
“Bagaimana bisa kau menutupi semuanya dariku, sesakit ini dadaku mendengar keadaaanmu yang jauh disana.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Deg.
Jantung Kayla berdetak kencang, bahkan rasanya udara yang ia hirup tidak membantunya untuk bernafas dengan baik, ketika mendengar kata-kata Dokter yang terngiang diotaknya.
Dia buru-buru pergi dari sana dan menggendong Zahra dengan cepat. Tujuannya saat ini cepat kembali ke mobil dan segera menghubungi Aqila.
Tut tut.
Tut tut.
“Ya allah kemana Qila,” ucap Kayla heran.
Berulang kali Kayla menghubungi dan akhirnya panggilan itu terhubung.
---*---
Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.
“Wa’alaykumsalam La,” sahut Kayla.
Aqila mengernyit heran mendengar suara Kayla yang terputus-putus seperti habis berlari.
“Ada apa kak, kakak kenapa?” tanya Aqila.
“Huh huh aku aku ....,” ucap Kayla menggantung.
“Aku kenapa kak, bilang kak,” desak Aqila.
“Mmmm aku sudah mencari tau semua tentang permintaanmu,” lirih Kayla.
Deg deg deg.
Degub jantung Aqila makin kencang bahkan tangannya bergetar.
“Gimana kak?” tanya Aqila dengan suara berat.
“Rossa bener dirawat dirumah sakit sana dan dia di ICU,” kata petugas rumah sakit.
Jderrr.
Bak disambar petir hampir saja ponsel Aqila terjatuh dan dia limbung tapi untung saja ia berpegangan pada meja didekat televisi.
“Lalu aku tadi bertemu dengan Adel dan Kevin disana juga La, aku mengikuti mereka dan ternyata mereka menuju ruangan Rossa.”
Mengalirlah cerita semua dari Rossa. Ucapan Dokter pun Rossa sampaikan pada Aqila.
Sontak saja berita itu membuat Aqila tak kuasa. Ponselnya jatuh dan dia terduduk dilantai. Hatinya hancur mendengar bahwa sahabatnya menderita sakit parah dan sedang mempertaruhkan nyawanya untuk bertahan dari penyakit yang diderita.
__ADS_1
“Agghhh,” teriak Aqila sambil terduduk dilantai berderai air mata.
“Sahabat macam apa aku yang gaktau bahwa sahabatku sakit,” seru Aqila dengnman kekecewaan yang mendalam pada dirinya sendiri.
Beberapa kali dia memukul dadanya yang berasa sesak. Dia merasa lemah untuk berdiri. Kenyataan yang ia dengar cukup membuat jiwanya berguncang. Pikirannya begitu kacau tapi dia harus pulang saat ini.
Dia juga tak habis pikir kenapa keluarganya menyembunyikan semuanya dari dirinya. Ia kecewa tapi ia juga harus butuh penjelasan kenapa mereka menyembunyikan semuanya.
Dengan sekuat tenaga Aqila menopang berat tubuhnya dengan berpegangan pada meja telivisi. Mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Sebelum itu ia mengambil ponselnya. Mengubungi nomor David namun tak kunjung diangkat.
Aqila cepat berganti gamis dan membawa tas punggung untuk beberapa pakaiannya. Tak lupa paspor dan semua kebutuhan yang ia butuhkan untuk terbang menggunakan pesawat komersil. Ia memesan tiket pulang ke Indonesia saat itu juga melalui online.
Setelah selesai, Aqila segera membereskan apartemennya dan segera keluar dari kamarnya. Mematikan semua lampu lalu segera membuka pintu apartemennya.
Namun langkahnya terhenti melihat sepasang kaki berdiri didepan pintunya. Aqila menatap keatas dan,
Deg.
Matanya terbelalak kaget dengan kedatangan pria pemilik senyum manis itu.
“Pangeran,” cicit Aqila lirih.
Khali menatap penampilan gadis gamis didepannya dan berhenti di tas punggung Aqila. Pikirannya mengatakan bahwa tebakannya benar jika gadis itu akan kembali ke Indonesia sesuai dengan info dari Ibra.
🍵🍵🍵
Beberapa jam lalu Ibra berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja Khali. Dirinya mengetuk pintu dengan tak sabaran.
“Masuk,” ucap Khali.
“Ada apa Ibra?” tanya Khali tegas.
“Itu tuan sepertinya Nona Aqila sudah tau bahwa temannya sakit,” ucap Ibra.
“Apa!!” kaget Khali.
Dia menatap tajam ke arah Ibra.
“Bagaimana bisa?” tanya Khali.
