
“Aku tak menyangka pertemuan kali ini bisa membuatku melepas rindu denganmu.” ~ Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Sinar mentari mulai merambat menembus beningnya kaca, silau sinarnya telah mengganggu pejamnya mata indah itu. Kelopak mata itu mulai mmengerjap dan menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke matanya. Gadis itu perlahan mulai duduk.
Ia menatap jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Gadis itu segera turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dengan perlahan ia membasuh wajah cantiknya. Tampak tetesan air merambat hingga ke rambut indah miliknya.
Gadis itu segera merapikan rambutnya dan mengusap wajah dengan handuk. Tampak gadis itu menatap keluar jendela saat tangannya sudah menggeser tirai agar menampakkan keindahan langit pagi itu.
Gadis itu yang tak lain adalah Haura segera menekan panggilan untuk pelayan wanita agar ke kamar hotelnya. Tak butuh waktu lama pelayan itu datang didepan pintu hotel. Haura membuka pintunya saat sudah mengenakan hijab.
“Assalamu’alaykum nona, ada apa?” tanya pelayan itu sopan.
“Wa’alaykumsalam, apa rapat hari ini jadi?” tanya Haura.
“Iya nona jadi,” sahut pelayan itu pelan.
Ya kemarin pertemuannya dengan Rey tak jadi karena tiba-tiba pihak perusahaan Rey mengatakan jika bos mereka harus mengurus mamanya yang sakit. Haura yang memang mudah tersentuh dan iba pada orang lain akhirnya mengangguk setuju.
Lalu sekarang adalah waktu yang diberikan oleh Rey sebagai pemiliki perusahaan untuk melakukan meeting yang tertunda. Demi acara meeting yang tertunda pun, Rey mengajak meeting ditempat restaurant mewah dan bagus. Ada ruangan VIP khusus untuk para pejabat tinggi yang akan melaukan meeting juga disana.
---*---
Tepat pukul 10.00 pagi, Haura dan Haki sampai didepan Restaurant. Tak lupa masker menutupi wajah cantik Haura dari publik. Ia memang sangat menjaga identitas dan elok rupanya itu. Dia tak ingin wajahnya jadi pajangan tabloid dan majalah bisnis. Cukup kakaknya saja yang wajahnya sudah memenuhi majalah, televisi dan sosial media.
Dengan langkah anggun, Haura segera berjalan masuk kedalam diikuti Haki. Didalam restaurant mereka telah ditunggu oleh tangan kanan Rey yaitu Bima. Mengikuti Bima mereka berjalan melewati beberapa meja pengunjung dan berhenti disebuah pintu berwarna silver.
Bima membuka pintu sambil menunduk hormat mempersilahkan rekan kerjanya masuk. Haura dan Haki pun masuk kedalam dan disana benar saja ada Rey sendirian dengan memegang laptopnya.
Haki dan Rey bersalaman, sedangkan Haura hanya mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Haura mulai duduk diseberang kursi Rey.
Mereka mulai terlibat pembicaraan serius atas kerja sana mereka dan menambah lagi tawaran kerja sama ini.
---*---
Dirumah Aqila.
Sejak pagi tadi, ketiga ponakan mereka sudah bergelung dan bergelanyut manja pada Aqila. Mereka bahkan mengganggu tidur nyenyaknya hingga terbangun.
Setelah melihat auntynya sudah mandi, ketiga anak itu meminta sarapan dirumah aqila dengan syarat bahwa auntynya yang akan memasak.
“Baiklah pagi ini aunty akan memasakkan nasi goreng enak untuk kalian,” ujar Aqila.
“Yeyy,” teriak ketiganya dengan bertepuk tangan.
Dengan semangat 45 Aqila berjalan menuju dapur, membuka kulkas melihat apa bahan-bahan membuat nasi goreng spesial sudah tersedia apa belum.
Aqila tersenyun kala melihat telur, cabe, sawi, daging lengkap didalam kulkas. Ia mengambil itu semua tak lupa baput dan bamer ia bawa juga.
