
“Rencana Allah itu lebih indah daripada rencana kita.” ~Khali Mateen~
.
.
.
Dua pria tampan dan gagah baru saja keluar dari penginapannya. Sosok berkuasa dan kewibawaannya memancar sempurna dari dirinya. Dibalik masker itu terdapat ciptaan Allah yang sangat menganggumkan. Bagi kaum hawa yang melihatnya sudah pasti bisa membuat mereka pingsan atau teriak-teriak karena datangnya seorang pangeran tampan.
Keduanya berjalan menuju sisi mobil, masuk kedalam dan segera meninggalkan area penginapan. Pangeran Khali segera melepas masker dari wajahnya dan meletakkan di depan. Dia menatap jalanan Jakarta yang ramai itu. Suasana seperti ini membuatnya tidak tahan berada dikota yang padat akan penduduk.
Tapi karena tujuannya saat ini sangat penting mau tak mau ia pun ikut andil dalam antrian kemacetan ini. Ia melirik sejenak lelaki disebelahnya yang tampak tenang itu.
“Berapa lama waktu kita kesana Ibra?” tanya Khali.
“Sekitar 20 menit lagi tuan,” saut Ibra.
“Ah baiklah,” desah Khali.
Sepanjang perjalanan Pangeran Khali memejamkan matanya. Melatunkan sholawat dan dzikir dalam hatinya yang membuatnya selalu berada dalam lindungan Allah.
Tak ada yang bisa membuat hati seorang manusia tenang kecuali ketika dia ingat pada penciptanya. Pangeran Khali pun selalu seperti itu. Dia selalu melakukan hal-hal kecil untuk menjadi kebiasaannya agar selalu ingat pada dzat penciptanya.
Akhirnya perjalanan panjang itu berakhir. Masjid megah dan indah itu telah dipadati beberapa mobil dan sepeda motor diarea parkirnya. Bahkan sandal berjejeran didekat pembatas lantai masjid. Para anak muda yang ingin ikut kajian berjalan dengan segera menuju masjid.
Rombongan demi rombongan mulai memadati masjid megah itu. Pangeran Khali dan Ibra memakai masker lalu turun. Mereka berjalan bersama menuju masjid.
Dan tema kali ini juga membahas tentang “Perbaiki diri karena Allah.” Tema ini sangat membuat siapa saja pasti merasa ingin datang. Apalagi khusus bagi yang baru hijrah, maka saat ini adalah masanya dia akan belajar menimba ilmu.
Pangeran Khali dengan Ibra menghampiri seorang ustadz yang tak lain yang akan mengisi kajian saat ini. Dan ternyata ustadz dan Pangeran Khali saling mengenal. Jadinya Pangeran Khali bisa duduk didekat Ustadz dengan tenang dan tak lupa melepas maskernya karena ada penutup antara wanita dan lelaki.
Ustad berdiri di mimbar yang tersedia. Beliau membaca doa terlebih dahulu. Setelah selesai Ustadz segera memulai dengan mengucapkan salam dan menyapa semua.
“Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh,” terdengar suara Ustadz mulai berdakwah.
Para pendengar mendengarkan dengan seksama. Kata demi kata dituturkan secara lembut dan tegas oleh Ustadz. Bahkan tak jarang ada beberapa yang terbawa suasana menjadi menangis. Sepertinya Ustadz sendiri menginginkan jika kata yang ia lontarkan bisa membuat hati yang mendengar menjadi tersentuh.
“Nah jadi saya ingatkan. Jika hijrah kita semuanya demi Allah maka hijrah kita akan membawa berkah untuk kita dan semua orang. Bahkan bisa jadi Allah memberikan bonus spesial dari hijrah kita. Jangan pernah niatkan hijrahmu karena makhluk sesama ciptaannya. Karena jika demi seseorang maka itu namanya kalian belum siap akan memulai hijrah dan nanti larinya menjurus pada riya,” ucap Ustadz.
