Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 bab 82


__ADS_3

“Beginilah rasanya pelukan seorang nenek. Selain hangat juga menentramkan hati.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


“Nenek.”


Tak ada kebahagiaan lebih menurut Ratu Fatimah selain ini. Mendengar ketiga cucunya memanggilnya nenek. Air mata bahagia terasa meluncur dikedua pipinya. Dia merentangkan kedua tangannya agar cucunya menghampiri dirinya.


Ketiganya berlari dan langsung berlutut sambil memeluk neneknya. Mereka menumpahkan segala kekecewaan, kemarahan melebur berganti sebuah pelukan kerinduan. Semua kekecewaan sudah menguap tak terjejak. Hanya rindu dan kebahagiaan yang ada pada mereka. Mereka senang bisa berjumpa kembali dengan seorang nenek yang sering mereka cari saat masih kecil.


“Kami rindu nenek,” ucap Adel pelan.


“Iya nek aku juga,” saut Aqila.


Axel sendiri hanya diam namun air matanya juga merambat deras. Dia begitu merindukan kasih sayang kakek dan nenek namun baru saat ini dia bisa merasakan.


Ketiganya mulai melepas pelukannya dan menatap wajah cantik neneknya itu. Ada semburat penyesalan dikedua mata Ratu Fatimah. Ternyata dia begitu lama menemukan cucunya. Cucunya sudah sebesar ini namun ia baru menemukan mereka.


“Maafkan nenek karena baru menemukan kalian,” lirih Ratu Fatimah.


“Gakpapa nek yang penting kami sudah bertemu nenek sekarang,” ucap Aqila tulus.


Ratu Fatimah menatap anak lelaki Khalid itu. Memang benar wajah ketiganya mirip anaknya Khalid. Meski yang paling dominan wajah Adel yang lebih mirip.


Ratu Fatimah mengusap rambut Axel perlahan.


“Kamu seperti ayahmu nak, jarang bicara pada orang asing,” lirih Ratu Fatimah.


“Maafin aku nek,” tunduk Axel.


“Nenek yang seharusnya minta maaf nak. Karena nenek kalian harus kesusahan seperti ini.”


Ketiganya menggeleng bersamaan.


“Ini sudah takdir Allah nek, ada hikmah dibalik ini semua. Kita hanya bisa menjalani dengan ikhlas tanpa mengeluh,” sahut Aqila yakin.


Ratu Fatimah menatap bangga ke arah ketiga cucunya. Ternyata Angel mendidik ketiga anaknya dengan sukses. Dari ucapan Aqila saja ia sudah tau kalau cucunya pandai dengan menempatkan diri dan bijak dalam banyak hal. Ingat akan Angel, ia mencari keberadaan Angel. Ratu Fatimah tersenyum hangat saat melihat Angel menangis di tempat tak jauh darinya.


“Kemarilah menantuku,” pinta Ratu Fatimah dengan suara bergetar.


Ketiga anak Khalid mundur berganti Mama Angel mendekat dan berlutut mensejajarkan tingginya dengan Ratu Fatimah.


Ia raih punggung tangan kanan Ratu Fatimah dan menciumnya.


“Maafkan aku Bunda, maafkan aku karena aku bunda harus ditinggal pergi oleh Khalid”


“Maafkan aku karena aku datang dikehidupan Khalid bunda. Membuat Khalid menjadi anak durhaka dengan bunda dan yang mulia raja.”


Pecah sudah tangis Mama Angel yang semakin deras. Dia membenamkan kepalanya dipaha Ratu Fatimah. Dia menangis sejadinya. Dihatinya semakin takut saat harus jujur akan keadaan suaminya. Dia takut Ratu Fatimah akan shock dan keluarga mereka menyalahkannya.


Mama Angel merasakan elusan lembut dikepalanya.


“Jangan minta maaf nak, seharusnya Bunda yang bilang makasih sama kamu. Makasih kamu mau menerima Khalid, disaat dia tak membaw apapun dari kerajaan, makasih sudah mencintai putra bunda yang paling dingin namun penyayang,” lirih Ratu Fatimah menghapus air matanya.


