
“Aku tak menyangka pertemuan ini begitu cepat. Sungguh rencana Allah tak dapat kita duga.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
“Masya allah pangeran,” ucap Aqila kaget bukan kepalang.
Mata Aqila terbelalak lebar. Bagaimana tak terkejut pertemuan ini begitu mengagetkannya, tanpa rencana dan tanpa ada difikiran keduanya jika akan bertemu.
Begitulah rencana tuhan. Rencana tuhan begitu manis dan indah. Diluar pikiran kita pasti rencana tuhan akan tetap ada dan membuat sebuah kejutan untuk hal indah selanjutnya.
“Apa kabar Dokter?” tanya Khali tanpa menjawab ucapan spontan Aqila.
Aqila menjadi salah tingkah dan kikuk. Gadis itu menunduk sambil menggaruk lehernya dari balik jilbab.
“Emmm alhamdulillah baik ” jawab Aqila terbata.
“Alhamdulillah, keluarga disana bagaiamana?” tanya Khali.
“Baik juga pangeran eh tuan ” ucap Aqila kikuk.
Khali menahan senyuman. Mengapa begitu lucu gadis didepannya itu. Namun Khali tetaplah Khali pria murah senyum dan bisa mengendalikan ekspresi dan emosinya.
“Tuan Khali sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Aqila mengusir kecanggungan.
“Alhamdulillah baik juga,” jawabnya.
Aqila manggut-manggut.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Jhali.
“Oh itu....,” Aqila menjeda ucapannya.
Dia bingung harus mengatakan apa pada lelaki didepannya ini. Apa ia berkata jujur atau bagaimana.
“Emmm saya ehh aku disini bekerja,” ujar Aqila pelan.
Benar-benar kikuk dan canggung begitulah yang dirasakan semuanya.
“Wah benarkah?” tanya Khali tak percaya.
“Iya tuan.” Aqila mengangguk.
“Masya allah begitu indah rencana Allah,” ucap Khali terlihat bersemangat.
Aqila mengernyit heran tak mengerti dengan ucapan Pangeran Khali. Ia sedikit menaikkan pandangannya hingga pandangan mereka bertemu dan buru- uru Aqila memutus pandangan itu.
“Maksut tuan apa?” tanya Aqila.
“Apa kamu lupa dengan ucapan saat kita mau berpisah?” tanya Khali.
Aqila terdiam dia mulai mengingat memori kenangan saat di Bandara mengantar kepergian lelaki didepannya, sepertinya otaknya berpikir keras untuk mengingat itu.
Akhirnya ia mengingat. Kata-kata indah dan terakhir terngiang kembali ditelinga dan otaknya.
“Aku berdoa semoga Allah merencanakan takdir indahnya untuk kita agar kita bisa bertemu kembali, dan saat itu pula aku menganggap kamu jodoh yang diberikan oleh Allah padaku dan aku berharap Allah memudahkan jalanku untuk melamarmu.” (ucapan Khali tempo lalu)
Deg.
Entah kenapa mengingat kata itu membuat jantung Aqila berdetak kencang bahkan tanpa sadar pipinya telah memerah semerah tomat. Khali yang melihatnya menahan tawa.
__ADS_1
“Apa kamu sudah mengingatnya?” tanya Khali.
“Emmm itu aku...,” Aqila terbata.
Ia bingung apa ia harus mengucapkan kata itu lagi atau tidak.
“Apa aku harus mengucapkannya lagi?”
“Tidak.” Aqila menjawab cepat.
Mati-matian Khali tetap menyembunyikan tawa geli dibalik wajah wibawanya. Ingin sekali ia meledakkan tawa melihat wajah lucu gadis didepanya tapi ia menahan itu semua.
“Kamu tinggal dimana?” tanya Khali memlngalihkan pembicaraan saat beberapa menit hening.
“Tinggal di Mawar Apartmen,” jawab Aqila.
“Di dekat sini berarti yah,” ucap Khali.
Aqila mengangguk.
“Bagaimana kalau kita makan malam bareng?” tawar Khali
Aqila menatap Dini yang sedari tadi diam dan ternyata Dini malah asyik menatap wajah kedua lelaki itu. Ingin sekali Aqila mengutuk temannya yang selalu lupa diri itu. Astaga bagaimana ini pikir Aqila.
“Din,” panggil Aqila.
“Apa sih La,” jawab Din.
“Astaga Din.” Suara Aqila diperkeras.
Dini tersentak dan menatap Aqila.
“Ya tuhan punya temen begini amat,” gerutu Aqila dalam hati.
“gimana kamu mau?” tanya Aqila.
“Huh mangkanya jangan bayangin wajah orang aja,” ucap Aqila dalam hati.
“Tuan Khali ajak kita makan malem bareng, gimana kamu mau?” tanya Aqila.
“Baiklah ayo.” Dini mengiyakan.
Ingin sekali rasanya Aqila menenggelamkan dirinya di dalam tanah. Sejujurnya ia ingin mendengar penolakan dari Dini tapi sayangnya penolakan itu hanya angan. Malah sebaliknya Dini mengiyakan dan terlihat bersamangat.
