Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 46


__ADS_3

“Kenapa menjemput kebahagiaanmu, kamu harus bersakit seperti ini dulu dek.” ~Adel~


.


.


.


“Assalamu’alaykum La Aqila,” teriak Adel.


“Dek sayang,” suara Adel menggema dirumah itu.


Aqila dan Axel yang sedang berbincang dibelakang segera berlari masuk kedalam.


“Iya kak ada apa?” tanya Aqilla saat berhadapan dengan sang kakak.


Tanpa banyak kata Adel memeluk Aqila erat bahkan ia menangis. Aqila bahkan dibuat bingung, dia hanya mengusap punggung Kakaknya Adel lembut dan Adel mencium puncuk kepalanya.


“Kenapa kak?” tanya Aqila.


Adel hanya diam dia masih memeluk sang adik dengan sayang. Sampai-sampai Aqila menatap ke arah Kevin tapi kakak iparnya itu juga menatap sendu kearahnya.


“Kak Adel kenapa?” tanya Aqila melepas pelukan erat itu.


“Apa kamu baik-baik saja, kamu gak sakit kan atau kamu gak aneh-aneh kan,” tanya Adel beruntun.


“Qila baik-baik aja kenapa memang?” tanya Aqila bingung.


Kevin mendekat dan memberi sebuah undangan pada Kevin. Tapi sebelum undangan itu terambil oleh tangan Aqila, Adel menyautnya cepat.


“Ngapain mas kasih?” tanya Adel dengan menatap tajam Kevin.


“Biarlah Qila tau sayang,” ucap Kevin sedih.


“Tapi aku gak tega mas, mas sini apa-apan sih,” teriak Adel.


Aqila hanya mengkerutkan keningnya tapi dia juga dibuat penasaran dengan undangan itu.


“Memang itu apa kak?” tanya Aqila.


“Bukan apa-apa,” ucap Adel.


“Kakak kemarilah aku lihat,” rengek Aqila.


Adel menggeleng. Hingga suara bel berbunyi membuat perdebatan itu berhenti. Aqila berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Selamat siang apa benar ini kediaman Nona Aqila?”


“Ah iya benar pak ada apa?” tanya Aqila ramah.


“Ini ada undangan buat nona,” ujar kurir.


Aqila menerimanya dan dia bingung kenapa warnanya sama dengan milik kakaknya. Setelah menandatangi surat terima dan sang kurir pergi Aqila membalikkan undangan itu.


Deg.


“Astagfirullah” batin Aqila tangannya memegang dadanya.


Sakit pastinya, siapa yang tidak sakit menatap undangan pertunangan dan tertera nama lelaki yang dulu akan hidup bersamanya.


Adel dan Kevin yang menunggu didalam pun menjadi tak sabar karena Aqila tak kunjung masuk kedalam. Mereka berjalan menuju Aqila.


Keduanya mematung, terkejut melihat sang adik memegang undangan yang sama. Bahkan disana sang adik diam dengan menatap nama diluar undangan.


“Ya tuhan ini benar takdirku yang akan ditinggalkan lagi oleh mereka” batin Aqila lirih


Air mata tak ada lagi dimata Aqila mungkin lelah sudah air matanya turun terus. Sekarang mata itu sudah mengering tetapi sakit dihatinya masih tertancap jelas.

__ADS_1


Adel mendekat lalu merebut undangan itu. Spontan Aqila tersentak dan menatap kakaknya Adel. Adel tak kuasa menatap mata cantik itu memerah. Terlihat jelas bahwa Aqila menahan. Adel membuang undangan itu dan memeluk adiknya.


“Menangislah sayang jika itu membuatmu tenang,” ucap Adel dengan mengusap punggung sang adik.


Dan benar saja air mata itu mengalir deras bahkan Aqila sampai sesenggukan dibuatnya.


“Sakit kak sakit,” ucap Aqila.


“Aku sudah mencoba memaafkan mereka kak tapi kenapa sakit ini menyiksaku kak hiks hiks,” Aqila menangis sambil memukul dadanya sendiri.


“Jangan seperti ini sayang ingat kamu kuat dek kamu kuat,” ucap Adel.


Aqila dituntun di sofa ruang tamu dengan keadaan masih memeluk Adel. Hingga akhirnya keadaan Aqila tenang air matanya berhenti dan Aqila menghapus air mata itu.


“Apa kamu sudah tau semua ini?” tanya Adel.


Aqila mengangguk.


“Bahkan dia sudah bertemu Rossa dan Rey kak,” seru Axel.


Adel menoleh. “Serius?”


Axel mengangguk.


“Kenapa kamu gak bilang sama kakak sayang,” ucap Adel.


“Aku gak mau ngerepotin kakak,” seru Aqila.


“Jangan pernah berfikiran seperti itu lagi mengerti,” Adel mengangguk.