“Kita kan sudah meretas ponsel nona dan ternyata tadi dia meminta bantuan temannya untuk mengecek kondisi Rossa. Karena di ponsel nona ada pesan dari nomor tak dikenal mengatakan bahwa Rossa sedang sekarat.” Ucap Ibra
Ibra menjelaskan semuanya pada Khali dengan detail. Terlihat jelas wajah Khali menjadi tegang.
“Ayo kita segera ke apartemen dia sebelum dia kembali ke Indonesia,” seru Khali dengan suara tinggi.
Pria tampan itu segera keluar dari ruang kerjanya dan disinilah dia digedung apartemen Aqila.
🍵🍵🍵
“Mau kemana?” tanya Khali saat beberapa menit hening.
“Maaf tuan saya mau pulang,” sahut Aqila.
“Pulang kemana?” tanya Khali pura-pura tak tau.
“Indonesia,” jawab Aqila.
__ADS_1
“Bisakah tuan jangan menghalangi jalan saya, saya dikejar waktu. Pesawat saya 30 menit lagi tuan,” ujar Aqila dengan geram.
Aqila sudah tak sabar ia takut tertinggal pesawat. Apalagi jadwal penerbangan ke Indonesia terakhir hanya waktu ini. Karena waktu selanjutnya masih besok.
“Ayo saya antar,” ucap Khali.
“Tidak perlu tuan.” Aqila menggeleng.
“Kamu itu cewek gak baik sendiri. Batalkan tiket kamu dan naik pesawat pribadi saya.” Suara Khali terdengar tegas dan memerintah.
Akhirnya mau tak mau Aqila mengalah dan mengikuti langkah Khali dengan cepat. Saat ini ia tak ingin berdebat dengan siapapun. Dalam pikiran Aqila hanya ada Rossa dan Rossa.
Aqila juga sudah menghubungi Dini untuk pulang tapi tanpa memberi alasan dan Dini pun mengiyakan untuk mengurus segalanya disini.
---*---
Jakarta Indonesia.
Kevin dan Adel sedang berada di Rumah sakit. Mereka menunggu kabar selanjutnya tentang kondisi Rossa. Ketiga buah hatinya sudah diurus oleh kedua mamanya dirumah. Perasaan Adel makin tak menentu dia juga bimbang untuk mengabari adiknya yang berada di Brunei.
Namun suara ponsel Kevin membuat semua orang tersentak. Kevin merogoh ponselnya dan keningnya berkerut saat id nama orang kepercayaannya tertera disana.
Kevin segera mengangkatnya dan meletakkan benda pipih itu ditelinga. Mendengar seksama apa yang diucapkan lawan bicaranya. Tubuhnya menegang bahkan terisrat kekhawatiran dan ketakutan diwajahnya. Kevin segera mematikan dan menatap istrinya.
Adel yang melihat perubahan wajah pada suaminya menatap Kevin dengan heran.
“Ada apa mas,” tanya Adel.
“Aqila udah tau semuanya.”
Deg.
Jantung Adel berdebar, bahkan ia tak bisa mengucapkan satu kata pun seakan tercekat ditenggorokan. Ia tak menyangka akan secepat ini adiknya tau bahkan bukan dari dirinya.
Setelah beberapa menit terdiam, Adel mencoba mengeluarkan suaranya dengan tangan bergetar.
“Tau darimana dia mas?” tanya Adel.
“Dia menghubungi temannya lewat ponsel kata David,” ucap Kevin menyampaikan apa yang David beritahu tadi.
Seketika tangis Adel pecah. Ia takut adiknya akan salah faham padanya dan merasa kecewa atas kebungkaman keluarganya itu. Kevin segera memeluk Adel untuk menenangkan.
“Tenanglah yang,” ucap Kevin.
“Bagaimana aku bisa tenang mas, kalau nanti Aqila mikir aneh-aneh sama kita,” ucap Adel dengan menangis.
“Kita akan menjelaskan semuanya sayang,” ucap Kevin.
Rey mendengar semuanya. Dia hanya diam toh dia kemarin sudah meminta Adel dan Kevin untuk memberitahu Aqila namun tak kunjung di iyakan. Lalu sekarang gadis yang ia cintai sudah tau semuanya. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya dan ada kebahagiaan juga saat ia akan bertemu dengan gadis yang masih berada dalam hatinya itu. Ia berharap semoga nanti ketika bertemu akan ada keajaiban juga dari Allah untuk kesembuhan Rossa.
---*---
Selamat membaca.
Bagaimana dengan part ini? Pada terkabul kan kalau pulangnya dianter sama pria pemilik senyum manis hihihi.
Ayo yang terwujud keinginannya dimohon Like, komen dan vote yang banyak yah hehehe.
__ADS_1