
"Bohong jika aku mengucapkan bahwa aku sudah tak mencintaimu, karena kebenarannya bayangmu masih melekat dihati dan dimataku." ~Aqila~
.
.
.
Dengan senyum manisnya Aqila menyambut kedatangan Rey.
“Menungguku hm?” tanya Rey saat melihat wanitanya sudah ada didepan pintu.
Aqila mengangguk sambil tersenyum malu.
“Hmmm segitunya yah,” ucap Rey menggoda.
Aqila menatap wajah Rey ia mengusap pipi Rey lembut. Ia tau dimata Rey seperti sedang mengalami kesedihan.
“Ada apa mas?” tanya Aqila.
“Gak ada sayang,” suat Rey.
“Benarkah?” tanya Aqila tak percaya.
“Iya sayang,” saut Rey sambil mengangguk.
“Tapi aku lihat kamu sedang tidak baik mas,” seru Aqila dengan menekankan kata-katanya.
Rey terdiam, dia tidak mungkin bilang pada Aqila pertengkaran dengan mamanya itu. Ia tak mau wanitanya meninggalkannya tapi disisi lain dia juga tak bisa menolak sang mama karena menyangkut kesehatan sang mama juga.
“Aku menginap disini boleh?” tanya Rey penuh harap.
Aqila tersenyum. “Boleh mas kamu pakai kamar tamu yah,” pinta Aqila.
Rey mengangguk. Lalu dengan langkah beriringan Aqila mengantar Rey ke kamar tamu dirumahnya.
“Selamat beristirahat,” ucap Aqila didekat pintu.
“sebentar, kemarilah,” pinta Rey dengan menjulurkan tangannya.
Aqila mendekat dan duduk disamping Rey diujung ranjang.
“Apa kamu mencintaiku?” tanya Rey.
Aqila terdiam namun ia kemudian menarik nafas dan mengeluarkan secara berat. Lalu ia menatap dalam pada Rey.
“Masih belum mas, tapi jujur aku sudah nyaman bersamamu,” ucap Aqila jujur.
Mau tidak mau ia harus jujur pada lelakinya tentang perasaannya. Ia tidak ingin menyakiti siapapun nanti.
Rey terdiam tapi matanya menatap sayu ke arah mata Aqila.
“Tapi bagaimana jika aku dinikahkan juga sama mama,” lirih Rey dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
“Ehhh mas jangan nangis,” pinta Aqila sambil menatap khawatir Rey.
“Ya udah sekarang sana istirahat sayang,” ucap Rey.
“Yaudah aku kembali ke kamarku ya mas,” pamit Aqila.
Sebelum berdiri ia mengecup pipi sang prianya dan berlari keluar kamar. Rey meraba pipinya dan tersenyum.
__ADS_1
“Manis,” gumam Rey.
Selepas kepergian Aqila, wajah Rey berubah. Ia menatap kearah pintu sambil meremat tangannya sendiri.
“Bagaimana jika kamu tau kalau aku akam dijodohkan oleh mamaku, apa kamu akan marah dan kecewa padaku,” gumam Rey
---*----
Keesokan harinya..
“Loh nak Rey tidur sini?” tanya Mama Angel saat mendapati pria yang dekat dengan anaknya ikut bergabung dimeja makan.
“Iya ma, maaf ya aku baru nemuin mama sekarang soalnya semalam Rey datengnya malem,” ucap Rey penuh penyesalan.
“Jangan begitu nak, Mama gak papa kok,” ucap Mama Angel tulus.
Axel yang baru bergabung pun menatap wajah Rey datar.
“Udah kayak hantu aja tiap hari dateng,” lirih Axel.
“Gue manusia yah,” ketus Rey.
“Udah-udah kalian berdua kalau ketemu pasti berantem,” Aqila melerai.
Keduanya hanya tertawa kecil dan akhirnya mereka berempat sarapan bersama. Semalam Adel memang kerumah Aqila tapi tak menginap karena baby kembar tidak mau diajak menginap.
“Ma Aqila berangkat yah,” pamit Aqila setelah selesai sarapan.
“Hati-hati ya nak,” ucap Mama Angel mencium kening dan pipi putrinya.
“Rey juga ya ma berangkat,” pamit Rey mencium punggung tangan Mama Angel.
“Hati-hati bawa mobilnya yah,” ucap Mama Angel mengingatkan.
