Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 23


__ADS_3

“Mungkin memang benar, aku sudah terlalu banyak memberimu luka dan saat ini yang harus aku lakukan hanya satu yaitu pergi darimu.” ~Rey~


.


.


.


Plak.


“Mas.”


“Ri.”


Kedua wanita itu kaget bukan main melihat pertengkaran ibu dan anak itu.


“Mama puas kan udah nampar aku. Kalau belum puas tampar aku lagi ma,” menyodorkan pipi kanannya lagi.


“Kamu,” ucap Mama Ria yang tangannya sudah diangkat lagi.


Mama Clara segera mendekat dan memegang tangan kanan Ria.


“Udah Ri inget jantung kamu,” ucap Mama Clara lembut.


“Dan kamu nak Rey sudah sana cepet keluar biar mama kamu bisa tenang,” seru Mama Clara.


Rey tak menjawab dia kangsung pergi keluar rumah dan sudah ditunggu Bima didalam mobil. Bima segera melajukan mobilnya setelah tuannya masuk kedalam dan mulai meninggalkan halaman rumah Rossa.


Di dalam mobil keheningan tercipta. Tak ada siapapun yang berniat bersuara. Bahkan Rey sendiri ia masih terdiam dengan punggung yang ia sandarkan dikursi dan matanya terpejam.


Ia tak pernah berpikir akan bertengkar hebat dengan sang mama setelah semua pengorbanan yang ia lakukan. Rey mengusap kasar wajahnya dan terlihat lesu.


Dengan sabar Bima melajukan mobilnya tanpa tujuan. Dia tak berani bertanya terlebih dahulu karena melihat kondisi bosnya yang kacau dengan pipi yang memerah.


Bima yang tak tega dengan keadaan Rey segera menepikan mobilnya ke Apotik. Dia membeli obat-obatan untuk mengobati pipi Rey yang memerah.


Setelah membeli obat-obatan, Bima masuk kedalam mobil dan diam sejenak. Bosnya itu masih memejamkan matanya dengan nafas teratur. Bima bisa menebak jika bosnya sedang tertidur. Dengan sabar Bima menunggu sampai waktu menunjukkan pukul 1 siang.


Perlahan Rey bangun dan mereganggkan otot tubuhnya. Ia celingukan melihat dia tertidur dimobil. Rey segera melihat kearah luar dan keningnya berkerut saat melihat apotik didepannya. Melihat keadaan kursi kemudi kosong. Rey keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya.


Tepat sekali matanya menangkap sosok lelaki yang ia cari sedang meminum minuman di kemasan botol.


“Maafkan aku Bim. Aku ketiduran,” ucap lemah Rey.


“Lo kayak sama siapa aja ,inget kita ini teman yakan,” ucap Bima santai.

__ADS_1


Bima berniat untuk menghibur sahabatnya ini, dia tau Rey sedang dalam keadaan buruk. Dengan pelan Bima memberikan obat itu pada Rey dan mulai membantu Rey mengobati pipinya. Setelah selesai mereka kembali kedalam mobil dan Bima menunggu perintah bosnya.


“Ke rumah sakit Bim,” titah Rey.


“Siap tuan,” saut Asisten Bima.


Mobil mulai melaju dengan menambah kecepatan menuju rumah sakit tempat Aqila dirawat. Tak lupa Rey membelikan parcel buah untuk dibawa menjenguk Aqila.



Mobil kembali melaju untuk segera sampai dirumah sakit. Dia berharap semoga keluarga Aqila menerima kedatangannya dan diijinkan untuk masuk.


---*---


Dirumah sakit.


Aqila yang masih terlelap tidur itu tak merasa terusik dengan pembicaraan semua orang yang berada didalam. Mungkin efek dari suntikan penenangnya membuat Aqila seakan tidur dengan tenang.


“Apa yang harus kita lakuin selanjutnya mas?” tanya Adel pelan.


“Entahlah sayang, mas belum kepikiran,” ucap Kevin lirih.


Mama Angel sendiri masih diam, sepertinya dia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk kesehatan sang putri terakhirnya.


Khali sendiri sedang mengobrol bisnis dengan Ibra dan Rudi. Mereka saling bertukar pikiran satu dengan yang lain. Bahkan meski mereka dirumah sakit pun tak membuat mereka bosan sedikitpun.


Adel yang hendak berdiri dicegah oleh suaminya. Kevin dengan mantap mulai melangkah dengan lebar menuju pintu.