---*--
Sebelum makan malam bersama, mereka melaksanakan sholat bersama di Masjid terdekat. Disana suasana mulai ramai saat adzan magrih berkumandang. Lampu-lampu masjid menambah kesan indah dalam masjid itu.
Aqila dan Dini menunggu diluar karena memang keduanya sedang kedatangan tamu bulanan. Aqila menghabiskan waktunya dengan membaca buku yang ia bawa dalam tas sedangkan Dini terlihat sibuk dengan benda pipih miliknya.
Tak ada obrolan diantara mereka sepertiya kedua gadis itu telah asyik dengan dunia nya sendiri. Begitulah memang, jika Aqila sudah membaca buku maka orang lain tak dianggap olehnya.
Satu persatu orang-orang mulai keluar dari masjid. Dari kejauhan terlihat dua orang lelaki dengan rambut yang masih setengah basah namun wajah mereka sudah tertutup oleh masker.
Aqila yang sudah meletakkan bukunya pun menatap lelaki yang berjalan menuju ke arahnya.
“Masya allah sungguh ciptaanmu sungguh mempesona ya allah,” lirih Aqila dalam hati.
Saat tau Khali sudah mendekat, Aqila mulai menunduk kembali. Bagaimanapun jika dirinya menatap lelaki pemilik senyum manis pasti hatinya menghangat. Entah perasaan ini berbeda dari perasaan pada lawan jenis sebelum Khali. Namun lagi-lagi Aqila menepis perasaan itu agar ia tak berharap selain pada Allah.
Perjalanan menuju Restaurant berjalan lancar. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam. Memilih meja VVIP agar Pangeran Khali bisa nyaman dan melepas maskernya.
Aqila duduk bersebalahan dengan Dini sedangkan Khali didepan Aqila dan disamping Ibra. Memesan makanan dengan keinginan masing-masing lalu dengan sabar pelayan mencatatnya. Tak butuh waktu lama pelayan undur diri dan mereka tetap dalam keheningan sambil menunggu makanan datang.
__ADS_1
Sungguh sejujurnya Khali memiiki banyak pertanyaan untuk wanita didepannya tapi ia mencoba menahan. Lebih baik ia mencari info dari Ibra daripada bertanya langsung takut akan menganggu privasi gadisnya itu.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya makanan pun telah tiba, ditata sedemikian rupa diatas meja lalu mulailah mereka makan dengan lahap. Tak ada suara apapun ketika makan. Mereka makan dalam diam hingga makanan mereka tandas.
“Apa disini memang ada makanan seperti di Indonesia?” tanya Aqila memecah keheningan.
Khali menatap Aqila.
“Iya disini tersedia makanan Indonesia,” jawabnya.
“Emmm gitu. Makasih,” ucap Aqila tulus.
“Sama-sama,” sahut Khali.
“Apa kamu mau pulang?” tanya Khali.
“Iya,” sahut Aqila.
“Baiklah ayo kami antar.”
“Emmm apa kami tidak merepotkan anda tuan?”
“Oh tidak sama sekali.”
Khali beranjak di ikuti ketiganya. Ibra berjalan memisah menuju kasir dan Khali sendiri bersama kedua gadis menuju mobil.
Menunggu dengan sabar hingga tak lama Ibra muncul dari dalam. Mereka segera masuk kedalam mobil tanpa suara.
Malam ini entah kenapa menjadi malam yang indah dihati Aqila dan Khali. Entah kenapa perjalanan itu begitu singkat menurut Khali. Mobil telah sampai didepan apartemen tempat tinggal Aqila.
Kedua gadis pun kelaur dari mobil diikuti Khali.
“Terimakasih atas semuanya tuan,” ucap Aqila sopan.
“Sama-sama, emmm....” Khali menjeda.
“Ada apa tuan?” tanya Aqila penasaran.
“Kamu kerja dimana?”
“Oh saya kerja di rumah sakit dekat sini,” sahut Aqila.
“Oh begitu.” Khali manggut-manggut.
“Apa ada. lagi tuan?” tanya Aqila yang sudah tak sabar masuk karena ia takut Khali akan mendengar jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang.
“Yaudah silahkan masuk,” ucap Khali dengan tersenyum.
“Ya sudah sekali lagi makasih. Assalamu’alaykum,” salam Aqila.
“Wa’alaykumsalam.”
Aqila mulai berjalan menjauh dari tempat Khali yang masih terdiam menatap kepergiannya. Khali merutuki dirinya sendiri yang mendadak linglung jika bersama Aqila. Dia kembali kedalam mobilnya lalu meminta Ibra untuk pulang ke istana.
-----*-----
Selamat membaca.
Alhamdulillah mengobati rasa rindu pembaca pada keduanya.
Bagaimana sama part ini?
Keduanya jadi kikuk kan kalau ketemu hihi masih malu-malu kucing kayaknya hahaha.
__ADS_1
Mau cepet-cepet Aqila ke istana gak?
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN YA. VOTENYA BESOK AJA SENIN.