Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 33


__ADS_3

“Aku pernah mencintai seseorang, melebihi aku mencintai diriku sendiri. Aku pernah menggantungkan seluruh kebahagiaanku padanya hingga pada akhirnya semua kebahagiaan itu hancur olehnya. Aku kehilangan diriku sendiri dan hatiku terasa mati rasa untuk mencintai orang lain.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Sayup-sayup kumandang adzan menggema diseluruh penjuru sekitarnya. Beberapa orang telah mengerjap dalam tidurnya ketika mendengar panggilan kewajiban untuk umat muslim. Tentu saja Aqila salah satunya, dia menggeliat dalam tidurnya. Tak bisa dipungkiri matanya sangat mengantuk, bagaimana tidak semalam dia tidak bisa tidur. Entah kenapa ia merasa takut meninggalkan keluarganya. Bahkan ia merasa kali ini ia akan menetap dalam waktu lama di negara orang.


Aqila baru tertidur ketika waktu menginjak pukul 2 pagi. Setelah dia sholat malam dia baru tertidur dengan tenang dan sekarang ia harus terbangun untuk mengerjakan sholat subuh.


Aqila segera mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan menurunkan kedua kakinya ke lantai. Dengan langkah gontai Aqila berjalan menuju kamar mandi. Tak ingin mandi akhirnya Aqila hanya gosok gigi dan mensucikan diri. Entah kenapa ia sungguh merasa kedinginan.


Bersujud memohon ampun pada sang illahi, bahkan tak lupa menengadahkan kedua tangannya untuk memanjatkan segala apa yang ia semogakan bahkan menyelipkan doa-doa untuk orang yang ia sayangi. Melipat mukenahnya kembali lalu Aqila beranjak meletakkannya kearah keranjang kotor.


Sesaat ia menatap beberapa koper yang berada didekat pintu kamarnya. Disana terdapat 3 koper miliknya. Koper-koper itu bahkan termasuk koper berukuran besar. Mungkin karena pakaian yang Aqila bawa banyak yang menjadikan tiga koper itu terisi full tanpa celah.


Aqila sempat membuang nafasnya begitu berat lalu melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar. Tujuannya saat ini lantai bawah. Segera menuju lift dan menekan tombol 1.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Penampakan pertama yang ia lihat adalah beberapa anggota keluarga sudah berlalu lalang, yang mengagetkan lagi semua orang berkumpul disana. Aqila sempat diam sejenak ia menatap sekelilingnya.


Ini bukan mimpi pikirnya. Dia memang akan meninggalkan rumah ini untuk beberapa tahun kedepan sepertinya. Ia bertekad sampai hubungan pernikahan sahabatnya berjalan lancar baru ia akan pulang kembali ke negaranya.


Aqila menyeret kakinya menuju dapur dan ternyata disana terdapat mamanya, mama mertua kakaknya dan kakaknya Adel sedang bergelung di dapur. Canda tawa mereka terdengar dari suaranya.


Mata Aqila sudah berkaca-kaca, dirinya pasti akan merindukan momen ini. Mungkin jika tak ada masalah ini ia tak akan pergi dari rumahnya. Tak akan jauh dari keluarganya dan bahkan dia tak akan merasakan kesakitan hati seperti ini.


Aqila menunduk karena dia tak mampu menahan tangisnya. Beberapa bulir air mata jatuh kelantai yang ia pijaki. Aqila menghapus air matanya segera ketika merasakan elusan di rambutnya yang tertutup hijab. Dirinya mengangkat wajahnya dan yang ia lihat mamanya berdiri didepannya.


Aqila segera berhambur dipelukan sang mama.


“Apa salahku ma, kenapa Qila harus merasakan ini semua.” Isak tangis Aqila pecah dipelukan mamanya.


Bahkan Aqila mempererat pelukannya ketika mendengar langkah kaki mendekat.


“Sudah jangan menangis anak mama,” lirih Mama Angel.


