Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 44


__ADS_3

“Kasih sayang yang kakak beri sudah membuatku seperti mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.” ~Aqila~


.


.


.


Aqila keluar dari mobil dan sudah disambut oleh Alex diluar. Aqila segera menyalami laki-laki itu dan masuk kedalam.


“Ada apa kak,” tanya Aqila.


Keduanya sudah duduk di ruang tamu dengan santai.


“Kakak mau minta tolong sama kamu La,” ucap Alex.


“Minta tolong apa kak?” tanya Aqila.


Mau tak mau Alex menceritakan semuanya, Luna yang datang kemudian tes DNA sekaligus hasilnya yang membuat James syok. Tentu saja semua ini membuat hati Aqila berdenyut kembali. Padahal dia sudah berfikir akan memaafkan James agar hidupnya tenang sebelum dia berangkat.


“Terus apa bantuan yang bisa aku berikan?” tanya Aqila.


“Tolong bujuk James agar mau menerima anak itu La,” lirih Alex.


“Aku sudah tak tau harus minta bantuan siapa karena hanya kamu yang bakal didengerin sama James.”


Aqila ingin berkata tidak, tapi bagaimana pun ia juga seorang perempuan ia bisa merasakan perasaan Luna. Bagaimana jika ia yang mengandung dan lelaki yang menghamilinya meragukan kandungannya pasti hancur hatinya.


“James dimana sekarang kak?” tanya Aqila.


“Di kamarnya,” ucap Alex.


“Baiklah aku akan kesana,” lirih Aqila.


“Tapi”


“Tapi apa kak?” selidik Aqila.


“Ada Luna didalam.”


Deg.


Mencelos sudah hati Aqila,


“Ya tuhan dua pria dengan sakit hati yang berbeda untukku,” lirih Aqila dalam hati.


“Baiklah aku tunggu sini,” ucap Aqila.


Alex berdiri dan meninggalkan Aqila. Aqila tak tau apa yang sedang Alex ucapkan tapi dia mendengar perseteruan antara Alex dan cewek yang pasti ia yakini bahwa itu Luna. Beberapa saat kemudian benar saja Luna keluar dengan wajah kesal menahan amarah.


Ia berjalan menuju Aqila dengan wajah penuh kebencian.

__ADS_1


“Jangan pernah berfikiran untuk mengambilnya dariku,” ancam Luna.


Aqila tak menggubris dia berdiri dan berjalan menuju kamar James. Ia menatap seseorang yang sedang meringkuk diatas ranjang. Aqila menghampiri dengan ditemani Alex.


Mengedarkan pandangannya, Aqila teringat dulu saat dia pertama masuk kamar ini dengan James. Saat itu mereka masih berpacaran.


“Hah” Aqila menghembuskan nafas kasar lalu duduk disamping James.


“Kenapa hidupmu sekacau ini sekarang ,bukankah ini semua hasil dari kelakuanmu,” ucap Aqila dalam hati.


Aqila mengusap pipi James dengan lembut hingga tak terasa air matanya mengalir.


“Qila Qila jangan tinggalin aku,” racau James sambil memejamkan matanya.


Sepertinya James bermimpi tentang Aqila. Dia terus meracau dengan air mata disudut matanya membuat Aqila yang menatap juga ikut menangis ”Jangan pergi La jangan,” teriak James.


Aqila semakin mendekat.


“James James sadar James,” Aqila menepuk pipinya.


“Ini aku James bangunlah,” ucap Aqila.


James langsung tersadar tapi matanya sayu mungkin karena banyak minum dia masih sedikit mabuk. Kepalanya juga pusing tapi dia masih bisa melihat wajah wanita yang dia cintai.


James memegang kedua pipi Aqila. Ia menatap wajah itu dengan senyum lebar.


“Kamu disini sayang kamu disini. Jangan tinggalkan aku,” James memeluk perut Aqila.


“Jangan tinggalkan aku kumohon maafkan aku,” lirih James.


“Kamu tau kan gimana kondisinya,” ucap Alex.


Aqila mengangguk.


“Besok bilang sama James aku tunggu dirumah ya kak, suruh dia ke rumahku, aku akan bicara padanya. Karena beberapa hari lagi aku akan berangkat kak ke Palestina,” lirih Aqila.


“Jadi kamu siap berangkat?” tanya Alex.


“Iya kak.”


“Ya sudah jaga kesehatan yah,” ucap Alex mengingatkan.