“Apa dia memang berniat menyakitimu La?” tanya Kevin.


“Kalau iya siap-siap saja perusahaannya akan aku ratakan,” geram Kevin.


“Bukan kak bukan, jangan lakukan itu kak jangan,” Aqila menggeleng.


Dan mengalirlah cerita Aqila dari awal sampai akhirnya. Tak ada kebohongan pada penjelasan Aqila. Bahkan Adel sampai menangis.


“Berarti mamanya ini yang memaksa,” ucap Kevin.


“Ku mohon Kak Kevin jangan lakukan apapun kak, aku sudah ikhlas kak,” ucap Aqila.


“Aku belajar dewasa dari masalah ini kak,” seru Aqila.


Kevin menatap sendu Aqila. Kevin sendiri sudah menganggap wanita didepannya ini adalah adiknya sendiri. Karena dia anak tunggal jadinya dia sudah menganggap adik iparnya adalah adik kandungnya sendiri. Kevin sangat menyanyangi keduanya.


“Makasih ya kak sudah selalu ada buat aku. Dan bantuin aku juga kak,” tulus Aqila.


“Tidak ada kata terimakasih untuk saudara,” seru Kevin.


Aqila mengangguk lalu memeluk Adel kembali.


“Terus kakak dapet undangan itu darimana?” tanya Aqila.


Akhirnya Kevin mengingat kejadian tadi siang saat dia berada diruang kerjanya.


🍵🍵


Siang itu Kevin memang sengaja tak makan siang karena ia ingin segera pulang. Jadi mau tak mau dia harus memakai waktu makan siang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hingga bunyi ketukan membuyarkan konsentrasinya.


“Masuk,” titah Kevin.


Ternyata Rudi yang masuk dengan wajah tegang dan Kevin pun menyadari.


“Ada apa?” tanya Kevin.


“Ini Vin,” ucap Rudi.

__ADS_1


Kevin bingung tapi ia mengambil undangan itu dari tangan Rey. Dia membalikkan undangan itu dan matanya menatap tajam nama kedua mempelai yang tertera di undangan.


“Apa maksutnya ini Rud?” teriak Kevin.


“Itu undangan pertunangan Rey dan Sahabatnya Aqila Vin,” seru Rudi.


“Apa!!! Keparat itu telah menyakiti adikku,” teriak Kevin murka.


“Vin tenang Vin, tenang,” cegah Rudi.


“Lo gak boleh gegabah lo harus datang kerumah Aqila sekarang,” seru Rudi.


Kevin mengatur deru nafasnya agar tak memburu setelah tenang ia segera pulang dan membawa Adel kerumah Aqila.


🍵🍵


Dan begitulah Kevin memceritakan kejadian tadi siang pada Aqila. Aqila hanya manggut-manggut santai.


“Kamu serius baik-baik aja sayang?” tanya Adel.


“Iya kak aku baik kok,” seru Aqila.


“Jangan berbuat hal nekat loh,” seru Adel memperingati.


“Gak bakal kak,” Aqila menggeleng.


“Itu baru adik kakak,” Adel memeluk kembali Aqila.


--*--


Disudut belahan yang lain.


Rossa dan Rey sedang berada di salah satu butik terkenal. Mereka akan melakukan fitting baju pertunangan. Terlihat wajah antusias di wajah Rossa, Mama Ria dan Mama Clara. Hanya Rey yang memasang wajah datar dan dingin.


Dia bahkan acuh tak ikut memilih. Karena ini bukan keinginannya. Meski ia sudah tak ada beban oleh Aqila. Tetap saja cinta lelaki itu seutuhnya untuk Aqila.


Hingga lamunan Rey bubar karena sentuhan dipundaknya. Rey mendongak dan mendapati Rossa yang berdiri didekatnya.


“Ada apa?” tanya Rey tanpa menatap Rossa.


“Lihatlah mas, apa ini cocok untukku?” tanya Rossa.


“Iya,” saut Rey tanpa menoleh.


“Mas,” panggil kesal Rossa.


“Apaan sih,” ketus Rey.


“Liat dong mas belum liat udah jawab aja,” seru Rossa.


Rey menoleh sebentar lalu mengalihkan lagi, “Bagus.”


“Ya sudah ini saja makasih ya mas,” seru Rossa senang.


Dan Cup.


Rey mengerjapkan matanya dan mengusap bekas ciuman Rossa.


“Saya gak sudi dicium kamu, inget ya satu kali lagi kamu cium saya. Saya gak segan-segan kabur agar pertunangan ini batal,” ancam Rey dengan tegas.


Tentu saja itu membuat Rossa bungkam dan takut. Dia memilih diam dan melanjutkan melihat gaun yang lain.


--*--


Selamat membaca🙊


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH

__ADS_1


__ADS_2