
“Selamat tinggal kenangan dan semoga ketika aku kembali hatiku telah utuh seperti sedia kala.” ~Aqila~
.
.
.
Keadaan dirumah Aqila sangat ramai. Semua orang membantu menyiapkan keperluan Aqila. Dan anehnya mereka juga memasak sarapan untuk dibawa bekal Aqila.
“Mama Ini untuk apa?” tanya Aqila.
“Itu kotak obat sayang kamu harus bawa lengkap,” kata Mama Angel.
“Loh kan Aqila udah punya ma, apalagi nanti juga temen-temen bakalan bawa,” seru Aqila.
“Udah gakpapa sayang, bawa sendiri lebih enak,” seru Mama Angel.
“Ya tuhan, bahkan aku sengaja bawa baju sedikit karena gak mau repot-repot. Cukup 1 koper besar ini saja udah berat apalagi aku harus bawa ini itu,” gerutu Aqila dalam hati.
Tapi bagaimanapun ia tak kuasa menolak sang mama. Ia membawa semuanya dan segera menuju meja makan. Sarapan pun terhidang rapi. Bahkan Aqila sampai melongo menatap menu makanan yang semuanya kesukaan Aqila.
Semua orang sampai menahan tawa melihat Aqila yang melongo dengan makanan diatas meja.
“Dimakan sayang kalau diliatin gak bakal kenyang,” sindir Mama Angel.
Aqila segera mengatupkan bibirnya, dia menyendokkan lauk pauk dipiringnya. Setelah selesai dia segera melahap makanan itu dengan cepat.
“Ah enak sekali,” ucap Aqila dengan senang.
Bahkan tanpa malu Aqila sampai nambah nasi, semua orang hanya geleng-geleng kepala. Aqila memang tubuhnya kecil tapi soal makan dia bisa banyak persis seperti Adel.
Setelah selesai sarapan. Semua orang memasukkan koper dan peralatan Aqila kedalam mobil. Mereka membawa dua mobil. 1 mobil untuk orang tua Kevin dan mama Angel sekaligus Axel dan Aqila.
Sedangkan dimobil lainnya diisi keluarga Kevin. Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Aqila menatap sendu kearah rumah.
“Sampai jumpa, semoga kita berjumpa kembali dengan hati yang berbeda,” ucap Aqila lirih.
Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta memakan waktu hampir 1 jam lebih. Hingga akhirnya perjalanan itu berakhir.
Semua orang turun dan dibantu oleh petugas untuk membawa barang-barang Aqila. Aqila berjalan bersama Mama Angel. Ia bahkan menundukkan pandangannya dan hanya menatap kebawah. Hingga suara teriakan seorang wanita membuatnya mendongak.
“Qila,” suara yang tak lain adalah Dini.
“Hay Din.”
“Masya allah Qila kamu makin cantik,” puji Dini.
Ia menatap Aqila dari atas sampai bawah. Wanita yang dulunya memamerkan rambutnya sekarang telah menutupinya. Bahkan Aqila memakai gamis. Dan hijab menutupi dadanya. Sekaligus kaos kaki juga.
__ADS_1
“Makasih,” saut Aqila.
“Dini, tante titip Aqila ya,” seru Mama Angel.
“Siap ibu presiden,” saut Dini.
Ya begitulah Dini, ia juga sudah dekat dengan keluarga Aqila. Mereka sudah tak canggung bahkan Dini yang suka menggoda sangat disukai oleh keluarga Aqila.
Setelah beberapa saat akhirnya Dokter Paul datang dan sama seperti Dini. Dia terpesona dengan penampilan Aqila. Bahkan Paul sampai tak berkedip menatap Aqila.
“Dokter tutup mulut takut ada lalat,” goda Dini.
Dokter Paul sampai malu sendiri, ia mengusap wajahnya kasar dan terlihat kikuk.
“Saya tau dok kalau Dokter Qila cantik” canda Dini dan semua keluarga Aqila pun tertawa terbahak-bahak.
Mereka semua menunggu untuk masuk. Dan hadirnya semua dokter. Pemberangkatan pertama sebanyak 32 orang. Terdiri dari 20 laki-laki dan 12 perempuan. Untuk pemberangkatan kedua pun jumlahnya hampir sama dengan yang pertama.
