
“Ternyata disini bukan hanya hatinya yang ku sakiti. Melainkan, aku telah menyakiti 2 hati sekaligus.” ~Rey~
.
.
.
Ia berlari menuju arah Rossa yang sudah tergeletak di lantai. Rey menepuk pipi Rossa tapi tak kunjung bangun. Dengan kesetanan Rey menggendong Rossa dan membawanya keluar.
Rey berlari secepat kilat menuju mobilnya. Menidurkan Rossa dipahanya lalu menyuruh supir segera jalan.
“Cepet pak,” ucap Rey gelisah.
Dia menatap wajah pucat Rossa. Meski belum mencintai gadis itu tapi Rey juga memiliki sisi kemanusiaan. Siapapun pasti ia tolong selama mereka membutuhkan.
Berulang kali Rey mengusap kepala Rossa dan memegang tangannya. Mulutnya tak henti-hentinya komat kamit meminta doa pada Allah untuk keselamatan wanita yang memejamkan matanya ini.
Akhirnya perjalanan itupun berakhir, Rey menggendong keluar dari mobil dan berlari.
“Dokter suster tolong,” teriak Rey.
Para suster dan Dokter yang melihat pemilik rumah sakit datang membawa seorang wanita tak sadarkan diri segera mendekat. Diletakkannya tubuh Rossa ke ranjang dan segera didorong ke sebuah ruangan UGD.
“Tuan tunggu disini,” ucap suster dengan takut.
“Tolong selamatkan dia,” lirih Rey.
Rey menatap pintu UGD yang tertutup rapat itu. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memejamkan matanya. Rasanya masalah dalam hidupnya tak henti-henti. Ia lelah sungguh lelah, dia merasa telah mencapai tanda batas sabarnya. Hingga sebuah usapan di bahunya membuatnya membuka mata.
“Mama,” lirih Rey.
Lelaki itu memeluk mamanya, menumpahkan rasa putus asa dalam dirinya. Dia ingin mencari kekuatan pada mamanya. Mungkin mamanya yang telah merusak kisah cintanya. Namun bagaimana pun dalam islam ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Rey yakin akan ada hikmah dibalik semua masalah yang ia hadapi.
Mama Ria hanya mengusap punggung anaknya. Dia sendiri selama beberapa minggu ini merasa menyesal. Perubahan pada anaknya adalah kesalahannya. Dia juga merasa menjadi mama yang kejam untuk anaknya. Namun bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur. Dia akan berubah saat ini demi anaknya.
“Maafkan mama nak,” lirih Mama Ria.
Wanita paruh baya itu menangis memeluk anaknya erat.
“Karena mama kamu kehilangannya,” ucap Mama Ria.
“Udah ma lupakan yang udah terjadi,” sahut Rey dengan suara serak.
Lelaki itu sudah menangis biarlah dunia tau sekarang dia menjadi lelaki cengeng karena memang beban masalahnya berat. Dia hanya butuh pelukan dan pelukan mamanya menjadi penenang. Bahkan kata maaf dari mamanya membuatnya tersadar bahwa mamanya juga menyesal sama seperti dirinya dan Rossa.
Drama menangis itu berhenti ketika mendengar suara pintu terbuka. Rey dan Mama Ria mendekat.
__ADS_1
“Bagaimana dokter keadaan menantu saya?” tanya Mama Ria.
“Bagaimana Dok?” ucap Rey juga tak kalah sabar.
“Lebih baik kita mengobrol di ruangan saya tuan nyonya,” ajak Dokter.
Dokter paruh baya berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Rey dan Mama Ria. Untuk Mama Clara masih dalam perjalanan karena wanita paruh baya yang tak lain mama Rossa sedang melakukan perjalanan bisnis sejak kemarin.
Didalam ruangan Dokter, entah kenapa suasana terasa mencekam. Mama Ria dan Rey menunggu Dokter paruh baya itu. Ibu dan anak saling menguatkan dengan saling menggenggam tangan.
“Bagaimana Dok?” Akhirnya hanya kata itu yang lolos dari bibir Mama Ria.
“Begini Nyonya dan Tuan.” Dokter masih menjeda.
Sepertinya Dokter masih memilah kata yang cocok untuk ia sampaikan pada keluarga pasiennya kali ini.
“Dari pemeriksaan dan diagnosa saya sepertinya pasien mengidap Kangker Otak.”
Deg.
Ibu dan anak itu saling mematung. Bahkan detak jantung mereka seperti berhenti. Seakan udara dalam ruangan telah habis. Shock bukan kepalang berita ini sungguh membuat keduanya terkejut bukan main.
“Dan melihat kondisi pasien sepertinya kangker otak pasien sudah stadium 4,” sambungnya.
