grand Indonesia merupakan Family Friendly Lifestyle Mall yang berkonsep untuk menyediakan seluruh kebutuhan keluarga dalam satu tempat.
Aqila segera masuk kedalam karena ia takut sahabatnya telah menunggunya terlalu lama. Aqila masuk dengan senyum manis diwajahnya, hatinya sedang dalam keadaan baik. Ia segera menuju lokasi janjiannya. Setelah menemukan tempatnya Aqila segera masuk. Berhenti sejenak dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ia cari. Dan tepat Rossa disana duduk dengan seorang lelaki yang memunggunginya.
Rossa sudah melambaikan tangan dan Aqila menyaut dengan senyum manis. Dia berjalan menghampiri Rossa dengan tenang. Semakin dekat dan dekat dia melihat tubuh tegab yang tak berbalik itu.
Deg.
“Parfum ini,” gumam Aqila.
Aqila terus berjalan dan mendapat pelukan dari Rossa.
“Ah iya tadi dijalan macet banget Ca,” cicit Aqila.
“Ah iya mas,” panggil Rossa.
Lelaki itu menoleh dan,
Deg.
Tatapan mereka terkunci. Bibir Aqila terkatub ia mematung tak percaya. Lelaki yang ia tunggu, lelaki yang ia beri kesempatan untuk mengisi hatinya. Lelaki yang membangunkan rumah impiannya. Lelaki yang memberi rasa nyaman padanya berdiri didepannya saat ini. Tetapi bukan berdiri saja melainkan dia adalah orang yang akan menjadi calon suami dari sahabatnya. Sahabatnya sendiri, sahabat yang sangat ia sayangi.
Begitupun Rey, Rey mematung, menatap wajah wanita yang dicintai ,wajah yang selalu dia rindukan, wajah yang selalu ingin ia lihat dan sekarang berdiri tak jauh darinya. Dan yang paling bikin dia kaget, wanita didepannya adalah sahabat dari wanita yang akan menjadi istrinya.
Rossa sendiri terdiam dia menatap Aqila dan Rey dengan diam. Ia memikirkan sesuatu kenapa keduanya hanya diam dan seperti terkejut.
Rossa melambaikan tangannya didepan keduanya.
“Mas, La kalian gakpapa kan?” tanya Rossa.
Keduanya tersentak dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
Aqila menjulurkan tangannya dengan senyum manis. “Hai, kenalin Aku Aqila shabatnya Rossa.”
Aqila berbicara dengan tenang tetapi sejujurnya dalam hatinya ia sakit. Sungguh sakit tak menyangka akan berada disituasi seperti ini. Situasi yang sulit dan tak bisa ia gambarkan.
__ADS_1
“Rey,” ucap Rey meraih tangan Aqila dan menjabatnya.
“Tangan ini masih sama, tangan yang selalu aku rindukan. Lembut dan hangatnya masih sama,” gumam Rey dalam hati sambil menatap wajah Aqila.
Rossa mendekat dan menggelanyut manja dilengan Rey. “Ini calon suami aku La,” ucap Rossa dengan senyum manisnya.
Canggung pasti dihati Aqila. Sakit jelas, kecewa sangat tapi dia masih bisa tersenyum.
Aqila mengangguk.
“Ayo duduk La.”
Aqila dan keduanya duduk berhadapan. Dengan Rossa duduk disamping Rey.
“Kamu mau pesan apa La?” tanya Rossa.
“Kopi aja kayaknya Ca,” saut Aqila.
“Ih kanu ya jangan banyak kopi gak baik,” ucap ketus Rossa.
“Uluh uluh udah kayak mamma dirumah aja,” ucap Aqila menggoda.
“Kali ini aku turutin karena aku lagi bahagia dan gak lain waktu,” ancam Rossa.
Aqila mengangguk dan tak lama pesanan Aqila datang.
“Terimakasih,” ucap Aqila dengan tersenyum pada pelayan.
Rey menatap Aqila dengan wajah datar.
“Senyuman itu yang selalu hadir dimataku dan mimpiku. Aku rindu senyuman itu” gumam Rey dalam hati.
“Lo libur kan hari ini?” tanya Rossa membuka percakapan.
“Iya Ca,” saut Aqila.
Aqila sejujurnya risih ia tau sejak tadi Rey menatapnya. Tapi Aqila bersikap acuh dan pura-pura tak tau. Ia memilih menatap Rossa.
“Kenapa?” sambung Aqila.
--*--
Ini permintaan kalian buat temuin Rey dan Aqila.
Weleh weleh Mbak Aqila kuat banget, habis minum semen biar hatinya kuat dan kokoh hahaha.
Canda yee hihi.
Hati manusia lama kelamaan akan menjadi kuat dengan seiring berjalannya waktu dan sakit hatinya sendiri.
Jadi kalau habis sakit hati nanti sakit hati lagi yang tenang aja, ingat satu hal bahwa disetiap kejadian akan ada hikmah oke.
Yang baca karya ini harus orang yang sabar oke hihi.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK KAN HARI SENIN. LIKE DAN KOMEN NYA OKE