“Ingat pesan mama ya sayang,” ucap Mama Angel.
“Siap ma.”
“Jangan lupa kabarin kami,” seru Kakak Adel.
“Pastinya kak,” jawab Aqila.
“Kalau ada apa-apa kabarin loh La,” gantian Axel.
“Aku pasti bakalan ingat pesan kalian semua,” seru Aqila dengan menahan tangis.
Hingga suara informasi para relawan dimohon cek in membuat semua dokter berdiri. Aqila menarik kopernya dan tas kecil slempang sekaligus tas kecil dipunggung. Aqila menyeretnya bersama dan dibantu Axel. Semua keluarga ikut mengantar sampai bagian petugas cek in.
Hingga suara teriakan membuat Aqila berhenti.
“La.”
Aqila berbalik dan ia tersenyum lebar saat menatap sahabatnya Rossa datang.
“Aku sedih kamu tinggal,” ucap Rossa sambil menangis dipelukan Aqila.
“Hey jangan nangis dong,” ucap Aqila.
“Tapi aku gak bisa jauh sama kamu,” lirih Rossa.
“Kan kamu bisa hubungi aku juga doakan aku disana,” ucap Aqila.
Rossa mengangguk dan melepaskan pelukannya.
“Kamu makin cantik kayak gini La.”
__ADS_1
“Halah bisa aja kamu,” seru Aqila.
“Ingat ya kabarin aku kalau udah sampai, jaga kesehatan ya. Pola makannya jangan telat. Terus tidur yang cukup oke,” suara Rossa sudah seperti emaknya yang menasehati sang anak hehehe.
Sangking asyiknya dengan Rossa sampai Aqila tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya penuh kagum siapa lagi kalau bukan Rey.
“Oh iya astagfirullah, Aku sama Mas Rey La,” seru Rossa menggeser.
“Oh iya,” jawab Aqila menunduk.
“Kamu hati-hati disana ya,” ucap Rey menatap Aqila.
“Suaramu sangat membuatku rindu,” gumam Aqila dalam hati.
“Iya kak pastinya,” jawab canggung Aqila.
Akhirnya Aqila menghampiri semua keluarganya. Memeluk satu persatu keluarganya. Bahkan Adel enggan melepas pelukan sang adik.
“Jangan pergi,” lirih Adel.
“Sayang doakan adikmu,” ucap Mama Angel mengusap punggung Adel.
“Ingat ya pesan kakak,” ucap Adel dengan menangis.
“Pastinya kakak.”
Setelah kakaknya sekarang terakhir dipelukan sang mama.
“Doain Qila ya ma, semoga Aqila selamat berangkat dan pulang ma. Semoga sehat selalu juga Aqila disana ma,” ucap Aqila.
“Pastinya sayang mama selalu doain kamu dari sini. Ingat jangan putus doa, dzikir dan minta sama allah yah. Sholatnya ingat ya sayang,” nasihat Mama Angel.
Aqila mengangguk setelah berpamitan pada semua orang. Aqila mulai cek in dan masuk. Ia melambaikan tangannya pada semua keluarga dan sahabatnya bahkan air matanya tak bisa ia hindari. Ia menangis dan segera berbalik badan meneruskan langkahnya.
“Aku doakan semoga ketika kamu kembali hanya akan ada senyum bahagia dibibirmu sayang,” ucap Rey dalam hati.
Setelah punggung Aqila tak terlihat semua orang meninggalkan bandara dengan perasaan sedih tapi juga tak henti-henti berdoa untuk keselamatan sibungsu.
Saat kini Aqila sudah berada didalam pesawat. Dia tepat duduk disamping Dini. Dia menatap keluar pesawat yang masih menampakan penampakan bandara di siang hari itu.
Aqila memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas berat. Membuka matanya dan menatap kembali keluar jendela.
“Selamat tinggal Indonesia, semoga kita kembali berjumpa dengan keadaan ku yang sehat wal ‘afiat. Dan semoga ketika aku kembali, hatiku sudah tertata kembali dan kokoh tangguh. Aku akan pergi sementara waktu untuk melupakan semuanya. Good bye Indonesia,” ucap Aqila dalam hati sambil meneteskan air matanya.
Tamat ????????
---*---
Selamat membaca 😊
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE KARYA AUTHOR DONG POIN KOINNYA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT.