Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 20


__ADS_3

“Semoga malam ini menjadi malam terakhir untukku menangis.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Angin malam mampu melambai-lambaikan dedaunan di ranting pohon, tirai dikamar ikut bergerak juga. Anak rambut yang menjuntai terlihat ikut mengayun indah menutupi sebagian wajahnya. Air mata tetap mengalir bebas dikedua pipinya. Bahkan dinginnya malam tak membuatnya bergerak untuk masuk kedalam kamar.


Saat ini yang ia inginkan hanya satu yaitu ketenangan. Ia sudah pasrahkan semua pada Allah tetapi kenapa sakit dihatinya tetap menusuk. Bukan karena ditinggal menikah tapi karena sahabatnya yang tak percaya pada dirinya. Bahkan sampai mengeluarkan kata busuk pada dirinya ini. Apa sebegitu hinakah dirinya didepan mata Rossa.


Mengingat kejadian beberapa jam lalu membuatnya kembali menangis. Sedari tadi ia sudah menahan agar tak menangis diperjalanan pulang. Tapi entah kenapa saat sampai dirumah dan masuk ke kamar air mata itu tak mampu ia bendung lagi.


Biarlah malam ini ia akan menangis, meminta pada Tuhan agar besok ia bisa mengawali semuanya tanpa air mata lagi. Lelah pasti, sakit iya, kecewa apalagi tapi demi sahabat tak ada yang bisa membuat kita bisa marah pada mereka. Meski itu sangat menyakiti hati kita sendiri. Bener tidak?


Suara ketukan pintu tak membuyarkan lamunan Aqila. Aqila tetap diam dikursi balkon. Bahkan tanpa selimut dan jilbab. Dia hanya memakai piyama tidur dan rambutnya diurai.


Usapan dikepalanya membuatnya mendongak. Tepat Kakaknya Adel disampingnya. Segera Aqila menghambur kepelukan sang kakak. Ya mungkin ia butuh pelukan saat ini. Ia menangis sejadi-jadinya tapi tanpa mengatakan apapun. Adel sendiri tak ingin memaksa sang adik agar bicara padanya.


“Menangislah sayang jika itu membuatmu tenang,” ucap Adel pelan.


Aqila masih terus menangis bahkan sampai sesegukan. Hampir 30 menit lebih dia menangis dan akhirnya tangis itu mereda. Aqila mengurai pelukannya dan mengusap air mata dimatanya.


“Dengarkan kakak La,” pinta Adel.


Aqila mendongak menatap wajah sang kakak.


“Kakak mungkin gaktau gimana berada diposisimu sayang. Namun yang kakak tau Allah gak bakal ngasih ujian pada kita melebihi kemampuan kita. Jika sekarang allah uji kamu lewat sahabat dan orang yang kamu cintai percayalah suatu saat nanti akan ada hikmah dibalik ini semua. Bahkan bisa jadi Allah sedang memberitahumu jika dia bukan lelaki yang berjodoh denganmu,” seru Adel.


Aqila masih diam. Menunggu ucapan sang kakak selanjutnya.


“Sekarang yang kamu harus lakuin adalah ikhlas dan tabah. Jalanin semuanya seperti sedia kala sayang. Anggap saja ujian ini adalah bumbu krikil penyedap untuk hidupmu. Hidupmu hanya sekali sayang jadi nikmati hidup kita selama kita masih diberi nikmat bernafas sama allah.”


“Iya kak,” ucap Aqila membuka suara.

__ADS_1


“Anak pintar. Ayo sekarang masuk dan istirahat. Nanti jam 3 kamu bangun buat tahajud. Minta sama Allah dan curhat padanya untuk apa yang harus kamu lakuin selanjutnya,” ucap Adel.


Kedua wanita itu masuk kedalam. Dan Aqila menutup pintu balkon dan tirainya. Aqila sendiri berbaring diranjang dan memakai selimutnya untuk menutup sebgaian tubuhnya.


“Jangan lupa berdoa.”


Cup.


Adel mencium dahi Aqila dan mengucapkan salam sambil menutup pintu kamar Aqila. Selepas kepergian Adel, Aqila menatap langit-langit kamarnya. Perkataan sang kakak terngiang-ngiang dikepalanya.


Lama-kelamaan matanya yang lelah mulai terpejam dan mengarungi mimpi indah.


---***---


Seorang pria tampan sedang merenung sambil bersandar di sisi ranjang. Lelaki itu memejamkan matanya untuk mengulang kejadian beberapa jam lalu.


Suara perempuan itu yang tegas. Sorot mata penuh kesedihan dan kekecewaan. Bahkan tubuh ringkih yang butuh pelukan itu terbayang dipelupuk matanya.