Seperti ucapan barusan menambah kesulitan suara keduanya. Seakan tercekat hingga keduanya hanya bisa diam. Mama Ria mulai merasa sesak didadanya.
“Mama ayo ma tenang ma,” ucap Rey menenangkan.
“Mama bawa obat mama?” tanya Rey.
Mama Ria memgangguk, Rey segera mengambil obat dalam tas mamanya sedangkan Dokter mengambilkan air mineral untuk Mama dari pemilik rumah sakit. Dengan perlahan Rey membantu mamanya meminum obat itu dan akhirnya lambat laun keadaan Mama Ria mulai tenang.
Rey menatap kearah dokter kembali dengan tangannya menggenggam tangan mamanya.
“Saya mohon selamatkan dia dok,” ucap Rey.
“Pasti tuan tapi untuk memperkuat dugaan saya, saya akan mulai memiksa pasien lebih lanjut. Saya akan melakukan CT scan.”
Rey mengangguk.
“Besok hasil CT scan akan keluar tuan jadi anda dan keluarga mohon menunggu,” sambung Dokter.
Setelah pembicaraan penting itu selesai, Rey dan Mama Ria keluar dan didepan pintu UGD, disana terdapat Mama Clara yang sepertinya menunggu kehadiran mereka.
Mama Ria dan Rey mendekat tetapi karena suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai membuat Mama Clara menatap asal suara itu. Melihat orang yang dia cari terlihat Mama Clara segera mendekat kearah mereka yang berjalan kearahnya juga.
“Gimana Ri, Rossa kenapa?” tanya Mama Clara tak sabaran.
__ADS_1
Mama Ria yang masih shock itu hanya diam dan Rey membantunya duduk kemudian Rey bergantian membantu Mama Clara duduk dan ia memegang kedua tangan mama mertuanya.
“Ada apa nak?” tanya lembut Mama Clara.
Mama Clara seperti merasakan akan ada berita buruk jika melihat wajah menantunya. Dia mencoba mengatur nafas untuk mendengar kabar apa yang di dapat oleh menantunya itu.
Rey menunduk. Ia tak kuasa untuk memberitahukan semuanya pada mertuanya tapi mau bagaimanapun Rossa adalah anak kandung Mama Clara.
“Menurut diagnosa dokter, Rossa mengidap kangker otak stadium 4.”
Jderrr.
Bagai tersambar petir Mama Clara mematung. Sama seperti Mama Ria tadi, wanita paruh baya itu diam mencerna ucapan menantunya namun sayang kata yang bisa ia tangkap hanya kangker otak.
Tak lama dirinya tersadar dengan rengkuhan pelukan seseorang.
“Kita harus yakin kalau Rossa bahkan sembuh,” ucap Mama Ria memeluk Mama Clara.
Mama Clara tersadar dan langsung menangis. Ia tak menyangka anak semata wayangnya mengalami sakit parah seperti almarhum suaminya dulu. Bahkan dia juga tak menyangka jika sang anak sudah mencapai stadium 4.
Siang itu menjadi siang penuh kesedihan dalam keluarga Rossa dan Rey. Saat tubuh Rossa dipindah keruang rawat setelah melakukan CT scan, Rey dan yang lain mengikuti brangkar tersebut.
---*---
Diruang perawatan.
Selepas kepergian perawat, Rey mendekati ranjang gadis yang berstatus istrinya itu. Ia menatap sedih kearahnya entah kenapa rasa kasihan semakin melingkupi hatinya. Bahkan hatinya bertanya-tanya. Banyak dugaan yang muncul didalam benaknya.
Dia mengulurkan tangannya memegang tangan Rossa yang tak diinfus.
“Maafkan aku Sa,” lirihnya.
“Apa karena kau sakit parah hingga kau memaksa menerima perjodohan itu dan kau memang mencintaiku sedari kecil?” tanya Rey dengan nada rendah.
Rey merasa dirinya begitu jahat telah menyakiti dua wanita berbeda. Rey mengacak rambutnya frustasi ia langsung bangkit dan keluar dari kamar perawatan Rossa.
“Rey,” teriak Mama Ria.
Sayangnya teriakan Mama Ria tak digrubris oleh Rey. Lelaki itu terus berjalan keluar untuk menuju ke suatu tempat. Demi membantu kesembuhan Rossa dia harus mencari penyemangat Rossa saat ini.
---*---
Selamat membaca.
Entah kenapa aku nulis part ini juga sedih, tapi mau bagaimanapun banyak pembaca yang benci padamu Sa. huhu sini peluk aku aja.
Pada kepo gak si Rey kemana? tebak kuy tebak.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG KENCENG WOIII