
“Aku pastikan dalam waktu 3 minggu kamu akan mencintaiku” ~Rey~
.
.
.
Selesai sarapan Aqila langsung beranjak menuju kamar sang kakak.
Tok tok tok
Tak ada sahutan. Sampai ketukan kelima kalinya tetap tak ada suara. Dengan cekatan Aqila memegang handel pintu dan mendorongnya. setelah terbuka ia melongokkan kepalanya.
Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang kakak.
“Ternyata masih tidur,” gumam Aqila sambil menatap sang kakak Axel yang sedang tertidur diatas ranjang.
Dengan pelan ia kembali menutup pintu dan melangkahkan kakinya menuju teras. Setelah berada didepan rumah matanya dimanjakan dengan keasrian halaman rumahnya ini. Ah tukang kebun nya memang sangat bisa diandalkan pikir Aqila.
Dengan santai Aqila duduk di kursi yang sudah disediakan di dekat air mancur. Ia mencari ponselnya sayangnya tertinggal dikamar. Akhirnya Aqila menatap kedepan dan sekelilingnya. Perasaannya menjadi nyaman hanya dengan melihat keasrian. Hampir 2 jam dia berdiam diri didepan akhirnya Aqila memilih masuk kedalam rumah.
Sambil bersenandung ia menaiki tangga menuju lantai dua letak kamarnya.
“Hah ternyata naik tangga segini bisa buat olahraga. Kebiasaan pakek lift jadi males kadang,” gerutu Aqila.
Saat sampai dilantai 2 Aqila langsung berjalan menuju pintu kamarnya tapi sebelum sampai. Pintu kamar Axel terbuka.
Ceklek.
Spontan Aqila berhenti.
“Darimana La?” tanya Axel.
“Ah itu kak dari teras,” ucap Aqila.
“Badanmu gimana sayang?” tanya Axel mendekat kearah Qila.
Ia menempelkan punggung tangannya pada sang adik.
“Alhamdulillah udah normal,” ucap syukur Axel.
“Adek minta maaf ya kak udah bikin Kak Axel repot semalem,” ucap Aqila dengan wajah sendu.
“Hey kamu apaan sih. Kamu itu adik kakak. Gak ada kata ngerepotin kamu faham?” ucap Axel penuh penekanan.
Aqila mengangguk lalu ia segera memeluk tubuh sang kakak.
“Makasih banyak kak, makasih sudah mau jadi kaka sekaligus ayah buat aku. Makasih atas kasih sayang kakak. Cuma kakak laki-laki yang gak pernah sakitin Aqila. Aqila sayang kakak,” ucap lirih Aqila dengan menangis.
Axel mengusap punggung sang adik. Ia tak membalas tapi ia sudah mati-matian menahan air mata agar bisa menguatkan sang adik.
Aqila mengendurkan pelukannya dan menghapus air matanya.
“Aqila ke kamar ya kak bye,” melambaikan tangan lalu segera berlari ke kamarnya sebelum sang kakak menjawab.
Axel masih mematung ia menatap pintu yang mulai tertutup.
“Aku tau hatimu sehancur apa sekarang sayang. Aku tau itu aku juga tau setiap malam kamu menangis,” sendu Axel.
Axel langsung beranjak dari tempatnya menuju lift untuk turun ke lantai 1.
__ADS_1
--*--
Dikamar Aqila.
Setelah menutup pintu Qila langsung berlari dan melemparkan dirinya ke ranjang. Memeluk boneka besar hadiah ulang tahun dari James. Ya dia menyisakan boneka besar itu saja dikamarnya.
“Kamu tau bear, hanya tinggal kamu yang aku punya dikamar ini. Cuma kamu temen aku sahabat aku, tempat curhat aku bear” lirih Aqila dengan menenggelamkan wajahnya diperut bonekanya.
Ia menangis tersedu-sedu. Ia sudah belajar melupakan dan mengikhlaskan semuanya. Tetapi hatinya tidak bisa dipungkiri masih sakit. Hingga kelelahan menangis Aqila kembali terlelap.
Axel sendiri tengah menikmati sarapan yang sudah telat. Perutnya meronta lapar sedari bangun tidur tadi.
Hingga bunyi langkah kaki membuat Axel mendongak.
“Mama,” ucap Axel.
Ia berdiri dan mencium punggung tangan sang mama dan tak lupa mencium pipinya.
“Kok makan sendiri sayang, mana adikmu?” tanya Mama Angel.
“Aqila tidur ma,” lirih Axel masih didengar.
Mama Angel menatap jam dinding dan kembali menatap sang putra.
“Tumben jam segini Qila tidur sayang?” tanya Mama Angel.