Semua orang terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Fokus mereka tertuju pada sang pemberi nasihat. Ustadz menjelaskan secara terperinci dan mudah dipahami.
Dan bahkan sepertinya Ustadz juga sangat berniat membuat siapa yang mendengar menjadi lebih berfikir. Banyak kaum anak muda yang mulai terlihat menyesal dari pancaran mata mereka. Bahkan yang menangis pasti banyak yang merasa bersalah pada dirinya sendiri.
---*---
Dibarisan masjid bagian kaum hawa.
Aqila, Kayla dan Dini sudah duduk dibagian depan sendiri dekat dengan pembatas penutup kaum hawa. Ketiganya menyimak sangat ucapan kata demi kata yang ustadz ucapkan. Bahkan sesekali ketiganya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang sedang dibahas.
__ADS_1
Bahkan Aqila sendiri selama dia mendengarkan, dia asyik memejamkan matanya. Menghayati paragraf demi paragraf yang disampaikan. Bahkan kenangan-kenangan saat dulu semuanya bergulir dimatanya. Kenangan muncul kembali dan memenuhi pikirannya.
Dia baru sadar bahwa Allah menyelipkan sebuah tujuan bahwa mereka yang datang padanya bukan jodohnya. Dan dia juga faham jika Allah menjauhkan segala sesuatu maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Tangis Aqila semakin pecah saat Ustadz mengatakan ucapan ini.
“Sebesar apapun dosa yang kita miliki, maka jangan pernah takut jika Allah tak memaafkan kita. Pintu rahmat dan maaf Allah sangat luas untuk para hambanya. Bersujudlah, dan berniatlah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Mengakui setiap kesalahan dan memohon ampunan padanya. Maka Allah pasti akan memaafkanmu. Yang penting itu tadi niatkan semua karena Allah,” Ucap Ustadz.
Tangis Aqila semakin pecah, semua kesalahannya bertumpuk di pikirannya. Hingga tanpa sadar hijab yang dia pakai bagian depan telah basah oleh air matanya. Bahkan Kayla sendiri sampai mengusap punggung Aqila untuk menenangkannya.
Hingga sampai dipenghujung acara Ustadz mengakhiri kajian muslimahnya saat ini. Acara selanjutnya adalah doa bersama. Saat awal ustadz melatunkan ayat demi ayat Alqur’an kembali, hati Aqila bergetar. Suara merdua dan indah dari ustadz bisa melebur hati Aqila. Air matanya luruh kembali.
Dalam hati Aqila panjatkan doa tiap doa untuknya, minta ampun sama Allah. Dan dia juga meminta doa untuk keluarganya.
“Mungkin hamba adalah manusia penuh dosa Ya Allah. Ampuni segala kekhilafan hamba selama ini. Hamba mohon tuntunanmu ya allah. Tolong berikan rahmat dan hidayahmu kepada hamba yang penuh dosa ini. Tolong ya allah teguhkan hatiku agar bisa kuat menjalani semua ini dengan niat karenamu ya allah” gumam Aqila dalam hati sambil mengucapkan aamiin dalam bibirnya.
Untaian doa masih diucapkan oleh ustadz bahkan isakan setiap orang terdengar bersahut-sahutan didalam ruangan masjid itu.
Aqila masih mengucapkan setiap doanya dalam hati. Sambil sesekali menyeka air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya.
“Ya Allah untuk saat ini. Semoga apa yang terbaik untukku tolong dekatkan dia jika memang engkau merestuinya ya allah. Jika tidak maka jauhkan dia dariku” doa Aqila yang ia tunjukkan untuk siapa saja nanti yang akan datang dalam hidupnya.
Dan berakhirlah doa bersama itu dengan ucapan aamiin sekaligus hamdalah dari semua jamaah kajian.
Ketiga perempuan itu salin menatap dan tersenyum tulus.
Dini dan Aqila sama-sama mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah sudah hapus ingus dan air mata kalian. Ayo kita keluar dan makan malam,” ajak Kayla.
Lagi-lagi keduanya mengangguk dan sebelum keluar mereka menunaikan ibadah dulu. Setelah selesai mereka keluar dari majid dan menuju ke arah sandal mereka. Masih didepan masjid Kayla menahan keduanya.
“Ada apa kak?” tanya Aqila.
“Aku kebelet bentar ya kalian tunggu disini,” ucap Kayla.
Tanpa persetujuan keduanya, Kayla sudah berlari menuju kamar mandi. Sudah tidak bisa ditahan memang, mungkin kebanyakan minum jadinya Kayla bolak balik kamar mandi.
Aqila dan Dini mengobrol bersama sambil berjalan menuju arah sandalnya. Sebelum sampai ditempat ada suara merdu yang tak asing baginya sedang memanggil namanya.
“Assalamu’alaykum Aqila.”
Aqila spontan mengalihkan perhatiannya dan menatap asal suara.
“Wa’alaykumsalam,” ucap Aqila tergagap.
“Anda ikut kajian juga?” tanya Pangeran Khali sambil tersenyum kecil.
“Oh ah iya,” Aqila menjawab sambil menunduk.
__ADS_1
“Ya allah maafkan mataku yang menatap ketampanan ciptaanmu ya allah.” Gumam Aqila dalam hati.
“Naik apa anda kemari?” tanya Pangeran Khali.
“Mobil tuan,” ucap Aqila.
“Jangan terlalu formal seperti itu. Kita diluar bukan dikantor,” ucap Khali dengan tertawa kecil.
“Oh iya maaf,” ucap Aqila kikuk.
Bagaimana tidak kikuk, didepannya dua lelaki tampan beda sifat. Dan juga dia juga seorang Pangeran dinegaranya. Membuatnya harus bisa mencoba tetap bersikap sopan kepadanya.
Untuk hati Aqila saat ini masih biasa saja meski kadang ada desiran aneh dalam hatinya tapi ia mencoba menekan itu dan menutupnya dengan wajah yang biasa
Dan akhirnya suasana canggung itu terpecah oleh kehadiran Kayla.
“Ayo dek, kita juga harus cari makan. Laper nih,” ajak Kayla saat sudah sampai didekatnya.
Aqila mengangguk dan menatap ke arah Pangeran Khali.
“Emm saya pamit pergi dulu ya tuan, karena kami mau makan malam bersama dan segera pulang,” pamit Aqila.
“Baiklah hati-hati,” ucap Khali ramah.
Ketiganya mengangguk dan mengucapkan salam, setelah dijawab salamnya mereka langsung undur diri dan berjalan menuju mobil. Segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan pelataran masjid yang masih ramai oleh jamaah yang masih mengobrol dan antri keluar juga.
“Tadi siapa La?” tanya Kayla.
“Itu rekan bisnisnya Kak Kevin Kak Kay,” ucap Aqila.
“Ohh.”
“Ganteng ya La,” celetuk Dini.
“Kamu mah kalau ganteng langsung tancap gas,” gerutu Aqila.
“Hhahahhaha lihat yang ganteng jangan ditolak La,” ucap Dini cengengesan.
Kayla hanya geleng-geleng kepala.
Akhirnya perjalanan mereka sampai di sebuah Restaurant. Mereka segera menyelesaikan makannya karena waktu semakin malam. Dan juga Kayla sendiri sudah ditelfon oleh pengasuh anaknya jika sang anak tak mau tidur sebelum melihat Kayla.
Ketiganya segera kembali kerumah masing-masing. Dan hari ini adalah hari untuk menjadi pelajaran bagi Aqila. Semua isi kajian membuat Aqila sadar akan kesalahannya dan dia sudah bertekad akan menjadi pribadi yang lebih baik dan yang pasti memulai semuanya dari awal dengan penanpilan dan hati yang baru.
----*----
Selamat membaca.
Maaf telat up yah soalnya masih riweh.
__ADS_1