--*--
Sesampai parkiran Rumah Sakit.
Aqila turun dan membawa jas sekaligus tasnya. Ia segera memasuki rumah sakit dan seperti biasa Dokter dan perawat akan menyapanya dengan ramah.
Sesampai diruangannya, Aqila dan Dini segera bekerja dengan semangat. Saling membantu dan bekerja sama itulah keduanya. Tak pernah iri satu dengan yang lain melainkan keduanya saling mendukung.
Setelah ruangan poli sepi akhirnya mereka kembali keruangan Aqila. Makan siang bersama sambil mengobrol secara seru. Hingga suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh.
“Masuk,” teriak Aqila.
Deg.
Aqila menegang, ia tak pernah berfikir lelaki didepannya akan datang kembali padanya dan memunculkan wajahnya.
“Saya permisi dulu ya dok,” pamit Dini lalu keluar.
Dini sendiri tau perjalanan cinta keduanya dan ia pun tak habis pikir dengan pengkhianatan yang dilakukan James.
Selepas kepergiannya Dini, Aqila mencoba mengatur deru nafas dan detak jantungnya.
“Silahkan duduk,” pinta Aqila sopan disofanya.
Ia mendekat dan duduk di sofa seberang James.
“Ada apa?” tanya Aqila tanpa menatap James.
__ADS_1
“Apa aku mengganggumu?” tanya James.
Aqila menggeleng. “Aku baru selesai dari poli. Kenapa?” tanya Aqila tak sabar
“Aku ingin mengobrol berdua denganmu,” ucap James pelan.
Aqila menoleh dan menatap sinis pada wajah Rey.
“Mengobrol denganku? Soal apa?” tanya Aqila dengan nada sedikit tinggi.
“Apa kamu yakin untuk pergi dariku?” tanya James.
Aqila tertawa mendengar pertanyaannya yang menurutnya konyol.
“Apa aku tak salah dengar?” tanya Aqila dengan menatap tajam mata James.
“Tidak,” ucap tegas James.
“Aku tau kamu sangat mencintaku,” sambung James.
“Hahahha iya itu dulu sebelum pengkhianatan itu terjadi,” lirih Aqila.
“Aku yakin sampai sekarang pun kamu masih sayang padaku dan cinta kan,” saut James penuh yakin.
“Pede banget kamu,” sinis Aqila.
“Asal kamu tau selepas kepergiaanmu ada seseorang yang mencintaiku tanpa syarat, dan terutama dia setia,” ucap Aqila penuh penekanan dan menyindir.
Aqila berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
“Jika tak ada lagi apa yang akan dibicarakan silahkan keluar,” usir Aqila.
James berdiri dan menghampiri Aqila. Ia menatap sendu wajah wanita yang ia cintai itu.
“Yang kamu harus ingat aku selalu mencintaimu, menyanyangi. Jika kamu butuh aku, aku selalu ada dibelakangmu,” ucap James.
Ia keluar dari ruangan Aqila. Dan Aqila sendiri segera menutup pintu dan terduduk dilantai. Ia menangis.
*Bohong jika ia tak rindu James.
Bohong jika ia tak mencintai James.
Bohong jika ia sudah melupakan James*.
Nyatanya cinta, sayang untuk pria itu masih melekat dihatinya. Bahkan kenang-kenangan mereka masih selalu terbayang tiap malam sebelum Aqila tidur.
Aqila menangis sambil memukul dadanya.
“Kenap sakit hati ini sangat menyakitkan ya allah,” teriak Aqila sambil menangis sesegukan.
“Hiks hiks ku mohon ya allah tolong hapuskan semua rasa ini, semoga saat aku berangkat ke Palestina aku sudah ikhlas akan semuanya” lirih Aqila.
--*--
Alhamdulillah bisa up 2 episode ternyata. Waktunya masak sate hahaha hasil dapat daging sapi dan kambing.
Kalau idul adha identik bakso, gule, sate, soto dan sebagainya hahaha.
Aku suka semua semoga badanku tidak melar yah hahahaha🤣
Yang masih stay cerita ini acung jempol dong! Kasih pendapat juga cerita ini bagaimana yah? Author pasi baca dikolom komentar.
__ADS_1
Yasudah jangan lupa LIKE, KOMEN ,VOTE YAH