Sejujurnya Mama Angel juga menahan tangis untuk anak gadisnya. Jika boleh berkata ia juga sangat keberatan ketika sang anak terakhir akan dikirim ke Brunei. Dia sangat menyanyangi anak gadisnya karena hanya Aqila yang menurut Mama Angel hidupnya tak beruntung. Tak mendapat kasih sayang papa dan bahkan hidupnya dulu miskin hanya mengandalkan gaji dari Adel.


Mama Angel tetap memeluk anaknya erat saat anaknya Adel mengusap punggungnya.


“Jangan menangis nak, apa kau mau membuat mama menangis?” tanya Mama Angel.


“Gak mau ma,” sahut Aqila dengan suara serak.


Dia segera menjauh dari tubuh mamanya dan menghapus air matanya. Aqila mencoba tersenyum pada ketiga wanita didepannya itu.


“Adik kakak adalah gadis yang kuat dan kakak yakin kamu bisa melewati ini semua ” ucap yakin Adel.

__ADS_1


Aqila mengangguk dan drama menangis itu akhirnya berakhir. Mama Nora segera menata makanan di meja makan dibantu oleh Adel dan Aqila. Mereka akan melaksanakan makan bersama sebentar lagi sebelum mengantar kepergian Aqila ke Bandara.


---*---


Semua orang segera membantu menaikkan koper dan beberapa kebutuhan Aqila ke mobil. Bahkan Aqila sampai berdecak tak menyangka bahwa barang yang ia bawa begitu banyak. Ia sampai pusing memprotes agar barangnya dikurangi tapi keluarganya tak mengijinkan.


“Ini terlalu banyak ma,” protes Aqila.


“Ini sudah cukup sayang,” sahut Mama Angel.


“Tapi nanti gimana kalau Aqila turun dari pesawat ma,” degus kesal Aqila.


“Kamu nanti bakalan diikuti beberapa bodyguard kakak,” celetuk Kevin.


Aqila menoleh matanya membulat penuh.


“Bodyguard?”


“Iya bodyguard. Kakak gak mungkin ninggalin kamu berdua sama Dini kan,” ucap Kevin enteng.


“Astaga, gak perlu kak kalau sampai ada bodyguard aku yakin bakalan ribet nanti.” Memelas Aqila.


“Gak perlu merayu keputusan kakak tetap sama,” ucap Kevin tegas.


Jika seperti ini mau tak mau Aqila menurut. Ia berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju mobil. Sebagai bentuk protes sepanjang jalan Aqila diam saja. Dia malas menanggapi semua ucapan keluarganya yang terdengar seperti perintah yang harus ia turuti.


---*---


Bandara Soekarno Hatta.


Aqila hanya acuh sambil membawa tas punggung kecilnya. Ia berjalan mengikuti keluarganya kedalam Bandara. Langkah demi langkah ia hitung untuk sampai didalam. Semakin banyak angka yang ia hitung maka semakin dekat dia sampai di pintu penjagaan.


Aqila bahkan ingin mundur saja agar ia tak jadi pergi. Namun mengingat hubungan dengan sahabatnya yang hancur karena dia, Aqila tak ingin mundur lagi. Dia terus ikut masuk ke dalam Bandara.


Dari kejauhan Aqila bisa melihat Dini sedang berdiri menunggu kehadirannya. Dini melambaikan tangan dengan tawa lebar ke arah Aqila. Tentu saja gadis itu segera berlari kecil menuju Dini.


“Udah lama?” tanya Aqila.


Dini menggeleng. “Baru aja nyampek.”


Kevin segera mengajak mereka menuju ruangan khusus penumpang VVIP. Mereka segera duduk disana dengan fasilitas pelayan yang begitu memadai.


Tampak Aqila bermanja dengan sang mama. Dia memeluk Mama Angel dengan kuat dan dibelakangnya terdapat kakak laki-lakinya yaitu Axel. Mereka saling berpelukan untuk menjadi penghilang rindu nanti ketika berjauhan.


“Kalau Aqila kangen gimana ma?” tanyanya.


“Nanti telfon mama sayang,” sahut Mama Angel.


