
“Kedatanganku kemari hanya ingin memberikan kepastian halal agar kita segera bersama.” ~Khali Mateen~
.
.
.
Aqila mematung menatap beberapa lelaki tampan didepannya. Beberapa menit dirinya hanya diam hingga suara bariton seseorang menyadarkannya.
“Adek,” panggil Kevin.
Aqila tersentak dan tersadar. Dia menatap Kevin dengan kikuk. Bagaimana dirinya tak kaget jika didepannya ada kedatangan tamu mendadak yaitu Pangeran Khali, Ibra, Kevin dan Rudi.
Aqila dengan sopan menyuruh semua orang masuk ke ruang tamunya. Dirinya duduk dikursi setelah semua orang juga duduk.
“Ada apa ya kak?” tanya Aqila pada Kevin.
“Emmm begini dek kakak kesini sejujurnya ingin menyampaikan niatan mereka,” tunjuk Kevin pada Aqila.
Aqila menatap kedua lelaki yang duduk di sofa seberang.
“Ada apa ya tuan?” tanya Aqila sopan.
“Sebenarnya sayaa kesini ingin menyampaikan niatan baik, namun bisakah kamu memanggil mama dan kakakmu?” tanya Khali sopan.
Entah kenapa ucapan Khali membuat jantung Aqila berdetak kencang. Ia mengangguk dan meninggalkan ruang tamu untuk mencari kedua keluarga yang sangat ia sayangi. Setelah ketemu, Aqila membawa mama dan kakaknya ke ruang tamu.
Mama Angel dan Axel tersenyum ramah dan menyalami tamunya. Lalu segera duduk disamping Aqila.
“Ada apa ya Nak Khali?” tanya Mama Angel ramah.
Panggilan akrab sudah tersemat karena memang sejak pertemuan terakhir dengan Khali, keduanya sudah kerap akrab dan Khali meminta dipanggil selain tuan karena dia merasa Mama Angel seperti kedua orang tuanya yang harus ia hormati.
“Begini, saya kesini karena ada niatan ingin mengkhitbah Aqila.” ucap tegas Khali.
Deg deg deg.
Jantung Aqila berdebar kencang, bahkan ia tak menyangka lelaki yang ia kenal sebentar dan pertemuan keduanya tak ada yang berkesan. Lalu sekarang dia datang untuk mengkhitbahnya. Apa tak salah pikir Aqila.
Mama Angel sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan seorang lelaki didepannya. Dia sendiri sejujurnya sudah tau karena dilihat dari tatapan mata Khali pada Aqila terlihat bahwa lelaki itu tertarik pada anak gadisnya.
“Kalau mama menyerahkan semua keputusannya pada Aqila nak,” ucap Mama Angel lembut.
Aqila sontak mengangkat wajahnya menatap mamanya. Dia tak menyangka jika mamanya memberikan restu pada lelaki didepannya. Dilihat kedua mata mamanya lekat dan mamanya mengangguk.
“Gimana apa Aqila mau?” tanya Khali.
Aqila masih terdiam dengan kepala yang menunduk kembali. Kedua jemarinya saling meremas satu dengan yang lain. Matanya terpejam. Tak ada yang tau jika didalam hatinya gadis itu sedang memanjat doa.
__ADS_1
“Ya allah bantulah aku untuk memberikan sebuah keputusan,” lirih Aqila dalam hati.
“Bolehkah tuan beri saya waktu untuk melaksanakan sholat istikhoroh?” tanya Aqila.
Khali tersenyum. Lihatlah gadisnya itu sekarang begitu dekat dengan allah. Menyerahkan segalanya pada kuasa allah dan tak luput melibatkan allah dengan segala keputusan yang akan ia ambil.
“Boleh, saya beri kamu waktu kamu untuk sholat istikhoroh,” ucap Khali sambil tersenyum.
“Saya akan segera memberi jawaban jika saya sudah menemukan jawabannya,” ujar Aqila.
Khali mengangguk mantap.
“Tapi apa keluarga anda menerima saya?” tanya Aqila lemah.
Sejujurnya Aqila sudah tak percaya diri jika menyangkut keluarga. Dia sadar diri, dirinya bukanlah orang kaya bahkan kehidupan mewahnya semuanya diberikan oleh kakak ipar yang tak lain suami Kakaknya Adel. Sekolah tinggi dan semuanya dibiayai oleh Kevin. Aqila dan Axel banyak bersyukur akan itu semua.
“Keluargaku pasti akan menerimamu, jika kamu memberi jawaban atas khitbahku. Aku akan segera membawa kedua orang tuaku kemari,” ujar Pangeran Khali.
“Baiklah tunggulah dengan sabar atas jawabanku,” ucap Aqila.
Akhirnya obrolan penting itupun berakhir. Mereka semua diminta untuk sarapan bersama oleh Mama Angel dan terpaksa semuanya mengiyakan, karena bagaimanapun keempat lelaki itu akan segera meneruskan perjalanan menuju lokasi tempat kerja sama mereka.