“Tolong ampuni dosa wanita tua ini nak. Agar Bunda tak ada beban jika meninggalkan kalian nanti,’ sambungnya.

__ADS_1


Mama Angel sontak mendongakkan wajahnya dan menatap tak percaya ke arah mertuanya.


“Ibunda bilang apa. Jangan aneh-aneh hunda,” Angel menggeleng.


“Jodoh, maut tak ada yang tau kan nak. Tapi tolong doakan bunda agar bisa hidup sampai cucu bunda menikah semua,” pinta Ratu Fatimah menatap semua cucinya.


“Pasti nek, kami selalu mendoakan nenek, kakek, mama dan papa,” ucap Adel.


Perlahan mereka semua duduk disofa ruang tamu rumah Kevin. Ratu Fatimah didekatkan dengan sofa dekat Mama Angel duduk. Sepertinya siang ini mereka akan bernostalgia dan bercerita semuanya.


Ketika pelayan sudah menyediakan makanan ringan dan minuman, lalu Mama Angel menatap mertuanya itu.


“Bagaimana cara mama bisa datang kesini tanpa Yang Mulia Raja?” tanya Angel pelan.


“Kamu yakin pen tau ceritanya?” tanya Ratu Fatimah


Angel mengangguk.


“Tanyakan pada Ratu Mayra,” tunjuk Ratu Fatimah pada Mayra.


Mayra hanya tersenyum lalu mengusap punggung tangan Angel. Saat ini memang Mama Angel dan Ratu Mayra duduk di sofa yang sama.


“Apa kau masih mengingat kami?” tanya Ratu Mayra.


Mama Angel terdiam, dia menatap pelan wajah Raja Malik dan Ratu Mayra. Matanya mulai membesar sepertinya dia ingat sesuatu.


“Kamu kamu Malik,” tunjuknya pada Malik.


“Ternyata kamu masih ingat?” tanya Raja Malik.


“Oh maafkan aku yang mulia Raja, saya begitu mengingatmu. Bagaimana bisa saya melupakan sahabat terbaik suami saya,” lirih Angel.


Angel tertawa dan mengangguk. Namun semua orang hanya melongo melihat interaksi Raja Malik dengan Mama Angel begitu akrab bahkan terkesan pada sesama teman. Panggilannya saja aku kamu. Berarti memang benar bahw Angel mengenal dekat Raja Malik.


Mama Amgel mengalihkan pandangannya menatap Ratu Mayra.


“Kamu Mayra kan?” tanya Mama Angel.


Ratu Mayra mengangguk lalu keduanya saling berpelukan. Setelah berpelukan mulailah Angel menanyakan rasa penasarannya itu.


“Mayra tolong ceritakan padaku bagaimana Bunda bisa ikut kesini.”


Ratu Mayra mengangguk, lalu dia mulai menceritakan semua yang terjadi sesaat di Istana saat itu.


🍵🍵🍵


“Ibunda Ratu kami tau dimana Khalid dan wanitanya Angel.”


Dan berhasil! Ratu Fatimah menatap ke arah keduanya. Telinganya tak salah dengar kan? Atau dia hanya mengigau kan. Ratu Fatimah segera mendekat ke arah keduanya.


“Kami gak bohong ibunda ratu,” ujar Ratu Mayra.


“Terus jika kalian tau, dimana anakku?” ujar Ratu Fatimah.


“Khalid dan keluarganya ada di Indonesia,” ucap Raja Malik.


“Indonesia?”


“Iya ibunda, tapi sejujurnya kami belum mengeceknya namun kami sudah bertemu dengan anak Khalid yang ketiga” lirih Raja Malik.

__ADS_1


“Apa? Berarti berarti itu tandanya dia cucuku yang ketiga,” ucap Ratu Fatimah.


Ratu Mayra mengangguk, seketika tangis Ratu Fatimah mengencang.


“Ya tuhan ternyata aku sudah memiliki cucu dari anak tertuaku hiks hiks,” ujar Ratu Fatimah dengan bahu bergetar menandakan dia menangis.


Ratu Mayra yang melihat pun menjadi tak tega, dia mendekat dan memeluk Ibunda Ratu.