“Kalau nanti Aqila sakit siapa yang mau rawat Qila ma,” lirihnya lagi.


“Huss gak boleh ngomong gitu sayang, Aqila harus jaga kesehatan gak boleh sakit karena Aqila harus tau mama sama kamu lagi jauh,” ucap Mama Angel.


“Ya berarti mama ikut aku aja,” rengeknya.

__ADS_1


“Terus nanti kakakmu yang jomblo ini gimana sayang?” sindir Mama Angel.


“Ya biarin sendirian ma,” uajr Aqila.


“Enak aja,” seru Axel.


“Lah kenapa? Kakak kan laki lah aku cewek,” seru Qila dengan nada sedikit tinggi.


“Ya tapi tetep aja kakak butuh mama.” Axel tak mau mengalah.


Kedua kakak adik itu tentu saja akan berantem dimana saja jika sudah bersama. Hingga suara Mama Angel membuatnya terdiam. Wanita paruh baya itu memeluk kedua anaknya dengan erat. Bahkan ia menyembunyikan air matanya agar tak jatuh.


“Aqila harus ingat disana jaga kesehatan yah, jaga pola makan. Istirahatnya yang cukup dan jangan lupa minum vitamin oke.” Mama Angel menjelaskan.


“Iya ma pastinya.” Aqila mengangguk.


Suara panggilan operator mulai menggema memberitahukan informasi bagi para pengunjung yang ingin terbang ke Brunei bahwa pesawat akan segera lepas landas.


Keluarga Kevin mengantar sampai pintu petugas. Aqila dengan berat memeluk satu persatu keluarganya. Bahkan dia mencium pipi ketiga ponakannya dengan berlinang air mata. Ini yang paling ia benci yaitu ketika jauh dari keluarganya.


Aqila memeluk erat tubuh kakaknya Adel. Bahkan ia sampai menangis sesegukan.


“Sudah jangan menangis sayang, nanti mama sedih,” bisik Adel.


“Aku ngerasa gak mau pisah sama kalian,” lirih Aqila.


“Ingat sayang tujuanmu saat ini hanya sementara.” Gumam Adel mengingatkan.


Aqila melepaskan pelukannya dan mengangguk. Dia beralih memeluk Axel dengan erat. Kakak laki-laki yang selalu melindunginya, menjaganya akan berada jauh dengannya mulai detik ini. Dia akan berjuang sendiri dengan tubuhnya dan sahabatnya Dini di negara orang. Dia akan mengadu nasib dengan negara baru itu.


Setelah menyampaikan segala petuah dari Axel dan gadis itu menanggapi dengan mengangguk dan tersenyum. Meski masih ada genangan air mata diwajahnya.


Terakhir ia memeluk Mama Angel dan mencium seluruh wajah wanita yang telah melahirkannya.


“Mama harus sehat selalu yah, jangan lupa obatnya. Makannya tepat waktu ya ma. Mama harus ingat itu demi Aqila yah,” lirih Aqila.


Mama Angel tersenyum dan mengangguk.


“Mama bakalan jaga kesehatan mama biar mama bisa memeluk kamu lagi nak,” ucapnya sedih.


“Makasih ma.”


Aqila melepaskan pelukannya dan mulai menarik satu koper miliknya. Dini dan para boduguard sudah berjalan mendahului Aqila. Gadis itu masih menatap satu persatu wajah keluarganya setelah puas dia melambaikan tangan sambil menyeret kopernya secara perlahan dan mulai bergerak masuk.


Ketika Aqila sudah mulai berjalan masuk dan mulai menjauh dari kejauhan terdengar teriakan yang menggema di ruangan itu.


“Aqila.”


---*---


Selamat membaca.


Jeng jeng siapa yang panggil hayoo? mau up sore ini apa besok pagi. Kalau mau sore ini yok VOTE nya yang banyak. koin poin bisa kok.

__ADS_1


HARUS VOTE KENCENG, LIKE KENCENG DAN KOMEN BANYAK OKE.


__ADS_2