Ceklek.


Terbukalah pintu itu dengan pelan. Melihat wajah lelaki didepannya membuat rahang Kevin memgeras bahkan tangannya mengepal kuat.


Bugh.


Pukulan telak mendarat pada wajah tampan Rey. Dengan membabi buta Kevin memukul wajah Rey berkali-kali lipat.


“Brengsek, mana janji lo yang bilang jagain adik gue hah dan gak bakal bikin dia sakit hati,” bentak Kevin.


Bahkan Bima yang menahan Kevin pun ikut terjungkal karena tepisan tangan Kevin yang kuat. Kevin begitu kalap memukul Rey.


Semua orang yang berada didalam pun tak kalah kagetnya. Mereka segera keluar dan Khali serta Ibra menahan tubuh Kevin agar tak lagi memukul.


“Kamu harus tenang Vin,” ucap Khali pelan memegang lengannya.


“Lepas, biar aku habisin dia,” geram Kevin.

__ADS_1


Khali masih menarik tangan Kevin dan menjauhkan dari Rey. Mama Angel sendiri hanya menangis menatap Rey. Begitupun Adel dia hanya diam tanpa ingin mengatakan apapun.


Rey meringis dan mengutuk dirinya sendiri. Ia sudah menyiapkan dirinya jika keadaannya seperti ini. Setelah dirinya dibantu berdiri oleh Ibra dan Bima. Rey diam menunduk.


“Tolong ijinkan saya menjenguk Aqila sebentar,” ucap Rey menunduk.


“Saya mohon jangan pernah temuin anak saya lagi,” lirih Mama Angel dengan menangis.


Deg.


Rey spontak mengangkat wajahnya menatap mama dari wanita yang ia cintai.


Mama Angel mendekat dan menangkup kedua tangannya.


“Saya mohon sebagai seorang ibu, tolong jauhin anak saya agar dia tak mengingatmu lagi. Apa kurang cukup semua yang dia dapat darimu. Bahkan saat ini hubungannya dengan Rossa sudah hancur. Tolong jangan dekatin anak saya lagi,” mohon Mama Angel.


“Ma jangan memohon seperti itu ma,” ucap Kevin ingin melepas cekalan tangan Khali tapi tak bisa.


“Tolong jangan seperti ini tante,” pinta Rey.


“Saya tidak akan menurunkan tangan saya sebelum kamu memenuhi keinginan saya,” lriih Mama Angel.


“Baiklah tante, saya janji tidak akan menemui Aqila lagi,” ucap Rey.


Meski berat bagaimanapun dia akan menuruti perintah Mama Angel. Mungkin benar dia sudah terlalu banyak memberi luka pada Aqila. Dia juga sadar tak akan bisa bersatu dengan Aqila. Rey pamit dan segera berbalik meninggalkan semua orang.


Sepanjang menuju parkiran mobil, air mata Rey jatuh. Lelaki yang biasanya terlihat angkuh, tampan dan berwibawa sekarang hilang. Yang ada hanya lelaki menyedihkan yang menangis. Itulah gambaran yang terlihat dari penampakan kacau Rey.


Pipi memerah, sudut bibir pecah dan pipi membiru. Namun semua sakit diwajahnya tak dapat mengalahkan sakit dihatinya. Keinginannya untuk bertemu Aqila harus kandas dan dia harus menepati janjinya untuk tak menemui Aqila kembali.


---*---


Seperginya Rey, semua orang masuk kedalam ruangan Aqila. Adel menuntun suaminya untuk duduk. Adel dengan pelan menatap tangan yang dibuat untuk memukul Rey. Terdapat bekas luka dijemari suaminya. Ia bisa menebak darah itu adalah darah dari sudut bibir Rey.


“Lain kali selesaikan semuanya dengan kepala dingin Vin,” ucap Khali memecah keheningan.


“Tapi saya sudah tak bisa menahannya,” seru Kevin.


“Baiklah tapi saya cuma mengingatkan saja agar kamu bisa menjaga emosi kamu.”


Ya hubungan keduanya pun semakin akrab. Mungkin karena Khali dan Kevin bekerja sama bahkan mereka sudah sepakat akan bersikap layaknya teman jika diluar pekerjaan. Jika waktu bekerja maka sikap formalnya kembali pada keduanya


---*---


Selamat membaca.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH. MAKASIH


__ADS_2