Khali sudah dibuat gila,bagaimana bisa dia dibuat kepikiran dengan satu gadis saja. Bahkan seumur hidupnya dia tak pernah seperti ini. Ini pertama kali untuknya. Sepertinya ia harus buru-buru bertanya pada yang mulia raja yang tak lain abahnya.


Pusing, bimbang dan ragu semua menghias diwajahnya. Bagaimanapun ini hal pertama bagi seorang Khali pada seorang gadis. Khali berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Setelah itu ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah diranjang dan mulai terbang kepulau kapuk. Mengarungi mimpi indah yang hanya ilusi sementara.


---*---


Di kamar pengantin.


Rossa duduk diam termenung di sofa yang terdapat dikamarnya. Wanita itu masih belum mengganti pakaiannya. Pikirannya tertuju pada sahabatnya itu.


Ia merasa kecewa dan menyesal karena sudah menyakiti sahabatnya. Namun semua itu tertutup dengan mengingat obrolan mereka berdua. Namanya saja orang keras kepala maunya pasti egois dan menang sendiri.


Rossa tetap menyalahkan kehadiran Aqila, karena wanita itu ia harus berantem dengan suaminya saat malam pertama. Sepertinya cinta telah mengubah seluruh hidup Rossa. Sahabat yang sangat ia sayangi bisa berubah menjadi musuh ketika dia marah dan merasakan cemburu.


Lamunan Rossa terhenti karena suara pintu yang dibuka.


Ceklek.

__ADS_1


Rey menyembulkan dirinya dan masuk kedalam kamar. Bau alkohol menyeruak dalam dirinya membuat Rossa yang berada didalam kamar pun mencium aroma menyengat ini.


“Mas ngapain mabuk sih,” ucap Rossa.


Rossa mendekat ingin membantu suaminya berganti pakaian tapi tangannya segera ditepis oleh Rey.


“Jangan sentuh aku,” hardik Rey.


“Kenapa mas? Bukankah kita suami istri. Wajar dong aku pegang kamu,” ucap Aqila.


“Sayangnya dalam mimpimu. Jangan pernah dekat padaku dan ingat aku tak mencintaimu,” sarkas Rey.


Lelaki itu segera berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Mungkin dia mabuk tapi ia masih sadar. Rey melepaskan pakaiannya dan membersihkan wajahnya. Dia keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe dan segera mengambil pakaian tidurnya.


Rey tak menatap sama sekali Rossa bahkan dia tak berniat membantu Rossa berganti pakaian. Rey segera masuk kembali untuk berganti pakaian. Setelah selesai dia berjalan pelan menuju ranjang dan memejamkan matanya.


o


Rey sudah lelah. Dia juga besok ingin menemui Aqila. Pikirannya tertuju pada Qila saja malam ini. Dia ingin pergi tapi karena ancaman sang mama dia tak bisa berkutik.


Rossa sendiri mengepalkan tangannya saat melihat Rey semakin acuh padanya. Kilatan marah dimatanya terlihat bahkan kebenciannya pada Aqila mulai tumbuh. Sungguh Rossa merasa telah dibohongi dan dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Dia hanya bisa percaya dengan apa yang dia lihat tanpa tau apa yang terjadi sejujurnya.


“Awas saja sampai kamu mengambil Rey dariku. Aku benci sama kamu,” geram Rossa dalam hati.


Rossa berjalan menuju meja rias. Dia mulai membersihkan wajahnya dengan kasar dan cepat. Dia benci, marah dan ingin melampiaskan pada Aqila tapi ia tahan. Ia ingat sekali tamparan Aqila diwajahnya sangat keras. Dia sudah mengira pipinya akan merah. Dan benar saja saat make up itu terhapus diwajahnya terlihat cap tangan dipipinya.


Dia berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah selesai ia ikut berbaring di atas ranjang sebelah Rey. Menatap wajah lelaki itu seksama dan ingin menyentuhnya. Namun dia tak berani, Rossa takut Rey akan marah padanya. Dan mau tak mau Rossa memilih memejamkan matanya.


---*--


Selamat membaca


Ternyata oh ternyata kalau pas part babnya emosi, like sama komennya pada kenceng loh. Kek gitu setiap bab kan enak. Apa harus tiap babnya aku isi emosi aja biar kalian likenya kenceng.


Oke kalau likenya kenceng lagi sama komem kenceng, sore aku up lagi deh. Kalau gak berarti up besok aja yah.

__ADS_1


Author sempetin ini loh up, apalagi dirumah lagi riweh sama nikahan dan jaga sikecil. Yuk like dan vote berjamaah.


__ADS_2