---*---
Selepas kepergian Khali, Ibra, Rudi dan Kevin. Mama Angel meminta Aqila untuk ikut dengannya ditaman belakang. Aqila pun mengiyakan dan berjalan bergandengan dengan sang mama.
Keduanya duduk disebuah bangku dengan ditemani cemilan dan minuman jus jeruk di depannya.
“Ya ma.” Aqila menoleh.
“Apa kamu bahagia nak?” tanya Mama Angel.
“Aqila bahagia jika lihat mama bahagia,” ucap Aqila yakin.
Mama angel tersenyum dan menatap anak gadisnya itu.
“Mama tanya kamu bahagia dikhitbah oleh Khali?” tanya Mama Angel.
Sorot mata yang biasa lembut sekarang terlihat tegas dan lembut. Aqila menyadari jika sang mama ingin berbicara serius dengannya. Aqila mulai mendekat dan memegang lengan sang mama.
“Aqila gak tau ma, hati Aqila memang nyaman jika dekat dengannya. Bahkan ada perasaan menghangat jika mendengar suaranya ma. Akan tetapi Aqila sadar apa yang Aqila rasain salah karena itu sama saja dosa ma. Aqila harus tetap mengedepankan segala urusan karena Allah, mangkanyaa saat ini Qila bingung,” ucap Aqila menjelaskan.
“Bingung kenapa nak?” tanya Mama Angel lembut.
“Kenapa mama dengan cepat menerima lamaran dia ma?”
“Karena dia lelaki baik secara agama,” ucap mantap Mama Angel.
“Tapi kita kan baru kenal ma,” ucap Aqila.
__ADS_1
“Meski baru kenal namanya seseorang jika memang dia niat taaruf dia bakalan kayak gini. Dan mama yakin dia lelaki yang bertanggung jawab nak,” Ucap mama Angel.
Aqila mengangguk dia juga mengingat jika sepertinya dia akan melakukan proses taaruf jika seperti ini. Dia hanya tinggal memberi jawab iya atau tidak. Jika iya orang tua Khali akan kesini untuk melamar secara resmi.
Obrolan anak dan ibu itu berlanjut sampai siang. Hingga akhirnya keduanya mulai masuk karena terik matahari semakin panas. Aqila segera beranjak menuju kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di ranjang.
Ia menghidupkan layar dan terlihat satu notif pesan dari nomer tak dikenal. Aqila membukanya dan mulai membaca rentetan kata demi kata yang tertulis disana.
Dari : 082140875×××
Nanti sore pukul 16.00 mari kita bertemu di Restaurant X.
Khali.
Ia merasa ada sejuta debaran dijantungnya. Dia bahagia lelakinya mengajaknya bertemu tapi pikirannya menjadi menerka apa yang membuat Khali mengajaknya bertemu. Tak mau ambil pusing Aqila mencoba tidur sejenak sebelm waktu sholat dhuhur datang.
---*---
Pukul 16.00 di Restaurant X.
Terlihat di kursi dekat kolam, dua orang lelaki tampan duduk berdampingan menunggu kedatangan seseorang. Sudah 10 menit yang lalu mereka sampai dan belum ada kabar. Khali takut-takut ragu jika gadisnya tak datang karena memang pesannya tadi tak dibalas.
Saat Khali akan menelfon. Ia melihat gadisnya berjalan kearahnya. Sungguh cantik dengan penampilan gamis polos berwarna hitam dan kerudung panjang berwarna hitam pula. Ketika jarak keduanya dekat. Khali berdiri dan menangkup tangan didepan dada sebagai salam jauh dan Aqila pun membalasnya dengan sama. Keduanya duduk kembali dengan ditemani Ibra.
“Pesanlah dulu,” ucap Pangeran Khali.
Aqila mengangguk lalu ketika pelayan mendekat ia segera memesan apa yang ia inginkan. Setelah itu pelayan pergi dan ketiganya terjalin pembicaraan serius antar satu dengan yang lain.
Hingga kedatangan pelayan menbuat mereka menghentikan obrolan dan mulai menikmati makanan yang sudah disediakan. Khali mulai merangkai kata untuk berbicara apa yang mengganjal dihatinya.
“Aqila,” panggil Khali lembut.
“Ya,” sahut Aqila.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Pangeran Khali.
“Aku,” tunjuknya pada diri sendiri.
Khali mengangguk. “Memangnya kenapa denganku?” tanya Aqila.
“Ikutlah denganku besok kembali ke Brunei.”
---**---
Selamat membaca.
Wah emakk ada yang gercep banget. Ada yang panas tapi bukan kompor. Ada yang berdebar tapi bukan gendang. Hahahaha.
Hee Laki Senyum Manis ajak aku aja ke Brunei. Aku mau loh hihi
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN dan VOTE