Setelah bahan semua ada, sekarang ia cari alatnya. Sepertinya kali ini ia akan memakai alat penghalus bumbu saja karena mengingat yang makan lebih dari satu orang. Kalau ia memilih menggunakan ulekan sepertinya akan membutuhkan waktu lama.
Aqila mulai mengupas semua bahan dan tak lupa memotong daging sapi dibentuk kotak kecil. Saat ia asyik memotong daging tiba-tiba mamanya datang.
“Sedang apa nak?” tanya Mama Angel.
“Buat nasi goreng ma,” sahutnya dengan tangan dan mata fokus pada pisau dan daging.
__ADS_1
“Ah mama mau dong dek, buatin mama juga yah,” rayu Mama Angel.
“Siap komandan,” ujar Aqila dengan terkekeh.
“Kalau mau pakek udang dan cumi, ada dikulkas dek,” tutur Mama Angel.
“Wah besoj aja deh ma bikin nasi goreng seefoad. Sekarang ini aja dulu,” ucap Aqila.
Mama Angel mengangguk lalu meninggalkan anaknya menuju meja makan. Disana ketiga cucunya dengan setia menunggu masakan Aqila.
Didapur Aqila begitu cekatan, menghaluskan semua bumbu lalu mulai menyalakan api kompor. Dia mulai menumis bumbunya hingga harum lalu ia mulai menuangkan sayur sawi dan daging. Setelah itu barulah nasi ia campur aduk dan tak lupa agak di aduk hingga menyatu semua.
Bau harum makanan sudah menyebar kesegala penjuru dapur, rasanya Aqila ingin segera melahap nasi goreng ini. Namun mengingat tiga bocil di meja makan ia mengurungkan itu.
Setelah semua selesai, Aqila mulai menata nasi goreng diatas piring. Menatanya dengan cantik lalu mulai membawanya ke meja makan.
“Nasi goreng ala aunty Aqila jadi,” teriak Aqila.
Ketiga bocah itu bertepuk tangan bahagia, Mama Angel hanya tersenyum melihat sang anak sudah bahagia dan tak ada lagi kesedihan di kelopak matanya.
Mereka segera menyantap makanan itu dengan lahap. Bahkan Taqy sendiri sampai menggoda sikembar dengan pura-pura ingin mengambil nasi gorengnya.
“Taqy jangan digoda adikmu nanti menangis.” Nasihat Mama Angel.
“Iya oma,” sahut Taqy.
----*----
Setelah drama membuat sarapan, akhirnya ketiga anak itu tetap menempel pada Aqila. Namun yang ditempelin dengan senang hati mengurusi ketiganya.
Aqila yang sedang merawat tanaman pun tak luput dari keisengan mereka bertiga. Sikembar dengan asyiknya bermain tanah hingga pakaiannya kotor dan Taqy sendiri membantu Aqila menanam tanaman hias dipot kecil.
Aqila dan Taqy seperti melupakan keberadaan sikembar. Dua orang beda jenis dengan umur beda jauh itu sangat asyik dengan tanaman hiasnya.
Lihatlah dua anak dengan rupa sama itu sangat asyik dengan selang air. Lalu bagaimana caranya mereka memutar kran air itu. Memikirkan itu membuat Aqila pusing sendiri.
Dia memilih berdiri dan mendekat ke arah dua bocil itu.
“Hayoo siapa yang suruh kalian main air?” seru Aqila pura-pura marah dengan berkacak pinggang.
Tentu saja kehadiran Aqila di dekat sikembar membuat keduanya ketakutan. Brianna segera melempar selang itu sampai ketanah dan keduanya berdiam diri.
“Kenapa gak jawab? Hayo siapa yang suruh main air?” tanya Aqila lagi.
Terlihat Arianna dan Brianna saling sikut menyikut. Sungguh Aqila menahan tawanya untuk tak tertawa lebar.
“Kalau kalian gak bicara kakak aduin Papa Kevin loh” ujar Aqila dengan bersiap seperti orang teriak.
“Jangan ty jangan, yang culuh aku itu Lianna,” ujar Brianna.