“Ibunda Ratu harus banyak makan dan istirahat biar nanti ibunda bisa bertemu dengan anak dan cucu Ibunda,” ucap Ratu Mayra.


“Kamu benar Nak, aku harus sehat untuk bisa bertemu anakku,” lirih Ratu Fatimah.


Raja Malik dan Ratu Mayra tersenyum, lalu dengan telaten Ratu Mayra menyuapi Ratu Fatimah dengan bubur yang sudah disediakan oleh perawat. Setelah makanannya habis. Ratu Fatimah mulai menanyakan banyak hal pada kedua orang tua Khali itu.


“Jadi cucuku akan menikah dengan Khali putramu?” tanya Ratu Fatimah saat dia sudah tau cerita dari Raja Malik.


“Iya ibunda, anakku sudah melamarnya tinggal kami yang akan datang kesana,” ujar Raja Malik.


“Alhamdulillah, akhirnya persahabatan kalian masih terus berlanjut hingga anak-anak kalian,” ucap Ratu Fatimah.


“Iya Ibunda benar.” Raja Malik mengangguk.


“Sekarang Ibunda Ratu harus istirahat, jika ibunda sehat kami akan mengajak ibunda ratu ke acara lamarannya Khali dengan cucu ibunda,” tutur Ratu Mayra.


“Serius?” tanya Ratu Fatimah dengan mata berbinar.


“Kami serius,” sahut Raja Malik.


Sejak saat percakapannya dengan orang tua Khali, keadaan Ratu Fatimah semakin membaik. Bahkan dirinya selalu meminum obat teratur, makan dengan lahap dan selalu terlihat bahagia.


Tentu saja sikap Ratu Fatimah saat ini menjadi semua orang ikut bahagia, namun setiap kali ada yang bertanya Ratu Fatimah hanya mengatakan jika dirinya ingin selalu sehat agar bisa menimang cucu dan cicit mereka.


Lalu tepat hari ini Raja Malik dan keluarganya harus ijin kembali ke Brunei. Tentu saja dengan mengajak Ratu Fatimah dan berdalih agar Ratu Fatimah bisa istirahat dan liburan.


Meski sikap Ratu Fatimah sedikit berbeda pada suaminya Raja Abdullah, namun dia tetap menjalankan sebagai istri yang baik. Dia tetap meminta ijin untuk ikut keluarga Khali ke Brunei. Dengan Dalih juga ia mengatakan untuk melupakan segala kesedihan tentang putranya. Mendengar alasan yang diucapkan istrinya tentu saja Raja Abdullah mengijinkan istrinya itu ikut.


Semua persiapan dan barang-barang milik Ratu Fatimah pun sudah tertata rapi didalam koper. Mereka mulai berpamitan pada semua keluarga kerajaan Arab. Saling berpelukan untuk melepas rindu dan jarak yang akan membentang.


“Kami titip ibunda Ratu ya paman,” ucap Raja Salim.


“Tidak usah seperti itu, aku sudah menganggap Ratu Fatimah seperti ibuku,” ujar Raja Malik.


Raja Salim tersenyum, ia percaya dengan pamannya itu. Mungkin panggilannya sedikit tua seharusnya sejak dulu ia memanggil kak. Namun karena sudah kebiasaan saat masa kecil bermain dengan Khalid dan Malik akhirnya panggilan paman yang awal menjadi candaan menjadi kebiasaan sekarang.


“Baiklah paman terima kasih, jika nanti ibunda ratu meminta jemput segera hubungi kami yah,” ucap Raja Salim.


“Iya pastinya Salim,” Raja Malik menepuk pundak salim dan memeluknya.


Akhirnya kepulangan mereka disambut suka cita oleh kerajaan Arab. Mobil mulai meninggalkan halaman istana. Ratu Mayra dan semua keluarga mulai melambaikan tangan saat mobil bergerak. Hingga akhirnya mobil mulai meninggalkan istana hingga tak terlihat.


🍵🍵🍵


----*----


Oke sabar tinggal beberapa part tentang keluarga.


Oh iya guys mau minta pendapat? enaknya cerita babang Rey taruh sini gabung apa bikin novel baru aja?


Komen yah dibawah yang banyak.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE BINTANG 5 DAN VOTE.


__ADS_2