Aqila mengangguk ia mengambil tas nya dan pamit pulang kerumah.


--*--


Sesampainya dirumah terlihat kakaknya Axel sedang bersantai diruang tamu.


“Kakak,” panggil Aqila.


“Hm,” saut Axel.

__ADS_1


“Boleh aku cerita bersamamu,” ucap Aqila.


Spontan Axel mengangkat wajahnya dan menatap wajah sang adik. Terlihat memang wajah sayu itu seperti ada masalah. Axel juga tau jika begini sang adik sedang tak baik-baik saja.


“Ayo ke taman belakang,” ajak Axel.


Keduanya berjalan beriringan dengan Aqila bermanja pada lengan Axel.


“Ada apa?” tanya Axel setelah keduanya duduk disebuah bangku.


“Aku dan Rey gak ada hubungan apa-apa kak,” ucap Aqila.


“Maksutnya apaan sih La, bukannya kamu sama dia sudah ada rencana ke jenjang,” belum sempat ucapan Axel selesai Aqila memotongnya.


“Tolong dengarkan ceritaku dulu kak,” lirih Aqila.


Axel mengangguk.


“Sebenarnya Rey adalah calon suami Rossa kak.”


“Aku baru tau kemarin waktu Rossa mengenalkan calon tunangannya padaku, aku terkejut ketika melihat lelaki itu yang tak lain adalah Rey.”


Dan mengalirlah cerita Aqila dari awal sampai akhir. Semua Aqila curhatkan pada Axel secara gamblang sesuai dengan yang ia tau.


Hati Axel mencelos saat tau apa yang terjadi. Hingga ia pun berfikir dosa apa yang pernah ia lakukan hingga membuat sang adik tersakiti seperti ini. Apa karena ia dulu menolak Jesica hingga membuat karma itu jatuh pada sang adik.


Axel segera memeluk tubuh rapuh Aqila yang sudah menangis. Ia menangis dipelukan Axel. Sungguh hati Axel juga merasa sakit tapi ia tak bisa melakukan apapun karena ini semua diluar kendali Axel. Apalagi saat tau Rey dijodohkan jadi mau tak mau Axel tau bahwa Rey melakukannya karena terpaksa.


“Ingat kata kakak dulu,” ucap Axel dengan masih memeluk sang adik.


“Menjadi wanita itu ada sulit dan mudahnya sayang. Wanita itu mudah perasa pada seseorang tetapi dia juga mudah tersakiti karena memang wanita itu rapuh dan lemah. Dia adalah tulang rusuk jika dibengkokkan maka dia akan bengkok dan tersakiti tapi jika dia dijaga dan disayang maka dia akan merasa bahagia.”


“Kakak percaya mungkin sekarang kamu sedang diuji agar menjadi wanita yang sabar, wanita yang kuat dan wanita yang mudah memaafkan. Sekarang kamu sedang diuji agar lebih dewasa sayang. Sekarang mungkin masa masa sakitmu. Tapi tenanglah tuhan gak tidur. Tuhan akan memberikan ujian pada hambanya sesuai dengan kemampuan kita.”


“Jadi sekarang kamu harus tabah dan kuat menjalani ini semua. Kaka percaya kamu bisa ngelewati ini semua dan suatu hari nanti akan ada pelangi datang dihidupmu,” ucap Axel dengan pelan.


Aqila menangis dia semakin memeluk erat sang kakak. Selama ini Axel lah yang selalu mengerti dirinya. Menggantikan posisi ayahnya yang sangat ia butuhkan. Hanya Axel dan Adel yang selalu ada untuknya. Dan Aqila pun bersyukur karena dia masih dikelilingi orang yang sayang dengannya.


“Jadi sekarang kamu gak boleh nangis lagi oke,” ucap Axel.


“Iya kak.”


“Nah gini ini baru adik kakak yang cantik,” ucap Axel.


“Dan besok James akan kemari kak aku ingin bicara berdua dengannya dan aku ingin memaafkan semuanya kak agar hubungan kita bisa berjalan baik seperti kakak dan adik,” ucap Aqila.


“Anak pintar itu lebih baik biar kita gak ada dendam dihati oke.”


“Oke kak” saut Aqila dengan tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.


--*--

__ADS_1


Selamat membaca🙏🙏


YUK JANGAN LUPA VOTE, KOMEN DAN LIKENYA YAH


__ADS_2