Arianna yang dituduh pun menengok ke arah saudara iparnya. Dia melotot pada kakaknya itu.
“Bukan acuu ty, yang culuh aku kakak,” bela Arianna.
Aqila hanya menggeleng-geleng kepalanya. Dia tetap memasang wajah marah dihadapan keduanya.
“Kalau tak ada yang mengaku ya sudah, Ayo Kak Taqy kita jalan-jalan,” ajak Aqila.
Aqila hendak berbalik namun tiba-tiba kedua anak kembar itu memegang kakinya.
“Jangan pelgi ty. Iya Blina yang calah,” ujar Brianna sambil menggoyang kaki kanan auntynya.
__ADS_1
“Iya ty, jangan pelgi jangan tinggalin kita,” rayu Arianna.
Ya tuhan lihatlah keduanya begitu menggemaskan. Sekarang keduanya saling mengakui kesalahannya. Sungguh Aqila begitu menyanyangi keduanya, dan dia kemudian berlutut mensejajarkan tinggi mereka.
“Lain kali gak boleh main air lagi mengerti?”
“Mengelti aunty,” ucap keduanya serempak.
Aqila lalu mengajak ketiga ponakannya ke kamar untuk membersihkan diri. Selesai itu Aqila langsung mendandani ketiganya untuk ia bawa ke mall.
----*----
Diperjalanan menuju mall, ketiga anak itu asyik menatap luar jendela mobil. Taqy yang berada disamping Aqila pun fokus dengan diluar. Sedangkan sikembar malah asyik bermain boneka nya masing-masing
Hingga saat lampu merah, mobil Aqila berhenti. Aqila dengan santainya menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi dan menatap sekelilingnya. Hingga pandangannya mengarah kesebuah Restaurant yang tak jauh dari lampu merah.
Restaurant besar dan mewah dan disana juga ada menu ice krimnya. Entah kenapa rasanya perut Aqila lapar lagi. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 12 siang.
“Gimana kalau kita makan siang dulu?” tawar Aqila pada ketiganya.
Taqy menoleh ke arah auntynya.
“Boleh aunty. Aku juga lapar,” ucap Taqy memegang perutnya.
Aqila beralih ke sikembar.
“Kalian gimana?” tanya Aqila.
Keduanya sama-sama mengangguk setuju. Saat melihat lampu sudah berubah menjadi hijau, Aqila mulai melajukan mobilnya hati-hati. Tak lupa ia menghidupkan lampu mobil ke kiri.
Mobil mulai terparkir rapi diparkiran Restaurant. Aqila membantu Arianna turun, sedangkan Taqy membantu Brianna. Keempatnya berjalan dengan bergandengan tangan. Namun hanya Arianna sendiri yang meminta digendong oleh Aqila.
Segera mereka masuk dan memgedarkan pandangannya. Mencari tempat kosong. Namun terlihat Restaurant mulai agak rame. Hingga akhirnya ada pelayan yang menghampiri Aqila.
“Selamat datang,” ucap pelayan ramah.
Aqila hanya membalas dengan tersenyum lalu ia mulai menanyakan tentang tempat yang nyaman untuk keempatnya.
“Apa ada ruangan VIP yang kosong?”
“Oh ada nona, silahkan mari,” ajak pelayan.
Aqila dan ketiganya mulai mengikuti pelayan menuju tempat mereka. Hingga akhirnya pelayan membukakan tampat VIP untuk pengunjungnya itu.
“Terimakasih yah,” ucap Aqila.
“Sama-sama nona, sebentar lagi teman saya akan datang mencatat pesanan nona ” ujar pelayan ramah.
Aqila mengangguk dia menyuruh ketiganya masuk, saat Aqila hendak masuk ada seseorang yang memanggilnya.
“Aqila.”
Aqila langsung berbalik dan,
---*---
Dan bersambung hihihi.
Yang sabar dan tenang yah, besok lagi lanjutannya. Maaf belum bisa kasih crazy up atau 3 bab yah. Sikecil masih sakit.
Minta doanya yah.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE. KOMEN DAN VOTE YAHH..