“Mungkin capek ma. Apalagi dia nanti kerja sore ma,” ucap Axel sedikit berbohong. Jika berkata jujur ia takut sang mama akan kepikiran.
Mama Angel mengangguk lalu ikut makan dengan sang anak lelakinya.
--*--
Ditempat lain.
“Hallo ma,” ucap Rey.
“Kamu sibuk?” tanya Mama Rey.
“Lumayan ma, kenapa?” tanya balik Rey.
“Mama pengen ngajak kamu buat ketemu sama anak temen mama,” ucap Mama Rey.
“Apa ma, untuk apa sih?” ucap malas Rey.
Ini sudah berapa kali mamanya mempertemukan dengan anak teman mamanya tapi satupun tak membuat Rey tertarik dan jatuh cinta.
“Ya buat kenalan sama kamu nak. Mama pengen kamu cepet nikah,” ucap Mama Rey dari seberang telefon.
“Ya tapi mama kan tau ma, Rey gak mau dijodohin kayak gini ma,” ucap Rey kesal.
“Lah siapa yang jodohin sih. Mama kan cuma ngenalin,” elak Mama Rey.
“Pasti mama nanti bakal jodohin juga. Udah lah ma Rey capek tau gak,” ucap Rey.
Lalu ia segera memutus telfon dengan sang mama, moodnya sudah buruk ia sudah tak minat dengan berkas didepannya. Begitulah sang mama selalu memaksanya untuk segera menikah. Dikira pernikahan itu gampang apa butuh cinta juga kan pikir Rey.
Rey memilih beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju ruangan pribadinya. Ia melepas jasnya dan membaringkan tubuhnya di ruangan itu.
Rey memegang ponselnya dan melihat sebuah foto wanita cantik memakai seragam kebesarannya.
“Kenapa kamu selalu ada dalam pikiranku. Aku mau kamu yang jadi istriku,” ucap Rey dengan senyuman diwajahnya.
__ADS_1
“Kali ini aku harus bisa membuatmu jatuh dalam pelukanku,” ucap Rey penuh tekad.
Entah ia sudah cinta atau apa pada Aqila. Wajah cuek yang baru pertama kali ia lihat dikantin rumah sakit. Bisa memikat atensinya dan membuat Rey selalu hilang fokus.
Saat ia sedang fokus menatap foto itu suara ketukan membuyarkan fokusnya.
Tok tok
“Masuk,” ucap Rey.
Ia segera keluar dari ruangan pribadinya dan berjalan menuju sofa. Terlihat Bima masuk dengan membawa berkas ditangannya.
“Ada apa Bim?” tanya Rey.
“Emmm ini tuan saya mau ngasih data diri semua dokter yang akan ikut jadi relawan tuan,” ucap Bima.
“Oh baiklah taruh dimeja,” titah Rey.
Bima menurut ia meletakkan dimeja dekat sofa dan kembali berdiri.
Rey yang melihat Bima masih berdiri akhirnya mendongak.
“Apa masih ada lagi?” tanya Rey.
“Itu tuan,” Bima masih menggantung.
“Ada apa Bim?” tanya Rey tak sabaran.
“Nona Aqila ikut tuan.”
“Apa!!” Rey terperanjat kaget.
Ia segera membongkar data diri dokter itu dan mencari satu berkas. Dan benar ada nama wanita yang ia cintai mendaftar.
“Kenapa kamu ingin berangkat kesana?” ucap Rey dengan menatap berkas itu.
“Emmm menurut yang saya dengar, Nona Aqila memang sering melakukan perjalanan relawan didalam atau diluar rumah sakit tuan. Ia suka melakukan pekerjaan itu. Menurutnya itu salah satu pengalaman yang membuatnya faham akan dunia luar,” ucap Bima seolah paham maksut tuannya.
Rey mendongak.
“Kalau boleh tau berapa lama relawan ini?” tanya Rey.
“2 bulan tuan,” ucap Bima.
“Ck lama sekali,” berdecak kesal lalu ia menyadarkan punggungnya.
“Kapan berangkatnya?” tanya Rey langsung.
“Diundur menjadi bulan depan tuan, jadi kurang lebih 3 minggu lagi,” seru Bima.
Rey mengangguk.
“Berarti dalam waktu 3 minggu aku harus menyakinkan hatimu bahwa aku benar mencintaimu” lirih Rey dalam hati.
Ia tersenyum dan entah dari mana semangat dijiwanya berkobar.
---*---
Bagaimana dengan part ini?
Duh babang Rey semangat banget loh ini buat dapetin Aqila. Tapi umur emang lumayan jauh beda berapa belas tahun hihi.
__ADS_1
Semangatin aja deh.
YUK JANGAN LUPA LAH YAH LIKE, KOME, VOTE KOIN/POIN DAN RATE BINTANG 5.